kurisetaru

kurisetaru

Ngefans Boleh, Bego Jangan.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Disklaimer: Tulisan ini (mungkin) berisi makian yang belum tentu kalian bisa terima. Kalau merasa masih belum bisa terima sudut pandang orang lain yang beda sama kalian, mending simpan waktu kalian, gak usah baca tulisan ini ya. Gue gak suka cari ribut lewat internet.

Pagi ini, gue buka Twitter (seperti biasa). Kemudian gue dikejutkan dengan berita seorang selebgram yang baru aja drama sama sesama selebgram. Daripada bikin bingung marilah kita singkat nama mereka menjadi G dan H.

Intinya, G dan H adalah korban. G dapat DM di Instagram dari orang yang pakai mukanya H dan kata-katanya jorok. G kesel, nulis kekesalannya di blog. Ternyata di blog itu ada kalimat yang merupakan opininya G, lalu H nggak terima dan dia bikin Instagram Story yang isinya rekaman pembicaraan dia dan G di DM Twitter. Kemudian begitu H kirim DM konfirmasi ke G, si G malah marah-marah, ngatain H dengan sebutan “nyet” dan kata-kata kayak “Diva banget sih lo” dan serentetan makian lainnya. DM inilah yang direkam oleh H dan dimasukkan ke Instagram Story. Maksudnya si H masukin screenshot itu adalah dia mau ngasih liat pembicaraan aslinya sama G ke publik dan membiarkan publik menilai tentang peristiwa antara mereka berdua dan bahwa G cuma asumsi sesaat di tulisan blognya. Si G bahkan ngetik di Twitter bahwa dia mau “ngiler mukanya tuh orang” (H-Red).

Gue pribadi dulu ngikutin vlognya G. Menurut gue, dulu vlog dia sederhana banget dan cuma ngomongin kehidupan mahasiswa yang lagi merantau. Lalu dia liburan ke Indonesia dan tiba-tiba isi vlognya kayak ngartis. Mulai jadi brand ambassador merek ini itu, diundang ke acara TV, jadi bintang tamu acara jalan-jalan, segambreng lah. Gue kemudian berhenti nonton vlog dia karena gue kurang suka tone videonya selama di Indonesia, dengan harapan pas dia balik ke Jerman semoga tone nya balik lagi ala mahasiswa. Eh, begitu dia balik ke Jerman, tone videonya nya sama aja kayak di Indonesia, ngartis. Makanya gue memutuskan untuk nggak ngikutin perkembangan dia lagi.

Yang mau gue bahas disini bukan soal kelakuan si G atau drama yang lagi panas sekarang. Yang mau gue bahas adalah kelakuan penggemarnya G, baik di Twitter maupun Instagram, yang dalam menanggapi berita ini, nganggep G kayak orang paling alim sedunia. Lalu mereka selalu membela G apapun alasannya. Alasan banyak dari mereka begini, “G kan cuma manusia, wajar aja marah, tapi aku tetep dukung kak G kok”. Penggemar ini yang selalu menghujani kolom komentar di vlog dan blognya G yang memuja-muji dia dengan kata-kata “Duh kakak inspiratif banget” “Kakak #relationshipgoals banget”, dan lain-lain.

Satu hal yang gue sadari, kita punya berbagai kepribadian yang bisa kita tunjukkan ke berbagai audiens dalam hidup. Misalnya ke orang tua, kita mengeluarkan pribadi baik-baik. Kepada sahabat atau pacar, kita bisa lebih gila dan lebih bebas. G memilih untuk menunjukkan sebagian dirinya yang inspiratif dan “tutoring” ke publik, dan dia terkenal dengan kepribadiannya yang itu. Sayangnya, banyak orang yang nggak nyadar bahwa apa yang kita tunjukkan ke orang lain, belum tentu adalah seluruh kepribadian kita. Ngerti nggak? Jadi kalau G ngasih image bahwa dia gadis berpikiran terbuka dan kritis ke target market-nya yang adalah remaja dan anak muda Indonesia, bisa jadi dia menunjukkan sisi gelapnya ke orang lain yang dia temui sehari-hari. Sayangnya, para fans penggilanya menganggap bahwa dia 100% kritis, selalu benar, dan selalu berpikiran terbuka. “Simpan yang baik, buang yang buruk”, begitulah kata para fans dan netizen kalo nge belain G.

Udah gitu, gue nggak habis pikir sama orang-orang yang nge belain dia sampe segitunya. Kalau argumen mereka adalah “G cuma manusia, pasti bisa marah”, maka argumen gue adalah “G cuma manusia, pasti punya kekurangan, gak usah terlalu diidolakan”. Gue punya banyak pengalaman terlalu mengidolakan artis, terus pas artis itu kena skandal, gue jadi kecewa karena gue menganggap artis itu selalu paling benar dan paling inspiratif. Sekarang gue memilih untuk ngefans tapi kritis. Ke Taylor Swift, contohnya. Gue sudah jadi penggemarnya sejak usia 18 tahun, dan sudah pasti gue banyak dengar gosipnya yang gonta ganti cowok. Bukannya nge belain dia terus, tapi kadang gue juga kesel ama kelakuan dia yang minta banget diulas media.

G dan semua selebgram itu cuma manusia. Makanya nggak usah dibela sampe segitunya. Lo-lo pada sebagai fans juga nggak kenal mereka dalam wujud aslinya kan, jadi ngapain capek-capek dibelain sampe harus berantem sama orang?

Toh mereka kenal lo juga nggak.

Makanya, ngefans boleh, bego jangan.

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

Main ke Museon Den Haag

Berkunjung ke Museon di Den Haag dan berkenalan dengan masyarakat Romawi kuno di Den Haag.

26 thoughts on “Ngefans Boleh, Bego Jangan.

  1. Begitulah netijan. Serasa kenal dekat padahal halu. Banyak juga kejadian ke influencers lain, netijen ngasi komentar menggurui udah kaya sodaranya aja. Begitulah kalo halu brasa kenal padahal bukan sapa2.

    1. ((Padahal halu)) 😂

      Ya ampun mbak kalo mbak main ke vlognya, isinya pujian semua, gak ada hater sama sekali. Bener2 deh aku rasa dia kena star syndrome. Begitu ada masalah bener2 ngerasa kayak dunia runtuh.

  2. Kyknya ribet ya. Pernah dikenalkan istilah psikologinya untuk itu, namanya terasosiasi. Jadi org lain yg di kritisi, kita yg ujug2 sakit ati. Terjadi kalau sudah ngefans dan mengkultuskan tokoh. Logis? Susah karena emosi yg main. Sebabnya, sering terpapar imej dia2 lagi, tidak dibiasakan kritis….atau ya memang lemah di tema tertentu..

  3. Super fans itu memang kadang manusia paling gila ya… apa lagi kalau kebetulan liat flame war antara pemuja K-Pop, boyband, etc. Aku ada kenalan yang udah punya pekerjaan tetap, udah hampir kepala 3, masih aja kelakuannya kayak ababil kalau udah bicara K-Pop. Sampe pasang status sumpah serapah kalau ngomongin fans/boyband “musuh”.

    Aku juga punya pengalaman serupa mba, duluuu banget lumayan ngefans sama beauty youtuber Amerika keturunan Vietnam. Aku suka banget make-up tipsnya, terutama karena dia mukanya Asia gitu, jadi tutorialnya lebih relevan buat gue. Tapi makin tenar makin ngartis gitu orangnya… pake promo-in produk ini kek, endorse produk itu kek, sampe launching produk make-up sendiri.

    Terus kalau dilihat dari perubahan bentuk mukanya, dia juga pakek plastic surgery. Sebenernya itu kan terserah dia ya, tapi fans-fans beratnya udah ngamuk-ngamuk aja kalau ada yang ngomentarin sekedar nanya doang. Si youtuber ini juga mulai ngapus-ngapus semua komentar yang berbau negatif/kritik sedikitpun. Akhirnya gue ilfil dan udah berhenti deh nonton video2nya doi.

    1. Padahal kalo dia approve beberapa komentar negatif yang dia bales dengan nada gracious, bisa jadi poin plus buat dia, ya kan? Daripada cuma masukin komen2 yang bagus2 dan muji2 doang. Btw ini si youtuber yang ujung2nya berhenti youtube terus bikin video kartun dia bukan?

        1. Wah kalau ternyata produk make-upnya kena isu kesehatan aku kurang tau. Aku tau dia tiba2 menghilang dan bikin video kartun juga karena tiba2 heboh di Twitter…

          1. Iya, produknya merek IQQU, dia claim bahwa sudah approved oleh FDA dan “FDA Asia” (meskipun there’s no such thing as FDA Asia), tapi setelah ada yang research, FDA Amrik setelah ngereview produknya ngelurain label “not safe and effective” untuk IQQU.

            Kayaknya itu salah satu alasan dia cabut dari sosmed deh waktu itu.. *gak yakin sih

          2. Aku ga berani asumsi sih kenapa dia cabut dari media sosial. Tapi yang jelas aku salut sama keberanian dia untuk bikin video yang menjelaskan tentang background dia dan bahwa dia butuh ketenangan dari media sosial.

          3. Yeah, itu juga dia keluarin statementnya di IG kalau engga salah. She said she became depressed after her second make-up line also failed. I heard she’s going to relaunch EM Cosmetics, tapi udah setaun yang lalu kabarnya.. Well, I didn’t pay much attention to any follow-up news, so maybe she’s already back and on top again.

  4. Wah, aku sebenernya juga suka gaya bicaranya G. Tapi, kadang ada bagian yang ku anggap kurang bagus untuk ditampilin. Dan sejak baca tulisan ini, aku jadi belajar kalo terlalu suka sama sesuatu itu nggak baik dan ujung-ujungnya berantem.

    1. Contohnya dia pernah protes ke kalangan yang ngabisin sampe di atas 150 ribu buat makan. Padahal mungkin sendirinya ngabisin di atas 150 ribu buat makeup. Standar ganda gitu lah kadang omongannya.

Leave a Reply to mrs muhandoko Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.