Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Living in the Netherlands

Refleksi Dekade Baru

Kata film favorit gue 13 Going On 30, umur tiga puluh itu: Thirty, Flirty, and Thriving. Alias “tiga puluh, genit, dan berprestasi”.

Berangkat dari kata-kata mutiara film tersebut, gue kerap membayangkan dekade tigapuluhan itu akan jadi seperti apa. Banyak yang bilang bahwa dekade tigapuluhan itu betul-betul saat kita sedang “ranum-ranumnya”, karena dekade ini adalah dekade awal mula dari kehidupan kita yang benar-benar “hidup”. Di dekade duapuluhan, kita punya banyak sekali energi dan punya banyak waktu, tapi kita nggak punya uang. Di dekade umur tigapuluhan, katanya kita bisa punya semuanya: energi yang masih cukup banyak, waktu yang juga cukup banyak, dan secara finansial akan jauh lebih baik dari umur duapuluhan yang biasanya identik dengan BOKEK.

Mungkin beberapa tahun berikutnya gue akan membaca kembali tulisan ini dan akan mengernyit malu membaca tentang optimisme dan harapan-harapan positif gue di dekade tiga puluh, tapi… apa salahnya sih untuk ditulis? Kali aja impian-impian ini adalah benar jalan hidup gue dan gue bisa meraihnya. Nggak semuanya sih, tapi ya masa sih hidup nggak punya tujuan akhir?

Financially Stable

Di dekade tigapuluhan ini gue ingin keadaan finansial gue tetap stabil seperti sekarang, apapun itu jalan karir yang gue pilih. Mungkin di dekade ini gue juga mulai bisa berkecimpung di bidang aset tak bergerak seperti saham, emas, atau kripto. Pokoknya gue kepingin seperti sekarang yang ngga perlu minta uang ke orangtua atau ke suami untuk membeli hal-hal yang gue mau.

Able to travel more

Dua tahun belakangan, bisa nggak sih kita hapus aja dari kalender? Tahun 2020 dan 2021 ini bener-bener tahun yang ngga produktif dalam pengertian ngga bisa memperluas khazanah traveling gue. Di dekade umur tigapuluhan ini gue kepingin makin sering jalan-jalan, mengunjungi negara-negara yang gue ingin kunjungi saat dulu di dekade duapuluhan gue belum punya uang. Looking at you: Cuba, Korea, Japan, New Zealand, USA (lagi)!

Gue dan suami juga kepingin lebih banyak jalan-jalan sebelum kita berencana punya anak. Karena kalo punya anak kan bisa jadi harus stop jalan-jalan untuk beberapa tahun, dan kalaupun sudah bisa jalan-jalan bawa anak, pasti gaya travelingnya akan berbeda dengan kalau masih tanpa anak.

Tau mau ngapain dalam hidup gue

Ini dia nih, million dollar question. Umur duapuluhan bisa jadi tujuan hidup kita adalah bekerja. Tapi di umur tigapuluhan, mau ngapain? Gue sih udah tau pasti bahwa gue nggak akan bisa tetap bekerja di kantor sekarang selama bertahun-tahun seperti kolega-kolega gue yang lain. Lha sekarang aja rasanya udah bosen, ni lagi cari-cari cara untuk mencari “passion” yang perlahan memudar.

Gue tahu jelas bahwa gue pasti akan kerja di industri lain, tapi apa? Dan soal skill menulis gue sekarang ini, apakah gue mau mengembangkan skill gue, atau mulai mengasah inovasi dengan belajar hal lain? Kita tahu kan, ada ketakutan tersendiri bahwa suatu saat mesin akan mengambil alih pekerjaan manusia, salah satunya kerjaan gue sebagai penulis komersil. Tadi pagi saja gue lihat iklan Instagram tentang servis AI yang bisa membuat copy website dan iklan media sosial dalam hitungan detik. Makanya gue kepikiran untuk belajar lebih lanjut yang bisa membuat skill gue ini tidak tergantikan walaupun nanti teknologi AI semakin merajalela.

Selain itu, ada lagi Arunika Art. Bisnis ini mau diapain? Lima, sepuluh tahun ke depan, apakah Arunika Art akan tetap ada? Apakah gue akan berhasil bikin bisnis ini jadi besar dan gue jadi berubah menjadi seorang wiraswasta penuh waktu? Only time will tell.

Punya keturunan

Ini juga million dollar question. Beruntung gue tinggal di masyarakat yang ngga terlalu kepo tentang keputusan perempuan mau punya anak atau tidak. Tapi tetep aja pertanyaan ini udah ada di otak gue sejak sekarang. Apakah nanti gue akan merasa siap untuk punya anak? Kalau iya, mau adopsi atau anak sendiri aja? Di tambah lagi pasti finansial dan rumah sudah harus cukup kuat kalau mau punya anak. Gue ngga percaya dengan kata-kata “anak tu ada pintu rejekinya sendiri”. Gue percaya bahwa gue harus menyediakan fondasi yang kuat sebelum gue memutuskan untuk punya anak. Maka itu, sepertinya poin ini juga akan jadi poin pembicaraan selama dekade ini. (Intinya selama rahim gue belom kering lah, kalo kata emak-emak).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *