Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Up Close and Personal Posts

Refleksi 2019

Ibarat tradisi, setiap tahun gue selalu menuliskan refleksi tahunan di blog ini, dimulai sejak tahun 2015 kalau nggak salah. Setelah lewat hari Natal, ini saatnya merefleksikan apa yang sudah terjadi di tahun 2019 dan apa yang ingin dicapai di tahun depan.

Tahun ini bisa dirangkap dalam dua kata: settle down. Gue ngerasa jadi homebody beneran tahun ini, thanks to pengajuan ijin tinggal yang lama banget, sampe bikin gue nggak bisa kemana-mana. Berikut adalah rekap per bulan apa yang terjadi di tahun 2019.

Januari 2019

Bulan Januari 2019 sama sekali nggak ada yang spesial. Bisa dibilang bulan ini adalah kelanjutan dari Desember 2018, bulan penuh kekuatiran dan kegalauan karena kontrak gue tidak diperpanjang perusahaan yang lama. Gue harus mencari pekerjaan baru sebelum ijin tinggal gue berakhir. Setelah berdiskusi panjang lebar dengan R, kami memutuskan untuk apply ijin tinggal family member of EU citizen. Di bulan ini gue sudah mulai malas bekerja, jadi gue makin sering ambil cuti liburan dan cuti sakit untuk bekerja di rumah atau untuk melamar pekerjaan. Toh orang kantor nggak bakal nyari-nyari gue karena kerjaan gue bisa dibilang mulai non-existent.

Februari 2019

Setelah bolak balik nyari advokasi ke Het Juridisch Loket, kami memasukkan aplikasi permohonan ijin tinggal tipe family member of EU citizen ke kantor IND. Paspor gue dikasih stiker menunggu ijin tinggal. Di stiker itu ditulis tanggal jatuh tempo keputusan ijin tinggal oleh IND dan status kerja gue. Untung banget mereka memperbolehkan gue bekerja tanpa sponsor. Masa menunggu yang sangat lama dimulai.

Di bulan yang sama, gue dapat kesempatan wawancara di perusahaan kunci di Belanda. Wawancara pertamanya sangat menyenangkan dan sangat santai.

Maret 2019

Bulan terakhir bekerja di perusahaan lama. Udah gatel banget pengen keluar, jadi gue menghabiskan cuti liburan gue di bulan ini. Gue hengkang dari perusahaan tersebut satu minggu sebelum tanggal resmi kontrak gue berakhir. No regrets. So long, suckers!

Dua minggu setelah gue cabut, gue diundang untuk wawancara kedua dari perusahaan yang mewawancara gue bulan lalu. Ternyata mereka mengundang gue secara resmi via e-mail, tapi e-mailnya masuk spam, dan gue nggak nyadar sampai hari-H wawancara dimana mereka minta gue mengerjakan tugas. Mampus kan… lalu gue tunjukkin aja blog ini dan gue menjelaskan cara kerja gue. Hitung-hitung pamer kemampuan presentasi impromptu, kan.

Satu minggu kemudian, saat gue berbelanja di IKEA, gue menerima telepon dari orang yang mewawancarai gue pertama kali. Gue diterima di perusahaan tersebut. Hore!

April 2019

Gue memulai pekerjaan di kantor yang baru. Semuanya serba menyenangkan. Gue dikasih laptop baru, ponsel kantor, dan kolega yang asyik-asyik dan sangat menginspirasi.

Tidak banyak yang terjadi di bulan ini karena gue masih sibuk menyesuaikan diri dengan keadaan kantor baru dan semua kolega yang tiba-tiba berbahasa Belanda. Sangat berbeda dengan keadaan kantor lama, yang semuanya berbahasa Inggris.

Bokap datang mengunjungi gue di bulan ini. Dia pun baru mengetahui fakta bahwa gue sudah tinggal bersama R. Untungnya beliau cukup santai dalam merespon hal ini. Tapi, berdasarkan hasil dari jalan-jalan dan ngobrol sama dia sepanjang weekend, dia dan gue punya pandangan yang cukup berbeda tentang berbagai hal, terutama hal-hal yang prinsipil. Contohnya, gue ingin dianggap sebagai pribadi dewasa, tapi dia akan selalu “menganggap gue sebagai anak perempuannya”, yang menjadikan sikap dia ke gue jadi kayak sikap orang dewasa ke anak kecil.

Mei 2019

Pergi ke kantor cabang Jerman untuk mengikuti seminar kantor selama 3 hari. Seru banget, bertemu ratusan kolega baru dari berbagai kantor cabang dan melihat kantor cabang Jerman yang gede banget dan jadul banget. Di acara ini, gue baru merasakan bahwa walaupun gue baru bekerja selama sebulan, tapi kolega-kolega baru gue ini sangat menghargai kerja keras gue dalam bantu-bantu sedikit untuk acara seminar tersebut.

Juni 2019

Bulan ulang tahun! Gue memulai perjalanan umur 28 tahun dengan cara nggak ngapa-ngapain, cukup merayakan ulang tahun bersama R di restoran Indonesia terkemuka di Den Haag. Dapat diskon makan rijsttafel soalnya :p

Bokap menelepon di hari ulang tahun, dan dia mulai nanyain yang aneh-aneh semacam “Apa rencana kamu sama pacar kamu” “Target kamu apa” dll. Hal ini cukup bikin gue kesel karena hari bahagia gue dirusak dengan pertanyaan-pertanyaan aneh. Lu yang insecure, kenapa lu yang melimpahkan semuanya ke gue?

Mulai bertanya-tanya pada diri sendiri, “Sebenarnya keluarga gue di Indonesia menganggap gue ini masih umur berapa, sih? Kok yang bersifat pribadi begini ditanya-tanyain?” Mulai kritis juga tentang semua yang terjadi dan dinamika keluarga di Indonesia. Jiwa memberontak, yang sedari dulu ada tapi terus ditutupi denial, mulai menggelegak ingin keluar lagi.

Juli 2019

Hati mulai resah karena jawaban atas permohonan ijin tinggal belum keluar juga. Jahatnya IND, mereka tidak akan memberi tahu proses permohonan kita sebelum tanggal jatuh tempo. Jadi kita disuruh nunggu aja gitu tanpa ada update yang jelas.

Karena proses IND yang aneh banget ini, gue jadi nggak bisa kemana-mana. Stiker di paspor gue itu nggak punya kekuatan apapun yang bikin gue bisa keluar Belanda secara legal. Stiker itu cuma kasih keterangan bahwa gue sedang menunggu ijin tinggal baru dan ngasih keterangan hak bekerja gue.

Agustus 2019

AKHIRNYA IJIN TINGGAL GUE KELUAR JUGA.

Nggak banyak yang terjadi di bulan ini karena gue terus bekerja selama musim panas. Paling hanya ambil libur sesekali untuk tinggal di rumah. Terimakasih IND, gue jadi tahanan rumah gara-gara skema ijin tinggal lo yang konyol!

September 2019

Masih betah bekerja di kantor yang sekarang. Mulai excited sekaligus kuatir dengan kunjungan ke Indonesia bersama R bulan depan. Kursus Belanda di kantor gue selesai, gue jadi lebih pede ngobrol bahasa Belanda dengan kolega yang lain. Makasih banget untuk kantor yang sudah mau investasi ke gue dengan cara menyekolahkan gue kursus privat bahasa Belanda.

Oktober 2019

Pergi ke Indonesia bersama R. Menghabiskan waktu di Indonesia selama 3 minggu di 4 kota: Bali, Jogja, Jakarta, dan Bandung. What a hell of a ride. Pulang ke Belanda dengan hati lega tapi menyisakan luka kekecewaan yang dalam terhadap keluarga sendiri. Semakin yakin bahwa jadi orang yang keras kepala, dalam hal ini, sangatlah membantu agar tidak diinjak-injak dan disuruh-suruh keluarga sendiri.

November 2019

Semakin merasa ada yang salah dengan diri sendiri sejak kepulangan dari Indonesia. Gue begitu mudah terpancing emosi jika ada sesuatu yang mengingatkan gue terhadap betapa buruk perlakuan sebagian besar keluarga gue terhadap gue dan R di liburan kemarin. Karena ini, gue jadi semakin sering marah-marah tanpa sebab ke R, menyalahkan pola asuh orang tua yang semakin disadari bahwa sangat nggak beres.

Lama-lama merasa diri nggak beres, lalu mulai Google tentang bagaimana caranya mendapatkan pertolongan psikolog di Belanda. Gue merasa bahwa gue butuh pertolongan profesional, karena gue nggak mau curhat ke anggota keluarga yang lain. Mereka bisa jadi subyektif atau malah gue nanti disangka mengubah persepsi orang. Lebih baik cari bantuan profesional yang ngga ada hubungan darah sama gue, deh.

Desember 2019

Beli pohon Natal dan atribut Natal. Tanda sudah settle down selama satu tahun tinggal di rumah sendiri.

Memutuskan untuk memberanikan diri pergi ke dokter langganan untuk meminta surat rujukan ke psikolog. Gue merasa bahwa ada yang mengganjal dalam diri gue, terutama dalam hal self-acceptance. Gue ingin memulai tahun depan dengan belajar untuk mengontrol reaksi, emosi, dan merasa damai untuk move on dari semua perlakuan buruk atau masa lalu asuhan yang buruk. Gue pengen tahun depan, ketika gue melihat kembali ke pola asuh oma opa dan bokap nyokap ke gue saat kecil, alih-alih dendam, gue merasa “oh, ya udah”. Nrimo selapang-lapangnya, berdamai dengan diri sendiri. Itu yang gue inginkan.

Merayakan Natal dengan cara paling unik, nggak usah dijelasin lebih detail caranya. Yang jelas, perayaan Natal tahun ini betul-betul bikin gue yakin dengan hubungan kami berdua, dan mau dibawa kemana habis ini.

Tahun 2020

Gue ingin merasa lebih damai di tahun 2020. Selama tahun 2019 ini, gue merasa banyak menelan akar pahit. Gue merasa gue berubah jadi orang pendendam yang dikit-dikit gampang triggered dengan hal-hal kecil di sekitar gue. Bisa lho, tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan, gue teringat dengan apa yang dikatakan oma/opa/bokap/nyokap ke gue beberapa tahun lalu, dan itu membuat gue sangat bete dan akhirnya merusak suasana hati.

Di tahun 2020, gue ingin mendalami skill baru yaitu menggambar secara digital. Maka itu, gue sudah beli tablet menggambar dan berlangganan Adobe Illustrator untuk belajar pelan-pelan. Inginnya, di tahun 2020 gue sudah bisa membuat konten visual untuk membantu blog ini dan sebagai hobi coret-coret juga.

Tahun depan, gue pengen jalan-jalan lebih banyak. Cukup sudah deh, IND memperlakukan gue ibarat tahanan rumah di tahun 2019, nggak bisa kemana-mana jika tidak ada ijin tinggal. Gue pengen sering-sering pergi ke negara tetangga dan pengen pergi ke daerah lain di Eropa. Sicily bulan September, mungkin?

Apapun target kamu di tahun 2019, entah itu realistis atau random banget, semoga kamu selalu bersemangat untuk menjalaninya. Selamat menanti dekade baru!

4 Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.