Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Up Close and Personal Posts

Pandemic Talks

Pandemi umurnya sudah berjalan kurang lebih 10 bulan. Apa kabar kalian? Apakah masih setia #dirumahaja? Atau sudah mulai memberanikan diri pergi ke luar rumah sekedar untuk jalan kaki, ke pasar, atau malah sudah berani nongkrong di kafe dan pergi ke bioskop?

Kabar gue selama pandemi: nggak begitu baik.

Pertama-tama, gue harus menghitung berkat kali, ya. Gue bersyukur di tengah pandemi ini gue masih punya pekerjaan tetap, masih punya rumah, masih sehat secara jasmani, masih punya keluarga kecil yang saling menghangatkan satu sama lain, dan masih bisa beraktivitas hampir seperti aktivitas normal. Walaupun begitu, rasanya ada rasa sedikit depresif yang looming over me beberapa minggu belakangan ini.

Apakah ini karena musim gugur yang semakin dingin dan durasi matahari yang semakin pendek?

Atau mungkin ini adalah efek partial lockdown (dijelaskan dibawah) yang seakan mempersempit pergerakan gue, baik mental maupun fisik?

Bisa juga ini karena efek work from home kelamaan.

Apapun alasannya, pandemi ini sungguh tak terduga efeknya untuk kesehatan mental gue. Walaupun gue nggak sampe breakdown atau burn out karena ini, tapi rasanya gue mengalami sedikit mental fatigue.

Kabar Belanda Masa Pandemi

Country-wise, negara gue juga sedang sakit, nggak baik-baik aja.

Setelah mengalami penurunan kasus di musim panas, Belanda kembali disorot dunia sebagai salah satu negara di Eropa yang mengalami kenaikan kasus secara signifikan di musim gugur ini. Angka kenaikan kasus sudah bisa dilihat sejak bulan September, demikian juga angka R. Pemerintah akhirnya harus melakukan sesuatu.

Alih-alih melakukan peraturan wajib masker, pemerintah memulai rangkaian lockdown dengan cara menetapkan jam buka bar dan kafe. Awalnya, seluruh bar, kafe, dan restoran wajib tutup jam 12 malam. Lama kelamaan, jam tutup ditetapkan jadi lebih awal yaitu pukul 10 malam. Sampai pada akhirnya sejak hari Kamis minggu lalu, pemerintah Belanda menetapkan peraturan menutup seluruh bisnis F&B selama satu bulan.

Hal ini tentu menjadi polemik dan kontroversi di masyarakat. Bagaimana bisa, sektor yang cukup ketat dalam menyeleksi tamu, melakukan berbagai verifikasi data kesehatan pengunjung, jadi ditutup 1 bulan? Sementara itu, sekolah tetap buka. Rakyat tetap disuruh mengirimkan anak mereka pergi ke sekolah, dengan kepercayaan berdasarkan fakta riset bahwa anak tidak akan menunjukkan gejala COVID-19. Lho, nanti anak akan pulang ke rumah, dan bisa jadi kalau dia tidak punya gejala, dia tetap aja bisa menularkan COVID ke orangtuanya, kan?

Per hari Kamis minggu lalu (15 Oktober 2020), Belanda memasuki fase yang dinamakan gedeeltelijke lockdown alias lockdown parsial. Beberapa peraturan di fase ini adalah:

  • Seluruh bisnis F&B ditutup dan hanya diperbolehkan untuk pesan antar atau pesan bawa pulang;
  • Sektor retail harus menutup toko maksimal pukul 8 malam;
  • Mulai pukul 8 malam, seluruh supermarket dan F&B sudah tidak boleh menjual alkohol lagi;
  • Pelarangan mengonsumsi alkohol di ruang publik;
  • Kegiatan olahraga dilakukan secara terbatas, hanya boleh olahraga yang berjarak; dan…
  • Rekomendasi tinggi untuk mengenakan masker di ruang publik, dan wajib pakai masker di dalam transportasi umum.

Poin yang terakhir sangatlah menarik, debat kusir tentang masker vs tidak pakai masker. Belanda sampai sekarang belum menurunkan UU wajib pakai masker, karena ada hubungannya dengan UUD mereka, kalau nggak salah tentang “kemerdekaan tubuh” (CMIIW, ya). Saat negara-negara tetangga mewajibkan rakyatnya bermasker, Belanda masih keukeuh dengan “fakta-fakta medis” bahwa masker tidak selalu bisa mencegah penularan COVID, tapi hanya jaga jarak yang bisa.

Walaupun begitu, sejak bulan September, mulai ada banyak dukungan terhadap masker. Bukan hanya dari masyarakat namun juga dari Tweede Kamer (semacam dewan legislatif sini). Mungkin masyarakat sudah melihat kesuksesan masker di negara-negara lain dan mulai bertanya-tanya kenapa Belanda belum mewajibkan pakai masker kali, ya. Inilah yang menyebabkan ada poin pakai masker di salah satu aturan lockdown parsial ini, walaupun sifatnya baru highly recommended, atau sangat disarankan. Belum jadi wajib. Dimana-mana sekarang mulai banyak orang memakai masker, baik itu di jalanan maupun di dalam ruangan. Mulai banyak juga toko yang berani menempel aturan wajib masker di dalam tokonya.

Hmm… Mungkin ini efek partial lockdown

Setelah dilihat-lihat, sepertinya mental fatigue gue ini berasal dari peraturan pemerintah yang terkesan maju mundur tentang penanganan COVID-19.

Gue kecewa, karena baik negara asal gue, maupun negara tempat gue tinggal, sepertinya tidak menangani COVID dengan baik. Di Belanda, pemerintahnya sangat kelihatan ragu-ragu dalam menetapkan ini itu. Bahkan tak jarang Perdana Menterinya terus menekankan bahwa rakyat Belanda sudah banyak yang pintar dan punya akal sehat. Maap pak PM, tapi bukannya akal sehat itu sesuatu yang relatif, ya?

Pandemi ini sepertinya akan masih berlangsung cukup lama. Selama kita masih hidup, lebih baik jaga diri dan keluarga masing-masing, pakai akal sehat masing-masing aja (walaupun relatif), dan tetap jaga kewarasan mental.

2 Comment

  1. Aku sendiri anti masker, tapi ya klo diharuskan ya dipakai. Alesan kenapa anti? Lha itu Italia, Perancis dah maskeran dari jaman kapan tetep aja kasusnya banyak. Orang memakai masker juga jadinya ada false security deket deket kek di Indonesia. Masker sih pake semua tapi giliran foto pada rapet. Di Denmark peraturan bermasker ini baru di update jadi semua ruang publik. Lucunya di fitness center hanya memakai masker pas masuk dan ke kamar ganti saja. Setelah di ganti baju olahraga dan pake mesin boleh tidak bermasker. Pertama ya iyalah di treadmill pake masker jelas pingsan, kedua tapi itu bukannya lebih potensial untuk infeksi di kala orang2 keringetan dst? Apa infeksinya terbatas pas masuk/keluar ruang ganti doang? Sungguhlah paradoks pemerintah sini.

    Yang diminta masyarakat sini juga alasan scientific partial lockdown untuk ini itu. Lha ngga ada dasar perhitungannya? Ya pantes businesses pada ngamuk. Disuruh tutup tapi hitung2an soal penutupan gada dan uang kompensasi jauh dari on time datangnya.

    Soal fitness center lagi, aku sensi karena kita jaga banget di fitness center. Justru yg pada party2 di taman itu yg bikin angka naik, kok kami yg dikenai restriksi.

    Buat aku jaga jarak dan cuci tangan masih nomer satu. Tentu orang lain punya opini beda soal masker, terserah.

    1. Betul sekali mbak. Masker ga pake masker sekarang udah kayak agama. Masing2 orang punya pendapat sendiri2. Paradoks pemerintah Denmark ga jauh beda sama pemerintah sini. Kasus peraturan di fitness center juga ada di salah satu sektor disini. Aku juga kesel, yang di resto/bar itu ada angkanya loh, mereka gak terlalu banyak andil dalam angka penularan, tapi kenapa malah ditutup semua? Jaga jarak, cuci tangan emang saran universal ya.

Tinggalkan Balasan ke kutubuku Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *