kurisetaru

kurisetaru

Refleksi 2018

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Nggak terasa, tahun 2018 sudah tinggal menghitung hari. Perasaan, baru kemarin gue datang ke malam pergantian tahun bersama R di rumah temannya, yang sudah jadi tradisi sejak bertahun-tahun lalu. Eh sekarang sudah mau ganti tahun lagi aja. Sejak gue pindah ke negara empat musim, satu tahun menurut gue berlalu sangat cepat. Mungkin karena disini pergantian bulannya berasa banget karena ada empat musim, tidak seperti di Indonesia yang cuma kenal kemarau dan musim hujan.

Gue sebenernya nggak pinter-pinter amat bikin refleksi akhir tahun, apalagi merangkai kata-kata positif ibarat Mario Teguh. (Eh sekarang MT masih ngetop gak ya, atau ada motivator kondang baru di Indonesia?). Tapi biarkan di tulisan ini gue menengok kembali sebentar, apa aja yang udah terjadi di tahun 2018 ini.

Tahun ini gue dikasih kesempatan jalan-jalan ke empat negara. Awal tahun, gue pulang kampung ke Indonesia dan mampir ke Singapura di awal dan akhir perjalanan. Pulang kampung selalu seru, karena ketemu teman-teman dan keluarga, walaupun cuma sebentar. Lalu gue pergi liburan musim panas bersama R ke Hungaria. Liburan ini sebenernya nggak menyenangkan di awal, tapi menyenangkan di akhir karena bir dan makanan enak dan murah. Terus liburan yang terakhir, gue pergi sendirian ke Denmark. Seneng banget bisa makan ramen dan nasi Korea yang super mantap, ketemu mbak Eva, dan dikenalkan dengan bir namanya Goliath.

Bersyukur juga tahun ini gue masih sama R. Gue adalah tipe orang yang realis, dan pas sudah dua tahun bersama, gue kaget aja karena gue bisa punya hubungan yang awet. Cukup senang dan bersyukur ada orang yang mau menerima poin plus dan minus gue. Nggak ada acara berantem yang terlalu lebay di tahun ini, hubungan kami juga lempeng-lempeng aja, tapi hubungan low-maintenance gini yang gue seneng. Gue bukan tipe orang neko-neko yang doyan dikasih kejutan atau bikin drama gak penting dalam hubungan.

Tahun ini gue beli rumah! Yesssss, sebuah pencapaian yang sangat berarti bagi gue dan R. Apalagi tahun ini harga rumah lagi mahal-mahalnya, dan kami termasuk korban nyari rumah susah banget karena semua orang sepertinya punya duit lebih banyak dari kami. Beruntung banget kami ketemu rumah yang sekarang ditinggali, karena pemiliknya super baik dan kami berhasil beli rumah ini dibawah harga awal. Letaknya juga strategis, depan halte tram, dan supermarket cuma 500 meter jauhnya dari rumah.

Nah, setelah refleksi hal-hal yang patut disyukuri dan dinikmati tahun ini, saatnya refleksi hal-hal yang mengecewakan dan/atau menyedihkan. Yang pertama, setelah gue pindahan hari pertama, gue mendengar kabar dari adik gue bahwa Nini meninggal dunia. Buat yang baca blog gue sejak awal, tahu dong gue ada keturunan Sunda dari nyokap, dan Nini adalah ibunya almarhumah nyokap gue. Walaupun gue sedih, gue tahu bahwa meninggalnya Nini jauh lebih baik daripada dia terus-menerus sakit di dunia. Sejak lama, dia memang punya sakit asma dan komplikasi dengan sakit di bagian perutnya. Beberapa tahun lalu, dia jatuh dari kamar mandi yang menyebabkan dia harus duduk di kursi roda dan beberapa tahun belakangan udah gak bisa beranjak dari kasur lagi. Gue beruntung sempet ketemu dia terakhir kali bulan April lalu saat pulang kampung, tanpa gue sadari bahwa itu adalah kali terakhir gue bertemu dia.

Hal negatif lain yang gue alami adalah fakta bahwa kontrak gue nggak diperpanjang oleh kantor gue yang sekarang. Alasannya sih, mereka mau mengecilkan tim tahun depan dan posisi gue sudah nggak diperlukan lagi. Sedih sih, tapi gue memang sudah mau berhenti dari kantor itu sejak lama untuk cari kerjaan baru. Sekarang gue sedang heboh cari-cari kerja setiap hari, demikian juga R, karena kalau gue belum dapat kerja sampai Januari, kami memilih untuk daftar partnership visa. Repot banget? Iya. Tapi tahun depan gue sudah bisa mengajukan Permanent Residence, jadi gue harus bertahan disini paling enggak satu tahun lagi!

Segini dulu ya tulisan gue, gue mau pamit, nanti gue akan kembali dengan topik “mengapa resolusi tahun baru itu sampah dan apa yang harus dilakukan daripada bikin resolusi” (topik panjang, tapi akan jadi menarik, percaya deh)

Other posts

19 thoughts on “Refleksi 2018

  1. Hoho aku tahun ini tidak bikin resolusi tp mengganti dgn istilah yg lebih sederhana. Yaitu: RENCANA. Lagian aku juga gak ngerti maksud sebenernya dr kata RESOLUSI itu apaan.

    1. Aku antara berencana atau enggak mbak. Tunggu postingannya nanti ya šŸ˜‰ (pelit banget mau ngasih spoiler)

      BTW kita udah kenal lama banget berarti. Tapi ndak pernah bertemu!

          1. Aku sejak pertama membaca postinganmu yg ttg Pemilu, sudah tau klo kamu ini berbeda šŸ˜Š jd klo skrg km berhasil melanglang buana, tentu gak heran lagi šŸ‘šŸ¼ klo yg galau ttg pacar, ah elah aku jg sampe usia 20 an masih begitu aja kelakuannya, wkwkwk… br mandeg ya bgitu kenal si suami

          2. Ini jaman pemilu masih ada pak bowo kan ya? Huahahaha ya ampun itu udah lama sekali ya!!! Aku udah melanglang buana blogging, jadi udah lupa artikel2 yang dulu pernah ditulis… padahal berguna banget buat portfolio kan (dulu boro2 mikir sampe sini)

          3. Nggak tau itu Pemilu jaman kapan, wkwkwk. Tp kayaknya emang Pilkada. Km masih kls 2 apa 3 SMA gitu. Trs kita tuker2an PIN BB. Aku masih inget, ngobrol di BBM ama kamu disela liburanku di Bali, Nov 2009.

  2. Semoga langgeng hubungannya dan dapat PR supaya tetap bisa tinggal di sini.
    Kalau kamu pake visa partnership, musti ngelewati serangkain ujian2 dulu juga ga baru dapat PR?

    1. Karena R bukan Dutch citizen, ga harus mbak. Tapi 2 tahun lagi aku berencana ngurus sendiri sih, jadi ya pake ujian2. Makanya ujiannya mau dikelarin tahun depan, biar pas bisa mengajukan PR langsung kasih dokumennya.

    1. Makasih ya, semua semoga tercapai. Aku memang suka banget nulis, soalnya cepet, kalo vlog kan harus di edit dll dkk. Walaupun ada rencana tahun depan mau coba bikin podcast karena kabarnya suaraku kayak penyiar radio, hehehe

  3. Wah.. R bukan warga negara belanda tapi bisa ngajuin partnership visa? Cool abis. Persyaratannya apa gt? Anyway di belanda ada Permanent Residence ya? Gw pikir di negara eropa emang ga ada, soalnya di Prancis ga ada šŸ™

    1. Bisa Cun. Namanya against EU law atau gimana gitu. Di website IND ada. PR ada kok, sifatnya berjangka atau unlimited.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.