Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
lego-toy-in-clear-glass-container
Living in the Netherlands

“The New Normal” Saat Krisis Coronavirus

Saat tulisan ini turun, kira-kira sudah tiga minggu warga Belanda menjalani lockdown parsial. Negara memang tidak menutup batas geografisnya, tapi lebih menerapkan peraturan yang “mengekang” warga. Sejauh ini, beberapa peraturan ekstra yang sudah diterapkan: seluruh servis yang tidak penting (contohnya: bar, restoran, pertokoan, salon, sauna, spa, coffeeshop, kafe, tempat penitipan anak, gym) harus tutup hingga 28 April. Masyarakat masih dilarang kumpul-kumpul sampai tanggal 1 Juni dengan ancaman denda 400 euro jika ketahuan polisi. Semua dilakukan untuk melandaikan kurva. Peraturan ini sewaktu-waktu bisa dievaluasi dan diubah, tergantung angka penurunan kasus COVID-19 di lapangan.

Karena hidup sudah tak sama lagi, maka mau tidak mau warga Belanda harus sesegera mungkin mengadaptasikan diri terhadap perubahan yang ada, termasuk gue. Di tulisan ini gue akan bercerita beberapa hal yang dianggap “the new normal” di masa-masa kritis ini.

Belanja di supermarket nggak boleh lama-lama

Supermarket adalah salah satu dari jenis servis yang diperbolehkan tetap buka, selain apotek. Tapi belakangan ini, pergi ke supermarket malah jadi kegiatan yang menyebalkan dan bikin anxious untuk gue. Kenapa? Karena banyaknya peraturan ekstra yang diterapkan di supermarket tersebut. Udah gitu banyak sekuriti lalu lalang, berasa kayak belanja makanan di saat negara darurat perang.

Pertama adalah penerapan satu orang yang harus berbelanja per satu keluarga. Hal ini bikin gue sebel. Kadang gue suka ajak pacar ke supermarket, terutama kalau gue mau belanja banyakan (biar ada kuli angkut gitu loh!). Tapi karena pembatasan orang ini, kami jadi harus pergi ke supermarket sendiri-sendiri.

Yang kedua, begitu di supermarket, disarankan untuk tidak berlama-lama disana. Beli apa yang dibutuhkan lalu pergi ke kasir. Intinya, gue harus bikin catatan belanja dulu, kan. Hal ini cukup sulit untuk gue karena seringkali ide-ide masakan tiap hari tuh muncul saat gue berada di supermarket.

Setelah belanja, pergi ke kasir dong ya. Nah di daerah kasir tuh, ubinnya ditempelin pembatas-pembatas jarak untuk sesama pembeli, tidak boleh berdiri terlalu dekat satu sama lain. Bayar pun disarankan pakai kartu, walaupun masih boleh-boleh aja pakai uang tunai.

Restoran tutup atau hanya boleh pesan antar/bawa pulang

Kalo lagi males masak, tentunya gue dan pacar memilih untuk makan di luar, dong. Apalagi kalo baru gajian. Nah, karena krisis Corona ini, hobi restaurant-hopping jadi agak terlantar karena semua restoran favorit kami tutup.

empty cafe during corona crisis
Restoran dan hotel di pusat kota Den Haag yang 100% tutup

Nggak semua restoran tutup, ada yang menutup restoran untuk dine-in, tapi tetap boleh take-away atau bekerjasama dengan perusahaan pesan antar makanan seperti Thuisbezorgd. Tadi siang saat gue memesan poke bowl di salah satu restoran poke terkenal di Den Haag, pembeliannya harus via online. Sampai di restoran, kami nggak boleh mendekat ke area kasir. Ada meja-meja tepat di depan pintu restoran, jadi kami tinggal ambil pesanan sesuai nama yang tertera di bon. Serem banget, ngerasa kayak pesen makanan di saat perang, semua orang terlihat tegang dan buru-buru.

Kerja di rumah

Sudah tiga minggu lamanya, meja gambar gue beralih fungsi jadi meja kerja. Minggu pertama kerja dari rumah gue masih seneng-seneng aja karena nggak perlu bertemu kolega-kolega menyebalkan. Tapi lama-lama kok, konsep kerja dari rumah ini menyebalkan untuk gue, ya?

Gue rasa gue jadi kurang suka konsep ini karena kolega-kolega gue menganggap waktu gue untuk kerja pun jadi lebih fleksibel, jadi mereka bebas kirim email/pesan Slack kapan saja, bahkan sampai diatas jam 5 sore, dan MASIH NGAREP gue untuk langsung respon. Eits, maap-maap aja bos, walaupun gue kerja di rumah, tapi buat gue mematuhi jadwal kerja itu penting. Gue sih nggak pernah langsung bales email kolega yang dikirim terlalu sore, tapi gue kasihan dengan kolega lain yang mungkin nggak semudah itu menerapkan boundaries dengan kolega dan email kerja saat keadaan mengharuskan mereka untuk bekerja dari rumah.

Selain itu, entah kenapa bekerja dari rumah bikin gue lebih sibuk daripada kerja di kantor. Kalau kerja di kantor, pasti ada 1 jam dimana gue bingung mau ngapain. Kerja di rumah, boro-boro bisa bengong. Kelar makan siang, seabrek to-do list hari itu masih menanti untuk dikerjakan. Maka itu, gue bingung sama netijen Indonesia yang ngakunya kerja dari rumah tapi keliatannya malah ngabisin serial Netflix satu season. Itu mereka beneran produktif, nggak ada kerjaan dari kantor, atau malah lari dari tanggungjawab, ya? Jadi penasaran.

working from home table with laptop, standing table and work materials
Set-up meja kerja di rumah

Untuk menutup tulisan ini, sejujurnya gue mulai capek menyesuaikan diri dengan kenormalan yang baru ini. Gue kangen rutinitas pergi dan pulang dari kantor, kangen jalan-jalan ke pusat kota tanpa tujuan, kangen ketemuan sama temen-temen secara langsung, kangen makan di restoran, dan ingin pergi kemana-mana tanpa harus cemas kena Corona keesokan harinya atau 14 hari kemudian. Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita bisa kembali menata kehidupan seperti sediakala.

4 Comment

    1. Betul sekali, aku juga kangen deh nongkrong di bar. Kangen juga ngafe lucu2. Ya sabar2in dulu aja deh sampe kelar dan kafe2 mulai buka seperti biasa. Beruntung sekali kita masih punya kerjaan dan masih dibayar untuk kerja dari rumah

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.