Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Living in the Netherlands Up Close and Personal Posts

Ketinggalan Berita

Tulisan ini dibuat saat rakyat Indonesia, di dalam maupun di luar negeri, sedang terlena euphoria kemenangan Greysia Polii dan Apriani Rahayu memenangkan medali emas untuk cabor bulutangkis di Olimpiade Tokyo 2020.

Perasaan gue tentu saja senang, bangga melihat merah putih dan lagu kebangsaan dikumandangkan di negeri Matahari Terbit. Sekejap, flashback kenangan masa lalu menghinggapi otak, tentang bagaimana gue setiap tahun selalu datang ke perhelatan bulutangkis Indonesia Open bersama om, tante, dan sepupu. Om gue ini adalah pelatih ganda campuran timnas bulutangkis Indonesia sejak 27 tahun yang lalu. Namanya sangat terkenal beserta kakak dan adiknya yang juga menjadi atlet bulutangkis yang mengharumkan nama negara.

Kemudian ingatan gue terbang ke masa-masa sekolah dan kuliah dulu, saat gue sering mengikuti sepupu gue pertandingan di berbagai kota di Indonesia. Berhubung pertandingan antar klub masa itu banyak dilakukan di waktu liburan sekolah, jadilah liburan gue enggak pernah membosankan. Sering diajak nemenin sepupu tanding di Solo, Jogja, Bandung, Semarang, bahkan pernah gue temani dia sampe ke Palembang tahun 2014, tahun terakhir gue bisa jalan-jalan gratis seperti itu karena per 2015 gue pindah ke Belanda.

Fear of Missing Out

Kayaknya ini ya, “kutukan” orang yang nekad berangkat merantau: kehilangan momen dan ketinggalan berita.

Gara-gara euphoria Olimpiade Tokyo ini, gue langsung menghubungi sepupu. Bilang gue kangen masa-masa saat kita nonton Indonesia Open gratis. Teriakan semangat suporter Indonesia di Istora Senayan tuh gak ada lawannya lho. Apalagi saat rally, tiap kali bola di lapangan Indonesia, pada teriak “Eeea!”. Lalu saat bola di lapangan lawan, serentak menggema “Huu”. Jadi dikit-dikit Eeeaaa-Huuu, Eeeeaaa-Huuu, begitu terus sampai poin.

Kemudian gue nanya ke sepupu, apakah dia masih bermain bulutangkis level klub atau nggak. Jawabannya dia sudah nggak main lagi, salahkan saja pada Corona. Setelah gue kroscek ke nyokapnya (tante gue), memang sejak pandemi dimulai, sudah nggak ada lagi pertandingan. Sampai kapan? Nggak ada yang tahu.

Terus gue bilang ke sepupu, sesuatu yang jarang gue lakukan, gue sarankan dia buat coba daftar kuliah saja, daripada ijasah Paket C-nya nggak dipake. Sepupu gue ini memang pionir gerakan “berhenti sekolah untuk jadi atlet bulutangkis”. Di umurnya yang masih remaja, dia stop sekolah agar fokus ke cabang olahraga ini. Beberapa tahun kemudian, dia ambil kejar Paket B dan Paket C agar dapat ijasah setara SMP dan SMA. Sebuah keputusan yang sangat unik dan diikuti oleh saudara-saudaranya yang lain yang mau jadi atlet. Rame-rame berhenti sekolah untuk fokus lalu ambil paket penyetaraan di kemudian hari.

Kemudian sepupu membalas, dia masih ogah kuliah, tapi dia kepikiran ingin melatih bulutangkis di Manado. Berarti ada kemungkinan sekeluarga akan pindah ke Manado, mungkin setelah om gue pensiun. Sepertinya om gue mulai membangun rencana ini sejak satu dekade lalu, saat dia mulai membeli tanah di Sulawesi Utara lalu dijadikan resor dan restoran. Dia juga beli rumah di BSD. Ya mungkin dia mulai diversifikasi cara mendapatkan uang sejak satu dekade terakhir kali, ya. Tapi gue nggak membayangkan aja bahwa suatu saat nanti sepupu gue bakal pindah ke Manado dan mungkin melatih disana.

Sedih…

Iya, gue sedih mengingat kemungkinan-kemungkinan ini. Bahkan tadi cerita sama suami pun ujung-ujungnya menitikkan air mata karena tiba-tiba emosional.

Gue sedih membayangkan bahwa ujung-ujungnya kita semua akan terpisah, apalagi hubungan gue dan sepupu gue tuh lebih dekat dibandingkan gue dengan adik-adik tiri gue. Kami memang umurnya nggak begitu jauh, hanya beda empat tahun.

Gue juga sedih karena di akhir cerita, dia nggak berhasil masuk pelatnas, sesuatu yang sudah dia idam-idamkan sejak dulu. Bahkan berhenti sekolah untuk jadi atlet itu kan agar fokus bisa masuk pelatnas juga. Mungkin karena persaingan ketat, dan dia juga nggak masuk PB terkenal, makanya bakatnya nggak begitu terlihat. Dan gue lihat juga bokapnya (om gue) nggak main nepotisme, bukan mentang-mentang dia pelatih timnas bulutangkis maka bisa semudah itu dia masukkan anaknya ke pelatnas.

Ah, ijinkan gue untuk bersedih sejenak, bersedih mengingat memori indah jaman dulu dan fakta bahwa sepupu gue akan berhenti main bulutangkis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *