Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Up Close and Personal Posts

Opini Tentang Video Call

Bagi imigran, video call (selanjutnya akan disingkat VC) tentunya bukan barang yang asing. Selain menjadi alat silaturahmi dengan keluarga, VC juga menjadi alat paling cocok untuk merayakan hari-hari spesial dengan orang terdekat ketika kita jauh di rantau. Apalagi di masa pandemi ini, VC ibaratnya sudah seperti kebutuhan umum untuk catch up berita, bahkan ada banyak aplikasi ponsel yang memampukan kita bermain board game bersama teman-teman secara online sambil VC.

Tapi sebenernya gue nggak suka dengan VC, bahkan sudah hampir eneg dengan konsep ini. Berikut adalah beberapa keberatan gue tentang VC yang akhirnya bikin gue bisa bilang gue nggak suka.

VC butuh banyak persiapan

Untuk seorang introvert seperti gue, ketika ada orang yang tiba-tiba VC, biasanya akan langsung gue reject. Kenapa?

Buat gue, VC itu perlu persiapan fisik dan mental. Persiapan fisik contohnya: Harus sisiran dulu, harus ngecek baju kelihatan bagus atau nggak, dan harus cek wajah kelihatan pucat atau segar. Persiapan mental gue lebih ke pengalaman masing-masing, gue sih berpikirnya seperti “Nanti pas VC mau ngomongin apa?”, dan pertanyaan-pertanyaan pribadi lain yang harus dipersiapkan.

Orang-orang yang asal VC dan berharap untuk dijawab

Lihat alasan nomor satu. Buat gue, VC perlu persiapan, tidak seperti panggilan telepon yang bisa diangkat kapan saja. Maka itu, gue nggak suka dengan orang-orang yang asal saja VC orang lain. Terus kalau panggilannya di-reject, dia bakal telepon terus berkali-kali, seperti tidak bisa baca situasi.

Kalau VC kan, orang yang ditelepon juga harus fokus menatap layar, berbeda dengan panggilan suara yang bisa dilakukan sambil melakukan aktivitas lain. Terus, kalau asal VC orang lain dan di-reject terus, ya sadar diri kenapa sih? Bisa saja orang itu lagi nggak bisa menerima panggilan video, atau memang nggak mau VC-an.

VC yang nggak jelas juntrungannya

Sudah asal VC tanpa tahu waktu, begitu dijawab, ternyata nggak ada yang penting. Cuma mau lihat muka doang. Pertanyaannya juga standar, “Lagi ngapain?” atau “Lagi dimana?”. Kemudian awkward karena nggak tahu apa lagi yang harus dibicarakan. Has anyone experienced this?

Buat gue, VC lebih baik jika diagendakan terlebih dahulu, dan ketika VC, kita sudah tau mau ngomongin apa. Misalnya, gue dan teman-teman gue di Indonesia, sering bikin agenda VC untuk ngobrol atau main game online. Dengan begitu kan semua pihak merasa jelas dan bisa mempersiapkan diri.

Atau misalnya kalau anggota keluarga yang mau say hi, bisa kirim pesan dulu, bertanya bisa VC atau nggak karena mau ngobrol tatap muka. Setelah itu terserah kita, sedang bisa/mau VC atau tidak, kalau nggak bisa VC bisa bikin rencana singkat kapan mau VC.

Tante gue sering sekali ajak VC yang nggak jelas juntrungannya. Beberapa kali jika dia kirim panggilan video dan jika gue jawab, biasanya dia sedang di rumah, lalu nanya-nanya nggak jelas. Pernah juga dia VC dan ketika gue angkat, dia sedang pergi bersama teman-temannya, lalu ponselnya digilir ke teman-temannya dan gue harus “halo-halo” ke mereka. Do you think I have the time and the energy for this?

VC yang tidak tahu waktu

Ada hubungannya dengan poin nomor dua. Kadang gue mengalami hal ini. Gue lupa menyalakan do not disturb di ponsel saat tidur, dan sekitar jam tiga subuh, gue terbangun kaget karena anggota keluarga menelepon gue tiba-tiba. Lalu kalau gue angkat/kalau gue reject dan gue kemudian menegur mereka secara keras, mereka hanya membalas dengan sangat ignorant, “Hooo, disana masih subuh/malam, ya? Masih jam berapa?” Nggak ada minta maaf, malah ngajak ngobrol.

Untuk anggota keluarga yang punya saudara imigran dan mau VC atau telepon, ada baiknya berpikir dulu tentang perbedaan waktu satu negara dengan negara lain. Kalau nggak tahu, bisa di-Google dulu kan sebelum telepon. Jangan ganggu tidur/hidup sehari-hari orang lain hanya karena nggak tahu dan nggak mau cari tahu.

Intinya… VC juga perlu etika

Sama seperti panggilan telepon, jaman sekarang panggilan video juga perlu ada etikanya. Pertama-tama kita harus sadar diri dulu bahwa kehidupan masing-masing orang sangat berbeda dan kita punya kapasitas berbeda untuk VC.

Sebelum VC lebih baik kirim pesan dulu, apa bisa dan MAU untuk VC. Bisa dan mau tuh beda ya. Misalnya gue bisa saja menerima VC karena sedang lengang, tapi gue nggak mau karena gue baru bangun tidur dan belum cuci muka. Atau gue bisa VC tapi gue nggak mau VC karena lagi nggak mood. Jika jawabannya nggak bisa/nggak mau VC, ya DIHARGAI. Jangan dikejar-kejar, apalagi ditelepon berulang kali.

Ketika VC juga sebaiknya sudah jelas mau ngapain. Mau ngobrol-ngobrol? Ya harusnya sudah jelas juga mau ngobrol apa. Ada keluarga mau tatap muka? Bilang dari awal. Mau main online game bareng-bareng? Kasih tahu dulu aplikasinya dari awal, jadi orang yang diajak VC bisa unduh dulu. Jangan maksa VC orang lain sebagai pengisi waktu luang atau nggak tahu mau ngomongin apa.

Begitulah, alasan-alasan kenapa gue nggak suka VC. Kalau kamu, suka panggilan video nggak? Alasannya kenapa? Share di kolom komentar ya!

2 Comment

  1. Halo Mba,

    Baru pertama kali komen disini walopun udah baca blognya Mba dari lama, sejak sebelum pindah ke yang .nl ini hehe..

    Aku pun gk suka VC kalo tiba2 apalagi kalo bukan yg temen deket atau sodara deket gitu..takut di tengah2 suasananya awkward karena gk tau mesti bahas apa wkwkw.. Pun dengan telefon aku juga kurang suka ahaha..lebih suka ngobrol via chat aja xixi

    1. Dulu aku ga suka telepon tapi sekarang ya boleh lah, bisa ditolerir sedikit. Kalo VC… kalo kita ga janjian dulu aku ga bakalan angkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *