kurisetaru

kurisetaru

Refleksi Satu Dekade

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Banyak orang yang mengunggah foto perubahan fisik mereka pada awal dekade (2010) dan akhir dekade (2019) sebagai penanda bahwa dekade ini akan segera berakhir. Tapi karena gue ogah nyari-nyari foto 9 tahun lalu, belum tentu ada juga karena gue pernah hapus Facebook di pertengahan dekade, sepertinya ini kesempatan yang baik untuk merefleksikan apa saja perubahan yang terjadi dalam hidup gue dalam waktu satu dekade.

Satu dekade tentunya bukan waktu yang singkat. Seperti yang kita tahu, semua hal di dunia ini terus berubah, termasuk manusia. Bahkan secara biologis, sel-sel kulit kita pasti sudah tidak sama lagi seperti sel-sel kulit satu dekade yang lalu. Maka itu, gue mau menulis tentang refleksi perjalanan gue selama satu dekade belakangan, apa saja yang menarik, apa saja yang bikin sedih.

Pertama-tama, tentunya dekade ini sangat menarik untuk gue karena dekade ini adalah transisi gue menjadi orang dewasa. Jika dulu tahun 2000-2009, gue masih duduk di tingkat SD sampai SMA, dekade ini adalah dekade pertama gue jadi orang yang mandiri. Tentu saja dekade ini jadi yang berkesan.

Untuk memudahkan penulisan, tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa tema besar. Dan tulisan ini akan jadi panjang banget! Selamat membaca!

Pendidikan

Di dekade ini, gue mendapat dua gelar sekaligus, S1 dan S2. S1 gue dapatkan di tahun 2013 dan gelar S2 gue embat di tahun 2015. Rasanya bahagia sekali sudah menggondol dua gelar dalam hanya waktu dua tahun berselang, walaupun habis itu sempat bingung juga, ini gelar mau dipakai jadi apa, ya? Maklum, latar belakang gue adalah dari bidang Humaniora, sesuatu yang sangat jarang di Indonesia. Kebanyakan orang berpikir, lulusan Humaniora pasti jadi guru atau jadi PNS.

Pekerjaan

Dekade ini adalah dekade di mana gue memulai karir. Sempat bekerja selama sembilan bulan di Indonesia, lalu sekarang sudah bekerja selama kurang lebih tiga tahun di Belanda. Di Indonesia, kerjaan gue bisa dibilang bukan karir sama sekali. Hanya sekedar kerja tanpa ambisi. Yang penting gue dapet gaji tiap bulan. Di Belanda, barulah gue memulai karir di bidang marketing.

Memulai karir di Belanda bukanlah hal yang mudah. Minim pengalaman dan ketatnya persaingan dengan pelamar dari negara sesama anggota EU adalah beberapa faktor mengapa mencari kerja disini sangat sulit. Bahkan saat periode mencari pekerjaan disini, gue berkenalan dengan serangan panik yang sampai sekarang masih kadang gue alami jika gue merasa terlalu takut dengan ketidaktahuan akan masa depan. Beruntung, ada satu perusahaan yang mau menerima gue dan jadi tempat gue menimba ilmu praktis marketing selama 2 tahun.

Selama satu dekade, gue juga belajar banyak tentang dinamika bekerja sama dengan kolega. Ada kolega yang tukang hasut, kolega yang kerjaannya bacot doang tapi gak ngapa-ngapain, pokoknya macem-macem. Gue juga belajar bahwa ada perusahaan yang hari gini masih mengeksploitasi karyawannya dan melakukan transaksi-transaksi yang melanggar hukum. Tapi sekarang gue nggak se-idealis dulu, sih. Buat gue, yang penting praktek-praktek itu nggak mengenai bidang kerja gue. (Anaknya Slytherin banget, emang.)

Pertemanan

Soal pertemanan, satu dekade ini nggak banyak yang berubah. Gue masih berteman dengan sahabat-sahabat yang gue kenal di satu dekade lalu. Di dekade ini, gue memulai persahabatan dengan tiga orang lain di jenjang bangku kuliah S1. Kami menyebut persahabatan kami sebagai cactus friendship karena kami tidak harus memberi kabar satu sama lain tiap hari, tapi setiap bertemu, kami akan selalu nyambung.

Selama satu dekade ini, gue mengalami dua kali kehilangan teman. Pertama kali kehilangan teman adalah di tahun 2009, saat gaya hidup dan pandangan kami berubah. Sempat kami bertengkar hebat karena ini. Sekarang semuanya sudah membaik, kami sudah berdamai. Walaupun nggak deket-deket amat, kami masih suka bertukar kabar di Instagram. Hidupnya juga berubah drastis, tahun 2014 dia pindah ke Korea Selatan untuk lanjut S2 dan sekarang sudah di tingkat akhir studi Doktoral.

Kedua kalinya kehilangan teman terjadi di tahun 2017, saat seorang teman menyalahartikan itikad baik gue. Hingga kini, kami tidak bertegur sapa.

Di dekade ini, karena gue pindah ke luar negeri, gue juga memperlebar sayap dengan cara berteman dengan orang-orang lain dari pelbagai negara. Mereka memang sudah pindah ke negara mereka masing-masing, tapi gue masih suka kontak dengan 1-2 dari mereka. Gue juga sekarang punya teman orang lokal, kami suka menyempatkan diri nongkrong seharian setiap beberapa bulan sekali. Selain orang lokal, gue juga punya beberapa teman orang Indonesia yang kesini dalam rangka menikah. Walaupun beda umurnya jauh, tapi entah kenapa kami nyambung banget setiap kali bertemu.

Gaya Berpakaian

Gaya berpakaian gue bisa dibilang berubah-ubah selama satu dekade ini. Di awal dekade, gue sangat nyaman memakai kemeja, t-shirt, dan celana jeans. Sepatu kesukaan gue adalah sepatu jenis flat shoes yang, karena kondisi jalanan ibukota, gampang rusak sehingga gue harus beli sepatu setiap dua-tiga bulan sekali.

Saat gue tinggal di Jakarta, rambut gue pendek banget, model pixie cut. Karena itu, gue nggak terlalu suka bereksperimen dengan pakaian. Dulu gue malas merawat diri, padahal Jakarta itu kan banyak polusi, ya. Jadi dulu gue kumal dan kucel gitu, deh.

Crystal tahun 2012

Setelah gue pindah ke Belanda, gue merasa lebih nyaman dengan gaya berpakaian gue. Di Indonesia, gue lihat trend-nya sangat menuju trend-trend Korea/Jepang. Bentuk tubuh gue nggak cocok dengan baju-baju model begitu. Sementara itu, di Belanda, gue lebih nyaman berbelanja baju untuk diri sendiri. Sekarang sih gaya berpakaian gue masih kasual, tapi gue lebih memilih untuk berbelanja di toko-toko yang bajunya tahan lama, biar lebih hemat. Gue juga sekarang punya palet warna untuk baju-baju gue agar lebih mudah mix and match. Sejak tinggal di Belanda, gue sering terlihat memakai baju warna hitam, abu-abu, merah marun, macam-macam warna coklat, dan biru tua.

Crystal tahun 2019

Selera Musik

Sepertinya satu hal ini tidak banyak berubah sejak dekade lalu. Selera musik gue di dekade ini masih didominasi musik-musik new wave dan synth pop. Untung di dekade ini ada Spotify, jadi pengetahuan musik gue bertambah jauh sejak dekade lalu.

Mimpi jadi nyata: nonton konser Duran Duran di tahun 2015

Di dekade ini, gue juga berkenalan dengan musik soul, folk, bluegrass, dan gue suka semua. Musik folk menemani masa-masa gue menunaikan kuliah S2 di Leiden. Selain tiga musik diatas, gue dikenalkan dengan musik reggae setelah kenal dengan R. Sejauh ini ada beberapa musisi reggae yang menurut gue menarik, contohnya adalah Matisyahu.

Gaya Hidup

Separuh dekade pertama (2010-2014), gue masih tinggal di Indonesia. Gaya hidup gue kurang lebih sama dengan mahasiswa-lanjut-anak-kantoran pada umumnya. Pergi ke kafe, ngopi, nonton bioskop, begitulah. Gue nggak pernah pergi ke bar karena di daerah gue nggak ada bar dan gimana gue bisa pergi ke bar kalau jam 8 malam belum pulang sudah diteleponin orangtua?

Separuh dekade kedua (2015-2019), gaya hidup gue cukup berbeda. Ini dikarenakan gue sudah pindah ke negara orang. Di separuh dekade ini, gue mengenal cukup banyak bir dan wine (jadi sudah tahu suka bir jenis apa), berbagai makanan Eropa (jadi melatih indra pengecap juga), pilihan keju yang gue suka, dan lain-lain. Bisa dibilang tempat nongkrong gue jadi nggak sebatas kopi-kafe-bioskop doang, lah. Sekali-kali pergi ke bar, pergi ke pesta, dan memasak untuk orang banyak.

Pola Makan

Ini nih salah satu yang paling mengalami perubahan besar di dekade ini. Selama satu dekade, gue mengalami jadi orang yang nggak bisa makan tanpa nasi, nggak bisa makan tanpa rasa pedas, jadi orang yang bisa makan karbohidrat apa saja, bisa makan protein nabati saja, dan bisa makan apa saja tanpa harus disambelin. Sekarang gue bisa makan buah untuk sarapan dan tahan lapar sampai makan siang, lalu makan malam kentang goreng pakai daging burger dari protein nabati.

Kepribadian

Ini adalah bagian terakhir yang akan gue bahas di tulisan ini. Seperti yang kita tahu, kita semua berubah. Menurut gue, dekade ini adalah dekade favorit gue karena gue bisa menyaksikan sendiri betapa banyak perubahan gue dari setengah dekade di Indonesia dan setengahnya lagi di Belanda.

Separuh dekade pertama, status gue masih menjadi seorang mahasiswa dan karyawan swasta. Masih tinggal dengan orangtua, hidup juga masih penuh dengan privilege. Walaupun gue senang dengan hidup gue pada masa-masa itu, tapi sejak masa itu gue merasa bahwa gue akan lebih bahagia jika gue hidup di situasi lain. Seperti ada gairah untuk membuktikan ke diri sendiri bahwa there’s more to life than this.

Separuh dekade berikutnya, gue habiskan dengan merantau selepas lulus S2. Sebenarnya hal ini cukup ditentang orangtua, walaupun mereka mengekspresikannya secara blurry dan pasif agresif. Inginnya mereka adalah untuk gue kembali berkumpul dengan keluarga setelah lulus. Tapi mereka tidak sadar bahwa gue sudah berubah dan gue jauh lebih nyaman hidup merantau dan jauh dari mereka.

Gue bersyukur karena tahun ini adalah tahun keempat gue merantau dan selama merantau, gue jarang sekali minta uang dari orangtua. It’s like everything falls into place. Kebebasan finansial ini juga menjadikan gue lebih percaya diri dalam hal membela diri sendiri kalau harus berurusan dengan drama-drama keluarga yang nggak penting.

Gue merasa di separuh dekade belakangan, gue jadi lebih berani. Berani dalam membuat jalan sendiri dan berani mempertanggungjawabkan apa yang gue lakukan. Gue juga sudah mulai berani mengutarakan pendapat walaupun berbeda, apalagi untuk hal-hal yang prinsipil. Gue akui, kadang gue masih suka reaktif dalam bereaksi terhadap pendapat yang berbeda dengan gue. Makanya kadang-kadang masih ngegas. Tapi sekarang udah nggak gampang nangis kalo terlalu emosional. Di dekade berikutnya, gue kepingin lebih tenang dalam menanggapi perbedaan pendapat tanpa harus merelakan prinsip.

Demikian adalah beberapa poin tentang satu dekade dalam hidup gue. Kita semua berubah, dan gue sungguh tidak sabar menjalani apa yang akan terjadi di dekade berikutnya. Selamat menyambut dekade baru untuk kita semua!

Other posts

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.