Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
IND letter
Living in the Netherlands

Semua Imigran Adalah Alien di Mata Kantor Imigrasi

Belakangan ini, ada satu hal yang bener-bener mengganggu pikiran gue sebagai imigran: masih ada orang yang menganggap imigran jenis A lebih baik dan lebih prestisius daripada imigran jenis B. Masih ada juga orang yang menganggap masuk ke sebuah negara pakai prosedur A lebih baik daripada prosedur B.

Kita bisa emigrasi ke negara lain dengan berbagai cara. Pola yang berulang dari imigran Indonesia di Belanda adalah imigran yang pindah dengan cara sekolah, sekolah lalu dapat pekerjaan, cara menikah, atau cara mencari suaka politik. Selain itu, ada juga yang masuk dan menetap di Belanda dengan cara ilegal, tapi gue nggak mau bahas ini karena selain nggak tahu banyak, gue juga nggak mau memberi saran yang aneh-aneh untuk kalian.

Contohnya nggak usah jauh-jauh, gue dan temen-temen gue. Gue punya temen-temen sesama imigran lewat cara menikah, ada juga yang lewat cara sekolah lanjut bekerja. Setelah pengalaman merantau disini selama beberapa tahun, gue menyimpulkan bahwa SEMUA IMIGRAN STATUSNYA SAMA SAJA DI MATA KANTOR IMIGRASI: ALIEN.

Begitu seseorang dari negara lain mau pindah ke sebuah negara, maka negara tersebut akan memandang orang itu sebagai alien atau orang asing. Jadi, mereka akan melakukan screening besar-besaran untuk “menguji” seberapa niatnya orang itu untuk pindah dan menetap di negara tersebut. Tujuannya tentu saja untuk melindungi warga asli dan untuk mencegah imigran ini datang dari latar belakang yang membahayakan negara tersebut. Contoh ujian-ujian tersebut adalah (sejauh yang gue tahu di Belanda):

  • Ujian bahasa, dimana si imigran harus lulus dengan level bahasa tertentu;
  • Ujian sejarah dan kebudayaan negara tujuan agar si imigran mampu untuk berkontribusi di lingkungannya dan membiasakan si imigran dengan adat istiadat setempat;
  • Ujian berupa wawancara kerja dan bikin CV bohongan untuk mengecek apakah si imigran mampu bertahan bersaing di dunia kerja negara tujuan;
  • Jika si imigran masuk lewat visa mencari kerja, si imigran harus dapat kontrak kerja di perusahaan yang terdaftar di kantor imigrasi sebagai perusahaan yang menerima tenaga kerja asing;
  • Bukan hanya kontrak kerja, tapi imigran harus mendapatkan gaji sesuai minimal nominal gaji yang ditentukan kantor imigrasi;
  • Perusahaan yang mengontrak imigran harus mampu mensponsori imigran selama kontrak berlangsung;
  • Dan lain-lain.

Jadi imigran, lewat cara apapun, pasti punya kesulitannya sendiri-sendiri. Gue yang jadi imigran lewat cara sekolah lalu lanjut kerja, harus mencari kerja di perusahaan yang terdaftar di kantor imigrasi dengan berbagai syarat njelimetnya dalam waktu satu tahun. Kalau satu tahun nggak dapat kerja, ijin tinggal cari kerja gue nggak bisa diperbaharui dan gue harus balik ke Indonesia. Nyari kerja dengan syarat-syarat diatas susah banget, coy! Gue masih inget banget, setiap hari harus mantengin laptop selama 8 jam untuk ngelamar kerja di puluhan website. Sesuatu yang nggak mau gue alami lagi seumur-umur.

Tantangan gue berbeda dengan tantangan temen-temen gue yang pindah kesini karena menikah (mari kita sebut mereka ‘imigran cinta’ di tulisan ini). Mereka harus les bahasa selama jam yang ditentukan, harus dari lembaga pendidikan yang ditunjuk imigrasi pula. Setelah les bahasa, para imigran cinta ini harus menempuh tes kemampuan berbahasa dan harus lulus dengan level tertentu. Mereka juga harus mengikuti ujian sejarah dan kebudayaan serta tes kemampuan mencari kerja, semua dalam bahasa Belanda. Bukan berarti kalau lulus semua sudah bisa menghela nafas. Kantor imigrasi yang leletnya minta ampun dan policy mereka tidak memberi kabar sebelum keputusan dibuat oleh kantor, bikin para imigran cinta ini harus menabung stok sabar sebanyak-banyaknya. Waktu menunggu keputusan dari kantor imigrasi ini bisa sampai 6 bulan lamanya, dan selama 6 bulan tersebut, mereka tidak boleh keluar Belanda sama sekali, termasuk jalan-jalan ke negara tetangga. Ibaratnya jadi tahanan negara. (Gue juga mengalami masa penantian panjang ini, lihat tulisan gue tentang jenis-jenis ijin tinggal di Belanda).

Belum lagi imigran yang pindah karena suaka politik atau karena jadi refugee. Pasti punya kesulitan masing-masing, namanya juga pindah untuk masa depan dan mengubah takdir.

Jadi, setelah baca tulisan ini, masih bisa mikir imigran yang pindah karena sekolah dan kerja itu kedudukannya lebih tinggi dan lebih gengsi daripada imigran cinta? Kalo masih punya pemikiran seperti ini, sepertinya kamu masih harus menunda rencana emigrasi dan main lebih banyak sama imigran dari berbagai latar belakang, baca-baca lebih banyak referensi, dan mempertajam kemampuan empati. Biar pas beneran pindah, nggak jadi sombong atau rendah diri karena jalur emigrasi kamu.

Yang masih studi, terus kepikiran untuk emigrasi ke negara tempat belajarnya lewat jalur cari kerja, jangan keburu di atas angin. Seperti yang gue bilang di atas, cari kerja di negara orang tuh susah dan perlu mental baja. Kamu harus bersaing dengan orang lain yang mungkin punya keuntungan di bidang kewarganegaraan atau almamater universitas. Jadi kalau masih belajar dan kepikiran untuk menetap disini, nggak usah banyak koar-koar dulu, lah. Ambisius boleh, tapi simpen aja dulu untuk diri sendiri. Perjalanan masih panjang! Nanti kalau nggak jadi menetap tapi udah terlanjur banyak omong sama orang lain, ujung-ujungnya MALU.

Oh iya, satu lagi… (tidak terlalu berkaitan, sih). Untuk yang baru pindah negara, baik itu untuk studi atau kerja atau menetap, observasi sih wajib dan boleh-boleh saja, tapi jangan langsung buru-buru mengambil kesimpulan tentang gaya hidup orang lokal. Pelan-pelan saja, lah. Contohnya, minggu pertama di negara baru, lebih baik dihabiskan dengan eksplor lingkungan sekitar, bikin rekening bank, lapor diri ke Dewan Kota. Nikmatilah minggu-minggu pertama itu, sebelum bikin asumsi dan observasi menyeluruh tentang daerah baru. After all, ini masyarakat lho, bukannya obyek penelitian yang bisa diobservasi dari luar saja. Alih-alih observasi, ikut andil dalam masyarakat lokal justru malah lebih asyik.

Selamat merantau dan jadi imigran. Ingatlah bahwa nggak ada imigran yang lebih bergengsi daripada yang lain. Dan kalo baru pindah ke negara baru, JANGAN. SOK. TAHU.

14 Comment

  1. Hi Crys, bagus nih tulisannya. Jadi penasaran awal mula nya nulis gini gara2 apa? ketemu sama imigran yang kerja disini dan sombong kah? Klo pengalaman gw malah agak kebalikan. Gw pernah ketemu ibu2 Indonesia baru pindah ke Belanda di pasar malem. Dia lagi sama suaminya. Trus si ibu ini tanya2 gw udah beres ujian apa blum. Waktu itu gw udah 2 tahunan tinggal di Belanda tp blum mulai ujian sama sekali karena dapet visa nya kennismigrant. Jadi dulu gw bilang deh kalo gw blum ujian soalnya gw ga perlu ikut ujian inburgeringexamen. Gw bilang juga, tapi gw perlu ujian entar klo emang mau ambil permanent resident permit setelah 5 tahun. Nah ibu ini bilang klo gw keren, trus bilang ke suami nya ttg status gw sebagai pekerja dan ga perlu ikut ujian. Malah suami nya ini dong yang ngasih pandangan merendahkan gw dan menggumam äh gitu doang bangga”. Padahal gw ngobrolnya biasa aja dan ramah bgt malah.

    Btw dulu waktu di jerman kantor imigrasinya namanya ausländerbehörde . Nah dulu ini tuh artinya aliens departement. Sekarang diganti, jadi foreigners office hhahahhaha

    1. Hi Lila, makasih ya dah share ceritamu. Aku nulis gini karena nemu aja kelakuan orang yang nganggep jadi imigran karena sekolah dan kerja tuh lebih keren, dan ngerendahin imigran cinta. Kan kesel yah. udah gitu orang itu juga sok tau banget sama negara yang baru dia datangin, padahal kan kenyataan di lapangan biasanya berbeda dengan apa yang biasa dia baca di buku dan teori2 sosial.

      Ih aku malah mau banget sekarang sekolah dan belajar bahasa Belanda lagi, aku sudah bisa ambil naturalisasi atau duurzame verblijf, tapi pengennya ujiannya sekalian NT2. Semoga bisa tercapai dalam waktu dekat.

      Alien itu emang nama panggilan untuk orang asing banget ya, hehehe.

      1. Tp bener kok Crys, biasanya orang2 yang sekolah di sini tuh sombongnya bukan main. Kalo liat segerombolan mahasiswa2 indonesia gw tuh suka mesam mesem sendiri. abisan mereka ngobrolnya pake bahasa inggris dong ke sesama orang indonesia (ini pas lagi antri buat nyoblos di KBRI). Dikira orang sekitarnya ga ngerti bahasa inggris apa ya? atau mereka mau nyombongin kemampuan bahasa inggris mereka. Entahlah. makanya dulu pas kuliah, temen2 orang Indonesianya bukan mahasiswa, malah temen2 Au Pair, soalnya mereka lebih santai.
        Semangat Cryst. gw juga baru mulai les lagi, ngelanjutin B1. Mau ikut ujian ngumpulin duit dulu

        Iyaa, lucu ya, berasa kita dateng dari Mars hahaha

        1. Ahahaha pas aku ngantri nyoblos, aku lihat cowok pelajar yang bawa2 handout kuliah dong… bisa ya, konsentrasi belajar di tempat rame, sempit kayak gitu?

          Lila sekarang tinggal di NL sebelah mana, deh? Kirain di Indonesia

          1. haha iya bilangnya sih mau ujian, tapi sebenernya di bawah sadar, mereka pengen nunjukkin betapa kerennya mereka (ini gw suudzon aja dah) 😀
            Di Breda cryst, kapan2 klo ke Breda kabarin ya. nti gw bikinin bakso

          2. Huahaha gak papa sekali2 suudzon, ga kenal ini kan… (malah nyetanin.)

            Wah asik. Nanti ya Lila, aku juga pengen main2 ke kota luar Randstad. Setelah minggu lalu ngebolang sendirian ke desa temen di selatan Belanda, kok jadi nagih.

            Nanti kalau kamu ke Den Haag juga kabarin ya, aku ajak makan nasi padang otentik se-Belanda (kalo suka lhooo)

  2. “Jadi kalau masih belajar dan kepikiran untuk menetap disini, nggak usah banyak koar-koar dulu, lah. Ambisius boleh, tapi simpen aja dulu untuk diri sendiri. Perjalanan masih panjang! Nanti kalau nggak jadi menetap tapi udah terlanjur banyak omong sama orang lain, ujung-ujungnya MALU.”

    PREACH!!! Setuju gue.

    1. Salah satu penyakit banyak orang nih ini. Belum kejadian, tapi udah ngomong sama banyak orang, ujung2nya gak jadi. Kepikiran malunya ga ya pas mereka berkoar-koar itu? Mending disimpan untuk diri sendiri, cukup orang2 terdekat yang tahu, terus pas udah kejadian, BAM! tunjukkan ke orang lain.

    1. Yeah, one of the ways buat aku keluarin uneg2 ya adalah dengan nulis ini, mbak. Separo keluarin uneg2, separo edukasi orang lain yang baca, jangan sampe seperti orang2 yang nganggep imigran satu lebih tinggi dari yang lain, dan yang baru seminggu-dua minggu di negara baru udah langsung berasa paling tau tentang segala hal. Semoga kita terhindar dari orang2 seperti ini in real life

  3. Info yg bagus. Pernah nulis tema ini tapi tentang perlakuan petugas imigrasi …Soal bikin kasta2 biasanya tergantung orangnya juga,kadang ada yang demen bgt bikin kasta2an. Biasanya kurang gaul aja sih atau itu cara menutupi rasa inferior…

  4. Kalau gw si ga milih2 itu imigran jalur apa ya, tapi kok memang banyak ibu2 yang disini (housewives yg nikah bule) yang klo ngobrol, obrolannya seputar selangkangan, suami, arisan, duit dst, jadi males kan bergaul sama yang grup itu. Mending sama anak2 sekolahan atau yg kerja, lingkup mereka lebih luas.

    1. Nah yang ini beda lagi masalahnya… memang permasalahan kompleks, menurutku yang begini tergantung lingkungan dia juga. Pasti ada lah ibu2 rumah tangga yang ngga ngomongin begituan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.