Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Travel Log/Diary/Journal/etc

Kurang Puas Jalan-jalan di Dublin

Awalnya, rencana kami ke Dublin tuh sekitar 4 hari 3 malam dan hanya di Dublin saja. Ternyata saudaranya R berpikir mau ajak kami jalan-jalan ke Cliffs of Moher dan menginap di Galway satu malam. Jadinya waktu kami di Dublin hanya sekitar dua malam saja.

Menurut gue, jalan-jalan di Dublin hanya dua malam tuh, nggak puas deh. Kenapa begitu? Yuk baca tentang beberapa alasan kenapa dua malam di Dublin ngga cukup. Sepertinya, untuk bener-bener keliling Dublin sampai puas, perlu tinggal disana tiga atau empat malam.

Baca tulisan sebelumnya: Hampir Ditolak Boarding ke Dublin

Sejarah kota Dublin

Tahukah kamu bahwa Dublin sempat menjadi kota Viking? Yep, Dublin awalnya adalah kota kecil di mulut Sungai Liffey, didirikan oleh bangsa Viking dari utara Eropa yang berkuasa dari abad 8 hingga abad 11 Masehi. Nama Dublin bahkan digadang-gadang berasal dari kata “Dubh Linn” yang berarti “kolam hitam” dalam bahasa Irlandia.

Sungai Liffey jaman sekarang

Setelah bangsa Viking cabut dari Dublin atau pelan-pelan berintegrasi dan menjadi Kristen, kota ini berangsur melejit menjadi pusat pemerintahan Inggris. Sempat dikuasai bangsa Norman, melarat pada Abad Pertengahan karena terkena pandemi, hingga akhirnya ditaklukkan oleh dinasti Tudor dari Inggris.

Saat Dublin (dan Irlandia) berada di bawah kekuasaan Inggris, hidup tak lepas dari kenyataan pahit dan manis yang muncul timbul tenggelam. Entah itu kena wabah, lepas dari wabah, kebakaran di sana-sini, atau pesatnya pembangunan kota. Pelan-pelan, jalan-jalan sempit Abad Pertengahan berubah menjadi jalan raya yang lebar, dan pembangunan berbagai gedung kota yang sampai sekarang masih eksis seperti Rumah Pajak (Customs House), kantor pos, rumah sakit, dan pembangunan universitas tertua di Irlandia tahun 1592, Trinity College.

Bicara tentang Dublin, ngga lengkap tanpa bicara tentang dua hal yang membentuk sejarah Irlandia: The Great Famine dan Easter Rising. The Great Famine adalah wabah kelaparan besar yang menghantam seluruh negara di pertengahan abad ke-19, yang disebabkan oleh banyaknya perkebunan kentang yang gagal panen. Kelaparan ini berujung pada penyusutan populasi Irlandia dalam waktu tiga tahun saja, entah itu karena kematian, atau banyaknya orang Irlandia yang pindah ke luar negeri untuk melepaskan diri dari wabah kelaparan. Kelaparan besar ini menjadi salah satu alasan utama kenapa banyak komunitas Irlandia di negara-negara lain, seperti Amerika Serikat. Semua cerita ini bisa kita temukan di EPIC Irish Immigration Museum.

Yang kedua adalah peristiwa Easter Rising, salah satu peristiwa penting yang merupakan bagian dari perang Irlandia menuntut kemerdekaan dari Inggris di awal abad ke-20. Pada minggu Paskah di bulan April tahun 1916, serangkaian pemuda simpatisan republik Irlandia melawan tentara Inggris, menggunakan gedung kantor pos Dublin sebagai markasnya. Easter Rising, beserta berbagai pemberontakan lainnya, berujung pada Anglo-Irish Treaty dan akhirnya kemerdekaan Irlandia dari Inggris pada awal dekade 1920-an.

Berkunjung ke Museum Gratis di Dublin

Karena waktu kami yang nggak banyak di Dublin, akhirnya kami hanya bisa mengunjungi satu museum yaitu National Gallery of Ireland (Galeri Nasional Ireland). Terletak di pusat kota Dublin, galeri ini baru buka lagi sekitar dua bulan lalu, setelah berbulan-bulan terkena efek lockdown. Yang bikin menarik, akses ke galeri nasional ini rupanya 100% gratis!

Sebelum datang ke Irlandia, gue sudah mengunjungi situs National Gallery untuk mendapatkan tiket gratis mereka. Jika kamu datang di hari Senin sampai Jumat, kamu bisa datang kapan saja sepanjang galerinya buka. Namun untuk kunjungan di hari Sabtu dan Minggu, kamu harus memilih timeslot waktu kedatangan.

Tampak depan National Gallery of Ireland

Selain National Gallery of Ireland, museum lain yang menawarkan tiket gratis adalah National Museum of Ireland. Gue juga sudah mendapatkan tiket gratis dari situs mereka, tapi karena kami harus pergi ke bandara lebih cepat, maka kami nggak sempat mengunjungi museum tersebut. Padahal isinya kayaknya seru banget yaitu tentang temuan arkeologis dan material history lainnya.

Ada apa di National Gallery of Ireland? Sesuai namanya, galeri ini isinya adalah lukisan dan patung-patung buatan seniman kenamaan Irlandia dan Eropa. Lukisan-lukisan dari Caravaggio, Monet, Vermeer, Picasso, banyak ditemukan disini.

The Betrayal of Christ karya Caravaggio
The Terrace, Saint Tropez oleh Paul Signac. Pointilisme adalah salah satu gaya melukis favorit gue.
Salah satu lukisan dari seorang pelukis Irlandia yang gue suka. Sayang gue lupa nama dan pelukisnya.

Jalan-jalan ke museum atau galeri seni saat pandemi tuh ada sensasi tersendiri. Walaupun berasa agak pengap karena wajib pakai masker, tapi ada rasa kepuasan tersendiri saat memasuki sebuah ruangan dan ternyata ruangannya kosong melompong. Seolah satu museum jadi milik sendiri. Seperti gambar di bawah ini, nih.

Betul-betul sepi, melihat karya seni jadi bisa lebih menghayati setiap warna dan goresannya.
Kapan lagi bisa selfie di ruangan kosong penuh lukisan dan patung?

Makanan di Dublin selama 3 hari 2 malam

Mungkin gue dan R kurang riset atau memang benar adanya, tapi makanan selama kami di Dublin kurang memuaskan. Terutama di bagian variasi makanan vegetarian dan hasil laut.

Gue dan R sudah stop makan daging merah dan unggas sejak awal tahun lalu. Karena ini, sebelum pergi ke Dublin, kami sudah riset duluan; apakah kota ini vegetarian friendly atau nggak. Walaupun banyak restoran di Dublin yang menawarkan menu vegetarian, tapi selama kami disana dan cari restoran acak, sepertinya menu vegetarian mereka masih terpatok pada salad bar. Bahkan McDonalds saja varian vegetariannya nggak sebanyak McDonalds di Belanda. Udah gitu, kebanyakan dari restoran di Dublin masih banyak yang mengutamakan menu roti, kentang, dan burger. Intinya, berdasarkan pengalaman gue, mereka masih belum cukup revolusioner dalam perkara menawarkan menu vegetarian atau hasil laut.

Walaupun begitu, kami sukses makan banyak makanan yang cukup enak di Dublin. Di malam pertama, sepupunya R dan istrinya mengajak kami ke restoran di tengah kota Dublin bernama Fade Street Social Restaurant & Cocktail Bar. Menu makanannya ada burger, lamb rack, ada juga battered fish fillet dan kreasi roti sourdough. Gue memesan roti sourdough dalam bentuk lobster pizza. Rasanya enak sekali.

Lobster Pizza dari Fade Social Restaurant. Adonan rotinya pakai sourdough.

Kami juga sempat pergi ke all-you-can-eat sushi dan makan sushi ala komunitas Jepang di Brazil. Tahukah kamu, komunitas Brazilian-Japanese masih cukup banyak di Brazil, dan imigran Brazil adalah salah satu imigran terbanyak di Dublin? Sushi ini nggak sempet gue foto, tapi penampakannya cukup menarik dibandingkan sushi Asia atau sushi yang biasa kami makan di Belanda. Sushi dalam makanan Brazil-Jepang lebih creamy dan bahkan mereka nggak ragu deep fry sushi mereka. Pengalaman makan yang cukup menarik.

Di hari terakhir kami, untuk makan siang, kami asal pilih salad bar di dekat National Gallery of Ireland bernama Honey Truffle. Walaupun enak, tapi gue bukan fans salad bar karena nggak mengenyangkan. Buat gue, salad bar juga terlalu basic dan membosankan untuk jadi makanan utama. Gue memesan dua macam salad yaitu salad dengan kol merah dan salad isi ubi.

Salad dari Honey Truffle, ditambah biji labu. B aja buat gue.

Selepas dari Dublin, gue betulan sudah kepingin banget makan makanan Asia dengan sayuran yang melimpah. Nasi putih dengan oseng-oseng sayur, atau mie kuah dengan ikan dan hasil laut, ibarat menjadi makanan luar biasa lezat di otak gue. Rupanya gue cepat bosan dengan varian roti, kentang, burger, dan minimnya variasi makanan vegetarian disana. Sepulangnya gue ke rumah, gue langsung membuat mie rebus (bukan Indomie) pakai frozen seafood dan bumbu tom yam. Mantap!!!

Yang masih ingin dikunjungi di Dublin

Walaupun makanan Dublin kurang cocok dengan lidah dan kebiasaan gue, tapi gue kepingin mengunjungi Dublin sekali lagi. Seperti yang gue bilang di awal, gue butuh lebih banyak waktu di Dublin untuk menyusuri berbagai museum dan pusat turis lain yang ada, seperti:

  • Dublinia. Museum berbayar ini adalah museum dengan fokus Dublin masa kejayaan Viking dulu. Gue kepingin masuk museum ini untuk melihat gimana mereka tinggal di masa Viking, syukur-syukur melihat artefak era Viking.
  • EPIC Irish Immigration Museum. Gue kepingin lihat lebih lanjut tentang sejarah emigrasi orang-orang Irlandia ke seluruh penjuru dunia, apalagi ke Amerika Serikat.
  • The Hills of Tara. Situs bersejarah ini ada di County Meath, tidak jauh dari Dublin. Monumen ini adalah salah satu monumen pagan yang masih utuh. Dulu, raja-raja Irlandia selalu ditahbiskan di bukit dan batu bersejarah ini. Untuk penggemar Celtic dan paganisme, situs ini harus jadi salah satu situs wajib datang jika pergi ke Dublin.
  • Trinity College dan Book of Kells. Sebagai universitas tertua di Irlandia, Trinity College jadi salah satu tempat wajib kunjung untuk gue karena gue penasaran dengan arsitekturnya. Sementara itu, Book of Kells adalah manuskrip Gospel yang bisa dikunjungi di dalam perpustakaan di Trinity College.

Di tulisan berikutnya, gue akan bercerita lebih lanjut tentang jalan-jalan ke Cliffs of Moher, Galway, dan masuk angin di Cliffs of Moher. Stick around!

4 Comment

  1. Menarik! Kalau soal makanan aku biasanya jarang banget cari restoran acak, untuk meminimalisir rasa kecewa, kecuali pas di China (susah soalnya cari yang di list karena kendala bahasa) atau di kota kecil di Italia (karena ya pada enak2 semua). Jadi aku memang biasanya sudah planning (dan booking sebelumnya) kalau mau makan hari ini di resto mana dst.

    Salut buat kalian yang jadi pescetarian, aku ingin banget tapi masih belum bisa. Semoga kesampaian balik ke Ireland lagi.

    1. Kalo aku jalan sendirian pasti cari makannya kayak mbak Eva juga. Tapi suami emang ga begitu foodie, jadi dia ga ngaruh mau pesen tempat dulu atau ngga. Eh tapi ada satu Chinese food joint yang kami datengin pas hari pertama sampe Dublin namanya Xi’an Street Food, udah aku catet juga dari hasil google, itu nasgor vegetariannya enak banget deh kayak nasgor abang-abang.

      Iya, semoga bisa balik Dublin lagi tahun depan (males kesana pas musim dingin soalnya, hahaha)

      1. Udah kalian kesini aja, gosah research before hand, nanti aku kasi tau tempat2 makan asik haha.

        Omong2 soal Xi’an street food aku jadi inget pas ke Xi’annya duhhh emang makanannya enak2 sih, tapi pesennya sampe pake emosi karena kendala bahasa haha

        1. Pengennya sih kesana pas Kulturnatten tahun ini. Tapi entah kenapa aku liat harga tiket kok mahal banget ya. Semoga bisa melanjutkan kunjungan Kulturnatten tahunan tahun depan!

          Nah itu menu2 di Xi’an Street Food juga jarang banget ada ikan atau seafood. Kalo ga ayam, sapi, babi, bebek -_- aku takeaway nasgor sayur karena udah laper berat.

Tinggalkan Balasan ke kutubuku Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *