Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
hello fresh box
Living in the Netherlands

Langganan HelloFresh, is it worth it?

Di Indonesia ada perusahaan yang bergerak di bidang subscription box nggak, sih? Di Belanda cukup banyak, mulai dari boks khusus fashion, khusus barang-barang interior geeky, dan untuk resep makanan. HelloFresh adalah salah satunya.

HelloFresh adalah perusahaan yang bergerak di bidang boks berlangganan makanan. Perusahaan ini ada di berbagai negara di Eropa, seperti di Inggris dan di Swedia juga ada. Selain HelloFresh, ada juga merek lain seperti Marley Spoon. Beberapa perusahaan supermarket juga mulai memudahkan klien mereka dengan mengadakan servis antar belanjaan ke rumah/kantor sampai ke dapurnya.

Berhubung gue suka masak dan suka pamer kreasi masakan gue di Instagram, seorang teman menawarkan kode gratis untuk satu minggu berlangganan HelloFresh. Kenapa nggak? Kebetulan gue lagi bokek, jadi dapet belanja makanan satu minggu kan bisa motong biaya belanja mingguan.

Dari kode tersebut, gue memilih makanan untuk 4 orang (baca: 4 porsi) dan 3 jenis makanan. Ada beberapa kategori makanan yang bisa dipilih, mulai dari menu vegetarian (3-4 jenis masakan), menu untuk keluarga (3-5 jenis masakan, berupa resep-resep yang bisa dimasak bersama anak), atau menu cepat dan mudah (3 jenis masakan). Karena ini kode gratis dan gue nggak suka masak terlalu lama, akhirnya gue pilih menu cepat dan mudah.

Di hari Senin petang, satu boks HelloFresh tiba. Tiga jenis bahan-bahan yang gue dapat adalah bahan-bahan untuk masak sup udon, pasta pesto, dan kentang goreng dengan salad. Semuanya masih sangat segar, sayurannya dingin, dan bahan-bahannya sudah ditakar berdasarkan resep, jadi nggak perlu takut ada sisa bahan masakan. Kita juga bisa menyiapkan dan masak makanannya lewat aplikasi HelloFresh. Nggak perlu mikir banget, deh!

Boleh memilih resep sesuai pilihan menu yang kita pilih tiap minggu, lho…

Sejauh ini gue baru masak satu makanan dari tiga makanan, tapi sepertinya HelloFresh ini bukan untuk gue. Kenapa?

Yang pertama, gue merasa bahwa gue bukan target pembeli HelloFresh. Sepertinya target HelloFresh adalah keluarga sibuk, punya anak, dan tidak punya waktu untuk pergi ke supermarket apalagi mikirin mau masak apa. Sementara itu, makan di luar kan termasuk mahal. Lha gue, salah satu alasan semangat pulang kantor adalah karena bisa mampir supermarket dulu.

Yang kedua, menurut gue HelloFresh terlalu gampang. Proses mulai dari cari resep, ke supermarket, sampai eksekusi, menurut gue adalah rangkaian seni yang harus dinikmati. Nah, kalau pakai HelloFresh, tinggal duduk manis dan paket penuh makanan datang. Ini menghemat waktu sih, tapi karena gue suka cari bahan makanan di supermarket dan berusaha punya waktu untuk itu, jadi agak bosen aja ya.

Yang ketiga, paket HelloFresh tergolong mahal kalau satu rumah cuma berdua. Sebagai perbandingan, gue belanja 3 kali seminggu. Satu kali belanja, sekitar 20-30 euro untuk masak dua hari. Sementara itu, di HelloFresh, harganya bisa jadi dari 40-60 euro per minggu. Jauh lebih mahal, kan…

Intinya, pengalaman gue pakai HelloFresh biasa aja. 6 dari 10 bintang, lah. Sepertinya ini dikarenakan gue bukan target market dia. Untuk yang punya gaya hidup sibuk banget, sepertinya akan sangat diuntungkan dengan boks berlangganan seperti ini karena nggak perlu mikir, “Harus masak apa, ya?”

4 Comment

  1. 2.5 tahun lalu dikasih tau Astrid tentang Hello Fresh ini. Lalu dari baca2, ternyata ga cocok sama konsep makan di rumah kami. Makan panas siang hari, suami jelas makan di kantor. Malam kami cuma makan salad. Trus lihat harganya, mahal aja kalau orang dewasanya cuma berdua di rumah. Dan lagi aku juga ga sibuk2 banget, jadi masih bisa mikir menu dan belanja seminggu sekali (bareng2). Jadi, untuk saat ini konsep seperti ini masih belum bisa diterapkan di rumah. Entah nanti kalau aku sudah kerja dan peserta makan bertambah. Bisa dipikirkan lagi.
    Di Indonesia pernah laku konsep kayak Hello Fresh. Namanya Black Garlic, sempet hype banget. Sekarang sudah tutup, masyarakat kota besar di Indonesia ternyata belum perlu2 amat dgn konsep seperti ini. Apalagi sekarang ada GoFood ya. Males masak, males mikir menu, tinggal pencet2 aja.

    1. Alasan aku mirip2 sama mbak Deny. Setelah coba ternyata beneran ga cocok. Aku udah terlanjur seneng ke supermarket dan seneng cari2 resep, kalo dikasih gitu aja trus disuruh masak tu kayak berasa ga enak ga mikir 😆 Iya mbak, di kota besar mah mager masak ya GoFood (walaupun ga boleh sering2 ya, berat di ongkos)

  2. Ah aku pernah nyoba Hello Fresh. Karena godaan kupon diskon tentunya. Nyobain 4 kali order terus aku kurang sreg karena:
    1 Paketnya banyak banget bungkusannya, merasa bersalah kepada bumi 😀
    2 Mahal bok, $30-$40 untuk berdua, dan ga ada sisanya, padahal aku kan makannya ga banyak2 amat.
    3 Daerah tempat tinggalku banyak banget restoran, kita bisa pesan makanan macem-macem
    4 Resepnya kurang cadas – alias pingin yang spicy spicy gituuu

    Tapi seneng juga sih aku jadi nyoba berbagai resep yang aku belum pernah coba sebelumnya. Tapi ya udah gitu doang.

    1. Disini paketnya pake kertas, walaupun ada bumbu2 yang pake plastik juga. Di satu sisi, seneng sih mereka udah pak semua berdasarkan maksimum porsi, jadi masaknya ga pake hitung2 lagi. Kayaknya kita bukan market mereka ya Din. Apalagi kamu tinggal di New York banyak makanan, ngesot dikit ke Chinatown rame tuh berbagai mie pedas.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.