kurisetaru

kurisetaru

Main ke Museon Den Haag

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Weekend dua minggu lalu adalah weekend yang cukup spesial karena aku mengambil jatah cuti sebanyak dua hari ekstra. Jadilah weekendku dimulai sejak hari Kamis.

Tadinya aku ingin bepergian keluar Den Haag, tepatnya ke kota Hoorn. Bukan untuk melempari patung JP Coen disana dengan telur busuk, melainkan untuk menyambangi museum Hoorn yang sedang membuat pameran terbatas mengenai kota Depok. Tapi sayangnya rencana itu harus aku tunda karena satu dan lain hal.

Walaupun tidak jadi ke Hoorn, aku tetap ingin ke museum. Tapi aku nggak mau ke museum seni karena harus konsentrasi melihat dan menganalisa lukisan. Aku juga nggak mau ke museum sejarah karena sedang malas baca. Aku ingin ke museum yang banyak alat peraganya, jadi aku bisa main-main saja, seperti kunjunganku ke NEMO Amsterdam beberapa tahun lalu. Akhirnya setelah browsing sana-sini di internet, aku memutuskan pergi ke Museon, museum eksperimental yang ada di kotaku.

Aku pergi sendirian karena R bekerja. Nggak apa-apa sih, toh aku juga suka menjelajahi museum sendirian. Bebas berlama-lama dan ngga perlu kuatir R bosan atau ngga tertarik.

Berbekal tiket seharga 13 euro, aku memasuki Museon yang letaknya tepat di sebelah Gemeentemuseum di salah satu daerah di Den Haag yang super cantik, Statenkwartier namanya. Kalau aku pergi ke daerah itu, rasanya tidak di Den Haag karena arsitektur rumah-rumahnya ciamik semua.

Terlihat isi Museon sedang berbenah karena mereka sedang menyiapkan pameran temporer berikutnya yaitu tentang mumi dari jaman es dari pegunungan Alpen. Di lantai satu museum, aku mampir ke pameran temporer dari National Geographic berjudul Colours of the World. Pameran ini mengetengahkan psikologi warna dan bagaimana warna-warni dunia bisa memainkan emosi dan perspektif kita akan sesuatu.

Jika di lantai dasar Museon diisi dengan pameran temporer, lantai satu Museon adalah pameran tetap mereka. Ada banyak sekali tema yang difokuskan Museon karena motto mereka adalah “Ontdek the wereld” atau bahasa Indonesianya “Temukan dunia”. Pameran yang paling besar yang mengisi 80% dari lantai satu Museon adalah pameran OneWorld. Kita diajak untuk merefleksikan kehidupan kita sehari-hari, apakah kita sudah cukup “awas” dengan berbagai isu yang dialami dunia ini? Mulai dari masalah energi hingga masalah obesitas anak-anak. Pameran OneWorld ini menarik sekali karena mereka bukan hanya menunjukkan berbagai benda tapi juga ada mainan yang bisa dimainkan. Contohnya di panel obesitas, kita bisa melihat video tentang sejarah diet manusia jika kita berjalan di atas treadmill. Jika kita berhenti, video di TV depan kita akan berhenti lalu ada suara “Hey, gerak dong!” Video tersebut durasinya sekitar lima menit, setara dengan kalori yang kita buang setelah makan satu kue brownies.

Di sela-sela pameran OneWorld, ada ruangan-ruangan kecil yang berisi pameran-pameran lain yang bertemakan dunia. Ada banyak sekali ruangan kecil dengan tema-tema mulai dari hidup anak di masa perang, geografi negara Belanda, tapi ada dua yang membuat gue sangat tertarik yaitu ruangan tentang kehidupan orang Romawi di Den Haag jaman dulu dan tentang manusia purba yang tinggal di daerah yang sekarang adalah termasuk daerah Den Haag.

Tahukah kamu bahwa Den Haag dulunya adalah kota orang Romawi? Dulu, Den Haag dan Voorburg termasuk kota-kota terluar Kekaisaran Romawi. Ada banyak sekali penemuan yang meyakinkan kita bahwa Den Haag adalah kota orang Romawi seperti penemuan alat masak dari tanah liat di daerah yang sekarang bernama Ypenburg dan penemuan kota jaman Romawi di Voorburg bernama Forum Hadriani. Di Museon, kita bisa melihat fosil-fosil orang Romawi jaman dulu. Yang menarik adalah ada dinding yang menjelaskan tentang pola makan orang Romawi beserta buku kecil berisi resep makanan mereka yang relatif mudah dan bisa kita buat di rumah! Rupanya orang Romawi dulu suka makan roti dengan saus cocol seperti hummus, berbagai jenis sup, dan ikan goreng. Nama Den Haag dan Voorburg (Forum Hadriani) bahkan tercatat di Tabula Peutingeriana, peta jalan Romawi kuno yang menunjukkan peta jalan di seluruh kekaisaran Romawi. Semacam Lonely Planet untuk orang Romawi kuno.

Pameran kedua yang bikin aku terbengong-bengong adalah pameran tentang orang-orang pertama yang mendiami Den Haag. Nama pamerannya “De eerste kustbewoners” atau “Para penduduk awal pantai”, pantai maksudnya adalah Den Haag karena kota ini kan dekat laut ya. Fokus dari pameran ini adalah hasil penemuan tim arkeologi tentang cara hidup orang-orang pertama yang tinggal sepanjang garis pantai Den Haag, terutama di daerah sekarang bernama Ypenburg. Di situs ekskavasi, mereka menemukan sekumpulan kuburan berisi tulang belulang, sekiranya dikuburkan 42 orang disitu mulai dari laki-laki, wanita dewasa, dan anak-anak. Selain itu, di bagian ini juga ditunjukkan “rumah” orang di jaman itu (kira-kira Jaman Batu).

Demikian laporan pandangan mata tentang Museon. Sungguh museum yang sangat menarik untuk dikunjungi lagi karena mereka sering mengadakan pameran temporer. Kapan-kapan mau kesini lagi ah!

(Maaf nggak ada foto, aku terlalu fokus main di museum sampai nggak foto-foto untuk bahan blog. Semoga cerita ini bisa membuat imajinasi di otak juga ya…)

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

Main ke Museon Den Haag

Berkunjung ke Museon di Den Haag dan berkenalan dengan masyarakat Romawi kuno di Den Haag.

5 thoughts on “Main ke Museon Den Haag

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.