Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
imac and macbook on a home office table
Living in the Netherlands Tips and Tricks Collection

Tips WFH/KDR Agar Produktif Saat Pandemik Covid-19

Kalau dihitung-hitung, minggu ini sudah tepat tiga minggu gue bekerja dari rumah, mengikuti saran RIVM (badan kesehatan Belanda) dan pemerintah Belanda. Untuk mengatasi krisis Corona, pemerintah Belanda memang menyuruh seluruh rakyatnya untuk bekerja secara remote jika memungkinkan.

Jika ditanya, orang introvert seperti gue justru lebih suka kerja dari rumah (bahasa kerennya: work from home (WFH), tapi di tulisan ini akan gue singkat jadi KDR). Kerja di kantor membuang banyak waktu, belum lagi sering dicolek-colek kolega soal ini itu. Tapi KDR juga ada nggak enaknya. Karena kami semua KDR, para manager atau sesama kolega jadi menganggap bahwa gue bisa disuruh ini-itu bahkan setelah jam kantor.

Atas dasar itu, gue berminat untuk membuat tulisan berupa serangkaian tips KDR biar kalian nggak ribet, bisa tetap produktif, sekaligus bisa membuat batasan sehat antara urusan pekerjaan dan urusan pribadi. Rumah kan seharusnya jadi tempat istirahat kita, bukan tempat bekerja. Semoga tips-tips kecil ini berguna buat kita semua. Mari kita simak!

Bangun tidur ku terus mandi

Salah satu tantangan utama saat KDR adalah: bangun tidur, mata melek, lalu langsung berjalan menuju meja kerja untuk mulai bekerja. Hei, walaupun sekarang tempat kerja kita jaraknya hanya selemparan kolor, tapi disiplin itu perlu!

Salah satu disiplin yang gue terapkan selama tiga minggu belakangan adalah tetap melakukan rutinitas seolah-olah gue akan pergi ke tempat kerja. Bangun jam setengah 8, mandi, pakai baju bagus (apapun selain baju tidur atau setelan baju rumah), lalu beranjak ke meja kerja. Sambil menunggu laptop menyala, gue bikin secangkir cappuccino. Lalu gue memulai hari kerja gue.

Jika kita melakukan rutinitas seolah kita akan berangkat ke kantor, maka kita membiasakan otak kita untuk membuat pola seperti itu. Lagipula, kalau kerja di rumah dengan keadaan sudah mandi dan pakai baju bagus, mental kita secara tidak sadar akan terpacu untuk bekerja lebih semangat lagi.

Membuat jadwal kerja

Menurut gue, kunci KDR yang sukses adalah membuat jadwal dan disiplin mengikuti jadwal tersebut. Gue nggak setuju dengan orang yang bilang bahwa karena KDR, kita juga harus bisa lebih fleksibel terhadap pekerjaan. Justru karena kita KDR, kita harus lebih tegas dengan jadwal kita, karena banyak bos yang akan berpikir “Ah, kalian kerja dari rumah kan, jadi bisa lebih fleksibel”. Jangan sampai urusan rumah dibawa ke urusan kantor dan sebaliknya.

Gue memulai hari kerja gue sekitar pukul 8 pagi atau pukul setengah 9 pagi, seperti rutinitas kalau gue pergi ke kantor. Hari gue dimulai dengan revisi to-do list hari itu dan ngecek apa gue ada rapat atau tidak. Sekitar jam 12 siang, gue mulai mikir mau makan siang apaan. Biasanya gue makan roti atau makan leftover saja.

to do list and calendar
Penting banget punya jadwal dan disiplin ikutin jadwal saat KDR!

Sekitar jam 12.30 atau jam 1 siang, gue mulai kerja lagi. Sekali-kali gue akan ganti posisi kerja, kadang-kadang putar musik dan joget-joget sendiri. Sekitar jam 3 sore, gue pindah posisi kerja, dari meja kerja ke sofa. Sekitar jam 4 sore atau jam setengah 5, gue siap-siap menutup hari dengan membuat to-do list untuk keesokan harinya dan double check apa saja yang sudah gue lakukan hari ini dan yang akan gue lakukan besok. Hari kerja gue betul-betul berakhir sekitar jam 5 sore – setengah 6 sore.

Membuat batasan komunikasi

Mungkin saran yang satu ini terkesan kontraproduktif dari semangat KDR, tapi menurut gue batasan komunikasi dengan kolega itu perlu banget di saat-saat tertentu.

Pernahkah kamu ngerasa sangat lepas dari jadwal karena harus ngeladenin chat dari teman kerja? Gue pernah, dan itu rasanya sangat menyebalkan. Di satu sisi, gue tahu bahwa gue bisa jauh lebih produktif, tapi di sisi lain, mungkin kolega gue perlu bantuan gue saat itu juga.

Maka itu, gue melakukan pembatasan untuk komunikasi. Di saat hari kerja gue dimulai, gue akan menyalakan Slack, peranti lunak komunikasi antar kolega (sudah banyak perusahaan yang memakai ini). Nah, jika gue nggak pengen diganggu karena sedang mengerjakan tugas, maka gue akan mematikan notifikasi Slack gue. Dengan ini, gue akan sedikit lebih fokus dalam melaksanakan tugas. Slack akan gue cek sejam sekali atau ketika sedang break singkat untuk melihat apakah ada pesan masuk.

Setelah jam kerja berakhir juga begitu. Saat laptop kerja gue matikan, gue pun akan mematikan notifikasi di ponsel kantor. Dengan begitu, gue bisa fokus menikmati waktu luang gue tanpa harus terganggu dengan email kantor yang datang kapan saja, bahkan di malam hari.

Make a designated working space

Ngaku deh, berapa banyak dari kalian yang KDR dari kasur?

Hal ini sebenernya tidak untuk ditiru, lho. Kenapa? Bear with me, karena penjelasannya sedikit bertema psikologi dan agak berbau saintifik.

Kamar tidur sering diibaratkan sebagai tempat paling sakral di rumah. Dia adalah tempat dimana kita menutup hari kita. Maka itu, otak kita mengasosiasikan kamar tidur dengan kata kunci “tempat istirahat”.

Apa yang terjadi jika kita membawa pekerjaan kita ke tempat tidur? Lama kelamaan, otak kita akan sulit membedakan mana tempat kita bekerja dan mana tempat kita beristirahat. Perlahan, dia akan melihat kasur sebagai tempat kerja dan hal ini bisa mengakibatkan perasaan cemas di kasur dan berakhir dengan sulit tidur. Alih-alih beristirahat, otak kita akan terus dipaksa berpikir.

Sebagai alternatif untuk bekerja di kamar tidur, cobalah membuat satu tempat khusus untuk bekerja di luar kamar tidur. Bisa jadi di ruang makan atau di ruang tamu. Nggak harus fancy juga kok, cukup satu meja kerja, satu kursi, dan penerangan yang cukup. Lama kelamaan, kamu akan berhasil melatih otakmu menarik kesimpulan bahwa kasur adalah tempat istirahat dan meja tersebut adalah tempat bekerja.


Beberapa tips diatas adalah hal-hal yang gue lakukan selama tiga minggu terakhir ini. Nggak selalu berhasil 100% sih, tapi gue cukup bersyukur karena selama 3 minggu ini, gue berhasil menerapkan boundaries dalam bekerja yang akhirnya menyelamatkan mental health gue.

Yang perlu diingat: There will be times where you feel so unproductive, even though you’ve tried these tips. It’s normal. Our body and mind is trying to set up a new routine in the middle of these hard times. Yang penting, jika kamu merasa nggak produktif saat itu, just ride it out, kerjakan hal-hal kecil yang nggak perlu mikir, dan bikin jadwal ulang kapan kamu bisa melakukan tugas tersebut. Selamat mencoba!

2 Comment

  1. Yang paling sulit itu nomor 1 buat aku, Crys. Haha! Karena aku terbiasa mandi pas sore/malem setelah semua2 kelar (abis dari luar/ketemu orang). Nah ini kan gak ketemu orang di luar/gak terpapar kuman2 dari angkot juga, jadi otak aku mikirnya gak usah mandi xD

    1. Kadang aku juga mandinya sore kok. Tapi pas bangun tidur ya gosok gigi, cuci muka trus ganti baju bagusan. Lumayan bikin fresh siiihhh. Trus siang2 baru deh mandi, lamaan dikit, agak2 me time!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.