kurisetaru

kurisetaru

Akomodasi ‘No Internationals’: Diskriminasi Atau Demi Kenyamanan?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Waktu baca: 2 menit

Selamat! Kamu diterima di sebuah universitas di Belanda. Mulai sekarang, hari-harimu pasti akan dipenuhi dengan berbagai kegiatan seperti mengurus visa, mencari beasiswa, sampai acara farewell dengan teman dan keluarga.

Sebagai mahasiswa asing, tentu saja kamu ditawarkan akomodasi mahasiswa dari kampusmu. Setelah melihat harga sewa akomodasi kampus yang cukup mahal, atau merasa nggak yakin masuk daftar tunggu akomodasi kampus, kamu memutuskan untuk bergerilya mencari kamar lewat berbagai grup Facebook yang menawarkan akomodasi untuk mahasiswa di kota tujuanmu.

Begitu kamu sudah resmi jadi anggota grup akomodasi mahasiswa, pencarian tempat tinggal yang sesuai dengan budget resmi dimulai. Namun, alih-alih menemukan iklan yang menarik, kamu malah menemukan iklan-iklan seperti ini:

No internationals? Gampang saja, mereka nggak mau satu rumah dengan mahasiswa internasional. Sebenarnya, definisi mereka tentang mahasiswa internasional juga kurang jelas. Apakah pelajar yang familiar dengan bahasa dan budaya Belanda tapi bukan dari Belanda juga termasuk mahasiswa internasional? Tidak ada yang tahu selain penyewa rumah tersebut.

I hate to break the bubble to you, tapi iklan akomodasi ‘No Internationals’ ini tergolong iklan yang cukup sering muncul di grup akomodasi mahasiswa di Belanda. Apalagi jika kamu masuk kampus untuk intake musim gugur alias peak season-nya penerimaan mahasiswa baru. Di saat-saat seperti ini, pencarian akomodasi bisa jadi sangat kompetitif dibandingkan dengan tahun ajaran musim semi. Bahkan banyak mahasiswa internasional yang terpaksa menginap di hostel atau membangun tenda karena mereka nggak dapat akomodasi. Sampai masuk koran nasional, lho.

Seiring dengan banyaknya iklan seperti ini, banyak juga diskusi dengan tema serupa. Beberapa orang membantah tulisan No Internationals sebagai praktik diskriminasi karena mereka berpikir lebih masuk akal untuk memilih orang yang nyambung diajak ngobrol dengan bahasa sendiri. Menurut gue, orang-orang yang berpendapat seperti ini nggak ubahnya katak dalam tempurung.

Mereka nggak sadar bahwa banyak mahasiswa internasional yang datang dari negara yang sangat jauh. Kebanyakan dari mereka nggak tahu medan. Selain itu, mahasiswa yang bukan dari negara anggota UE (Uni Eropa) wajib membayar uang sekolah yang lebih mahal daripada pelajar asal negara UE. Banyak pelajar yang akhirnya hengkang dari Belanda dan membatalkan studi mereka karena masalah nggak dapat rumah. Salah satu aspek penting untuk membuka rekening bank dan asuransi kesehatan selama di Belanda adalah terdaftar di akomodasi tetap.

Walaupun begitu, kalian jangan patah arang. Biasanya, akomodasi No Internationals ini adalah akomodasi yang isinya pelajar anggota asosiasi pelajar yang kebanyakan mahasiswa Bachelor (S1) lokal dan mereka maunya cuma bergaul sama orang lokal saja. Ada cukup banyak kok akomodasi yang merangkul mahasiswa internasional untuk mendaftar, termasuk rumah-rumah dengan penghuni mahasiswa Belanda yang sudah cukup dewasa untuk menerima perbedaan.

Belakangan ini, menjelang tahun ajaran baru, banyak mahasiswa internasional yang mencari teman untuk berburu rumah via grup akomodasi mahasiswa. Semakin banyak orang yang bergabung dengan mereka, semakin besar kans mereka untuk mendapatkan rumah dari agen penyewaan rumah. Jadi nggak perlu menunggu iklan kamar/rumah kosong lagi. Mungkin cara ini bisa dicoba jika kamu mau mencari akomodasi untuk mahasiswa internasional di Belanda. Tinggal bersama mahasiswa internasional itu menyenangkan kok, kalian akan terekspos dengan budaya dari berbagai negara.

Pesan dari gue, setelah baca tulisan ini, jangan kaget kalau kalian menemukan iklan akomodasi yang nggak mau mahasiswa internasional. Unfortunately, shit like that still happens around here, in a country where they often boast about their tolerance to others. Yang penting, selamat belajar dan bersenang-senang di Belanda!

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

Main ke Museon Den Haag

Berkunjung ke Museon di Den Haag dan berkenalan dengan masyarakat Romawi kuno di Den Haag.

9 thoughts on “Akomodasi ‘No Internationals’: Diskriminasi Atau Demi Kenyamanan?

  1. Wow, I don’t care mereka mau bilang apa, it’s still discriminatory as sh*t, ha ha. Tapi di sisi lain, mending ketauan di depan gitu sih kalau mereka attitudenya non-foreigner friendly. Jadi gak kaget pas pindahan, ternyata dapet house mate yang gak friendly hanya karena kamu bukan orang Belanda.

    Tapi emang Belanda bukan berarti luput dari orang-orang kolot dan closed-minded. Cuma kebanyakan yang udah tuir-tuir… jadi sayang aja kalau generasi penerus juga masih banyak yang kolot.

    Well, semoga setelah lulus S1 orang-orang itu wawasannya makin luas.

    1. Ketahuan di depan, emang. Tapi nyatanya pasar rumah pelajar emang lebih memihak pelajar lokal, kok. Udah ada banyak banget mahasiswa yang akhirnya dapet agen abal atau yang permintaannya dicuekin cuma karena mereka ga dari sini. Masalah ini emang pelik banget karena udah ada di sistem. Belanda itu negara kecil tapi mereka promosi pendidikan terus-menerus tapi gak dibarengi dengan proyek bikin asrama mahasiswa internasional.

      Generasi mudanya nggak kolot tapi mereka terlalu dimanjain sama lingkungan yang serba ngikutin maunya mereka. Belom lagi budaya fraternity/sorority yang kenceng banget di kota2 pelajar, Duh bisa jadi tulisan sendiri deh kalo soal itu.

  2. Disini ga separah gitu keknya Crys, but what do I know, aku dulu tahun pertama dapet kolegium kampus, tahun kedua pindah sama pacar yang dulu.

    That said, banyak temen2 orang Danish yang aku tau yang sharing house sama internationals mengeluh klo internationals ini (biasanya dari Asia ya sayangnya) jorok, ga biasa bersih2 atau apalah culture clash lainnya. Ya mungkin mahasiswa Asia ini banyak yang keluarga orang kaya yang banyak duit, punya pembantu dari rumah, or what do I know, jadi mereka daripada ribet udah ga terima aja. Bisa jadi walo ga dpasang no internationals, langsung ditolak di depan kalau surelnya dalam bahasa Inggris misalnya.

    1. Kalo yang pasang iklan No Internationals disini itu rata2 student house yang isinya anak Bachelor mbak. Biasanya masih pada mau party dan maunya main sama gengnya doang. Kalo yang S2 rata2 mau serumah sama orang dari negara lain, walau kadang ada juga peraturan No Internationals itu dari yang punya rumah (ada loh beberapa kasus kek gini, rasis parah).

      Ada juga kasus heboh viral di grup Leiden Housing beberapa bulan lalu, seseorang (dari negara lain di EU) ngirim pesen ke penulis iklan yang nawarin rumah tapi No Internationals. Nekad dia ceritanya. Trus dibales kata2 rasis plus dia kirim foto di belakangnya ada bendera VOC (!!!!). Penghuni rumah lain langsung klarifikasi, bilang bahwa pesan2 itu gak di confirm sama penghuni rumah lain, jadi kelakuan rasisnya ya cuma kelakuan si pembalas pesan itu aja.

  3. Wah diskriminasi gini ya ternyata… Nyari roommate gini biasanya ada proses wawancara ga sih Tal? Kan sebenernya internasional or no international bisa ketauan cocok apa enggak dari wawancara.

    1. Ada yang ada, ada yang nggak. Tapi bocah2 penunggu rumah No Internationals ini kalo pasang iklan langsung dijembrengin gitu. Maunya yang bicara Londo doang. Umur, jenis kelamin sih menurutku boleh “dibatasin”. Tapi kalo asal negara sih udah rasis namanya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.