kurisetaru

kurisetaru

Mencoba Jasa Clothing Box

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Salah satu kelemahan gue adalah: gue nggak bisa belanja baju. Kalau gue pergi ke toko pakaian, pasti ujung-ujungnya nggak beli apa-apa karena gue orangnya pelit banget soal baju. Motto gue adalah, “Lebih baik makan makanan seharga 30 euro daripada beli setelan dengan harga yang sama”.

Karena kelemahan gue ini, maka isi lemari baju gue itu-itu saja. Gue jarang banget beli baju, bahkan lebih jarang daripada saat gue masih tinggal di Indonesia. Selain lebih rela ngeluarin duit buat makan daripada beli baju, gue juga mikir bahwa beli baju di Eropa kan sesuai musim. Jadi lebih baik punya beberapa stel baju yang bisa dipakai di berbagai musim sekalian daripada ganti-ganti baju sesuai musim.

Nah, lama-lama gue bosan juga nih, pakai baju yang itu-itu saja. Gue sih tahu badan gue jenis apa, dan pakaian model apa yang cocok di badan gue, tapi kok kemauan pergi ke toko itu nggak pernah ada, ya. Akhirnya gue memutuskan untuk mencoba jasa “clothing box” alias kledingboks yang sedang naik daun di Belanda.

Apa itu clothing box? Well, pernah dengar subscription box, kan? Clothing box sistemnya mirip dengan subscription box. Kita bisa mengisi kuis di website penyedia servis clothing box, lalu kita akan dikirimkan baju-baju yang sesuai dengan kuis style guide yang kita isi. Kemudian, kita bisa pilih mau simpan baju yang mana dan kembalikan baju yang nggak kita sukai secara gratis. Nantinya kita tinggal membayar baju yang kita pilih aja. Kita juga bisa pilih mau dapat clothing box secara berkala atau tidak. Pokoknya fleksibel sekali.

Ada dua perusahaan clothing box yang pernah gue coba. Yang pertama P.S. Zoe dan yang baru-baru ini adalah Zalon by Zalando. Ada juga Scottybons, tapi dia ada biaya jasa stylist sebesar 15 euro, jadi gue gak pilih. Sistem P.S. Zoe lebih sederhana: Kita isi kuis style guide, lalu beberapa hari kemudian akan dapat pesan dari stylist kita bahwa boks kita sudah dikirim. Sistem Zalon by Zalando agak berbeda. Mulai dari style quiz yang lebih lengkap, kita bisa pilih stylist yang kita mau sesuai profil gaya mereka, dan kita bisa berkomunikasi dengan si stylist dengan fitur messaging di website Zalon atau mengirimkan inspirasi baju-baju yang kita suka. Kemudian stylist kita akan mengirimkan e-mail berisi preview baju-baju dan aksesoris yang akan dikirim dan kita bisa pilih mau dikirim atau tidak. Lebih lengkap dan lebih pribadi servisnya.

Bagaimana soal harga? Memang sih, baju-baju yang dikirim Zalon dan P.S. Zoe nggak semurah baju-baju di Primark, tapi yang gue suka adalah mereka tahan lama. Ada harga ada mutu. Sesuai dengan keinginan gue yang ingin punya baju-baju yang bisa gue pakai di berbagai musim. Kita juga bisa pilih kok, berapa budget yang kita habiskan untuk beli setelan, gaun, jaket, sepatu, atau celana. Contohnya gue, budget beli atasan adalah sekitar 20-50 euro, celana juga harga yang sama, tapi dress dan sepatu, gue berani bayar lebih sedikit. Akhirnya mereka juga mengirimkan baju-baju yang sesuai budget yang sudah kita isi.

Jadi, sekali-kali jasa clothing box wajib dicoba. Apalagi buat kalian yang pengen memperbaiki isi lemari baju, tapi males pergi belanja dan/atau nggak tau baju apa yang cocok dengan bentuk badan kalian.

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

Main ke Museon Den Haag

Berkunjung ke Museon di Den Haag dan berkenalan dengan masyarakat Romawi kuno di Den Haag.

17 thoughts on “Mencoba Jasa Clothing Box

  1. Eh lho Crys kok samaaaa kita. Lebih baik makan enak daripada beli baju dengan harga yang sama hahaha toss! Aku sudah tahu diriku sendiri, kalau sudah pakai baju yg cocok, ya nunggu sampai rusak dulu baru beli. Makanya baju dan jilbab selama di Belanda ya muternya itu2 aja. Itupun baju2 dan jilbab bawa dari Indonesia. Selama 3.5 tahun bisa kehitung beli baju. Lebih sering beli backpack dan sneakers malahan.

      1. Sip thanks infonya. Sebetulnya aku ga sering sering amat beli baju, krn lebih cocok bikin sendiri krn faktor kegedean, beli baju mengandalkan discount saja, belinya lebih sering online krn bisa langsung liat yg sale😁, duh☺️

  2. Termasuk jarang beli baju juga, paling pas hari raya. Menarik kisah tentang jualan plus jasa stylish. Btw Crys komenku di judul postinganmu yg kemarin masuk nggak, ya. Cuma cek error aja…

    1. Nggak masuk mbak. Kadang emang gitu nih WP.

      Iya, mungkin mereka menargetkan orang2 kayak aku ini, yang ga tau mau beli baju model apa, makanya ada stylistnya juga.

    1. Rata2 cocok kok, biasanya aku balikin yang harganya terlalu mahal atau potongannya gak pas di aku… Kemarin itu aku balikin satu blus ke Zalon karena warnanya pastel jadi gak cocok di warna kulit.

  3. Mungkin karena gw usia lebih tua, gw lebih memilih punya baju dengan bahan yang berkualitas daripada punya banyak baju dengan harga yang lebih murah. Jaman dulu masih sering belanja Zara, Mango dsb, sekarang aku shopping paling setahun sekali atau dua tahun sekali, tapi tokonya upgrade dikit. Bajuku di lemari dikit, jadi ya itu2 aja, cuman memang warnanya netral, modelnya netral, jadi bisa di mix & match.

    Kalau dulu umur 20 tahunan isi wadrobe aga random karena ga tau style yang cocok apa, sekarang dah tau demennya preppy/classic, jadi belinya ya sekitaran itu aja, (alias ga ngikuti fashion / trend). Toko favorit Hugo Boss & Tiger of Sweden. Belinya ya dari toko2 itu aja sih karena otomatis suka barang2 mereka.

    1. Kayaknya aku menua sebelum waktunya, nih! Sekarang aku sudah mulai tahu style sendiri dan sudah tahu juga toko2 yang sesuai sama gaya aku apa. Seperti Dorothy Perkins, Minimal, gitu2 deh. Intinya sih aku sekarang milih baju yang lebih awet, biarin deh agak mahal tapi yang penting bisa dipake di segala musim. Warnanya juga demikian. Sekarang baju2 di lemariku rata2 warna biru, abu-abu, dan coklat. Merah marun juga ada.

  4. Wah sama kita, gw paling sebel belanja baju soalnya males hahah. Paling beli ya t-shirt standard doank, dan baju gw itu2 aja. Jasa ini menarik banget yah! Apalagi kita bisa preview dan tentuin budget…waah 😍 kapan ya di Indonesia ada hehehe

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.