Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Up Close and Personal Posts

Hore, Dapat Liebster Award!

Sebelumnya, gue mau norak dulu, karena sepanjang gue ngeblog, sepertinya belum pernah dapat award. Makasih mbak Deny yang sudah menominasikan gue!

Ngomong-ngomong, tulisan ini akan jadi tulisan panjang, nih. Soalnya pertanyaan-pertanyaan dari mbak Deny thought-provoking semua, sih. Jiwa penulis jadi keluar πŸ˜‰

Berdasarkan tulisan-tulisan Liebster Award yang lain, biasanya si penerima award akan menulis syarat-syarat umum Liebster Award terlebih dahulu. Baiklah, berikut ini empat syarat utama Liebster Award.

  1. Penerima award harus menjawab 11 pertanyaan dari si pemberi award.
  2. Penerima award harus menulis 11 fakta tentang dirinya sendiri untuk para pembaca.
  3. Penerima award harus menominasikan 11 orang lain untuk menulis tentang Liebster Award
  4. Penerima award harus memberi 11 pertanyaan lain yang bisa dijawab nominator berikutnya.

11 Fakta Diri Untuk Pembaca

  1. Gue suka coklat batang, tapi nggak suka coklat berbentuk cairan seperti susu coklat atau coklat panas.
  2. Sebulan sekali, selama 5 hari kerja, gue selalu berusaha untuk clean eating dengan makan sayur dan/atau protein nabati saja.
  3. Zodiak gue Gemini, tapi gue nggak ngerasa Gemini-Gemini amat.
  4. Gue berhenti pergi ke Gereja dan berafiliasi dengan agama di umur 25 tahun.
  5. Sekali main game, gue bisa lupa waktu. Padahal udah gede dan punya banyak tanggungjawab.
  6. Bisa jadi orang sangat judgmental walau hanya dalam hati saja, dan judgment ini biasanya akan keluar langsung dari mulut gue jika kamu adalah teman baik yang sudah jadi teman gue selama bertahun-tahun.
  7. Tapi, gue juga bisa jadi orang paling setia sebagai teman atau partner. I value loyalty the most in friendship and relationship.
  8. Gue nggak paham sama humor British, gue anggap humor British terlampau jayus atau borderline nggak sopan dengan double entendre mereka. Tapi gue cepet nangkep puns atau lelucon pintar.
  9. Paling sebel sama stupidity dan konsep-konsep yang menurut gue bodoh dan terlalu saklek.
  10. Nggak bakal mau makan tomat dan paprika mentah.
  11. Gue pengguna media sosial angkatan jadul. Terakhir kali gue mendaftar media sosial adalah tahun 2011 saat mendaftar Instagram.

Saatnya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mbak Deny!


Apa yang tidak kamu sukai dari nge-blog?

Sejauh ini sih, gue selalu anggap blogging sebagai aktivitas yang menyenangkan. Mungkin karena ini adalah versi “suka-suka gue” dari pekerjaan gue sehari-hari kali, ya. Blogging bisa jadi sarana menghilangkan stres selain melukis, memasak, dan main game.

Topik apa yang kamu suka saat nulis blog?

Topik yang gue suka adalah jika harus menulis tentang kehidupan di Belanda sebagai pekerja. Sejauh ini gue jarang baca atau berinteraksi dengan sesama imigran Indonesia di Belanda yang cocok, jadi kalau nulis tentang ini rasanya kayak bisa berkontribusi terhadap rasa penasaran orang tentang keimigrasian dan hidup imigran.

Topik lain yang gue sukai adalah jika gue harus nulis curcol tapi berkedok fenomena di media sosial. Rasanya senang bisa mengutarakan uneg-uneg tanpa harus terlalu obvious dengan kejadian yang sebenarnya.

Menurut kamu, apa bedanya nge-blog 10 tahun lalu dengan sekarang?

Susah untuk menjawab ini dengan jawaban yang tidak bias, karena gue sudah mulai menulis blog sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. 10 tahun yang lalu, gue masih menggunakan blog sebagai sarana curhat tanpa memikirkan kaidah content writing yang baik dan benar.

10 tahun kemudian (baca: sekarang), gue lihat blogging masih menjadi primadona, terutama bagi orang yang lebih senang membaca daripada nonton video (kembarannya, vlogging). Blogging juga relatif lebih low-maintenance daripada vlogging yang butuh lebih banyak editan dan lebih mengutamakan aspek visual.

Menurut gue, dengan berbagai bidang digital marketing yang tumbuh subur sekarang ini, tugas blogger sekarang lebih berat untuk menjaga tulisan dan desain blognya agar tetap relevan, seperti mengutamakan kaidah-kaidah SEO saat menulis, mengutamakan tulisan yang sesuai dengan niche pembaca, atau belajar desain grafis/coding untuk memperbaiki estetika blognya. Ini adalah sesuatu yang tidak gue perhatikan di era blogging 10 tahun yang lalu.

Siapa blog yang suka kamu baca tulisannya?

Sayangnya, kamus blogger gue sepertinya sedang agak kosong. Jadi gue nggak bisa memberi saran tentang blogger yang suka gue baca.

Media sosial apa yang paling menarik yang kamu punya saat ini?

Twitter holds the spot karena kontennya yang merupakan gabungan dari teks dan gambar. Gue suka banget berinteraksi disana dan gue suka menambah teman dari Twitter, walaupun setiap hari kayaknya linimasa gue selalu disuguhi drama yang berbeda. Tapi terserah kita kan, mau merespon drama ini atau tidak.

Apa arti media sosial untuk hidupmu?

Media sosial adalah tempat gue mencari konten untuk ditulis atau inspirasi untuk digambar. Berarti, arti media sosial = sumber inspirasi (baik positif maupun negatif).

Bagaimana kamu menetapkan batasan di media sosial?

Pacar gue sering ngeledekin gue sebagai telefonista alias orang yang terlalu sering berinteraksi dengan ponsel dan media sosial. Little did he know that I impose a heavy boundaries in my social media.

Di Facebook, contohnya, gue nggak menulis nama panjang, bahkan foto profil pun bukan foto gue, melainkan foto karya gue. Gue hanya menggunakan Facebook sebagai sarana berinteraksi dengan orang-orang sepemikiran di grup-grup tertentu.

Di Instagram (sekarang sedang hiatus pakai), gue menggembok akun gue dan hanya bisa diakses untuk orang-orang yang mengenal gue. Dalam menyetujui permintaan pertemanan, gue bertanya ke diri sendiri, “Do you want this person to see more about your life?”

Di Twitter, batasan gue lebih keras lagi. Baru-baru ini gue menggunakan software penghapus tweet sehingga tweet gue sekarang berjumlah sekitar 800-an tweet saja. Gue nggak pakai foto pribadi sebagai foto profil, gue tidak mengumbar nama lengkap, dan sebisa mungkin gue berusaha untuk tidak mengunggah hal-hal pribadi seperti tempat kerja, umur, daerah tempat tinggal, dan kondisi keluarga. Bahkan sampai kini gue nggak nulis nama pacar gue di Twitter, walaupun beberapa teman di Twitter sudah tahu nama pacar gue.

Pamer tentang hal apa yang paling tidak kamu sukai di media sosial? Apakah kamu dulu pernah melakukannya?

Gue paling nggak suka lihat orang-orang yang pamer harta kekayaan dan kemesraan dengan partner. Namun, dari segala hal berkaitan dengan pamer, gue paling nggak suka dengan pamer tipe humblebragging dan pamer yang berkedok bertanya ke orang lain. Mungkin karena setiap hari gue bekerja di bidang bahasa dan komunikasi tekstual, jadi mudah sekali untuk gue ngelihat apakah seseorang sedang humblebragging atau nggak.

Gue tentu saja suka pamer, bukan hanya dulu, tapi sekarang masih suka juga. Pamer karya seni, pamer tulisan di blog, pamer masakan buatan sendiri, pamer foto-foto liburan… sebatas itu lah. Kalau mau pamer yang bener-bener pamer, gue akan menulis caption sekitaran “Mau pamer dulu nih”. Tapi sebisa mungkin gue tidak mau pamer hal-hal yang tidak gue sukai yang bisa dilihat di atas.

Pernahkah kamu di-bully di media sosial? Jika pernah (dan tidak keberatan), gimana ceritanya?

Sepertinya pernah, walaupun gue nggak bisa inget jelas karena apa. Hal pertama yang gue inget tentang bullying di media sosial adalah saat gue pegang akun Twitter acara youth movement yang seharusnya dilaksanakan tahun 2010. Berhubung acara itu bertemakan diversity, jadilah kami para mimin (deuh, mimin… ketahuan anak Twitter lama) ditugaskan untuk bikin kultwit (tuh kan, bahasa Twitter jadul lagi) yang berkaitan dengan kebhinekaan. Gue pun mengangkat topik komunitas Tionghoa di Indonesia, berkaitan dengan topik penelitian gue di kampus dulu. Tak disangka tak dinyana, banyak pengikut akun tersebut yang menilai cuitan gue rasis dan diskriminatif, padahal gue hanya memberikan informasi. Jadilah gue dirisak habis-habisan di Twitter.

Bagaimana kamu menilai dirimu saat ini? Apakah kamu merasa sudah matang secara sikap dan pemikiran? Apakah kamu merasa masih labil? Atau ada hal lainnya?

Pertanyaan yang bagus dari mbak Deny. Secara umum, gue merasa gue bertumbuh sangat pesat selama lima tahun belakangan. Gue merasa kemampuan empati gue semakin diasah, dan gue yang sekarang bisa jauh lebih merasakan perasaan orang lain dibandingkan gue yang dulu. Sejak lima tahun yang lalu, gue juga belajar beberapa hal seperti:

  • Membuat batasan dengan orang lain (bahkan anggota keluarga) itu wajar;
  • Seseorang harus bisa lebih asertif dalam menentukan pilihan dalam hidupnya; dan
  • Efforts won’t betray (usaha tidak akan mengkhianati hasil).

Walaupun begitu, masih banyak hal yang harus gue pelajari dan terapkan dalam hidup. Salah satu hal yang sedang struggling gue terapkan adalah bagaimana untuk tidak terlalu reaktif dalam menanggapi sesuatu. Gue sudah mengerti konsep “kamu tidak bisa mengubah aksi orang lain, tapi kamu bisa mengontrol reaksimu”, tapi sepertinya ini sulit sekali dilakukan, walaupun gue terus menerus berusaha. Sekarang sih gue berusaha menerapkan ini di media sosial, contohnya: tidak langsung ngegas dalam sebuah topik atau tidak langsung menyuarakan pendapat untuk topik tertentu.

Hal lain yang masih ingin gue temukan dalam hidup adalah spiritualitas. Seperti yang gue tulis di 11 fakta di atas, gue memang sudah tidak berafiliasi dengan agama, tapi sepertinya gue rindu menjadi orang yang spiritual. Sekarang gue sedang mencari makna spiritualitas diri gue sendiri, doakan ya, semoga gue bisa cepat mendapatkannya.

Masakan apa yang paling jago kamu buat dan yang selalu dipuji orang lain?

Masakan Manado, tentu saja! Sejak pindah ke Belanda, jika diundang potluck di jaman kuliah dulu, gue selalu berusaha masak makanan Manado yang sederhana seperti ayam rica-rica. Sejauh ini, gue hampir selalu sukses masak makanan Manado dan orang-orang biasanya suka. Pacar gue sih suka banget makan daging rica-rica buatan gue. Selain masakan Manado, makanan lain yang selalu dipuji orang lain adalah nasi goreng daging cincang.

Apa yang saat ini paling kamu banggakan dari dirimu sendiri?

Selama lima tahun belakangan, gue selalu membanggakan diri tentang sikap keras kepala gue. Keras kepala dalam arti positif, ya. Jika gue nggak keras kepala, gue nggak akan bertahan jadi imigran, memulai karir dan hidup baru disini. Jika gue nggak keras kepala, sudah pasti keluarga gue akan memberikan opini-opini yang tidak perlu, yang hanya akan menghambat jalan gue menentukan hidup sendiri.

Apa kabarmu selama Pandemi ini?

Secara fisik, kabar gue baik-baik saja. Secara mental, tidak selalu baik. Sejak lebih in tune dengan kesehatan mental sejak beberapa tahun lalu, gue jadi mudah awas jika mental state gue menurun.

Selama pandemi ini, secara umum, sulit sekali menjaga mindset positif. Gimana nggak sulit, ruang gerak kita dibatasi, gue jadi susah cari waktu untuk me-time, dan profesi gue selalu menuntut gue untuk pasang muka profesional dan keeping the productivity and positivity yang lama-lama kesannya jadi maksa dan toxic. Ada hari-hari dimana pacar menilai gue jadi sangat grumpy dan ngambekan, padahal gue merasa baik-baik saja. Ada juga hari-hari dimana gue ngerasa sangat gerah di rumah terus dengan pacar gue, tapi gue nggak bisa cari katarsis di luar rumah. Jadi ya begitulah. Trying to stay sane, one day at a time.


Akhirnya selesai juga menjawab 11 pertanyaan dari mbak Deny, dan kini saatnya gue melempar 11 pertanyaan kepada yang akan meneruskan Liebster Award ini.

  1. Apakah kamu percaya zodiak? Kalau iya, kenapa? Kalau nggak, kenapa?
  2. Menurut kamu, nanya agama/orientasi seksual/status pernikahan ke orang lain itu wajar atau nggak?
  3. Apakah kamu pernah viral di media sosial? Kalau pernah, ceritain dong! Kalau nggak pernah, apakah kamu pengen viral?
  4. Masih berkaitan dengan media sosial. Apakah kamu pernah detox media sosial sebelumnya? Kalau pernah, ceritain dong! Kalau nggak pernah, media sosial apa yang ingin kamu kurangi, dan kenapa?
  5. Apakah kekurangan terbesar kamu?
  6. Semua orang punya ketergantungan masing-masing. What are you addicted of?
  7. Menurut kamu, seperti apa wajah dunia di tahun 2050?
  8. Apa hal yang kamu ingin coba, tapi belum punya waktu (atau niat/nyali) untuk mencobanya?
  9. Apakah kamu sudah puas dengan hidup kamu saat ini? Jika ya, sebutkan satu momen terbaik dalam hidupmu. Jika nggak, apa yang ingin kamu perbaiki dari hidupmu?
  10. Semua hal di dunia ini pasti berubah, tak terkecuali manusia. Perubahan apa yang kamu alami di hidupmu yang sangat signifikan hingga saat ini?
  11. Cemilan manis atau cemilan asin. Mana yang kamu lebih suka?

Semoga 11 pertanyaan ini nggak susah-susah amat ya untuk dijawab. Lumayan, sekali nulis, bisa sambil introspeksi juga.


Bagian terakhir dari blog ini, gue pengen meneruskan Liebster Award ini ke para pembaca, terutama yang punya blog. Tidak seperti aturan Liebster Awards seperti biasa, I’m not going to name names. Kalau kamu tertarik untuk berpartisipasi dalam Liebster Award dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, jangan kasih kendor, ayo langsung tulis di blogmu! Kalau sudah ditulis, kabari ya, gue juga pengen baca πŸ™‚

7 Comment

    1. Friendster… per 2003 ya itu kayaknya πŸ˜› pertama ngeblog juga disitu trus pindah ke Blogspot. Jaman dulu pas di bully di medsos berasa banget. Soalnya kan barang baru, belom pernah tau ginian. Dan kata β€œnetizen” belom tercetus

  1. Crys!! Kita samaan banget soal gak pernah ngasih nama asli kita & orang2 terdekat di publik πŸ˜† Aku males soalnya saat semua orang kepo & cari tahu ttg diri ku, keluarga bahkan pacar ku (ada banget yg kayak gini!!). Jadi even maen medsos yg katanya hidup bisa jadi gak privasi lagi, aku tetep pengen membatasi hal2 yg gak semua orang HARUS tau!

    1. Tos dulu Nin!!! Disini aku belajar privasi bahkan ke nama pun penting banget. Sebisa mungkin aku coba proteksi. Nama tengah dan nama panjang ga pernah aku tulis, bahkan di Facebook pun disingkat. Walaupun akun aku publik (untuk Twitter) tapi tentu bisa kok kita jaga privasi kita dan orang2 terdekat kita. Walaupun kita bukan artis, tapi boleh dong sekali2 GR ngira ada yang kepo dan cari tahu tentang kita 🀣

  2. Ah, terima kasih sudah sharing ini, Crys. Mungkin selain menjawab pertanyaan Mba Deny, aku juga mau menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kamu nantinya.

    Banyak hal yang kamu tulis yang aku rasa *relatable” dengan aku sekarang tapi terutama di bagian mencari makna dan jalan spiritualitas bagi diri sendiri πŸ™‚ Aku mengambil waktu untuk menganalisis apa yang aku percaya, bukan hanya percaya tentang apa yang “dicekokin” ke aku sejak lahir… meskipun tidak bisa dipungkiri, kadang-kadang masih banyak tingkah laku dan pola pikir yang dipengaruhi nilai-nilai kepercayaan Abrahamic tapi untungnya sejauh ini di bagian yang baik-baiknya saja πŸ™‚

    Yang aku rasa sejak tidak mengafiliasikan diri dengan kelompok kepercayaan tertentu adalah aku jadi jauh lebih bisa menerima orang lain regardless kepercayaan dan ketidakpercayaan yang orang itu punya, jadi lebih terbuka dan compassionate juga lucunya.

    1. Hore, lama-lama ini jadi Liebster Award di luar pakem ya Han xD Makasih udah baca.

      Sejak lima tahun lalu merantau aku belajar bahwa spiritualitas tu ga selalu berarti berafiliasi dengan agama tertentu atau pergi beribadah ke tempat ibadah agama tersebut tiap minggu. Sama sih kayak kamu, sejak gak berafiliasi dengan agama apapun, aku jadi jauh lebih menerima orang dan jauh lebih bisa menerapkan batasan terhadap keluarga yang masih berafiliasi terhadap agama. Yang penting mereka respek jalan hidup aku dan aku pasti akan respek jalan hidup mereka.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.