kurisetaru

kurisetaru

Seberapa Pentingkah Stereotip?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Ceritanya, saya punya kolega baru. Dia duduk di meja sebelah saya, jadi sebenernya kami tuh tetanggaan. Kolega baru saya ini asalnya dari Singapura, tapi sudah melanglang buana sejak lulus D3. Kuliah di Australia, lalu S2 di Belanda. Cukup internasional lah, ya. Orangnya ceplas-ceplos, rame, dan heboh. Kebalikan banget deh sama saya yang kalo di kantor agak diam kalau nggak sama kolega yang kenal-kenal banget.

Sebenernya, bergaul sama kolega baru saya ini nggak susah-susah amat. Orangnya dari awal udah cari perhatian, jadi nggak perlu lama untuk akrab. Tapi sayangnya dia punya satu kebiasaan jelek yang saya nggak suka sampe sekarang yaitu suka banget menggeneralisir dan mementingkan stereotip terutama dalam hal mencari pacar.

Ceritanya, dua minggu sebelum dia diterima kerja di kantor, dia diputusin pacarnya yang orang Belanda. Sejak itu, dia anti banget kalo mau deket sama orang Belanda. Kolega saya jadi memandang semua cowok Belanda itu pelit, nggak bener, dan terlalu kaku. Dia jadi jelek-jelekin semua bagian di kehidupan Belanda, bahkan dia jadi nggak suka bahasanya.

Kemudian, dia jadi anggota aktif di website untuk para ekspat. Nah, beberapa bulan setelah dia putus, dia mulai kencan dengan beberapa cowok dari beberapa negara. Setiap akhir minggu pasti ada agenda kencannya dan saya diceritain tiap Senin.

Sebelum dia pergi kencan di akhir minggu, dia akan cerita ke kolega lain tentang dari mana asal kencannya itu. Kemudian dia bakal nanya banyak banget hal ke kolega yang datangnya dari negara yang sama atau dekat dengan negara asal si kencan. Misalnya, minggu lalu dia pergi kencan dengan cowok asal Rusia. Seminggu penuh, kolega saya yang orang Rusia ditanyain mulu sama dia, “Cowok Rusia tuh kayak apa sih?” Dia juga kayak open book gitu, si kolega Rusia ini pasti kepo kan nih cowok nama belakangnya apa (siapa tau kenal).

Ngeliat itu saya jadi jengah. Maksudnya, menurut saya sih ini udah borderline rasis ya, menggeneralisasi kelakuan cowok ke cewek dari asal negaranya. Siapa tahu itu cowok udah internasional banget karena sering pindah-pindah, atau malah pemikirannya berbeda dengan cowok-cowok lain dari negara yang sama. Cowok idaman dia adalah cowok Prancis karena menurut dia cowok Prancis itu romantis, walaupun mau juga sama cowok Jerman, Belgia, atau Skandinavia. Dia bahkan pernah nanya ama kolega saya asal Brazil, “Menurut lo, cowok yang oke tuh dari negara mana, ya?”

Kalo ini di Indonesia, mungkin dia udah saya cap bule hunter.

Udah gitu, kolega baru saya ini juga percaya banget sama zodiak. Misalnya ada cowok kece yang pengen dia deketin, pasti dia cari tahu zodiaknya dulu. Terus kalo zodiaknya nggak cocok sama dia, dia bakal ngedumel, “Ah, tapi zodiak dia nggak cocok nih sama gue!” Ya elah tong, lu kira ini Abad Pertengahan, yang dikit-dikit masih harus konsultasi ama rasi bintang?

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

Main ke Museon Den Haag

Berkunjung ke Museon di Den Haag dan berkenalan dengan masyarakat Romawi kuno di Den Haag.

27 thoughts on “Seberapa Pentingkah Stereotip?

    1. Hai salam kenal. Setahuku dia pacaran sama cowok Belandanya itu 1.5 tahun. Mungkin sekarang dia lagi fase “kaget”, jujur aja aku juga capek dengerin cerita kencan dia tiap minggu dengan cowok berbeda. Kayak dikejar apaaa gitu jadi tiap minggu harus kencan.

    1. Apalagi kalau stereotip tentang sifat2 cowok berdasarkan negara. Kayaknya udah nggak jaman deh. Yang bikin aku males, dia gak fokus ke “Gimana cowok dari negara X kalo soal kencan” tapi lebih fokus ke sifat secara umum.

    1. LOL iya nih, harus pasang kuping tebal tiap dia selesai kencan. Belakangan ini aku lagi menunjukkan sikap bahwa aku gak suka dia terlalu banyak cerita sama aku, jadi dia pindah ceritanya ke kolega lain.

  1. Waduh! Ini kok rasanya kayak mau pacarin orang di setiap negara gitu ya bukannya cari yg personalitynya cocok tp malah generalisir 😔 kalau udah gak nyaman (pastinya gak nyaman sih ya kayak begini) mending cari “acara” lain deh Tal pas Senin. Senep juga dengernya yak

    1. Iya banget, aku juga heran. Update baru, dia punya Tinder sekarang, dan Kemaren ngobrol sama cowok Irlandia (udah lama disini). Terus dia nanya ama kolega aku barusan (orang Yunani), “Eh lo punya temen orang Irlandia gak?” Pasti mau stereotip lagi.

      1. Stereotype orang Irlandia tuh kalau gak salah tukang minum (tentu saja ini salah) dan selalu makan potato (engga juga), terus kemaren ada lagi temenku yang ngedate sama orang dari sebuah provinsi gak dikasih, gara-gara stereotype pelit.

        1. Ceritanya si cowok ini kuliah hukum dan pernah jadi pengacara. Terus dia nanya ke kolega, “Lo punya temen orang Irlandia?” “ada”, “kerjanya apa?” “Pengacara.” “oooh nih cowok juga… orang Irlandia kayaknya gitu ya, biasanya kuliah hukum”

  2. Wah kok jadi inget sama e-mail curcol yang masuk ke facebook laki gue ya… sejenis lah itu, nyari laki yang satu negara sama pacarnya buat ditanya-tanyain. Ternyata engga cuma satu-dua orang aja yang naive seperti itu ya… padahal dia sudah kuliah di Australia dan Belanda; harusnya wawasannya udah cukup luas. Ternyata masih seperti katak dalam tempurung.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.