Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Living in the Netherlands

Wajib Baca Untuk Yang Minat Magang

Disklaimer: Gue memang nggak pernah magang, tapi dengan beberapa tahun pengalaman kerja, sepertinya artikel ini juga cocok dibaca untuk mereka yang sedang berpikir untuk magang.

Untuk fresh graduate atau mereka yang berada di tingkat akhir perkuliahan, magang bukanlah hal yang asing lagi. Sejak jaman gue kuliah S1 dulu (sekitar 1 dekade lalu), sudah banyak temen gue yang ikutan program magang pada masa liburan kuliah. Salah satu sahabat gue pernah ikutan program magang yang gajinya lumayan, sehingga dia mampu upgrade gaya hidupnya pada saat itu. Gue sendiri nggak pernah ikutan magang karena nggak pernah kepikiran aja.

Belakangan ini, di jagad Twitter sedang heboh pemberitaan sebuah start-up yang mengeksploitasi pekerja magang mereka. Berbagai tipe eksploitasi di-spill oleh mantan dan peserta magang, namun yang paling heboh adalah pengakuan salah satu bekas pekerja magang bahwa dia hanya digaji Rp 100.000 perbulan, dan pengakuan lainnya tentang kewajiban membayar penalti sebesar Rp 500.000 jika peserta magang berhenti sebelum tanggal akhir magang. Selain itu, masih banyak lagi keluhan yang diberitakan di Twitter, mulai dari kelakuan CEO yang angkuh, job description yang nggak masuk akal, jam kerja peserta magang yang sama dengan pegawai tetap, dan rasio pekerja magang yang lebih banyak daripada pegawai tetap.

Berawal dari situ, gue terinspirasi menulis artikel ini. Apa saja sih yang harus kita persiapkan sebelum ikutan program magang? Apa saja red flag yang bisa terlihat pada masa rekrutmen dan interview? Gimana cara kita terhindar dari praktik magang yang nggak manusiawi seperti ini?

Freshgrads, Ketahui “Nilai Jual”-mu

Berikut adalah unpopular opinion gue: begitu kalian lulus dari universitas, sebenarnya skill kalian sudah cukup untuk melamar kerja sebagai pegawai tetap, bukan ikut program magang lagi.

“Tapi gue nggak ada pengalaman kerja,” atau “Tapi lulusan jurusan gue kurang populer,” mungkin begitulah pemikiran kalian. Intinya, kalian merendahkan diri kalian hanya karena sudah ada gelar sarjana tapi belum punya pengalaman kerja.

Gue juga pernah berpikir seperti ini lalu berusaha mencari pekerjaan magang di perusahaan yang bergerak di industri turisme. Setelah interview dua kali, gue kemudian ditawarkan posisi magang tak berbayar, cuma dibayar dalam bentuk voucher makan siang saja. Setelah ngobrol sama kakak senior yang sudah kerja di bidang ini duluan, dia menyimpulkan bahwa perusahaan ini hanya ingin tenaga kerja murah saja dengan embel-embel “pengalaman kerja”.

Hey, it’s not always like that. Kalian sudah capek-capek sekolah 4 tahun (mungkin lebih) tapi kok menganggap diri sendiri belum cukup pengalaman untuk kerja, sih? Pola pikir seperti ini harus berubah. Harus mulai berpikir seperti ini: “Gue sudah lulus kuliah, sudah ada gelar sarjana, maka gue sudah cukup siap untuk melamar jadi pegawai tetap!”.

Kenali Hak Sebagai Pekerja Magang

Yang ini cocok untuk kalian yang masih berada di tingkat akhir kuliah dan wajib magang. Atau kalian yang nggak wajib magang, tapi kepengen cari uang ekstra aja. Ada hubungannya dengan poin pertama. Selain mengetahui nilai jual kalian, kalian juga harus mengetahui hak kalian sebagai pekerja magang di perusahaan tersebut.

Begitu membaca lowongan magang, cari tahu kompensasi apa saja yang akan kalian dapatkan: gaji, benefit, durasi magang, dan lain-lain. Pastikan juga bahwa perusahaan tersebut mempunyai job description yang jelas untuk kalian, dan skema mentoring selama kalian magang. Siapa supervisornya? Kalian akan magang di bawah departemen apa? Penting sekali untuk mengenali tetek-bengek seperti ini agar nantinya kalian nggak dijebak ke program magang ala-ala yang hanya dibuat untuk eksploitasi kerja.

Digaji Atau Tidak Digaji?

Poin ini adalah hal yang cukup kontroversial: peserta magang digaji atau tidak? Gue nggak tahu sistem di Indonesia, tapi kalau di Belanda, peserta magang tidak wajib digaji. Keputusan digaji atau nggak ada di tangan perusahaan.

Terserah kalian kalau memilih magang yang tidak digaji. Tapi kalian harus bisa hitung-hitung biaya hidup karena sudah pasti nggak akan ada uang tambahan dari magang. Tapi untuk kalian yang dapat magang berbayar, cek range gaji peserta magang dengan cara tanya-tanya teman, jejaring, atau kampus kalian. It won’t hurt to research how much you have to earn in a specific internship program.


Walaupun gue nggak pernah ikutan program magang, tapi gue yakin program magang seharusnya menjadi program yang beneficial baik dari segi peserta maupun perusahaan. Dari peserta magang, mereka mendapatkan pengalaman kerja dan “kisi kisi” dunia kerja. Dari sisi perusahaan, mereka bisa menambah attraction level mereka di kalangan generasi muda, sekaligus dikenal menjadi pusat pelatihan kerja.

Semoga berita viral di Twitter tersebut bisa jadi bahan pelajaran bagi calon peserta magang dan perusahaan. Bagi calon peserta magang, baca baik-baik penjelasan program magang dan jangan takut untuk speak up jika ada yang nggak beres. Bagi perusahaan, jaman sekarang akun advokasi pegawai sudah banyak lho, siap-siap kalau nggak bisa treat pekerja kalian dengan baik, akan ada massive damage control yang harus diambil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *