kurisetaru

kurisetaru

Nonton Konser di Belanda

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Gue menulis tulisan ini karena terinspirasi dengan heboh konser Westlife di Jakarta yang kontroversial. Westlife-nya sih bagus, tapi banyak yang sangat kecewa dengan pelayanan promotor, mulai dari cara penjualan tiket, prosedur yang sangat merepotkan, dan berakhir pada terlalu banyak kursi yang dijual sehingga membuat penonton di kelas Platinum tidak nyaman karena kursi mereka sangat jauh dari panggung. Selain itu, banyak juga yang mengeluh tentang kursi yang kayak kursi kondangan/wisuda dan panggung yang sangat kecil ibarat panggung pensi sekolah.

Sejak di Indonesia dulu, gue memang bukan anak konser atau anak pensi. Bukannya nggak pernah datang ke konser, tapi memang jarang aja. Yang paling gue inget adalah datang ke konser The Script, Sungha Jung, dan yang terakhir ke konser Taylor Swift. Berdasarkan pengalaman singkat gue, nonton konser di Indonesia emang lebih banyak mengeluhnya daripada senengnya. Konser The Script dan Sungha Jung sih masih masuk akal, tapi pas gue nonton Taylor Swift, manajemen penontonnya buruk banget. Pantes aja habis itu Taylor nggak masukin Jakarta lagi di konser-konser berikutnya.

Pas gue pindah ke Belanda, malah gue berubah jadi anak konser. Paling nggak selama dua tahun pertama saat gue masih jadi pelajar dan jadi pengangguran. Selama tahun 2015-2016, entah sudah berapa festival musik dan konser yang gue datangi, mulai dari festival musik band indie, festival musik kota yang gratis, sampai konser besar seperti Taylor Swift dan James Bay. Mari kita simak gimana sih rasanya nonton konser di Belanda?

Konser Musik = Tempat Senang-senang

Ya emang konser musik itu harus dibawa senang, kan? Datang ke konser musik adalah salah satu hal favorit gue karena gue bisa bebas berdansa dan bernyanyi tanpa harus takut diledekin orang. Gue pun nggak masalah jika harus datang ke konser/festival musik sendirian.

Karena tujuan utama konser adalah untuk senang-senang, makanya peraturan konser disini nggak terlalu ketat. Paling yang standar saja, seperti nggak boleh bawa makanan/minuman sendiri, dilarang bawa obat terlarang, ada pengecekan tas, gitu-gitu aja kok.

Makanan dan Minuman Harga Normal

Di konser Westlife tempo hari, gue baca komentar yang ngomel makanan dan minuman di dalam tempat konser mahal banget dan nggak bisa transaksi pakai uang tunai atau kartu kredit/debit. Semua penonton harus mengunduh aplikasi e-wallet yang menjadi salah satu sponsor konser. Ya ilah, kampung amat sih konversinya. Palingan setelah konser, para penonton langsung uninstall aplikasi tersebut.

Di Belanda, setelah kita memasuki arena konser/festival, makanan dan minuman bisa dibeli dengan cara normal, yaitu pakai kartu debit. Biasanya, di festival musik diberlakukan konsep lain yaitu membeli koin. Koin-koin ini nanti akan dipakai sebagai mata uang di arena festival dan bisa dipecah dua. Satu bir misalnya, harganya 1.5 koin. Hot dog harganya 3.5 koin. Gue nggak terlalu suka model ini karena biasanya harga makanan dan minuman jadi lebih mahal dengan konsep koin.

Image result for munten festival
Contoh koin di festival. Satu koin bisa dipecah jadi dua. Sumber: https://www.studenten.net/artikel/hoeveel-geld-geef-je-uit-op-een-festival

Beli Tiket Tanpa Harus Desak-desakan

Selama gue nonton konser disini, nggak pernah tuh beli tiket di satu tempat secara fisik. Di Belanda, hampir semua tiket konser musisi internasional/lokal dijual di Ticketmaster atau Mojo Concerts. Kalau beli tiket festival musik, biasanya beli langsung via website festivalnya.

Ada cara lain lebih murah untuk nonton konser yaitu dengan cara membeli tiket yang dijual ulang. Untuk ini, gue sangat merekomendasikan TicketSwap. Kita tinggal menuliskan nama festival/konser yang ingin kita datangi, lalu muncul deh berbagai tiket yang dijual kembali oleh orang lain. Transaksi dilakukan lewat portal TicketSwap, jadi nggak ada kesalahpahaman dalam pembayaran. Kalau kita ada tiket yang nggak dipakai, kita juga bisa jualan tiket disana. Cepet lakunya, lho.

Minusnya dari TicketSwap ini adalah kita nggak tahu bahwa tiket itu asli atau nggak. Berdasarkan pengalaman gue, untungnya tiket-tiket yang gue beli dari TicketSwap semuanya asli. Kita juga bisa lihat testimoni pembeli disana untuk mengecek seberapa terpercaya si penjual tiket tersebut.

Di hari-H konser/festival, tinggal datang ke arena konser dengan tiket di tangan, bisa dicetak atau lewat ponsel, lalu di-scan. Masuk deh, nggak perlu pencocokkan ID segala. Mau nonton konser aja kok dibikin ribet, sih?

Penonton yang Tertib

Menurut gue, keamanan di konser itu adalah two-way street. Bukan cuma kita yang menuntut promotornya untuk lebih santai, tapi sebagai penonton, kita juga harus tahu diri. Gue rasa inilah alasan kenapa promotor di Indonesia pada galak dan memberi banyak peraturan yang nggak masuk akal, karena penonton konser Indonesia banyak yang masih pada norak. Pintu dibuka, langsung lari sekencang mungkin. Santai aja kali, situ udah punya tiket, napsu amat sih pengen berdiri/duduk paling depan?

Di Belanda gue rasa penontonnya cukup tertib, artinya mereka bersenang-senang tanpa bikin orang lain rugi. Jarang tuh gue lihat penonton yang bawa tongsis saat nonton festival musik. Mereka nggak egois saat menikmati festival atau konser karena mereka mengerti posisi orang lain juga.

Kalian para pembaca, sudah pernah nonton konser di luar negeri belum? Cerita pengalamannya dong! Dan apa harapan kalian untuk dunia konser di Indonesia? Share di komentar ya!

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

Main ke Museon Den Haag

Berkunjung ke Museon di Den Haag dan berkenalan dengan masyarakat Romawi kuno di Den Haag.

8 thoughts on “Nonton Konser di Belanda

  1. Orang Belanda ga butuh tongsis, mereka dah menjulang ngalahin galah tingginya 😅 sejak nonton duran duran yang besoknya leherku sakit, setelahnya ga mau lagi nonton konser yang berdiri (kecuali ga ada pilihan kelasnya). Mending duduk aja. Ga nyaman juga nonton konser bareng orang2 sini, tingginya ngalangin pandangan haha. Kalau kayak gitu, kangen nonton konser di Indonesia yang tingginya rata2.

    1. Sekarang aku juga gak ngoyo mbak. Terakhir aku nonton konser ya di festival reggae. Pusing kalo deket panggung karena pada nyimeng semua. Mending nonton penyanyinya sambil duduk2 di rumput yang agak di belakang, soalnya muka penyanyinya bisa kelihatan dari layar besar.

  2. Wah ini… gue belom pernah sekalipun nntn konser pas dulu tinggal di Indonesia. Selain karena duit pas-pasan, gue merasa bakalan rugi aja gitu. Sekarang di Jepang sih hobi nntn konser hahaha… bagus ini postingan lo ta!

  3. OMG!!! RED Tour Jakarta yaaa! Aku nonton juga dan emang capek siih waktu itu nonton yang festival dan kurang jelas dari pihak promotornya, setlistnya juga banyak yang di cut sama TS *mungkin bayarannya kurang yaa hahahah. Anyway, kira-kira 2 tahun yang lalu bela-belain ke Belanda buat nonton John Mayer di Amsterdam dan suka banget 🙂 (malah belum pernah nonton konser di Italia)

    1. Iya RED tour di Ancol dulu itu Din!!! Ya ampun aku nontonnya sampe desek2an pas Taylor muncul lagu State of Grace berasa mo pengsan. Aku pernah denger tuh konser mas John disini tapi ga nonton karena biasa aja ama dia 🙂 enak ya konser disini, selow banget ga pake banyak peraturan ga penting

Leave a Reply to Grant Gloria Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.