Kulturnatten 2018

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Minggu lalu, gue terbang ke Copenhagen untuk jalan-jalan weekend. Sebenarnya perjalanan ini sudah direncanakan sejak beberapa bulan lalu, tujuan utamanya adalah untuk mengikuti Kulturnatten 2018.

Apa itu Kulturnatten? Konsepnya sih sama dengan Museumnacht di Belanda, dimana seluruh museum di satu kota dibuka hingga tengah malam dengan berbagai acara menarik. Tapi yang bikin lebih menarik di Kulturnatten adalah yang buka bukan hanya museum tapi juga gereja dan institusi. Selain itu, kalau ikut Kulturnatten, naik seluruh transportasi di Copenhagen bisa gratis! Ini berbeda dengan Museumnacht di Den Haag dan Leiden karena tiket Museumnacht nggak termasuk transportasi gratis. Makanya gue penasaran banget dan sengaja merencanakan perjalanan ke Copenhagen.

Gue tiba di Copenhagen hari Jumat petang. Setelah check-in di hostel dan istirahat sebentar, gue jalan kaki keluar untuk beli pin Kulturnatten. Pin ini bisa dibeli di 7/11 seluruh kota dengan harga 95 DKK, dan berlaku sebagai tanda ikutan Kulturnatten.

Sebenarnya rencana gue adalah datang ke museum dan institusi sebanyak mungkin. Tapi mungkin karena baru pertama kali ke Copenhagen, jadi satu jam pertama gue habiskan dengan cara nyari-nyari bus. Tadinya mau ke Kastellet, tapi jalan masuk Kastellet gelap banget dan gak ada lampu, gue takut keseleo, akhirnya gue mengurungkan niat kesana dan jalan ke Designmuseum Danmark aja.

Begitu masuk ke Designmuseum Danmark, wah isinya menarik banget! Seperti namanya, museum ini semuanya tentang desain, terutama desain interior. Di luar museum, ada tenda-tenda workshop untuk anak dan keluarga. Menarik sekali isinya, gue betah berlama-lama disini.

Setelah selesai muter-muter di Designmuseum, gue awalnya ingin ke Amalienborg Palace yang letaknya tidak jauh dari situ. Ternyata ngantrinya alamak panjang sekali. Gue memutuskan untuk pergi ke gereja depan Amalienborg saja. Ternyata mereka ada konser dan gerejanya megah sekali!

Selesai mengagumi Frederikskirke, gue memutuskan untuk jalan kaki ke Copenhagen Main Library karena kabarnya disitu ada acara silent disco. Pas udah sampe sana, kok cuma ada band… ternyata gue salah, silent disco adanya di Frederiksberg Main Library. Akhirnya gue jalan kaki ke stasiun metro untuk beranjak ke perpustakaan tersebut.

Tadinya sih gue berencana untuk disana nggak lama. Tapi silent disco ternyata bikin nagih. Untuk yang nggak tahu, konsep silent disco adalah joget mengikuti irama lagu yang dipasang di headphone masing-masing. Yang bikin ironis, silent disco ini dilakukan di perpustakaan, udah gitu setting perpustakaannya persis setting film Breakfast Club. Kita dikasih headphone gratis, terus bebas joget-joget di perpustakaan itu. Awalnya gue cuma mau sebentar eh tapi keterusan sampai Kulturnatten berakhir.

Ada tiga kanal yang bisa diganti-ganti di headphone. Gue suka ganti-ganti kanal untuk penasaran lagu apa yang diputar. Ada kanal yang mayoritas lagu lokal, kanal lagu jadul, dan kanal lagu2 2000-an hingga sekarang. Seru banget sih, di awal gue joget sendirian, lama-lama bisa joget sama orang berbeda cuma karena kita lagi dengerin lagu yang sama.

Gue keluar dari acara silent disco itu 15 menit sebelum tengah malam, karena Kulturnatten berakhir jam 12 malam dan transportasi gratis juga berakhir jam segitu. Sampai hostel sekitar tengah malam. Kaki pegal, badan pecah-pecah, tapi rasanya senang banget! Mungkin Kulturnatten bisa jadi acara tahunan gue?

More to explore

Nguping dan Nyinyir di Pemilu

Tiga observasi kelakuan orang Indonesia yang ditemukan saat Pemilu serentak 2019 di Den Haag. Yuk nyinyir bareng!

17 thoughts on “Kulturnatten 2018

  1. Lucu juga ya itu konsep silent disco. Dalam satu ruangan banyak orang yang gerakin badan dengar lagu beda2 haha keren. Kamu pernah ikutan museumnacht? Aku pernah ikutan sekali karena gratis, ke museum penjara yg didepan Hovfijver. Kok ya serem2 gimana gitu masuk dalamnya, tapi menarik sih

    1. Pernah dua kali mbak, sekali Leiden, sekali Den Haag. Yang museum penjara itu aku datang gak pas Museumnacht, aku datangnya ke Escher pas Museumnacht di Den Haag.

  2. Wah iya silent disco! Sempet mewabah tuh dua tahun lalu di NY tapi udah gitu sekarang ga pernah ada lagi. Berarti kalo mau silent disco lagi main-main ke Copenhagen aahh..

    1. Di Belanda gw ga pernah denger Dit, ternyata kayaknya boomingnya udah lama. Hihihi iya itu pengalaman pertama yang beneran memorable! Semoga Kulturnatten tahun depan ada lagi

  3. YASS!! Acara tahunan. haha, aku disini juga targetnya ga banyak2, mungkin tiap tahun 3 tempat kali ya, besok2 coba tempat baru.

    Design museum itu emang paporit banget…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Join the Club!

Hit that “Subscribe” button to receive weekly posts straight to your inbox!