kurisetaru

kurisetaru

Where are You From?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Mungkin judul di atas adalah pertanyaan biasa, tapi untuk beberapa orang, pertanyaan tersebut bisa bikin nggak nyaman.

Gue, contohnya. Kadang gue merasa aneh, kenapa gue ngerasa risih kalau ada orang asing yang bertanya tentang asal gue. Pasti gue berpikir, “Siapa kamu, nanya nanya negara asal saya?”

Mungkin dulu pas masih berstatus pelajar, gue bisa dengan polos menjawab tentang asal negara gue. Biasanya setelah gue menjawab asal gue, orang-orang akan menjawab:

“Gue pernah ke Bali! Lombok! Sumbawa! Sepuluh tahun lalu, gue jalan-jalan keliling Indonesia! Negara kamu bagus ya!” (Kalo udah bawa-bawa tahun berapa mereka ke Indonesia, biasanya ini orang Belanda)

“Gue suka makanan Indonesia seperti soto, sate ayam, nasi goreng…” (biasanya yang ngomong gini orang Belanda)

“Nenek gue Indo lho, lahirnya di Bandung!” (Yes, lagi-lagi yang ngomong gini biasanya orang Indo-Belanda.)

Tapi lama kelamaan, gue malah merasa risih dengan jawaban-jawaban seperti itu. Niatnya ingin membaur dan berintegrasi, malah gue masih dicap “orang Indonesia”. Jadinya biasanya percakapannya sekitar negara gue, dan bukan tentang hal-hal normal yang diomongin orang lain pada umumnya.

Kayak gimana ya. Seolah gue jadi binatang eksotis atau buah eksotis asli Indonesia, begitu orang-orang tahu asal gue, mereka langsung heboh.

Dulu, gue bisa dengan cuek menjawab asal negara gue. Sekarang, gue cenderung berpikir lebih dalam jika ada orang yang bertanya tentang asal gue, biarpun mereka orang Belanda atau non-Belanda. Gue berpikir, bisa-bisa mereka membuat profil gue berdasarkan kewarganegaraan gue, sadar maupun nggak sadar. Mungkin mereka pernah punya pengalaman bergaul dengan orang Indonesia dan bisa langsung menyimpulkan gue seperti apa, berdasarkan pengalaman mereka tersebut.

Kalau gue lagi jalan-jalan sih, gampang. Tinggal jawab aja “Netherlands” kalau mereka tanya tentang asal gue. Lah memang secara literal, gue berangkat ke negara tersebut dari bandara Schiphol kan, hehehe. Yang agak ribet dan bikin baper tuh kalau gue ditanya pertanyaan yang sama di Belanda. Mau jawab “Indonesia”, rata-rata yang nanya pada heboh atau bego nanya balik “Dimana tuh?”. Akhirnya gue jawab aja kota tempat tinggal gue :p

Kenapa sih, orang-orang pendatang nggak dilihat berdasarkan negara atau keturunan mereka. Dengan begini kan, stigma dan stereotip bisa berkurang drastis. Kenapa gak dianggap sebagai pendatang yang sedang belajar budaya baru untuk berintegrasi dengan masyarakat mayoritas.

Mungkin perasaan seperti ini hanya dialami untuk orang-orang perantau kali ya. Kamu, apakah risih kalau ditanya tentang asalnya dari mana? How does that question make you feel?

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

Main ke Museon Den Haag

Berkunjung ke Museon di Den Haag dan berkenalan dengan masyarakat Romawi kuno di Den Haag.

21 thoughts on “Where are You From?

  1. Sampai detik ini, aku sih biasa aja ya kalau ada yang nanya. Selalu kujawab Indonesia. Trus kalau ada yang nanya lebih jauh di mana tepatnya ya kujawab Jawa Timur. Aku ga berpikir yang terlalu jauh tentang bagaimana2 dengan pertanyaan itu. Normal dan wajar. Pasti ada rasa nostalgia kalau yang bertanya memang pernah mengunjungi Indonesia. Menurut pendapatku, ga ada hubungannya dengan kita yang mau berintegrasi. Toh nanyanya ga selama seminggu penuh kan. Misalkan pas 2 tahun terakhir ini aku sering berhubungan dengan para dokter, eh beberapa diantara mereka ternyata pernah praktek di RS di Indonesia. Trus mereka bercerita kenangan mereka tentang Indonesia dan niat pengen balik ke sana untuk berlibur. Senang aja mendengar mereka jadi bernostalgia seperti itu. Setelah urusan selesai, ya sudah. Bukan berarti ngobrol sesaat tentang negaraku trus aku merasa mereka tidak melihat aku yang ingin melebur di sini. Dari kami yang berkomunikasi dengan bahasa Belanda toh sudah tahu mereka kalau aku dalam tahap berintegrasi. Menurut pendapatku begitu.

    1. Makanya, entahlah, mungkin emang aku aja yang terlalu kebanyakan mikir ina inu, akhirnya jadi gak nyaman kalau ada yang nanya asalnya dari mana. Ini cuma perasaanku aja loh, jadi pasti pengalamannya beda-beda kan…

  2. Dulu sempet merasa risih sekarang ngga. Sayang energinya soalnya ha..ha…Maksudku kita mau mati-matian kasih tahu mereka kita ngga nyaman ditanya begini, orang lain akan tanya juga. Ini normal ya, curiosity. Sekarang kalau ditanya kamu dari mana, where are you from, waar kom je vandaan? Aku tanya balik: ini tanya saya tinggal di mana atau tanya daerah/tempat asal saya dari mana?

      1. Biasanya ada yang langsung jelasin, oh maaf. Pingin tahu aja asalnya kamu dari mana. Aku kadang sering ditebak Indisch, Indonesisch & pernah disangka Latina πŸ˜‰

  3. Biasa aja dulu di tanya begitu. Mungkin karena memang biasa pindah2 suatu saat akan pergi lagi atau suatu saat back for good. Mungkin beda perasaannya ya bagi yg ingin tinggal lama atau ingin jadi WN negara ybs. Usaha dan keinginan untuk berintegrasi sepenuhnya jauh lbh besar. Menurutku mereka hanya curious bkn stereotype menurutku. Memang imej org Indo selama ini disana apkh krg baik?

    1. Iya memang beda perasaannya. Tapi memang mungkin aku aja yang terlalu banyak mikir. Bukan “kurang baik” secara nasional sih, karena stereotip buruk banyak diberikan ke orang2 Suriname disini (no offence, aku sih ga mikir demikian). Tapi orang2 Indonesia disini banyak yang nikah sama bule2 yang udah tua. Kalau stereotip mahasiswa, orang Indonesia banyak yang dinilai malas dan kurang bisa ngasih pendapat di kelas.

  4. Aku sih biasa aja, selalu jawab Indonesia. Bagaimanapun kita kan terlihat berbeda, dan orang-orang kadang penasaran. Kalo ujung-ujungnya ada stereotype tentang orang Indonesia, itu kan di luar kontrolku. Malah aku bisa ngasih pelajaran sedikit πŸ˜‰
    Tapi ternyata temenku ada yang risih ditanya begitu, dia ga suka ditanya-tanya darimana. So you’re not alone πŸ™‚

    1. Nggak seperti gitu juga. Tapi aku akui banyak orang2 Indo-Belanda yang berbinar2 kalo ketemu orang asli Indonesia terus mereka cerita2 soal warisan kolonial yang masih gampang ditemui disini kayak nasi goreng, sambel goreng buncis, dll. Sementara aku agak gimana gitu karena yang kayak gitu2 (warisan kolonial) kan udah gak pernah ditemui lagi di Indonesia, sementara mereka masih anggap kita makan makanan eksotis tiap hari. Itu pendapat aku aja lho

  5. Hmmm… Kalau aku sih santai aja soal ini, soalnya aku juga suka nanyain orang asalnya mana juga hehe
    Terus biasanya dari situ malah bisa mancing percakapan, terus bisa ngobrolin topik2 lain…
    Kaya pernah aku ketemu orang Austria, terus aku cerita lah kalo aku penasaran sama Austria gara2 suka nonton the Sound of Music, terus dia malah balik nanya soal film nya, kenapa aku bisa tau, bagian mana yang aku suka, gitu hehee
    Tapii kalo orang uda kepo nanya asalnya mana, kota apa, daerah apa, jalan mana (biasanya orang Indonesia nih 🀣) nah itu baru aku engga nyaman ahahahaa

    1. Hahaha orang Indonesia mah apalagi kalo orang tua suka ditanya bibit bebet bobot yah… Keluarganya kayak apa, asalnya dari mana, kerja apa dll dsb…

      1. hohoho jangankan yang orang tua, sekarang yang muda pun suka kepo maksimal :”)
        kalo orang tua kan (semoga) maksudnya baek, supaya bener2 kenal dan yakin orang baik2… yang muda2 ini… buat apa yah, hahahaha

  6. Mungkin karena di LA banyak banget pendatang aku malah mengacknowledge kalo aku pendatang Tal, berasanya aku turut berperan bawa diversity kesini hehehe. Jadi aku dengan senang hati bilang aku dr Indonesia, malah pengen ceritain lebih lanjut ttg Indonesia kalau mereka keliatan tertarik.

    Btw, aku rada ngerti yang kamu bilang pengen berintegrasi sih, aku juga punya perasaan kayak gitu. Soalnya aku sering liat ada orang dari negara tertentu yang keliatan udah turun temurun disini tapi nggak blend in gitu, bahasa masih bahasa mereka, kebiasaan juga bawa dari negara asal. Nah itu aku nggak mau…

    1. Di Den Haag juga banyak Ta, tapi rata2 pendatang yang emang sudah 1 generasi disini. Jadi gak sepenuhnya baru banget gitu. Bersyukur banget aku tinggal deket kota internasional, jadi gak semuanya white culture, orang sana juga udah biasa liat jilbab dan makan makanan Turki, Maroko, dll.

  7. Ada hubungannya dgn malas bahas topik yg itu2 aja? Bagi mereka bahas ttg Indonesia hal yang jarang, tp kita rasanya: ya elah obrolannya ini lagi, ini lagi, bosen. Hehehe..

    1. Iya, kadang mereka bahas topik itu2 aja. Malah anehnya, aku lebih suka kalau ada yang jawab “Eh negara kamu itu kan banyak orang Islamnya ya, ada yang beragama lain ga sih?” Entah kenapa pertanyaan2 kayak gitu bisa bikin diskusi lebih menarik. Atau orang2 yang suka baca berita terus tau dikit2 tentang peristiwa di Indonesia, mereka suka ricek ke aku, emang segitu gak amannya ya? Diskusi2 kayak gitu yang menurutku lebih “hidup”, jadi aku gak semata2 harus ngomong yang bagus2 aja tentang negara asal aku.

  8. Biasa aja sih kalo ditanya asalnya dari mana. Waktu dulu aku di Belanda sering ditanyain juga asalnya dari mana. Pas jawab dr Indonesia, orang bulenya langsung “Wuahh! Indonesia!” Tapi karena bahasa Inggrisku gak terlalu bagus, jadi ya sudah. Sampai di situ aja. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Leave a Reply to Mia Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.