Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Up Close and Personal Posts

Uneg-uneg: Diaspora Doyan Flexing

Disklaimer: Tulisan ini hanya sekedar uneg-uneg gue. Semua yang gue tulis disini nggak dimaksudkan untuk menjatuhkan satu/beberapa pihak tertentu, makanya semuanya anonim. Jika kamu ngerasa, ya… maybe you’re one of them.

Read at your own risk!


Menurut Urban Dictionary, flexing artinya “showing off/fronting“. Dalam bahasa Indonesia, flexing bisa diartikan sebagai aktivitas memamerkan sesuatu.

Sejak tahun 2015, gue meninggalkan Tanah Air ke negara yang luar biasa asing. Sebagai penduduk, kini gue lebih senang menyematkan status sebagai imigran daripada ekspat. Selain karena tidak suka dengan nada racial bias pada kata “ekspat”, gue menilai diri sendiri bahwa gue akan menetap di negara ini, tidak seperti kaum ekspat yang pada saatnya akan kembali ke negara asal atau pindah ke negara lain.

Selaku diaspora pada umumnya, gue pun berusaha mencari komunitas orang Indonesia, walaupun ujung-ujungnya tetap pilih-pilih juga. Di Facebook, gue menjadi anggota grup diaspora di Belanda. Main kesana hanya ala kadarnya untuk melihat bakulan yang dijual oleh sesama diaspora atau untuk promosi Arunika Store. Kadang-kadang gue nyantol baca postingan drama salah satu member, walaupun biasanya gue tanggapi dengan ketawa aja, karena gue bukan target market mereka.

Tapi ada satu model diaspora yang bikin gue terinspirasi untuk menulis uneg-uneg ini: diaspora Indonesia di Twitter.

Cari Clout Atau Beneran Mau Sharing?

Akun diaspora di Twitter yang biasanya gue temui ini datang dari kelompok yang berbeda dengan di Facebook. Kebanyakan dari mereka datang dari generasi muda dan rata-rata bekerja atau sedang mencari kerja di negara domisili mereka.

Akun Twitter diaspora seperti ini punya banyak follower, kebanyakan basisnya di Indonesia, dan mereka ngetwitnya tentang kehidupan di negara domisili. Senang juga menimpali satu isu tertentu yang lagi panas di Indonesia kemudian bikin utas atau bikin twit yang intinya membandingkan isu tersebut di Indonesia dengan di negara domisili mereka.

Ingat tentang twit viral komedian Pandji tentang hubungan atasan dan karyawan dalam kerja? Setelah twit itu viral, gue melihat ada dua pengguna Twitter diaspora yang membandingkan twit Pandji dengan kenyataan budaya kerja di negara tempat mereka tinggal. Yang satu bahkan sampai bikin utas sendiri tentang hal ini. Intinya, budaya kerja di negara domisili mereka nggak seperti budaya kerja Pandji.

Baru-baru ini juga ada seseorang dari kalangan diaspora yang viral di Twitter karena menyebarkan cerita pengalaman pribadinya tentang kelakuan jelek turis Indonesia di luar negeri. Lama-lama twit itu blunder ke dia, dan akhirnya dia menggembok akunnya. Tak lama kemudian, ada juga seorang pengguna Twitter yang mendompleng subyek diaspora ini. Kali ini tentang diaspora Indonesia yang (katanya) jarang mau bergaul dengan sesama orang Indonesia, lalu membandingkannya dengan diaspora negara lain yang (katanya lagi) mau saling bantu untuk pindah ke negara tujuan.

Ada juga para diaspora yang sudah tahu audiensnya orang Indonesia, tapi sering Quote RT berita-berita lokal dari bahasa lokal. Mereka nge-quote tweet berita lokal, namun quote-nya tidak memberi konteks ataupun urgensi kenapa audiens mereka harus membaca twit ini. Yang sering ngetwit dengan bahasa campuraduk juga ada.

Kenapa Gue Kesel?

Pengakuan dosa: Dulu gue juga sempat jadi diaspora yang seperti ini. Rasanya senang sekali di Twitter punya banyak pengikut atau jika twit gue yang sharing sesuatu tentang Belanda berhasil dapat banyak engagement, syukur-syukur nambah follower.

Tapi lama-lama gue bosan. Gue bosan karena walaupun pengikut gue banyak, tapi interaksinya sedikit. Mereka hanya mau berinteraksi dengan gue jika gue mencuit sesuatu tentang hidup di Belanda. Selain itu mata gue juga lebih melek dengan isu privasi yang bisa terjadi jika gue terus-terusan seperti ini.

Selain itu, gue juga melihat kesamaan antara diaspora Indonesia yang flexing baik di Facebook maupun di Twitter: dua-duanya menjual cerita utopis. Mereka yang flexing di Facebook dan bikin video Youtube, kebanyakan melukiskan lukisan sempurna bak cerita Cinderella diboyong Prince Charming ke istana. Diaspora yang flexing di Twitter mengisi akun mereka dengan utas tentang work-life balance, flat hierarchy di kantor, skala gaji karyawan yang cukup besar (padahal bisa jadi biaya hidup dan pajak di negaranya besar juga), taatnya masyarakat dengan aturan di negaranya, main di luar saat snow day, piknik saat musim panas, dan lain-lain. Intinya, dua jenis diaspora ini menjual konten tentang everything you cannot achieve in Indonesia.

Sebagai orang yang dulu pernah flexing, gue tahu banget bahwa salah satu tujuan mereka begini ya untuk nambah follower. Bukankah ngeliat banyak angka likes, Retweet, dan reply adalah suntikan dopamin untuk kebanyakan dari kita?

Akhirnya Gue Sadar…

Gue sadar bahwa sebagai seorang imigran dan penduduk tetap, apapun yang gue lakukan disini sebenernya biasa aja. Kegiatan gue sehari-hari seperti pergi ke supermarket, pergi ke kantor, jalan-jalan, itu semua adalah hal normal yang dilakukan orang-orang di Indonesia juga. Gue sudah mengalami lima tahap settling in seperti diagram di bawah ini… (Gambar diambil dari website ini)

Karena gue ngerasa kehidupan gue udah “biasa aja”, maka gue nggak punya keinginan lagi untuk membandingkan aspek-aspek hidup di Belanda dengan di Indonesia. Gue sudah mengerti, bisa jadi gaji gue dinilai besar di Indonesia, tapi di Belanda tergolong standar. Gue pun mengerti bahwa work-life balance sulit diterapkan di Indonesia, makanya gue ogah membandingkan twit tentang kehidupan kantor dengan awalan “Kalo di Belanda…”. Gue juga udah males membandingkan diaspora Indonesia dengan pola sosial diaspora masyarakat lain di Belanda.

Selain itu, gue juga sadar bahwa apapun yang gue cuit akan menjadi pertanggungjawaban gue. Misalnya gue ngetwit panjang tentang mencari kerja di Belanda dan tipe-tipe kontraknya. Bisa jadi ada follower yang kadung mengikuti saran gue dan jadi bermasalah, lalu dia menyalahkan gue karena menyebarkan informasi yang nggak akurat. Would I own my mistakes and apologise, or would I run away by saying “that’s based on my personal experience”? And if I got viral, would I lock my account?

Karena itu juga, gue asliiii masih bingung banget tujuan dari diaspora Indonesia di Twitter yang sudah tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun, tapi masih aja menjadikan hidupnya sebagai konten. Berbeda lho ya, dengan diaspora yang cerita tentang hal-hal tentang tinggal di luar negeri yang realistis seperti perjuangan dapat ijin tinggal atau hal remeh-temeh tentang negaranya, yang nggak di glorifikasi.

Itu yang namanya bias media sosial, kali ya. Semakin banyak follower yang mereka miliki, perasaan “kedekatan virtual” itu semakin ada. Mereka jadi merasa follower mereka akan mendukung cuitan mereka. Padahal dari ratusan atau ribuan followers itu, ada berapa persen sih yang benar-benar kenal mereka secara pribadi? Kok gampang banget memberi statement atau membuat opini publik berdasarkan pengalaman pribadi saja.

Makanya, udah lah. Kalau punya privilege jadi diaspora Indonesia di luar negeri, pilih-pilih mana bagian dari dirimu yang mau dijadikan konten. Pikir berulang kali jika mau ngetwit sesuatu atau jika mau flexing ilmu/cerita di medsos. Malah kalau niat (dan mau menanggung resiko), hobi cerita-cerita tentang kehidupan di luar negeri ini bisa dijadikan lahan mencari uang. Think about it, banyak orang yang memang niat pindah ke luar negeri (dan punya duit untuk bayar), namun nggak tahu mulai dari mana. Nah, utas-utas seperti ini malah lebih tepat guna jika dipakai sebagai side hustle sebagai konsultan kecil-kecilan. Paling tidak kamu tahu, pengalaman dan ilmu kamu akan dipakai orang yang butuh dan mau bayar, alih-alih shouting into the void dan puas bermodalkan engagement yang tinggi di Twitter. Yang penting kamu legal ya tinggal disitu, dan ngasih saran-saran sesuai birokrasi negara yang berlaku. Jangan jadi the next Kristen Grey :p

2 Comment

  1. Tulisanmu kok akhir – akhir ini ga nampak di reader WP ku ya. Pantesan aku mbatin ga pernah baca tulisan blogmu lagi, kirain ga nulis, eh ternyata memang ga muncul.

    Kalau aku masih mainan twitter, aku tuh yang jadi bagian pamer2 mainan salju haha.

    1. WordPress aku kok akhir2 ini banyak masalah dari POV pembaca ya. Nanti aku cek deh ya mbak. Mbak pamer2 salju tapi gak tiba2 jadi expert tinggal di Belanda terus flexing di Twitter kan, hihihi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *