Nguping dan Nyinyir di Pemilu

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Waktu baca: 3 menit

Bulan April tahun ini, rakyat Indonesia merayakan pesta demokrasi alias Pemilu (Pemilihan Umum). Bukan hanya rakyat di Indonesia saja yang antusias, tapi juga masyarakat diaspora di luar negeri, contohnya di Belanda.

Gue adalah salah satu dari ribuan rakyat diaspora yang antusias. Walaupun gue bukan pendukung fanatik partai atau politikus tertentu, tapi rasanya seneng aja kalau bisa menyumbang suara untuk negara. Makanya gue bersemangat untuk datang ke TPS dan tidak memilih untuk mengirimkan surat suara gue via pos.

Tapi tulisan ini bukan tentang bagaimana pengalaman gue mengikuti Pemilu di Belanda. Kali ini gue akan nyinyir sedikit, cerita tentang kelakuan-kelakuan orang kita yang aneh, lucu, dan nyebelin yang terjadi di sekitar gue saat Pemilu. Kalau baper dan merasa tersinggung, jangan dibaca ya!

Cerita Perempuan Over Simpati di Bus

Pagi hari sekitar pukul 9, gue sudah tiba di tempat bus gratis yang disediakan panitia Pemilu untuk para pemilih. Bus ini akan membawa kami dari Den Haag ke Wassenaar, tempat dimana Pemilu serentak berlangsung.

Gue duduk di bangku dekat jendela. Tak lama kemudian ada dua perempuan yang duduk di belakang gue, sebut saja A dan B. Si A ini suaranya keras sekali dan cerita-ceritanya isinya pamer melulu. Selain itu dia suka sekali berkomentar hal-hal yang nggak penting, sementara B hanya sekedar tukang bertanya atau menimpali.

Ketika bus kami akhirnya berangkat, si A ngomong, “Duh, kasihan banget itu yang nunggu bus di luar, bus berikutnya kan jam 10 pagi, pasti kedinginan!”

Si B menjawab, “Ya kan tapi hari ini ada matahari, pasti enak cuacanya.” Hal ini langsung dibantah A, “Ya tetep aja nggak sama, lah! Tahu gitu lebih baik mereka tunggu di dalam stasiun aja.”

Duh, si A ini tingkat simpatinya tinggi sekali ya, sampai dia komentarin nasib orang-orang yang menunggu bus. Ya mereka nunggu bus pasti sudah tahu konsekuensinya, nggak usah dikasihanin.

“Sudah Punya Anak, Belum?”

Observasi ini terjadi saat gue sedang mengantre di TPS. Gue berpikir, daripada buang-buang batere ponsel dengan bikin IG Story tentang ramainya suasana Pemilu, lebih baik nguping orang saja. Kebetulan, di belakang gue ada dua orang cewek dan cowok, kira-kira sepantaran dengan umur gue, sedang ngobrol tentang tempat kerja dan kehidupan sehari-hari mereka.

Dua orang ini (sebut saja Romi dan Yuli) sedang asyik ngobrol ketika seorang ibu tiba-tiba nyamber obrolan mereka. Ibu itu bertanya hal-hal standar, seperti: “Di Belanda tinggal dimana?”, “Kalau di Indonesia asalnya dari mana?” “Kuliah/Kerja?” “Oooh, kuliah/kerja dimana?”

Setelah ngobrol sejenak, si Romi menghilang dari peredaran karena dia melihat temannya dari kejauhan. Si Yuli jadinya harus berinteraksi dengan si ibu itu sendirian. Si Yuli menjawab, “Tinggal di Amsterdam.” Dibalas lagi, “Ooh, Amsterdam-nya dimana?” Si Yuli menjawab sebuah daerah di Amsterdam. Kemudian si ibu itu menjawab dengan nama daerahnya, padahal si Yuli nggak nanya. Lalu Yuli bilang, “Oh, saya kerja di daerah situ, bu.” Kemudian si ibu itu bertanya sesuatu yang gue yakin Yuli pun malas mendengarnya:

“Sudah punya anak, belum?”

SERIOUSLY? Gue yang nggak ditanyain aja langsung kesel dengernya. Untungnya si Yuli menjawab sopan bahwa dia belum berpikir kesitu karena dia dan pasangannya masih muda. Ya elah, kalau gue yang ditanyain, pasti sudah gue semprot biar ibu itu kapok nanya-nanya sama gue.

Generasi Milenial Tukang Nyelak?

Gue menemukan fenomena ini ketika gue sudah hampir tiba di antrean registrasi per TPS. Dua orang cewek yang asalnya entah darimana, tiba-tiba sudah berdiri di depan gue. Tiba-tiba gue mendengar suara seorang ibu dari sebelah gue yang diarahkan ke dua cewek tersebut,

“Mbak, pada antre dong! Ini saya udah nunggu disini untuk masuk TPS-3 juga udah berjam-jam! Dasar, ngakunya pelajar, generasi milenial, tapi ngantre aja gak bisa! Kelakuan!”

Apa yang dilakukan dua mbak di depan gue? Mereka pura-pura goblok dan gak denger, cuma mesem-mesem doang. Duh mbak, bikin nama milenial jelek aja. Gue doain lu besok goblok beneran.


Cerita-cerita di atas hanyalah beberapa cerita pilihan yang gue alami saat mengantre untuk nyoblos. Sebenarnya ada banyak lagi observasi yang gue lakukan, mulai dari kebiasaan kita yang pinter banget bikin kenalan baru sampai kelakuan orang-orang yang masih suka pura-pura bego dan tuli. Tapi tahu nggak, apa hal yang gue sadari harus kita ubah?

Menurut gue, hal paling dasar yang harus masyarakat kita kurangi adalah BERKOMENTAR. Duh, seolah kita jadi rugi bandar kalau nggak mengomentari sesuatu. Dalam hal ini, komentar tentang bus yang terlambat, orang-orang yang kedinginan menunggu di luar, dan lain-lain.

Kita sering menganggap bahwa diam adalah tanda kecanggungan. Nyatanya, kita dididik untuk mencegah kecanggungan itu dengan cara bersikap ramah terhadap orang lain dengan bertanya hal-hal yang mungkin mengusik privasi. In short, we often talk just to fill the air or just for the sake of talking. Yang penting bunyi.

Nah, yang seperti ini bukan hanya ditemui oleh gue, tapi juga oleh salah satu teman gue. Dia pergi ke Wassenaar bersama bayinya yang masih berusia satu bulan. Saat antre makan siang, ada seorang ibu yang bertanya kenapa dia bawa bayinya yang masih merah itu ke luar rumah padahal cuaca hari ini dingin sekali. Ya terserah teman gue itu dong, dia seorang ibu pasti tahu yang terbaik untuk anaknya. Orang asing ngapain sok-sok mengasihani si anak bayi, kenal aja nggak? Simpan saja suaramu, komentarmu, dan rasa iba kamu untuk hal-hal lain yang lebih berpengaruh secara langsung untuk hidupmu.

Udahan ya, nyinyirnya segini aja. Sampai bertemu di nyinyir Pemilu tahun 2024, itu juga kalau gue masih bisa mencoblos untuk Indonesia.

More to explore

Nguping dan Nyinyir di Pemilu

Tiga observasi kelakuan orang Indonesia yang ditemukan saat Pemilu serentak 2019 di Den Haag. Yuk nyinyir bareng!

6 thoughts on “Nguping dan Nyinyir di Pemilu

  1. Hehehe, typical Indonesian banget ya XD

    Aku kemarin sengaja pakai headset, biar engga diajak ngobrol. Padahal engga dengerin apa-apa, ha ha ha.

    1. Aku nyesel ga bawa headset. Karena 3 jam itu beneran polusi suara. Tapi kayaknya aku bawa headset ga bakal ngaruh karena kupingku ga disumpel apapun juga, orang ga ada yang ajak ngobrol 😄

    1. Iya, ada satu yang begitu. Tapi bagusnya ada yang speak up, gak cuma misuh2 sendiri aja kayak kalo di Indonesia, gak berani negur.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Join the Club!

Hit that “Subscribe” button to receive weekly posts straight to your inbox!