Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Tips and Tricks Collection

Katarina Cakes, Berbisnis Di Kala Pandemi

Tulisan ini adalah bagian pertama dari tulisan dua babak mengenai tips bisnis bertahan di masa pandemi dari kacamata content marketing.


Sudah tujuh bulan kita hidup di dekade yang baru. Sejak awal tahun ini, kita sudah disibukkan dengan pandemi yang menyengsarakan seluruh dunia. Roda perekonomian lumpuh, hidup jadi serba tak pasti, dan umat manusia perlahan harus membiasakan diri dengan adat istiadat yang baru, the new normal.

Tak ubahnya dengan bisnis. Masih ingat nggak sih, saat krisis moneter tahun 1997, banyak orang yang memulai bisnis warung tenda? Bahkan artis tanah air pun ikut-ikutan membuat bisnis yang sama. Nggak beda jauh dengan krismon dulu, pada masa pandemi ini, orang-orang berbondong-bondong membuat bisnis dari rumah, seperti bisnis berjualan makanan.

Bisnis makanan acapkali dijadikan sebagai tombak utama untuk bisnis rumahan karena beberapa hal. Yang pertama, demand-nya akan selalu ada karena semua orang butuh makan. Yang kedua, modal untuk bisnis makanan sudah ada di dalam hidup sehari-hari: dapur kita sendiri.

Dengan status pandemi yang masih berlangsung tapi banyak yang mulai curi start membangun kembali perekonomian mereka, banyak pelaku bisnis rumahan mulai serius berpikir untuk meneruskan bisnis ini pascapandemi. Nah, gimana content marketing bisa membantumu meneruskan bisnis rumahan setelah pandemi selesai?

Di bagian pertama tulisan ini, gue mewawancarai sahabat gue, Rielya (Ria), pemilik toko kue online Katarina Cakes yang diluncurkan pada masa PSBB di Jakarta (IG: @katarina.jkt). Mari kita lihat awal mula pendirian bisnisnya dan gimana dia memanfaatkan content marketing untuk bisnis rumahan yang sustainable!

Awal Mula Katarina Cakes

Ria membuat Katarina Cakes dengan visi misi yang sederhana: berbagi kebahagiaan lewat kue atau cookies yang mudah dimakan dengan rasa yang familiar. Ria ingin menawarkan kehangatan kue rumahan di setiap produknya.

Gue pengen, yang makan kue/cookies buatan gue, bisa langsung merasa “I’m home” di setiap gigitannya.

Selain itu, Katarina Cakes juga membawa semangat “kembali ke akar”. Ria yang keturunan Ambon, selalu berusaha menawarkan citarasa Indonesia Timur di kue-kue buatannya, seperti kenari Ambon di Dark Choco Super Brownies, atau meluncurkan produknya yang paling anyar: Madonna Cake, puding lapis bolu kebanggaan kepulauan Maluku.

Asal nama Katarina Cakes berawal dari nama baptis Ria, Cakes (ya menurut ngana?). Dia memilih menjadikan nama baptisnya sebagai merek selain karena familiar, yaitu juga karena nama Katarina sangat mudah dilafalkan orang Indonesia. Pelajaran nomor satu: Dalam mencari nama untuk merek, carilah nama yang mudah diingat dan mudah dilafalkan orang lain. Selain itu, nama yang mudah dan konsisten juga akan memudahkan kalian dalam branding di media sosial setelah pandemi berakhir.

Kelebihan dan kekurangan memulai bisnis di era pandemi

Banyak orang yang menganggap bahwa memulai bisnis di era pandemi tu sangat sulit. Emang bener sih, tapi kadang saat kepepet biasanya ide cemerlang datang dengan lebih mudah. Tak ubahnya dengan Ria. Setelah dia resign dari perusahaan tempat dia bekerja, sambil menunggu kontrak kerja berikutnya mulai, dia iseng-iseng membuat Katarina Cakes sebagai sarana nambah pemasukan dan emang anaknya suka baking, sih.

Menurut Ria, nggak ada salahnya memulai bisnis di era pandemi, walaupun sifat awalnya untuk sementara. Justru di era pandemi ini, memulai bisnis dari media sosial adalah hal yang cerdas. “Karena orang-orang pada #dirumahaja, jadi mereka punya lebih banyak waktu untuk browsing media sosial mereka. Jualan kamu juga akan lebih mudah dilirik karena calon pelanggan ada di luar sana, siap mencoba makanan apapun yang mereka mau,” ujar Ria. Menurut Ria juga, di era pandemi ini, ada banyak fotografer makanan yang menawarkan jasa pemotretan makanan secara gratis untuk bisnis-bisnis kuliner yang baru mulai.

Kekuatan ini juga bisa menjadi kelemahan. Menurut Ria, karena semua orang punya mindset yang sama (jualan di era pandemi), jadinya kompetitor seolah diluncurkan bertubi-tubi. Jadi, produk juga harus bisa stand out di pasarnya. Semakin banyak pilihan makanan, konsumen pun punya lebih banyak kuasa untuk memilih jenis makanan yang mereka mau.

Brand Consistency Tahan Banting Pascapandemi

Menurut Ria, brand consistency itu sangat penting (dan gue aminkan, makanya gue bikin tulisan ini). Bukan hanya merek yang harus konsisten, tapi juga harga, komunikasi, rasa, dan terutama di tulisan ini: konten dan desain dari brand tersebut.

Gue cukup aktif di Twitter dan disana gue melihat banyak sekali orang yang berjualan makanan di masa pandemi. Jualannya dengan banyak model narasi. Mulai dari narasi kasihan (baca: “karena pandemi, kami ingin menambah penghasilan keluarga dengan cara berjualan makanan ini”) sampai ke narasi yang lebih profesional seperti Katarina Cakes.

Narration matters. Tone of voice matters. Sebagai pembawa produk ke dunia luar, kamu harus bangga dengan produkmu. Tunjukkan itu adalah produk dengan cerita unik di baliknya, bukan hanya sebagai sarana penyambung nyawa. Dalam menulis narasi konten produk, beberapa pertanyaan ini bisa dijadikan dasar pembuatan konten:

  • Apalah arti sebuah nama? Apa arti di balik nama makanan/produk ini?
  • Bagaimana perjalanan sentimentil kamu dengan makanan/produk ini?
  • Apa sih rasa/bahan dasar yang menarik dari makanan/produk ini yang menurut kamu semua orang harus tahu?

Katarina Cakes memanfaatkan kesempatan bercerita mengenai produknya dengan sangat baik. Coba deh main-main ke IG-nya. Selain dimanjakan dengan visual yang konsisten, kamu juga bisa membaca sekelumit tentang kue yang dijual di setiap caption-nya. Katarina Cakes juga sering bercerita tentang narasi kuenya berupa postingan Instagram Story yang menjelaskan anatomi sebuah kue, seperti gambar di bawah ini.

Hashtag yang menarik dan sesuai dengan jualan juga sangat fun, lho! Kadang saat gue ngobrol sama Ria via LINE dan dia cerita tentang produknya, ada aja ide yang keluar dari otak untuk hashtag atau slogan menarik. Contohnya, karena produk Ria adalah kue-kue dan target marketnya adalah orang perkotaan yang demen ngopi dan nyemil bareng temen-temen, gue jadi terinspirasi bikin hashtag #ngopibarengkatarina untuk mendampingi konten Instagramnya. Bukan nggak mungkin, hashtag yang menarik bisa jadi tagline untuk bisnis kamu yang bisa dipakai bahkan sampai pandemi berakhir.

Selain narasi dan tone of voice, salah satu hal yang bikin bisnis kuliner bisa sukses bahkan setelah pandemi berakhir adalah desain yang sustainable. Baik itu logo, packaging, atau desain komunikasi di media sosial (template, palet warna, font, dll). Kekuatan warna dan gambar harus benar-benar dioptimalkan untuk membuat desain merek yang konsisten dan sustainable.

Contohnya, jika jualan kamu kue dan pastry seperti Katarina Cakes, cocok memakai palet warna-warna pastel, earthy colours, dan desain logo yang mengedepankan sisi feminin atau playful. Trend watercolor atau botanical prints juga cocok untuk bisnis-bisnis makanan kecil seperti ini seperti coklat atau bahkan masker kain (untuk produk non-kuliner).

Di sisi lain, kalau kamu jualan makanan berat seperti ayam geprek atau nasi bungkus, coba bereksperimen dengan warna-warna berani seperti warna primer (merah, kuning, hijau, coklat, hitam) dan font atau bentuk-bentuk geometris yang bold dan “berteriak”. Kalau jualan kamu berupa barbecue (se’i atau bakar-bakaran lainnya), carilah palet warna atau logo yang dark, broody, dan font yang “laki banget” (karena barbecue diidentikkan dengan hobi cowok). Contoh-contohnya bisa diliat seperti di bawah.

Punya bisnis kopi susu literan atau biji kopi? Warna-warna earthy atau cool tones, motif geometris sederhana, dan font jenis Sans Serif atau handwritten sepertinya cocok untuk vibe bisnis macam ini.

Gimana cara promosi bisnis kuliner biar terus laku setelah pandemi berakhir?

Bukan nggak mungkin, setelah pandemi ini berakhir, malah ada lebih banyak orang yang menemukan kebahagiaan menjadi business owner. Ria salah satunya. Dia ingin meneruskan bisnis ini bahkan saat dunia kembali normal.

Katarina Cakes dibangun dengan modal nekad, tanpa business plan. Ria bercerita, “Gue nggak mikirin business plan. Yang gue pikirin dulu adalah gimana bikin orang bisa menikmati kue-kue ala Katarina.” Justru setelah Katarina Cakes berjalan selama beberapa minggu, barulah Ria belajar banyak dari bisnis barunya itu. Learning by doing lah, istilahnya.

Menentukan model promosi adalah salah satu hal yang harus ditentukan sebelum memulai bisnis. Ria memulai promosi dengan mengirimkan sampel kue ke teman-teman dan keluarga dekatnya. Tujuannya adalah untuk mengetes kekuatan packaging, mencoba metode pengiriman, dan meminta feedback jujur dari mereka. Setelah dapat berbagai saran dari tester, Ria pun meluncurkan IG Katarina Cakes. Pelan-pelan, selain word of mouth dan Instagram Ads, dia mulai mendapatkan order dari orang di luar lingkaran koneksinya. Bahkan banyak dari pesanan tersebut berbuah manis menjadi recurring orders.

Metode promosi kuliner lain yang berhasil untuk Katarina Cakes adalah customer service. Sebagai praktisi bisnis, Ria belajar untuk terus berhubungan dengan pembeli. “Komunikasi nggak berakhir setelah pembeli membayar pesanan,” katanya. “Setelah kue dikirim, jangan lupa tanya tentang rasa produk, kondisi packaging kue saat diterima, pokoknya semua yang melibatkan konsumen”.

Dari kacamata Katarina Cakes, salah satu metode promosi bisnis kuliner yang mungkin bisa dibawa setelah pandemi berakhir adalah semangat collaboration over competition. Di masa-masa yang tidak tentu ini, kolaborasi bisa dilakukan secara online lewat hosting webinar, IG live, atau kolaborasi produk, asalkan tetap sejalan dengan visi misi dan brand kalian. Mungkin setelah pandemi selesai, dengan brand yang konsisten dan sudah ada pengikut setia, kolaborasi bisa dijalankan dengan cara merilis produk edisi terbatas antara satu brand dengan brand yang lain.

Tas kertas sebagai salah satu packaging Katarina Cakes. Ini tulisan tangan Ria sendiri, lho!

Tips diatas menutup bagian pertama serial strategi bisnis kuliner rumahan pascapandemi ini. Jangan lupa baca tulisan berikutnya, karena di tulisan mendatang ada tips-tips bisnis kuliner dari kacamata content marketing dan seorang food consultant!


Semua foto Katarina diambil dari dokumentasi Katarina Cakes dengan izin empunya merek. Foto-foto lain diambil dari Google dan http://www.jodyworthington.com/blog/new-project-killens-barbecue9201526

2 Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.