kurisetaru

kurisetaru

Tentang Rumahku: Indonesia dan Belanda

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Sebelumnya, gue mau mengucapkan terimakasih untuk Dixie dan Christa, dua teman blogger yang sudah memulai tema ini untuk proyek blog mereka. Tema ini cukup menarik, makanya gue terinspirasi untuk menulis dengan tema yang sama. Untuk tulisannya Dixie bisa dibaca disini, sementara artikel milik Christa bisa dibaca disini.

Kalau mau dibandingkan dengan cerita Dixie dan Christa, proses letting go gue terbilang cukup lancar, mungkin karena cerita Dixie dan Christa berbeda dengan cerita kenapa gue bisa ngedeprok di negara penjajah ini. Gue pribadi merasa bahwa gue tidak terlalu meninggalkan banyak hal di Indonesia selain keluarga dan sahabat. Hidup gue di Indonesia tergolong biasa-biasa aja walaupun itu adalah rumah gue.

Di Indonesia, gue merasa gue tidak beranjak dewasa sama sekali. Mungkin dewasa hanya secara umur tapi bukan secara pemikiran dan perbuatan. Dulu gue masih tinggal dengan oma opa dan bekerja di bidang yang tidak gue sukai, yang penting dapet gaji tiap bulan. Di Indonesia, status gue masih dianggap sebagai ‘anak’ walaupun umur gue sudah bukan umur anak-anak lagi. Contohnya, kalau oma gue minta ditemani ke acara X, gue harus nurut dan membatalkan apapun agenda yang gue miliki hari itu. Demikian juga dengan tujuan hidup. Gue nggak tau mau ngapain. Walaupun oma opa selalu bilang gue bisa jadi apapun, tapi pasti ada aja selentingan dari mereka seperti “Kamu nggak mau daftar jadi PNS?”.

Sementara itu, di Belanda, gue belajar hidup dewasa. Mulai dari hal-hal sepele seperti bikin agenda membersihkan rumah dan mengatur uang makan sampai ke hal besar seperti manajemen stres dan membuat keputusan untuk tinggal bersama pacar. Gue juga keenakan dengan betapa cueknya orang Belanda dengan pilihan hidup orang lain. Contohnya, selama empat tahun tinggal disini gue nggak pernah ditanya orang tentang status gue atau berapa gaji yang gue terima per bulan.

Salah satu yang harus diurusin saat dewasa: BIAYA RUMAH TANGGA!

Mungkin kalian yang membaca bisa langsung menyimpulkan bahwa tinggal di Belanda enak. Gue emang jarang komplain tentang hidup disini secara umum, tapi untuk gue yang statusnya imigran di akhir umur 20-an, mencari teman yang sepaham dan dengan situasi hidup yang sama itu sangat susah. Kalau mau mencari teman orang sebangsa, rata-rata orang Indonesia atau ekspat yang umurnya 20-an adalah pelajar dan besar kansnya mereka kembali ke negara asal mereka setelah lulus. Kalau mau mencari teman orang Belanda juga agak sulit karena banyak dari mereka sudah berteman bertahun-tahun. Makanya gue masih struggle dengan bidang ini, selain berjuang di bagian bahasa.

Duh kok ceritanya jadi ngalor ngidul ya, hehehe. Sekarang sih, karena status gue sudah semi-menetap di Belanda, gue bisa bilang bahwa gue punya dua rumah: Indonesia dan Belanda. Gue menganggap Indonesia adalah rumah pertama gue yang banyak memorinya. Rumah itu bisa gue kunjungi kapan saja karena semua orang terdekat masih ada disitu. Maka itu, gue nggak pernah punya keinginan untuk ngejelek-jelekin Indonesia, apalagi komplain pingin ganti paspor kalau lihat berita tentang Indonesia yang aneh-aneh. (Ngejelekin beda dengan ngasih kritik membangun lho ya)

Rumah kedua gue tentu saja Belanda si bekas negara penjajah. Di negara ini, gue ditantang untuk menjadi dewasa dalam pengertian yang sebenar-benarnya. Bukan cuma dewasa secara umur tapi juga dewasa secara pikiran dan kelakuan. Selain itu gue juga sudah terbiasa dengan cuacanya dan malah ngomel kepanasan kalau sedang berlibur ke Jakarta, hehehe.

Itu dia uneg-uneg gue tentang definisi rumah. Apa definisi rumah menurut kamu? Untuk kamu yang merantau, gimana cara kamu untuk memastikan diri bahwa daerah rantau adalah rumah kamu yang sekarang? Mari share di kolom komentar!

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

Main ke Museon Den Haag

Berkunjung ke Museon di Den Haag dan berkenalan dengan masyarakat Romawi kuno di Den Haag.

9 thoughts on “Tentang Rumahku: Indonesia dan Belanda

  1. Kalau aku yang baru setengah tahun di Belanda, kadang masih belum sadar bahwa rumah di Belanda ini ya rumahku yang sekarang dan bakal sama suamiku hidup di negara ini untuk seterusnya. Kalau teman Indonesia yang di Belanda, kenal mereka karena mereka baca blogku dan akhirnya kopdar setelah disini. Sama-sama berjuang karena ini negara baru buat kita yang baru pindah. Semua ada enak ga enaknya. Dulu kalau malas masak ya tinggal ke warung atau ada gerobak lewat, disini semua ga bisa manja seperti di Indonesia. Rumah di manapun, ada enak atau ga enaknya buatku.

    1. Kalau transisiku agak beda karena aku disini sejak dari sekolah. Kalau waktu sekolah sih dibawa seneng karena mikirnya kan nanti akan balik ke Indonesia, eh disini lama-lama kok keterusan. Barulah akhirnya ganti strategi untuk menganggap Belanda sebagai rumah. Iya, aku tuh paling kangen bisa makan bakso kapanpun dimanapun. Lah disini gak semua bakso di restoran Indonesia cocok untuk lidahku, cuma ada satu restoran yang cocok baksonya. Apalagi kalau yang pindah ke Belanda setelah era GOFOOD ya, ngerti banget pasti ngerasa dimanjain banget kalo di Indonesia…

  2. Aku masih tinggal di Indonesia, tapi ada keinginan besar supaya bisa merantau ke luar negeri. Definisi rumah menurutku adalah tempat di mana ada kebebasan untuk menjadi apa saja yang kita mampu dan bisa bebas berpendapat.

  3. Aku ngerasain semua yg kamu bilang Tal, terutama bagian nyari temen haha. Proses letting go dulu di UK gampang banget, tapi di Swedia sini lebih susah. Mungkin krn dulu pas pindah masih student, ga ada kendala bahasa, dan entah kenapa langsung sreg aja. Untungnya sekarang di sini udah lebih kerasa nyaman 😀

    1. Aku sampe install aplikasi nyari temen kayak Bumble BFF buat nemu temen lokal sepemikiran yang bisa diajak ke museum atau girl talk, saking susahnya, Dix!

  4. Makasih udah ikutan sharing ya Tal! Aku ngerti soal jadi dewasa, walau aku cuma setahun di Inggris, ada bagian yang selalu merasa sentimentil sama Inggris karena disitulah tempat aku jadi dewasa, mirip yang kamu rasakan di Belanda sekarang ini. Dan aku juga baru ngeh salah satu faktor aku sempet susah nganggep Amerika itu rumahku ya karena aku merasa pindah kesini karena terpaksa ikut suami hahaha.. ya padahal sih nggak juga, keputusan bersama kok. Untung sekarang udah nggak mikir gitu lagi 😀

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.