Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Up Close and Personal Posts

Salah Asuhan?

Hubungan gue dengan orangtua, terutama bokap, bukan hubungan yang 100% harmonis. Kami bukan the best of friends, tapi juga bukan the greatest enemy. Biasa aja lah.

Kalau ditanya dari sudut pandang gue, menurut gue masalahnya ada di pilihan berkomunikasi. Bokap inginnya gue “dekat” dengan dia dengan cara sering kirim pesan duluan atau nanya kabar duluan. Sementara gue sejak dulu nggak terlalu suka pendekatan seperti itu. Tanya saja anggota keluarga yang lain. Kepada bokap, gue jarang punya perasaan “ah bokap apa kabar ya”. Mungkin karena salah asuhan sejak dulu kali, ya?

Walaupun begitu, belakangan ini gue berusaha untuk mengikuti maunya bokap. Beberapa cara pun gue lakukan, seperti bercerita tentang mimpi gue didatangi almarhum Opa beberapa hari lalu. Nggak dibalas sama dia. Sampai akhirnya gue membuat pola pikir “udah lah, nggak usah ngarep dibalas”. Tapi kan tetep aja, ada sedikit rasa keki. Seperti kirim pesan ke tembok.

Pagi ini, bokap melakukan sesuatu yang bikin gue triggered untuk membicarakan masalah ini ke dia. Subuh-subuh, gue dapat pesan duka meninggalnya seorang om yang adalah sodara jauh gue. Kemudian gue berpikir, “Lah… giliran gue kirim pesan duluan bercerita tentang orang yang dekat, nggak dijawab. Tapi giliran ada orang meninggal yang gue nggak gitu kenal, dia kirim fotonya ke gue. Maunya apa?”

Dalam beberapa pesan, gue mengekspresikan keheranan gue. Gue pun bilang, “Lain kali kalau aku kirim pesan, tolong appreciate, dong. Jawab OK atau emoji saja nggak apa-apa kok.”

Alih-alih minta maaf, bokap malah menjelaskan, “Itu tuh kakaknya almarhumah nyokap kamu, om-nya kamu lah. Kemaren itu pas kamu kirim pesan, aku lagi ngomong sama orang.”

Bukan hanya satu kali dia “menjelaskan” sesuatu. Saat gue mengekspresikan bahwa gue sedih kalau gue mencoba untuk dekat tapi dia nggak jawab, dia pun berdalih dengan bilang, “Alah, kamu juga kirim pesennya baru sekali, kok.”

Makin sedih lagi lah gue, rasanya perasaan gue seperti nggak valid. Rasanya seperti gue “dihukum” saat dia bilang, “baru sekali kirim pesan nggak dijawab kok udah sedih”. Padahal gue sedang berusaha mencoba hal yang diluar kebiasaan gue, bukannya diapresiasi, malah dibikin jatuh begitu.

Saat ngobrol soal ini ke R, dia bilang bahwa sejauh ini kontrol gue untuk tidak terlalu terpancing dalam situasi ini sudah cukup bagus. Paling nggak, gue nggak terus-terusan nggumun dan akhirnya berantem sama bokap. Kemudian R bilang, “Tugas lu sederhana kok. Kirim pesen ke dia tiap hari. Mau dia balas kek, mau dia enggak balas kek, jangan berharap lebih.” Ini adalah sesuatu yang sudah gue lakukan sejak awal minggu ini, saat gue kirim pesan ke bokap dan gak dibalas, tapi saat dia tiba-tiba kirim pesan berita duka orang yang nggak gue kenal, rasanya perasaan gue langsung triggered sekali.


Gimana ya, di satu sisi, gue ingin hubungan gue dengan orangtua membaik. Sekarang memang nggak jelek-jelek amat, tapi entah kenapa gue masih ngerasa ada yang ngegantung, gue masih merasa mereka menuntut gue X saat hasil yang sama bisa dicapai dengan cara gue melakukan Y.

Tulisan ini bisa jadi bahan introspeksi untuk orangtua, apalagi orangtua baru yang baru punya anak. Yang pertama, sedari kecil, bangunlah komunikasi yang baik dengan si anak. Lihat gaya komunikasi si anak dan coba adaptasi atau kompromi dengannya, agar si anak merasa nggak beban untuk berkomunikasi dengan orangtua.

Yang kedua, sebagai orangtua, jadilah contoh untuk anak dalam meminta maaf dan memberi maaf. Dalam kasus gue tadi pagi, alih-alih minta maaf nggak jawab pesan gue, bokap malah menjelaskan siapa yang meninggal dan apa yang sedang dia lakukan saat gue mengirim pesan beberapa hari llau. Bener-bener nggak nyambung, rasanya gue pengen balas, “Aku nggak mau tau, berhenti lah denial dengan cara menjelaskan sesuatu yang gak penting.”

Terapis gue bilang, komunikasi manusia memang hal yang kompleks, baik verbal maupun tulisan. Apalagi di era media sosial dan pesan singkat jaman sekarang, saat kata-kata bisa berubah makna tanpa nada. Seringkali kita ngomong sesuatu yang bukan berdasarkan perasaan kita. Dalam setiap perasaan negatif, pasti ada perasaan terluka. Inilah yang membuat orang jadi defensif dan nggak bisa mengidentifikasi perasaannya sendiri. Contohnya, bisa jadi orangtua merasa kangen, tapi yang keluar malah kalimat defensif seperti, “Kok kamu nggak pernah tanya kabar aku, sih?”.

Segitu aja curhatnya kali ini. Terimakasih sudah mau baca πŸ™‚

2 Comment

  1. Nice post. Memang rumit kalau mencoba memperbaiki komunikasi di masa tua seseorang. πŸ˜₯Karena pola yg terbentuk sdh terlalu …apa ya… “tebal”. Dia jg mdptkan itu seumur hidupnya dr org tua dan lingkungan. Bisa diubah asal ybs effort mengubah habit juga sgt besar dan atau pindah dr lingkungannya..πŸ˜‘πŸ˜‘

    Intinya mengubah org tua itu susahnya minta ampun.πŸ˜“..dan semakin tua seseorang akan alami fase mundur..jangan heran di bbrp kasus rasanya kita kyk ngadepin teenager πŸ˜…

    Yg bisa di lakuin kl mau tetap komunikasi hanya how to deal dg perasaan2 kita yg gak asik saat berkomunikasi dg mereka. Hrs longgar di masalah benar salah. Dlm bbrp kasus mrk salah bgt memang.πŸ™„

    And yes, kl bisa fokus jg utk putuskan warisan cara berkomunikaai itu ke generasi di bawah kita. Krn percaya ga percaya suka sgt menular tanpa sadar.πŸ˜…

    Masih normal sebetulnya, banyak yang ngalamin…

    1. Aku sudah menyerah mo mengubah orangtua karena emang gak bisa. Makanya itu, aku pergi ke terapis, biar gimana bisa mengatasi perasaan2 aneh saat berkomunikasi sama mereka dan gimana ngejawab2nya biar kita juga tetep dilihat punya “manner” tapi juga kelihatan boundaries kita.

Tinggalkan Balasan ke CSP Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *