Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Studying in the Netherlands Tips and Tricks Collection Up Close and Personal Posts

Lain lubuk, lain ikannya

Belakangan ini lagi rame muncul di linimasa Facebook gue, sebuah artikel berbahasa Belanda tentang sepak terjang Buni Yani. Yang bikin menarik. artikel tersebut bukan hanya artikel ecek-ecek, tapi merupakan sebuah laporan mendalam tentang fenomena ‘pahlawan pendidikan’ (onderwijshelden) di Indonesia, indikasi infiltrasi oknum salah satu partai Islam di Indonesia di dalam tubuh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di beberapa negara tujuan belajar, dan keluhan tentang kelakuan mahasiswa Indonesia yang disampaikan oleh beberapa universitas di Belanda.

Menurut gue, poin nomor satu sifatnya subyektif. Tentu saja orang Indonesia yang menerima gelar dari universitas asing pasti mendapat perhatian lebih dari masyarakat, apalagi adanya beberapa budaya daerah di Indonesia yang meromantisasi fase hidup merantau. Poin nomor dua, di skip aja ya, namanya juga baru indikasi, belum ada bukti sah.

Gue mau ngomong panjang lebar tentang poin nomor tiga yaitu keluhan tentang kelakuan mahasiswa Indonesia di luar negeri. Tulisan ini bukan mau menjelekkan siapapun ya, gue mau menuliskan apa yang gue rasakan selama jadi pelajar dan observasi setelah selesai belajar.

Begitu gue datang ke Belanda, PPI kota gue sangat aktif untuk mencoba bergaul sama gue. Ada teman yang jemput di Schiphol, gue diantarkan sampai ke apartemen, dan ketua PPI kota gue yang rela nemenin gue dan beberapa orang lain ke KBRI Den Haag untuk daftar diri (karena gue masuknya bulan Februari, jadi orang KBRI nggak ke kampus). Pokoknya PPI kota gue sangat memanjakan mahasiswa baru, kalau ibaratnya kita nelayan newbie, si PPI ini ibarat nelayan senior yang langsung ngasih kita jatah ikan tangkapan, bukannya ngajarin gimana cara memancing ikan.

Satu hal yang gue perhatikan saat masih belajar dan bahkan setelah lulus adalah: mahasiswa Indonesia punya privilege tinggi saat sekolah di luar negeri. Di beberapa PPI kota di Belanda, ada acara penjemputan mahasiswa baru terutama yang masuk di bulan September. Kayaknya PPI bisa nyewa kereta NS buat menampung seluruh mahasiswa baru tersebut. Selain itu, beberapa PPI (seperti PPI Leiden) punya grup WhatsApp untuk mahasiswa baru dimana mereka bebas bertanya apa aja tentang seluk beluk hidup di Leiden. Pertanyaan yang bisa di-Google seperti “Beli sapu di Leiden, dimana ya?” bisa juga ditanyakan lewat grup tersebut. Seolah orang kita nggak boleh susah di perantauan. Padahal ada banyak temen gue dari negara lain yang sampe Schiphol sendiri, harus geret-geret koper sendiri sampai ke apartemen mahasiswa, pokoknya harus navigate their life alone di negara baru seperti Belanda.

Di artikel tersebut, seorang staf dari perguruan tinggi di Belanda juga curhat tentang kelakuan mahasiswa Indonesia. Mahasiswa Indonesia, menurut dia, sangat berkelompok. Selain itu, dia juga mengeluhkan mahasiswa yang terlalu menuntut haknya, seperti minta kelas selesai lebih awal karena dia harus beribadah atau minta acara-acara kampus bebas alkohol. Lah yang kayak gini itu, gimana ya pas di Indonesia. Sudah tahu pepatah ‘lain lubuk, lain ikannya’, kan?

Untuk kecenderungan mahasiswa Indonesia yang selalu maunya bergaul sama orang Indonesia aja, menurut gue sih, karena perlakuan istimewa dari PPI tersebut kali, ya. Mayoritas PPI mengadakan acara yang sifatnya lokal banget alias Indonesia banget, sehingga mahasiswa Indonesia ya pasti ketemunya sama dia lagi, dia lagi. Selain itu, kita juga terikat dengan zona nyaman. Zona nyaman mahasiswa Indonesia kalau di perantauan, ya apa lagi kalau bukan gegitaran bareng orang Indonesia di kamar kos sambil ngemil chips dan nyambel bareng. Karena perlakuan istimewa ini, mahasiswa Indonesia jadi malas cari tantangan di luar sana seperti ikut berorganisasi atau bergaul dengan mahasiswa asing karena takut keluar dari zona nyaman tersebut.

Masih nyambung dari pepatah lain lubuk lain ikannya, karena kecenderungan selalu berkumpul dengan orang Indonesia ini, mahasiswa Indonesia jadi rada kagok kalau harus bergaul dengan orang luar. Mungkin di negara kita, kalau mau ngegaul ya makan di mall atau nonton bioskop dan harus berjam-jam ketemuannya. Sementara itu, di luar negeri seperti Belanda, ketemuan ya cukup 2-3 jam saja dan cuma pergi ke bar juga oke. Kita harus menyadari bahwa pergi ke bar adalah aktivitas nongkrong yang biasa di Eropa, dan kalau nggak minum bir atau alkohol di bar juga nggak apa-apa. Demikian juga kalau diajak ke coffeeshop sementara kita nggak ngeganja. Atau kalau ada acara pergi ke disko, dimana kita punya pilihan bebas mau mabuk atau nggak. Sama sekali nggak ada yang judge, kok.

Menurut gue, salah satu cara mengatasi gegar budaya dan kecenderungan berkelompok seperti ini adalah lembaga-lembaga beasiswa di Indonesia harus banget ngasih seminar tentang mengatasi culture shock seperti contoh di atas. Berdasarkan pengalaman gue, ada banget lho… mahasiswa Indonesia yang masih menganggap pergi ke bar itu nggak lumrah, apalagi ke disko. Kalau dia tahu ada mahasiswa Indonesia yang suka pergi ke disko, biasanya diledekin kalau ketemu, “Hai, cewek party!”. Padahal semua kegiatan tersebut sifatnya normal dan merupakan cara orang sini untuk bergaul. Sayang banget kalau mahasiswa Indonesia cuma bergaul sama mahasiswa Indonesia lainnya, padahal sudah jadi segelintir orang yang beruntung mengecap pendidikan di luar negeri.

Pesan gue kalau ada mahasiswa Indonesia yang baca tulisan ini: dunia lo di negara tujuan belajar bukan sekedar bergaul sama mahasiswa Indonesia dan kampus doang. Coba deh sekali-kali gabung sama temen sekelas yang orang lokal atau mahasiswa internasional dan nongkrong bareng mereka. Atau coba gabung di acara pesta kecil-kecilan organisasi untuk mahasiswa internasional. Pasti pengalaman belajar di luar negeri jadi lebih berwarna dan menarik.

39 Comment

  1. Wow Crystal, I couldn’t say it better myself. Semua yang lo tulis di sini bener banget, gue rasain juga waktu s2 di sini. Mulai dari PPI yang manjain banget, budaya kolektifnya, dll. Waktu ke sini gue juga pengen nyobain hal2 yang ga ada pas kuliah di Indonesia, misalnya ikut klub salsa dll. Eh, malah denger selentingan gue suka party dan maunya cuma gaul sama bule aja. Plis deh. Kecenderungan kumpul/bergaul hanya dengan sesama mahasiswa Indonesia aja juga bener banget, sayang aja. Salah satu pengalaman paling berharga gue pas kuliah s2 adalah gue terekspos dan jadinya banyak belajar tentang berbagai budaya, perbedaan opini, dan berbagai kesempatan lain yang ga akan gue dapet kalo ga keluar dari zona nyaman.

    Dan soal saran lo tentang lembaga beasiswa, gue setuju banget. Gue liat, tugas2 pas diklat kebanyakan semacam tugas ospek yang menurut gue ga banyak gunanya buat orang2 yang mau lanjut s2 dan s3. Jauh lebih berguna kalo mereka bisa nyiapin sang penerima beasiswa menghadapi culture shock, hidup independen, dll.

    1. Pas kuliah dulu gue juga gitu, tiap Kamis gue suka ke Irish bar buat ikutan pubquiz sama temen temen gue dari berbagai negara. Sempet pernah ajak temen orang Indonesia eh dia malah gak nyambung 🙁 gue juga suka ke house party temen temen, terus dapet predikat gadis party aduh itu ga enak banget. Seolah pesta itu diasosiasikan dengan yang ga bener.

  2. Spot on Crys! Setelah baca artikel tersebut, aku yang bukan akademika dan ngga ada afiliasi dengan PPI tapi hidup sebagai migran di NL jadi mikir, parah banget ini!

    Terima kasih udah tulis uneg-uneg ini, supaya ada yang baca dan tahu dari sudut pandang kamu 👍🏽

  3. Menurut gue sayang bgt sih pergi belajar jauh-jauh tapi pola pikir nya masih indonesia bgt dan gabisa berbaur. Dan menurut gua orang-orang yg kaya gitu mungkin mereka takut kalo ikut nongkrong ke bar bakal dipaksa minum alkohol juga, makanya mereka memilih untuk menghindar. Padahal budaya yg kaya gini malah kebanyakan terjadi di ibukota sendiri. “Ga asik lo kalo ga minum”.

  4. Nice post ! Sekedar sharing, aku tinggal di Essen (Jerman) baru setahun kuliah di sini dan awalnya suka iri ngeliat temen2 yang kuliah di Belanda kok sering banget ngumpul sm orang Indonesia lain, sementara di kota ini jarang banget orang Indonesianya. Kalau mau cari kegiatan ya harus puas dengan yang ada. Kalau dari uni syukur2 bisa ada kegiatan bhs Inggris, kalau ikut di luar uni ya mau gak mau pake bhs Jerman yang masih terbata2. Dan bener banget, temen2 orang sini gak pernah maksa2 tuh minum bir, dari awal mereka bilang kalau gak mau minum ya ga usah minum gpp.
    Baca tulisan ini aku jadi agak bersyukur krn dengan keadaan sekarang aja aku masih agak kagok, gimana kalau dapet lingkungan yang memanjakan, bisa2 pulang ke Indonesia masih manja :’))

  5. Setuju dengan saran yang diberikan. Memang selama jadi mahasiswa banyak dibantu oleh PPI. Tapi nggak ada masalah sebetulnya dgn kemudahan2, krn keinginan utk mandiri dan bergaul harus datang dari diri si perantau. Tujuannya merantau apa? Kemudian nilai-nilai yg dibawa oleh perantau (adat, reliji,dsb) mana yg ingin dipertahankan? Sifatnya sangat individu dan pandai2nya menata diri. Bergaul dengan masyarakat setempat tidak harus ke diskotik atau bar. Seringkali gw diundang juga ke rumah mrk utk mkn2 dan utk muslim mereka paham kita mau mkn yg bgmn. Semasa jadi mahasiswa gw, krn muslim, juga mencari cara tetap bergaul dg bangsa lain tapi tetap tdk minum dan mkn halal. Tidak sulit sebetulnya asal kita bertemu dgn org yg tepat dan paham. Tapi ya itu…harus dicari. Hehehe. Dalam suatu acara prnh mereka curious bertanya kamu tdk apa2 kami minum gini? Mereka respek selama kita respek. Ya ini masalah budaya. Dan gw juga dengar ada anggapan2 tentang teman perempuan yg mainnya sama bule terus memang. Menurutku itu pilihan masing2 ya.Kita semua akn menemukan cara bergaul sendiri2 selama kita memang benar2 mencarinya.

    1. Memang nggak ada yang salah dengan kemudahan, aku juga nggak bilang PPI tersebut salah 100%. Ini sih hanya pengalaman di satu kota yang kebetulan mahasiswa Indonesianya cukup banyak ya, nggak tahu di kota lain gimana. Di tempat aku tinggal dulu soalnya kayak terlalu dimanjain gitu. Segala-gala dibantuin sampe pada malas usaha. Bergaulnya sama yang itu2 lagi.

      Soal bergaul ke diskotik atau bar memang terserah orangnya juga. Tapi rata2 di Belanda kalau mau nongkrong ya ke bar pilihannya karena minuman dan cemilan lebih murah daripada restoran. Ada juga yang milih untuk bikin pesta kecil2an di rumah, undang teman, BBQ bawa daging sendiri. Saya cuma bilang bahwa banyak mahasiswa Indonesia yang mikir “ih ga mau ke bar ah nanti harus minum bir”, dan akhirnya ya jadi ga bergaul sama mahasiswa dari negara lain atau mahasiswa lokal dari negara tujuan belajar. Padahal gak semuanya seperti itu. Di bar juga ada pilihan teh/kopi/soda dan kalo ga mau pesen minuman beralkohol juga ga diusir.

      1. Haha iya gw juga pernah minum air putih gratis dan tdk diusir juga. Tp Crys itu sepertinya mmg khas kelompok Asia ya kalau sdh jadi mayoritas di sebuah tempat. Hal yg sama juga dikeluhkan oleh kawan mahasiswi asal China yg menurutnya mrk harus mengelompok. Padahal dia juga ingin gaul dgn yg lain. Mereka baru bisa break the chain ketika pindah ke lingkungan yg benar2 tdk ada teman senegara. Bahasanya juga jadi lbh bagus (menurut gw ya). Yg gw nggak suka itu kalau ada yg ingin lepas dr kelompok tp digunjingkan,di bully atau tdk dianggap jd bagian yg perlu diundang.Itu yg nggak bener. Imbang2 sajalah..btw. nice post. Jd nostalgia.

        1. Aku juga lihat banyak kayak gitu untuk mahasiswa dari Cina. Dulu pernah ikut acara masak2 internasional, yang rame suka membaur tuh dari Korea Selatan, mereka super ramah dan baik banget. Bahasa mereka juga jauh lebih bagus daripada bahasa Inggrisnya kita…

  6. Wahhh baru tau nihh..
    Pantesan kalau keluar negeri dan ketemu orang eropa suka diajakin nongkrong di bar.. pdhl saya jilbaber. Ahh besok2 gak nolak lahh..

    Ternyata emg tempat nongkrong, mungkin kalau di indonesia macam warkop gitu kali yaa.

    1. Halo Endah. Senang udah ngasih informasi baru. Nongkrong di bar adalah hal biasa disini, sama kayak nongkrong di kafe/Warkop di Indonesia. Bisa pesan minuman non alkohol juga. Kalau ditawarin kan bisa bilang “saya ga minum alkohol”. Nongkrong di bar itu sarana bersosialisasi disini.

  7. Great post. Dari dulu aku punya perasaan yang sama… terutama tentang kebiasaan kita ngeblok dengan sesama orang Indonesia. Aku ngerti sih, mereka pasti kangen dengan Indonesia dan lebih nyambung dengan sesama orang Indonesia, makanya nyaman hang out bareng itu-itu aja… but on the other hand, bener-bener sayang, udah jauh-jauh sekolah di luar negeri. Pendidikan itu bukan hanya soal pelajaran di dalam kelas, tapi juga memperluas wawasan dan pengalaman. Gimana mau menambah ilmu kalau pergaulan kita udah dibatasin begitu.

    Teman dekatku yang dulu S2 di Inggris juga ngalamin hal yang sama. Dia suka ikut aktivitas kampus yang kebanyakan mahasiswa bulenya, malah jadi bahan gosip, dibilang engga kompak, lupa asal, dsb.

    1. Aku sih menjadikan temen temen Indonesia itu sebagai sarana pelepas kangen kalo pengen ngomong bahasa Indonesia atau makan makanan Indonesia, ya. Ga sepenuhnya bergantung sama mereka juga. Apalagi disini udah hampir 3 tahun, jadi udah biasa aja kalo nemu orang Indonesia di jalan.

  8. Jaman aku kuliah disini, mahasiswa Indonesia disini masih bisa dihitung dengan jari tangan, jadi nggak ada yang namanya PPI. Sempet dulu kenalan sama “kakak kelas” di kampus yang ujung2nya dia ternyata deketin gw buat pinjem duit (alesannya sih duitnya kan ga dipake, cuman buat tampilan buku tabungan aja demi perpanjang visa). Setelah itu langsung ilfil bergaul sama orang Indonesia.

    Setelah aku lulus, baru ada yang namanya PPI dan aku ikut bergabung dalam grup fesbuknya walaupun hampir ga pernah ikut kumpul2 acara mereka, tapi observasiku sih kayaknya sama persis sama yang kamu tulis disini. Ngeblok, hang out nya sama sama temen orang Indonesia doang, terus ujung2nya drama, situ ngegosipin siapa lah (terutama yang pacaran sama bule – makanya ada orang2 yang defensif banget soal ini). Untung dah ga ikut2an drama mereka walaupun masih sempet ditanyain yang aneh2 (atau bahkan disuruh ini itu sama mahasiswa2 yang baru mau dateng dan pengen tau hal2 disini yang sebenernya bisa di gugel). Ada2 aja.

    1. Tapi enaknya kalo kenal (kenal doang lho, bukan deket) sama mahasiswa Indonesia, bisa tau restoran mana yang rasa Indonesianya paling enak atau restoran Cina yang rasanya mirip sama restoran di Indonesia. Itu kesan aku dulu pas pertama2 disini, hehehe!

      1. Ya kalau soal itu tanya2 sih gapapa lah ya hahaha, yang aku sebelin itu tanya2 model kaya ATM disini terima kartu Maestro ga, gimana caranya dari airport ke kampus (yang relatively lebih ga manja daripada di Belanda krn dijemput haha) etc etc, yang mestinya di gugel ada…

        1. Yang penjemputan itu setahuku cuma ada di beberapa kota aja, terutama yang mahasiswanya banyak. Pas jaman aku dulu, yang datang cuma sedikit banget jadi ga ada acara jemput-jemputan. Kenalanku yang jemput itu juga nge jemput aku karena aku pergi kesini sama temennya. Jadi kalo aku pergi sendirian, pasti aku geret koper sendirian juga sampe Leiden :p

  9. Hi Crystal, terima kasih sudah mau bercerita dan mengangkat tema ini. Walaupun tulisannya ringan, tapi ada makna yang cukup dalam untuk direnungkan.

    Saya pribadi pernah memimpin PPI Swedia dan tema di atas menjadi renungan utama saya selama ‘menjabat’. Kecenderungan berkumpul, agaknya, sangat susah dihindari oleh mahasiswa kita. Mungkin kalau mau disandingkan seperti mahasiswa dari Tiongkok.

    Kasus di Swedia, mungkin sedikit berbeda dengan di Belanda karena jumlah mahasiswa Indonesia yang tidak banyak. Beberapa ritual yang ada seperti penjemputan juga ada di PPI Swedia atau per kota. Pada satu sisi, iya kegiatan tersebut memberikan privilege lebih kepada mahasiswa Indonesia. Memanjakan mereka tanpa

    Namun pada sisi lain penjemputan kami anggap penting untuk memberikan mahasiwa baru cara efektif untuk ‘survive’ di hari pertama. Misalnya memberitahu apa yang harus dilakukan terlebih dahulu, membeli bantal atau mengurus nomor registrasi kependudukan. Penjemputan juga memberikan kesan ‘penerimaan’, paling tidak mahasiswa tersebut tahu ada komunitas Indonesia yang akan membantu jika memang diperlukan.

    Poin terakhir, mungkin akan sangat berbeda jika membandingkan dengan negara dengan mahasiswa Indonesia yang cukup banyak. Asumsi kami di Swedia waktu itu, karena komunitas kecil, paling tidak kami haruh tahu siapa saja yang datang ke kota kami (mengelola data). Terkait gegar budaya, misalnya, kami tidak bisa berasumsi seluruh mahasiswa yang datang berbekal kemampuan adaptasi yang mumpuni atau tingkat mental yang bisa dikelola dengan baik. Sehingga pengetahuan tentang data mahasiwa kami anggap penting untuk dapat merespon dengan baik jika terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti stress atau lebih lanjut depresi pada saat menempuh studi. Kompleksitas aspek gegar budaya ini memang tidak bisa kami anggap remeh, dan kami juga sadar PPI hanya satu dari sekian tools yang bisa digunakan untuk melampaui gegar budaya. Tapi, betul, yang menjadi catatan penting adalah jika PPI malah menjadi penghambat gegar budaya tersebut dengan cenderung memberikan ruang komunitas yang tidak produktif seperti contoh kamu di atas.

    Pada akhirnya pertanyaan besar muncul tentang bagaimana menempatkan PPI dalam relasi sosial seperti tema kamu. Sekarang ini, banyak mahasiswa yang lupa jika yang paling mahal jika kita ke luar negeri itu bukan hanya tiket pesawat atau biaya kuliah, tapi yang paling mahal adalah membeli ‘perspektif’. Kita diberikan privilege untuk pergi mempelajari berbagai macam latar belakang manusia dari berbagai budayanya. Kita diberikan privilege untuk mengerti bagaimana setiap manusia ‘making sense’ dari kehidupan sehari-sehari. Berjejaring, mungkin itu kata yang paling baik untuk menggambarkan proses ini.

    Namun hal itu tidak akan terjadi, kalau ujungnya kita cuma mau bergaul dengan orang-orang itu saja atau zona nyaman dalam narasimu. Tidak heran jika nanti lulusan Indonesia dari luar negeri, ketika kembali mempunyai mental primordial yang cenderung negatif.

    Isu menarik lainnya adalah rethinking peran PPI. Di Swedia, waktu itu saya belum menemukan formulasi terbaiknya. Program kami tidak banyak, hanya setahun sekali gathering untuk saling bertemu antar orang Indonesia di Swedia. PPI perkota tidak banyak kegiatan, hanya masak bersama untuk nostalgia lidah ataupun sesi berbagi ilmu untuk mencari irisan antar ilmu yang sedang kami pelajari. Baru akhir-akhir ini, PPI Swedia menjadi tempat untuk partime job bagi mahasiwa-mahasiwa Indonesia karena ada pihak ketiga yang meminta jasa PPI secara professional.

    Selebihnya, kami masih beranggapan bahwa PPI penting untuk menjembatani kami lulusan Swedia berkarya di Indonesia. Kesamaan nilai-nilai dasar yang di dapat selama belajar bisa membantu kami untuk mendorong kolaborasi lebih terarah dan berdampak. Dengan menggabungkan jejaring kami selama berkuliah dan ilmu-ilmu, alumni bisa bergerak untuk memikirkan kontribusi terbaik di Indonesia.

    Sedikit komentar dari saya berdasarkan pengalaman selama ini. Akan sangat senang jika kamu mau berbagi kembali tentang ditulisan selanjutnya tentang tema rethinking peran PPI di kemudian hari.

    Terima kasih

    1. Hai Benni! Makasih banyak sudah menyempatkan diri untuk membaca dan memberikan komentar terhadap tulisanku ini. Seperti yang sudah aku tulis sebelumnya, tulisan ini hanya observasiku selama jadi pelajar disini. Sekarang berhubung aku sudah kerja, jadi koneksiku dengan pelajar dari Indonesia sudah gak ada sama sekali, aku juga nggak kenal dengan mahasiswa yang baru datang setahun belakangan.

      Dengar dari cerita kamu sepertinya PPI Swedia termasuk organisasi ideal di pikiranku, ya. Apalagi jadi tempat tukar info part-time job, aku suka sekali dengan ide ini. Aku membandingkan dengan organisasi pelajar yang jadi obyek CSR perusahaanku disini, dimana mereka sangat profesional, punya website yang diupdate berkala, Facebook aktif, rekening bank resmi, dan nomor pajak resmi. Hal ini menjadikan mereka gampang menerima sponsor dan promosi organisasi ke dunia luar, termasuk menerima lowongan2 kerja dari perusahaan yang bekerjasama dengan mereka. Kalau seperti ini diimplementasikan oleh banyak PPI, pasti banyak mahasiswa Indonesia yang lebih dapat pengalaman kerja dan luas lagi jejaringnya.

  10. Ini Tulisan bagus,ikutan nimbrung. culture shock seperti ini juga berlaku Di pekerjaan ,Jadi Ga Hanya diperkuliahan saja. Kalo saya pernah ngalamin sendiri sih, waktu Di Middle East, juga Di cruises. Yg paling parah itu waktu Di cruises, saya sebut saja mereka “Anak Pulau” Karena kalau lagi makan Di Crew Mass, Jalan pas lagi shore leave, nongkrong Di crew deck mereka selalu grouping. Dan dimana2 cruise Line ternyata hal ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Karena aku pikir, sama seperti anda yg study Di luar negeri,kita Perlu sosialisasi dengan yang Dan atmosphere baru. Sama halnya Kerja Di cruise line, Kita bertemu crew Dari berbagai bangsa. Disini juga sama, nongkrong Di Bar. Bersosialisasi itu penting, Kita bisa mengetahui Dan memahami satu sama lain. Tanpa merusak nilai2.
    Thanks

  11. Pas saya kuliah di Den Haag (10 tahunan yg lalu), PPI-nya gak aktif, jadi kami ya berjuang dan beradaptasi sendiri. Emang dasarnya mahadiswa perantau ya buntutnya kita nge-gank berdasar kenegaraan, dan gak cuman org Indonesia, yg dari Amerika Selatan jg pd bikin kelompok sendiri. Cuman ya waktu itu kami gak se-ekslusif kyk cerita Crystal ya. Ada masanya kumpul2x dan ada masanya ya bergabung sama yg bukan org Indonesia. Kdg jg saya perhatiin org Indonesia itu rata2x gak berjiwa adventurous. Jadi mentok ke apa yg mereka anggap nyaman. Sayang sekali kalau PPI gak bisa menjadi jembatan antara mahasiswa Indonesia dengan negara yg mereka tinggali selama masa kuliah. Mungkin sebaiknya gak perlu ada PPI kalau buntutnya malah mengganggu proses adaptasi dengan negara setempat.

    1. Hai mbak Indah, gimana Amerika? Lebih enak dari Belanda ngga? 🙂

      Ini cuma insight aku lihat PPI di tahun 2015-2016 ya karena dulu aku masih tinggal di lingkungan yang banyak orang Indonesianya. Jadi walaupun ga bergaul sama mayoritas dari mereka, selentingan2 gitu pasti kedengeran juga. Mungkin diluar sana ada PPI (mungkin di luar Belanda) yang jauh lebih progresif.

  12. Spot on Tal! Terutama bagian gosip dan deramahnya 😀
    Gw dulu sekertaris PPI walopun ga aktif-aktif banget sih. Tapi ya mayan sering lah terlibat acara2 PPI. Gw lebih aktif di kancah sosial kampus soalnya. Yoih, party, mabuhay, pacaran, jalan2, dsb 😀 Kadang malah sengaja mancing pergosipan. Biar aja, kita seneng-seneng, situ gosip, yang dosa siapa coba?
    😛 Kalo gw liat sih, emang mayoritas mahasiswa Indonesia lebih merasa “aman” bersama gengnya, tapi ya itu kan preferensi ya. Mungkin tulisan ini bisa menjadi renungan para PPI-ers, menurut gw PPI bisa banget inklusif dan punya visi perspektif global. Tulisan lo sebelumnya yang tentang keharusan organisasi pelajar yang inklusif itu mengetuk hati gw banget. Kalo selama ini agenda PPI lebih fokus untuk survival mahasiswa baru di awal kedatangan, mungkin agenda selanjutnya membuka pintu PPI untuk berbaur dengan warga lokal/internasional. Mungkin kerjasama dengan PPZ(imbabwe) atau PPC(hina) bikin acara bareng akan lebih seru.

    1. Nah itu tergantung kebijakan masing2 PPI, Dit. Mungkin di luar sana ada PPI yang inklusif banget sama pergaulan mahasiswa internasional, itu gw acung jempol banget deh. Yang PPI di kota gw dulu, ada juga beberapa anggotanya yang pengen kayak gitu. Pengen diakui organisasinya ama pihak kampus. Kalo udah gitu kan harus banyak aturan yang diikuti. Sayangnya ada “lobi” (?) dari para tetua disana pokoknya akhirnya ga jadi diusahakan seperti itu.

  13. Halo Crystal, menarik juga isi blog-nya. Gw share dikit waktu gw di Bordeaux ya. Waktu gw disana sih gw kebantu banget sama PPI-nya, terutama masalah cara bertahan hidup beli ini itu dimana, he3. Tapi setelah itu ya kebanyakan mandiri kok, ngumpul juga jarang-jarang.
    Kalau masalah drama dan gosip sih ya namanya juga orang Indo, he3. Yang penting sih cuek aja en tebel kuping aja :D.
    Anyway, thanks share-nya ya.

    1. Aku nggak bilang PPI jelek kok. Kadang malah terbantu cari restoran Indonesia yang rasanya Indonesia banget atau cari restoran Cina yang rasanya mirip2 restoran Cina di Jakarta dari PPI. Tapi ya udah insting, kalo yang ngga bermanfaat ya ngapain diikutin.

  14. nice post tal!! PPI singapore gak gitu sii tapi. Hhaha. kaget juga loh gw baca postingan elo.. ada bagusnya sihh yaa. kyk you know where to go with if u misses home. tapi klo point2-nya jadi mengelompok yaa jadi agak defeat the purpose of going abroad sih memang. tapi ya perlu di akui sihh. hangout sama orng sendiri emang somehow lebih asikk. haha. tapi karena aku mayan suka explore, hanging out with the locals will be more interesting. hahaa.

    1. Adikku di Singapur nih, semoga PPI di daerah dia gak gitu ya. Ya memang nongkrong sama orang sendiri lebih Asik, tapi kayaknya cukup kalo mau melepas kangen ngomong bahasa Indonesia atau masak2 Indonesia.

  15. Can confirm. Gw rasa hal ini juga relevan sama PPI di kampus gw, kebetulan populasi mahasiswa Indonesia di sini (salah satu kampus di Jepang) banyak banget dan relatif sangat eksklusif. Sebenarnya banyak kelompok mahasiswa asing di sini yang juga demikian sih, misalnya hampir semua mahasiswa asing Asia terutama yang populasinya cukup besar seperti China, Thai, Vietnam, dan Korea Selatan serta mahasiswa berbahasa Arab (negara-negara Teluk dan Mesir). Justru di antara mahasiswa asing Asia, yang paling membaur itu anak-anak Filipino.

    Alhasil, hanya sedikit sekali mahasiswa Indonesia yang bisa bahasa Jepang bahkan untuk level yang paling rendah sekalipun, terutama di kalangan anak-anak postgraduate. Malah ada yang sudah tinggal 7 tahun di sini (dari S2 sampai jadi research associate) tapi cuma bisa haik, ie, dan arigatou doang (ini serius loh). Mayoritas bahkan enggan sama sekali belajar, walau ada faktor lain misalnya karena sudah berkeluarga dan bahasa Jepang sendiri ini bukan main susahnya terutama untuk kalangan orang yang mother tounge-nya gak punya grammar. Sama seperti di Eropa, kalau party anak-anak native juga sebenarnya gak maksa juga buat minum-minum koq, mereka juga biasanya menyediakan oolong tea atau softdrink dan bakal nanya apakah ada yang punya pantangan makan, intinya mereka considerate.

    1. Hai Hoppeta,

      Duh maaf banget baru bisa balas sekarang, kadang WP gak kasih notifikasi untuk komentar baru. Sementara aku sering buka WP dari ponsel.

      Aku punya temen baik yang kuliah (dan sekarang kerja) di Jepang dan uneg2 dia juga sama banget kayak yang kamu cerita. Terlebih lagi kabarnya PPI Jepang sekarang udah condong ke arah politik karena didominasi pemikiran salah satu partai politik di Indonesia yang “itu”. Kayaknya aku ga usah sebut nama partai karena mungkin Hoppeta juga tau, ya gak?

      Sayang sekali kalau masih banyak yang gak bisa bahasa Jepang padahal udah bertahun2… Bahkan level conversation juga gak bisa? 🙁

  16. Ga sengaja nemu tulisan ini karena ada temen post link nya di sosmed.

    This is absolutely accurate and true!

    Gw juga ngerasain ketika kuliah di London, kebetulan gw tidak termasuk dua golongan ‘typical’ mahasiswa Indonesia disana, dimana biasanya mereka adalah mahasiswa S1 lulusan sekolah internasional di Indonesia/Singapura atau mahasiswa pasca-sarjana (S2/S3) lulusan S1 dari berbagai universitas top di negeri ini.

    Sehingga ketika di London, saya tidak punya kenalan orang Indonesia sama sekali. Baru beberapa bulan setelah mulai kuliah berkenalan dengan beberapa pelajar Indonesia di acara PPI kota.

    Poin soal susah bergaul dengan orang luar itu benar sekali, PPI dan komunitas Indonesia di setiap negara tujuan kuliah sudah membuat zona nyaman bagi mereka untuk bergaul dan mendapatkan perspektif baru bersama rekan-rekan kuliah dari negara lain. Implikasi nya beruntut panjang ketika mereka kembali ke Indonesia, mereka semakin sulit untuk melebarkan jangkauan koneksi dan relasi karena sudah terbiasa bergaul dengan teman-teman yang ‘itu-itu’ saja.

    Padahal bergaul dengan ‘orang asing’ itu adalah kesempatan unik yang sulit untuk didapat ketika masih tinggal di Indonesia. Banyak perspektif dan sudut pandang yang bisa dipelajari dari mereka. Kemampuan bahasa inggris jadi jauh lebih terasah karena kita ‘dipaksa’ untuk mengaplikasikan semua teori bahasa yang kita pelajari di luar lingkup akademis, dari mengenal bahasa gaul versi mereka atau intrik-intrik kebudayaan yang unik di kota masing-masing.

    1. Hai Ramdisa,

      Maaf banget baru baca komentar kamu dan balasnya udah tahun 2018… Kadang WP gak kasih notifikasi untuk komentar baru, jadi aku baru bisa jalan2 ke komentar2 yang belum dikomentari ya baru2 ini.

      Baca cerita kamu bikin aku inget salah satu kenalan pas kuliah dulu, orang Indonesia juga… pas bikin essay, gak lulus, kata dosennya dia bingung kenapa orang dengan level bahasa Inggris seperti dia bisa masuk universitasku. Ya iya lah kalau level bahasanya jongkok ya artinya jarang dipake kan…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.