kurisetaru

kurisetaru

Kamu Nggak Harus Menjelaskan Alasanmu ke Orang Lain, Lho

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Waktu baca: 4 menit

Tahun lalu, saat gue pulang kampung ke Jakarta, gue menyempatkan diri untuk datang ke perayaan Paskah di gereja tempat gue dibesarkan. Setiap dua kali setahun: Paskah dan Natal, gereja gue ini selalu membuat perayaan yang cukup besar. Uniknya, setiap tahun, ibadah Paskah jemaat ini diadakan mulai pukul 3 subuh. Tahun lalu gue datang sekitar jam setengah 6 pagi, saat ibadah sudah mau selesai dan fajar sudah menyingsing.

Di tempat ibadah, gue bertemu dan menyapa beberapa orang yang dulu kenal dekat dengan gue, salah satunya adalah seorang kakak layan Sekolah Minggu. Percakapan kemudian beralih ke soal birokrasi dan pengurusan KTP. Kakak Sekolah Minggu gue itu bertanya apakah gue masih punya KTP Jakarta. Gue bilang tentu masih punya, tapi gue datang ke Jakarta saat itu hanya berbekal paspor. KTP gue disimpan di sebuah dompet yang entah dimana. Gue yakin dompet itu ada di rumah, tapi nggak dicari aja.

Kemudian si kakak Sekolah Minggu bertanya lagi tentang pengurusan KTP di KBRI. Setahu gue sih, KTP nggak bisa diurus di KBRI ya. Lalu dia mengomentari, “sayang banget ya KTP nggak bisa diurus di KBRI, nanti kalau KTP kamu harus diperpanjang, gimana? Kamu ada rencana jadi WN Belanda? Nanti perpanjang KTP Indonesia di Belanda gimana?” dan berbagai pertanyaan lain yang lama-lama gue rasa mulai agak menyebalkan kalau harus gue jawab. Pada saat itu gue berpikir, gue nggak harus menjelaskan alasan kenapa gue nggak memperpanjang KTP atau nggak bawa KTP ke orang ini, kok. Akhirnya daripada gue dongkol, gue memutuskan untuk pamit dan beralih ke pojok sarapan.

Kenapa Kita Selalu Ingin Menjelaskan Keputusan Kita ke Orang Lain?

Terkadang, pertanyaan retorik ini datang ke otak gue. Kenapa ya kita ingin menjelaskan ke orang lain tentang keputusan yang kita buat? Contohnya ya sepenggal cerita di atas. Gue tadinya ingin menjelaskan bahwa gue merasa nggak perlu memperpanjang KTP di KBRI, tapi gue tiba-tiba ingat, orang ini kan ketemu gue cuma sekali setahun, jadi untuk apa dia tahu alasan dibalik keputusan gue?

Berbagai teori muncul di otak gue, salah satunya adalah mungkin kita yang butuh justifikasi dari orang lain, terutama untuk yang baru-baru ini mengambil keputusan yang (relatif) ekstrim seperti membuat tattoo, memilih untuk membawa bekal ke kantor, mengubah pola hidup karena ingin hidup sehat, atau hal besar seperti menikah dengan orang berbeda iman dan/atau suku. Kita merasa bahwa kita butuh menjelaskan alasan kenapa kita membawa bekal ke kantor, alasan kenapa mereka bikin tato ke orang lain, agar tidak dibilang aneh (?).

Mungkin juga karena kita nggak mau dinilai nggak sopan oleh orang lain. Padahal yang nggak sopan itu sebenernya mereka, yang menanyakan hal-hal yang mungkin sepele, tapi lama-lama mempertanyakan alasan kita melakukan hal tersebut. Bahasa kasarnya, “Duit, duit gue, kok lo yang repot mikirin gimana gue habisinnya?”

Padahal…

Kita punya pilihan lho, untuk tidak menjelaskan alasan kita melakukan sesuatu ke orang lain, terutama untuk orang lain yang nggak akan kena pengaruh apapun dengan keputusan kita tersebut. Oke, untuk orang-orang tertentu, kita harus menjelaskan alasan kita memutuskan sesuatu, tapi kalau ada orang yang ‘memaksa’ kita menjelaskan keputusan kita, sebenernya nggak harus dijelaskan, kok. Toh apapun yang keluar dari mulut kita tidak akan mengubah pikiran mereka, atau mungkin mereka cuma ber-“ooooh” saja, tapi alasan kita itu akan menguap dengan sendirinya. Why waste your time explaining things to people that don’t understand and won’t matter to your decision-making process?

Intinya…

Kamu tahu alasan kenapa kamu melakukan sesuatu dan gue asumsi alasan tersebut datang dari pribadi yang paling dalam. Hal itu udah cukup bagus kok. Kalau kamu memutuskan untuk mengubah pola makan jadi pola makan sehat dan ada kolega yang nanyanya terlalu jauh, kamu punya hak untuk menjawab, “Maaf ini alasan pribadi gue”. Kalau kamu tipe orang yang lebih suka bawa bekal ke kantor/sekolah dan ada yang iseng banget ngatain kebiasaan kamu, nggak usah merasa harus menjelaskan kenapa kamu bawa bekal daripada jajan (sampe ada yang bikin utas di Twitter lho, gue sampe nggak habis pikir). Mereka orang asing, kamu yang jalanin hidup kamu, untuk apa pusing mikirin orang bilang apa sampe harus merasa harus menjelaskan keputusan kamu?

Berhentilah menjelaskan alasan kamu melakukan sesuatu ke orang lain. Kalau keputusan kamu itu bikin kamu bahagia, ya udah, jalanin aja. Kalo kamu merasa harus banget ngejelasin alasan kamu bikin keputusan tersebut, kamu cuma bikin orang lain seneng dan bukan bikin seneng diri kamu sendiri.

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

Main ke Museon Den Haag

Berkunjung ke Museon di Den Haag dan berkenalan dengan masyarakat Romawi kuno di Den Haag.

10 thoughts on “Kamu Nggak Harus Menjelaskan Alasanmu ke Orang Lain, Lho

  1. Beda ya kalau orang nanya karena memang benar-benar interested dengan kita dan pengen lebih akrab/mengenal kita aja…
    sayangnya banyak orang yg suka nanya2 spt ini lebih pengen arguing daripada listening, atau cari sesuatu untuk dikritik. Jawaban standarku sih cuma “karena pengen / gk pengen aja” daripada banyak cingcong.

    1. Iya, terus lama2 malah ngasih unsolicited advice. Padahal kita gak mau denger saran dari dia karena minta saran aja enggak.

  2. Kalau aku selalu berprinsip : aku ga hutang penjelasan pada siapapun. Jadi ya, ga perlu menjelaskan. Malah seringnya aku langsung bilang kalau arah pembicaraan mulai ke hal2 yg pribadi : maaf, saya ga bisa bicara atau menjawab pertanyaan itu. Sudah masuk area pribadi saya.

    1. Semakin kesini, aku semakin melatih diri untuk ngomong itu. Nggak pengen ‘dipancing’ orang untuk menjelaskan sesuatu.

  3. Ada memang orang-orang yang tipenya detail banget (interogator) tidak puas kalau menurutnya informasinya tidak sesuai atau janggal, Kadang aku kasih info yg mereka ingin dengar, kadang tidak. Caranya dengan mengalihkan obrolan ke diri mereka sendiri. It works anytime. Dan tidak sedikit2 merasa jatuh jadi victim terus lol

  4. Hi Kak Crys, blog nya relate banget sama kondisi aku saat ini. Tahun ini aku memutuskan keluar dari kampus (padahal udah semester 6) karena mau mempersiapkan study ke Jerman dan beberapa orang yang baru kenal dan teman yang gak begitu deket kadang suka sok2an nasehati kaya “apa gak sayang kuliahnya?” “Kenapa ga abis lulus aja baru ke Jerman” awal2 santai ditanya kaya gini karena pasti bakal dapat pertanyaan semacam ini, tapi kalo udah ikut campur rasanya kesal juga 😂 but thank you ya udah menuliskan tulisan ini. Aku suka bgt.

    1. Makasih ya udah baca dan senang denger tulisannya cocok sama kehidupan kamu sekarang. Yang gitu2 ga usah dijawab kalo kamu ga mau, kamu ga utang penjelasan kok sama mereka.

  5. menurutku, orang yg banyak bertanya seperti itu bukan terdorong rasa ingin tahu lagi, melainkan sudah bawa persepsi2 tertentu – jadi keinginan utamanya ya ingin membuktikan bahwa dia benar dengan pemikirannya, kalau diterusin yaaa ngga akan selesai juga ^^

    coba deh setiap ditanya makin jauh yg bikin ngga nyaman – kita tanya aja balik ke orangnya ^^ nanti yg nanya bakalan malas nanya2 lagi kok =) *iseng

Leave a Reply to Miss Mae Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.