Pengalaman Beli Rumah di Belanda

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Di tulisan terdahulu, gue udah berjanji untuk duduk manis depan laptop untuk menulis secara panjang lebar tentang pengalaman beli rumah di Belanda, kan.

Mohon maaf sebelumnya, tapi karena posisi gue adalah pembeli dan orang awam, maka gue nggak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlalu teknis di kolom komentar atau email pribadi. Mau nanya silahkan, tapi kalo gak gue jawab, tandanya anda salah tempat nanya. Ask questions at your own risk. Even better, Google before asking.

Seperti biasa, sebelum gue memulai tulisan, gue akan menulis beberapa point disklaimer dulu, karena orang jaman sekarang banyak bener yang suka asal tuduh generalisasi.

  • Gue membeli rumah dengan status WNA Belanda, masih pegang paspor ijo.
  • Gue pemegang ijin tinggal kennismigrantvergunning alias ijin tinggal untuk migran keterampilan tinggi.
  • Semua tulisan gue dibawah adalah murni pengalaman. Jadi tolong jangan dipercaya 100% atau dilakukan 100% karena bisa jadi pengalaman lo dan gue berbeda, tergantung situasi masing-masing. Kata orang bule, please take this with a grain of salt.

Jadi, kita mulai saja ya!

Kapan Mulai Mencari Rumah?

Gue mulai cari rumah sejak awal tahun 2018. Awalnya sih hanya iseng dan karena saran pacar. Bosen juga gue bayar kontrakan tiap bulan, udah gitu rumahnya nggak bisa gue apa-apain juga kan.

Mulai bulan April 2018, gue dan pacar merasa bahwa kami harus serius cari rumah nih, makanya kami langsung mendaftar ke aankoopmakelaar alias makelar khusus pembeli rumah dan financial advisor yang bisa membantu pengajuan hipotek.

Sebaiknya keputusan beli rumah beneran diputuskan bersama, karena cari rumah itu butuh kesabaran ekstra, tingkat negosiasi tinggi, dan tingkat realistis yang juga tinggi.

Bagaimana Keadaan Pasar Properti Tahun 2018?

Satu kata: GILA.

Kenapa? Karena tahun ini adalah tahun dimana harga rumah bisa naik sampai 30% dari harga rumah di tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, tahun ini adalah tahun buyers market alias pembeli lebih banyak dari penjual rumah.

Entah berapa kali Open House yang kami ikuti selalu berujung kekecewaan. Sekalinya mau tawarin harga, selalu keduluan orang lain dan selalu kalah dalam perang tawar menawar harga rumah.

Selain itu kami harus bersaing dengan para investor tamak yang punya duit segudang dan membeli rumah untuk investasi atau disewakan ke orang lain. Para investor ini biasanya punya uang simpanan yang bisa menyamai harga rumah, sehingga mereka nggak butuh hipotek terlalu banyak, bahkan banyak dari mereka yang nggak butuh hipotek. Penjual rumah mana yang nggak tergiur dengan fast money kayak gitu? Sementara gue adalah orang kelas menengah yang masih harus pinjam uang ke bank untuk membeli rumah. Ya jelas si penjual pilih yang udah punya duit, dong!

Pakai Jasa Makelar atau Nggak?

Ini adalah salah satu kegalauan yang kami alami di bulan-bulan awal mencari rumah. Kolega gue yang cepet banget dapet rumah tahun lalu bilang bahwa pake makelar tuh cuma buang-buang duit aja, lebih baik uangnya dialokasikan untuk renovasi rumah jika perlu atau beli mebel sesuai yang kita mau. Ada juga kolega yang awal tahun ini hoki banget, nggak pakai makelar, cuma pakai financial advisor, cuma lihat rumah tiga kali, di kali ketiga mereka dapat rumah.

Tapi gue juga punya teman lama yang awal tahun ini beli rumah di Haarlem dengan bantuan makelar. Katanya, pakai makelar lebih mudah karena mereka tahu keadaan pasar properti, punya banyak koneksi untuk menaksir harga rumah, dan bisa colong start untuk lihat rumah yang belum dipasarkan secara online. Selain itu, teman lama gue ini dari Indonesia juga, dan dia butuh orang yang bisa bantu translate istilah properti sampai ke tahap akhir yaitu di notaris. Dengan alasan-alasan inilah gue pilih memakai jasa makelar.

Gue pakai jasa aankoopmakelaar. Seperti yang gue singgung diatas, makelar ini khusus untuk pembeli rumah. Ada juga makelar yang punya divisi untuk pembeli atau penjual rumah, tapi untuk menjauhi conflict of interest, gue pilih makelar yang 100% ada di sisi pembeli.

Keuntungannya banyak sekali, selain yang temen gue bilang, punya makelar di sisi kita itu bisa menaikkan “gengsi” saat kita lihat rumah. Si penjual rumah bisa lihat tingkat keseriusan kita untuk beli rumah karena kita adalah klien makelar X. Selain itu, keuntungan lainnya adalah keuntungan emosional. Sering banget gue terlalu kuatir dengan sesuatu yang berhubungan dengan rumah, dan makelar gue bisa banget menenangkan gue. Sabar banget lah dia pokoknya.

Untuk yang pengen cari rumah di daerah Den Haag, gue sangat merekomendasikan Jeannet Kleine Staarman dari Mevrouw de Aankoopmakelaar Den Haag. Bahasa Inggrisnya tokcer, orangnya sabar, dan dia cepat tanggap banget.

Bagaimana dengan Financial Advisor?

Financial Advisor (selanjutnya gue singkat FA) adalah bagian yang cukup krusial dalam membeli rumah. Kenapa? Karena ini semua ujung-ujungnya duit 🤗

Kalau punya duit terbatas, gue sarankan pakai uangnya untuk menyewa FA daripada makelar. FA kegunaannya banyak sekali, yang paling penting adalah dia bisa mencari bank yang cocok untuk mencairkan hipotek untuk rumah yang lo beli.

Banyak banget bank di Belanda yang menawarkan jasa hipotek. Mulai dari yang terkenal seperti ING, ABN Amro, sampai yang kecil-kecil kayak Obvion atau Florius. Kalau punya FA, begitu hasil taxation keluar, mereka bisa dengan cepat mencari bank yang bisa meminjamkan uang ke kita. Tapi ada juga bank yang punya berbagai ketentuan menyebalkan, misalnya nggak bisa kasih pinjaman ke warga non-Belanda atau cuma bisa kasih pinjaman sekian persen untuk warga non-Belanda yang punya ijin tinggal khusus seperti gue. Fungsinya FA adalah untuk mempercepat proses pencairan hipotek karena mereka punya banyak koneksi ke bank besar maupun kecil. Bahkan ada beberapa bank yang cuma mau terima klien yang mendaftar ke FA, bukan klien bebas.

FA ini kegunaannya bukan cuma pas beli rumah doang. Mereka bisa memberi saran untuk hal-hal lain berbau keuangan, seperti kalau kamu mau buka usaha.

Emangnya Pemegang Paspor non-Belanda Bisa Punya Properti, ya?

Lha kalau nggak bisa, gue nggak bisa beli rumah, tong. Tidak seperti di Indonesia, di Belanda semua orang punya hak untuk memiliki properti. Persyaratannya, walaupun agak rumit, tapi sangat jelas dan masuk akal. Dan nggak diskriminatif sama sekali.

Apa Saja Dokumen yang Diperlukan?

Yang standar, sih. Kalau mau tandatangan akte jual beli, harus bawa paspor. Lalu kopi ID, slip gaji 3 bulan terakhir, dan dokumen dari kantor yang menyatakan bahwa kita kerja disitu dan si kantor akan memberi kontrak permanen, jika kontrak kita masih sementara.

Apalagi ya… setiap FA berbeda. FA yang gue pakai punya website sendiri tempat kita bisa unggah dokumen yang mereka perlukan, seperti rangkuman pensiun. Ada langkah-langkahnya juga gimana cara dapetinnya.

Tips-Tips Iseng

Kolega gue bilang, cari rumah lewat Funda tuh bisa dibilang agak telat karena biasanya makelar akan naro rumah yang dijual di website resmi mereka duluan. Makanya, mulailah daftar newsletter mereka, like di Facebook, karena kemungkinan besar mereka akan ngasih tau “orang dalam” duluan tentang rumah yang akan dijual, sebelum masuk portal Funda.

Buat yang ga tau, Funda adalah website tempat kita bisa lihat rumah yang dijual di seluruh Belanda. Bisa kirim pesan ke makelar juga lewat situ untuk bikin perjanjian melihat rumah.

Satu kolega gue sering bolak balik daerah rumah yang dia taksir untuk ngecek adakah rumah yang dijual di daerah itu. Kalau nemu, dia catat nomor telepon makelarnya lalu dia telepon secara pribadi.

Bisa juga ngecek website perumahan sosial seperti Staedion, Vestia atau DUWO untuk melihat rumah-rumah yang dijual secara lebih murah. Saingannya relatif lebih tinggi sih, karena mereka mengutamakan orang yang membutuhkan.

Yang terakhir… banyak banyak sabar! Cari rumah tuh beneran mirip kayak cari jodoh. Kalau lagi kencan kan harus tahu sebanyak mungkin sebelum memutuskan mau lanjut atau nggak, ini mirip-mirip lah. Udah gitu, jangan terlalu baper kalau rumah impian kita keburu diambil orang. Ini ujian untuk tetap selalu realistis. Bisa jadi budget kita hanya cukup untuk apartemen satu kamar tidur, tapi kita maksa mau beli dua kamar tidur, kan ga mungkin?

More to explore

Nguping dan Nyinyir di Pemilu

Tiga observasi kelakuan orang Indonesia yang ditemukan saat Pemilu serentak 2019 di Den Haag. Yuk nyinyir bareng!

13 thoughts on “Pengalaman Beli Rumah di Belanda

    1. Hoi mbak, tergantung makelarnya. Kemarin itu aku membandingkan antara Mevrouw de Aankoopmakelaar dengan satu makelar lain di Den Haag. Si makelar yang lain ini tarifnya flat sekitar 2k, tapi untuk tiap viewing rumah di charge 150 euro tiap kali viewing. Si Mevrouw ini bayar start up fee dulu, trus kalo dapet rumah dari mereka, bayar 1,2% dari vraagprijs, dikurangi start up fee. Itu komisi mereka.

        1. Iya mbak, silahkan. Atau like di Facebook, makelar2 sekitar Den Haag. Biasanya mereka share rumah tuh di FB dulu atau networking mereka sebelum masuk ke Funda. Daftar newsletter juga. Kayak kolega aku itu, dia ga dapet rumah dari Funda tapi dari email marketing si makelar itu lah…

  1. Thanks sudah menuliskan ini Crys. Jadi tahu memang beda2 ternyata ya lika liku mencari rumah dan ternyata beda tahun sudah beda cara. Jadi aku ada gambaran bedanya dengan kami dulu cari rumah. Yang penting kunci sudah di tangan ya, jadi sudah plong dan lega kamu sudah ada rumah.

    1. Sama sama mbak. Iya, kayaknya tiap tahun beda-beda, kayak contohnya di notaris, tahun lalu ada notaris yang masih mau bikin appointment pake bahasa Inggris, sekarang kalau gak fasih bahasa Inggris wajib menyewa translator.

    1. Justru nggak ribet karena pake makelar dan financial advisor. Kalau sendiri, bisa jadi lebih ribet karena pakai bahasa asing dan banyak makelar penjual rumah yang nganggep kita gak serius. Ada makelar yang biayanya flat, tapi minta uang tambahan setiap kali makelarnya ikut kita lihat rumah. Disitu dia bakal ngecek rumahnya, mulai dari kusennya bagus/gak, jendelanya double glass atau single glass, perlu renovasi/gak, dll. Tapi makelar yang aku pakai ini jasanya pakai persenan, yaitu 1,2% dari harga awal. Gak pakai biaya tambahan kalau kita minta mereka ikut lihat rumah.

  2. Great post! Pusing-pusing lah apalagi di North Holland nyari rumah… buat harga yang sama bisa beli vrijstaand ukuran tiga kali lipat di bagian selatan kali ya T__T
    Tambah lagi peraturan (lumayan) baru tentang mortgage, katanya sekarang mortgage engga boleh lebih dari harga rumah itu sendiri, jadi kalau engga punya tabungan banyak untuk biaya transfer tax, makelar, belum lagi renovasi dkk… ya wasalam deh.

    1. Wah Noord-Holland Aku udah gak mau mikirin mbak. Iya, harga hipotek harus sesuai dengan harga taxation. Jadi masih harus nambah lagi buat ngegenapin jumlahnya.

  3. Semuanya dilakukan secara profesional. Aturannya jelas. Harga semua transparan. Biaya-biaya yang dikeluarkan sangat jelas. Ini namanya profesional. Kerja profesional tentu harus dibayar., hehe…

    Di Indonesia memang aturannya wna gak boleh memiliki rumah (property). Tapi itu hanya ada dalam aturan. Kenyataan di lapangan sangat beda. Vila-vila mewah di daerah pariwisata seperti di Bali itu yang punya banyak wna. Rumah mewah di kawasan elit kota-kota besar banyak yang dimiliki orang asing.
    Begitulah negeriku tercinta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Join the Club!

Hit that “Subscribe” button to receive weekly posts straight to your inbox!