kurisetaru

kurisetaru

Masalah Group Chat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Writing-a-Text-Message

Sebagai makhluk pengguna media sosial dan ponsel pintar di jaman sekarang, pasti kita semua punya satu atau dua aplikasi ngobrol yang selalu digunakan untuk bertukar informasi. Untuk gue, gue punya tiga aplikasi: WhatsApp dan LINE untuk pribadi (walaupun lebih sering berinteraksi di WhatsApp) dan WeChat untuk kantor.

Sebagai pengguna aplikasi ngobrol, gue cenderung pasif. Maksudnya, gue nggak begitu suka ngobrol lama di aplikasi itu karena malas ngetik panjang-panjang. Selain itu gue juga malas membersihkan chat jadi masih banyak obrolan yang udah berbulan-bulan nggak disentuh. Yang terakhir, gue sangat tidak suka dengan fasilitas group chat karena fasilitas itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Kenapa begitu?

  • Group chat yang harusnya digunakan sebagai sarana ngobrol yang penting dan mengikutsertakan seluruh anggota di grup, biasanya disalahgunakan sebagai ajang ngobrol one-on-one.
  • Group chat suka bikin drama. Nggak jarang banyak drama dimulai karena seseorang memutuskan keluar dari grup lalu si admin bisa jadi tersinggung.

Gue hanya punya satu-dua group chat, itu juga jarang digunakan. Di WhatsApp, gue punya satu group chat yang masih aktif isinya gue dan dua orang teman lain yang pernah sekolah di Belanda, dua-duanya sudah kembali ke Indonesia. Di LINE, group chat yang aktif hanya ada dua, satu grup isinya gue dan dua teman lain sejak SMA, satu lagi isinya gue dan tiga sahabat dari jaman S1. Itu juga nggak setiap hari aktif, paling cuma aktif beberapa jam lalu sepi lagi. And I am OKAY with that.

Tapi ada juga yang pakai group chat untuk sarana mendekatkan yang jauh, dalam hal ini group chat alumni, group chat kelas, pokoknya yang anggotanya lebih dari 10 orang. Nah kalau yang kayak gini biasanya berisik banget dan isinya suka nggak penting. Gue adalah salah satu anggota group chat kayak gini yaitu group chat alumni S1. Untungnya sekarang group ini adem, gue pernah keluar dari group ini karena terlalu ramai dan pembicaraannya nggak jelas sampe adminnya baper sama gue karena gue keluar dari group.

Ada juga yang mau bikin acara kumpul-kumpul juga harus pakai group chat. Padahal kan bisa kirim pesan secara pribadi.

Kalian, apakah suka dengan fitur group chat? Berapa grup yang kalian punya di aplikasi ngobrol kalian? Yang suka dengan fitur ini, apa alasan kalian sehingga bisa suka dengan fitur ini? Yang nggak suka group chat, kapan terakhir kali kalian keluar dari sebuah grup? Yuk share disini!

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

Main ke Museon Den Haag

Berkunjung ke Museon di Den Haag dan berkenalan dengan masyarakat Romawi kuno di Den Haag.

24 thoughts on “Masalah Group Chat

  1. Aku pernah di add di group chat punya temen2 kuliah S1 dulu. Setelah beberapa minggu nggak sabar langsung keluar. Alesannya banyak obrolan dan joke2 ga penting (yang kebanyakan juga seksis). Aku jarang banget chat / pake WA / telegram dan sebangsanya

  2. Janganakn grup chat, chat individu aja gw susah keep up karena perbedaan waktu siang dan malam. Tapi ya akhirnya dibaca sesempetnya aja. Sebenernya tergantung para anggota grup chat sih. Contohnya grup almamater S1 gw lebih ke arah profesional, silahturahmi dan beneran saling support. Yang paling males kalo grup chat dijadiin ajang berdoa. Seharusnya ada admin punya aturan ya untuk selalu inklusif. Ini juga gw terinspirasi sama asosiasi student di post lo kmaren-kmaren 🙂

  3. Sejak punya smart phone (jaman Android) sampai sekarang, cuma pakai wa saja. Ga pernah pakai aplikasi chat yang lain misalkan Line, Telegram, atau apapun. Alasannya simpel : karena sudah sesuai kebutuhan dan sudah terakomodasi dgn wa. Apalagi sekarang kan wa sudah bisa telponan gratis dan video call juga (andaikan pas jaman LDR an sudah bisa gratis telponan, jadi ga perlu dua mingguan sekali telponannya haha!). Grup wa punya 4. Semuanya memang kenal baik. Satu grup backpacker (jaman2 suka backpackeran dulu) udah kayak saudara ini. Satu grup sahabat kuliah (sudah 18 tahun sahabatan), satu grup ibuk2 yg tinggal seantero Eropa (kenal dari komunitas di IG, banyak info2 berguna dan sudah beberapa kali kopdaran), dan satu grup sesama Imigran cinta yg dari Jatim (isinya cuma berempat, ketemu pas sama2 berjuang ngurus mvv dulu). Udah itu aja. Aku ga punya grup alumni. Terakhir keluar grup waktu diinvite sama grup keluarga besar. Tak sanggup aku ada di sana karena di dunia nyata saja sering beda pemikiran sama beberapa anggota keluarga itu, jadi mending dari awal keluar. Untuk ketenangan hidup yg cuma sekali haha.

  4. Berhubung saya orangnya lumayan pasif jadi nggak terlalu peduli dengan grup-grup whatsapp, haha. Semisal ada obrolan yang nggak menyenangkan, clear chat saja. Kalau obrolannya berbobot dan bermanfaat, baru dipantengin. Aplikasi chatting cuma punya whatsapp, habisnya ngapain punya banyak-banyak kalau isinya juga dia lagi dia lagi, haha.

  5. saya udah leave semua grup chat kecuali untuk urusan kerjaan. toh buat apa juga, punya kontak personal setiap orangnya, ya tinggal langsung hubungi aja kalo ada perlu.

  6. Hm baru buat tulisan ttg grup chat. Cocok nih. Suka-suka saja. Syarat awet ikut grup chat mmg kitanya kudu punya motivasi jelas dan nggak gampang baper. Tapi ya punya batasan jelas juga untuk hal2 yg tdk bisa ditolerir. Terakhir left grup krn kondisi teramat berbahaya kalau tetap ada disana hahaha

  7. Aku paling ga suka grup chat, apa lagi yang membernya banyak. Sekarang cuma 2 grup aja, dulu banyak tapi aku left karena berisik banget grupnya dan suka ga penting isinya. Aku udah uninstall LINE beberapa bulan lalu, jadi sekarang cuma pake WhatsApp. Kalo urusan kantor, krn aku kerjanya remote jadi biasanya chat di Skype atau Slack, so far ga mengganggu krn emang yg diomongin info penting 🙂

  8. Aku cuma punya Whatsapp aja sekarang, yang lain2nya sudah kuhapus2in. Toh isinya orangnya itu2 aja -_- Dan punya beberapa grup chat sih, mau gak mau karena dulu urusan kerjaan, tapi karena gak terlalu berisik, yah udah gpp dibiarin aja, gak left grup.. Punya beberapa grup sih, tapi so far memang butuh, sisanya yang gak butuh kalau diinvite, lsg ku private yang invite, bilang maaf yah saya gak ikut join.. Udah habis itu left deh.. Ga basa basi hehehe..

    1. Selain itu aku pikir kalo kebanyakan aplikasi chat yang orangnya itu itu aja, privasi kita malah terancam. Misalnya mbak kirim aku pesen di WhatsApp tapi aku belom balas karena gak liat, terus mbak udah kirim aku pesen lagi di chat lain… ngeganggu banget itu. Dulu adikku (jaman BBM) sering banget nge PING banyak kali, padahal kan dipikir-pikir nggak semuanya buka ponsel terus terusan.

  9. Aku cuma aktif di WA. Punya LINE juga tapi cuma buat lihat promo, mostly daily needs. Aku punya beberapa group chat tapi aku kenal baik orang-orangnya dan groupnya ga berisik. Serius deh, aku paling ga suka group yang berisik, habisin baterai hp! Haha.. Group alumni yang masih aktif hanya group SMA, sisanya udah kuleft karena berisik dan orang-orangnya suka ngomong kotor. WA-ku itu benar-benar aktif kalau pas jam kantor karena aku connect ke laptop. Kalau sudah pulang rumah atau weekend, aku malas lihat WA haha.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.