Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Up Close and Personal Posts

Keras Kepala

“Kamu jadi orang keras kepala banget, sih!”

“Jangan selalu keras kepala, dong!”

“Cewek kamu tuh kayak almarhumah mamanya, keras kepala. Tapi jangan bilang-bilang dia, ya.”

“Kamu tuh dari dulu orangnya keras.”

Kata “keras kepala” selalu diidentikkan dengan kepribadian gue. Menurut anggota keluarga terdekat, gue ini terlalu keras kepala, terlalu ngotot, terlalu berkemauan keras, dan lain sebagainya.

Contohnya? Gue keras kepala nggak mau bertemu opa yang sudah bikin asumsi macam-macam tentang gue saat berlibur ke Indonesia lalu. Memang akhirnya nggak ketemu, itu juga karena opa gue nggak mau ketemu gue dan pacar karena dia, quote, jijik dengan orang kumpul kebo. (Suka-suka dia deh, namanya juga asumsi, gue juga berhak nggak ngasih jawaban apa-apa)

Intinya, gue selalu ingin menjalankan kemauan gue, bukan kemauan orang lain. Gue tidak mudah dibikin merasa bersalah dengan perkataan orang lain. Gue punya cara dan prinsip sendiri untuk menjalani hidup gue. Orang lain nggak suka dan bicara di belakang? Suka-suka lo deh, toh gue nggak hidup dari uang lo, kan.

Gue rasa, setelah kejadian yang baru terjadi pagi ini, keluarga gue akan lebih mencap gue sebagai anak keras kepala. Jadi tadi pagi bokap Whatsapp gue untuk mengabarkan bahwa ada seorang tante yang sedang di Belanda dan kepingin bertemu. Tante ini minta nomor gue ke bokap dan bokap nanya ke gue, boleh kasih nomor gue atau nggak.

Sebenernya tante ini bukan tante favorit gue. Kelakuan keluarganya nggak banget, makanya gue nggak suka dan memilih untuk jauh-jauh dari mereka sejak dulu. Makanya gue jawab bokap gue juga agak males-malesan dan gue ngasih izin dia untuk ngasih nomor gue ke tante itu. Terus gue bilang sama bokap, “Lihat nanti ya, dia pengen ketemuannya kapan. Karena kalau aku sudah ada janji lain, lebih baik cari waktu lain aja.”

Lalu bokap gue ngomel. Mulai dari bilang “ini tante kamu lho yang dateng!” sampai akhirnya yang bikin gue sangat marah adalah dia tanya-tanya soal agenda gue hari ini dan besok. Maksa banget dia, pengen gue ketemuan sama si tante itu. Gue bilang, kalau mau ketemu besok, bisa ketemu besok pulang kantor. Hari ini gue udah ada kegiatan lain. Lalu dia maksa, bilang, “Kegiatan hari ini nggak bisa diganti ke besok aja?” Idih, sejak kapan bokap gue bisa ubah-ubah jadwal gue? Dan kok kayaknya bokap gue maksa banget ya, sebenernya dia tahu nggak sih agenda perjalanan tante gue itu?

Gue tetap keukeuh pada pendirian gue dan gue jawab singkat, “Hari ini nggak bisa. Besok bisa sepulang kantor.”

Tak lama kemudian, si tante itu telepon. Dia bilang hari ini akan main ke kota gue dan ingin bertemu. Lalu gue beri dia penjelasan baik-baik bahwa gue sedang di kantor dan disini jam makan siangnya hanya setengah jam. Terus dia tanya, besok bisa nggak, sarapan ke Amsterdam? Gue bilang kalau pagi, jadwal gue ketat, karena biasanya gue masuk kantor jam 8 pagi. Gue menjelaskan bahwa disini kami biasanya bikin janji sepulang kantor atau saat weekend. Gue menawarkan untuk ketemu besok pulang kantor, tapi ternyata besok dia berangkat ke Brussels. Nggak jadi deh akhirnya. Tapi dia sangat pengertian akan waktu gue dan mendoakan gue yang baik-baik disini (kerjaannya manager di kantornya, harus ngerti profesionalitas dong).

Setelah telepon ditutup, gue lapor sama bokap, “Akhirnya nggak bisa ketemu. Dia pergi ke kota aku siang ini, tapi aku lagi kerja. Aku ajak ketemu sepulang kantor, dia bilang sudah ke Amsterdam lagi”. Yang dijawab dengan “Oke deh”. Gue rasa bokap gue ini juga nggak tahu jadwal si tante itu selama disini. Yang dia tahu cuma cara gimana bisa maksa anaknya buat ketemu si tante.

Dengan kejadian di atas, gue rasa bokap gue semakin mikir gue ini anak keras kepala. Yang bikin gue pengen bilang : I DON’T CARE. Mereka mungkin nggak sadar atau nggak mau sadar bahwa ke-keras kepala-an gue ini membawa gue merantau ke Eropa. Ke-keras kepala-an gue ini membawa gue ke tempat dan perasaan yang lebih baik daripada tinggal di Indonesia. Coba kalau gue nggak keras kepala bersikeras tinggal di Belanda setelah lulus kuliah? Pasti gue balik ke Indonesia, kembali masuk kumpulan keluarga yang ya-gitu-deh, and I cannot make my mark. Ke-keras kepala-an gue ini menghasilkan posisi yang bagus, teman-teman yang baik, dan partner yang sangat menyayangi gue. Kalau gue balik ke Indonesia, pasti gue bingung mau kerja apa, dan mungkin sampai sekarang gue masih jomblo. Horor banget kan kalo di Indonesia umur segini masih jomblo.

So yes, I’m a stubborn bitch. I’m not going to deny that. I’m proud of my stubbornness. For those who don’t like me being stubborn… deal with it!

6 Comment

  1. Terkadang memang dibutuhkan kegigihan mempertahankan apa yang kita rasakan. Memperjuangkan apa yang kita yakini. Mendengarkan kata hati. Walaupun semuanya akan dinilai sebagai keras kepala oleh orang lain. Ketika sudah diumur tertentu, memang harus keras kepala, karena hidup sudahlah sangat keras.

    1. Di banyak kesempatan, aku selalu mau dengerin saran orang lain dari sudut pandang berbeda. Tandanya aku ga keras kepala2 amat kan, ya. Bisa jadi saran mereka itu bagus ya aku lakukan saran itu. Tapi kalau udah seperti ilustrasi di atas, bodo amat deh aku mau dianggap apapun. Nggak suka banget aku diperlakukan seperti itu.

      Aku suka kalimat terakhir. Emang harus keras kepala, karena dunia dan hidup udah keras.

  2. Hahah. Kalau Kak Kurisetaru (Crystal in Japanese? CMIIW) dianggap keras kepala, terus si bokap mesti disebut apa? Maksa banget, gila. Bahkan si tante lebih pengertian.

    Kesannya seolah Kakak nggak boleh punya kehidupan sendiri. “Keluarga” yang paling penting, semua-mua harus mengalah pada “keluarga.”

    1. Emang, aneh banget. Seolah dia tau banget jadwal si tante itu. Maksa banget pengen aku ketemuan. Disini tuh memang ga biasa untuk tiba2 ajak ketemuan. Waktu semua orang penting disini. Makanya aku juga marahin bokap di WhatsApp itu. Ngapain sih bawa2 keluarga, ga ada hubungannya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.