kurisetaru

kurisetaru

Jadi Influencer Bukan Berarti Semuanya Gratis.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Beberapa hari ini, di Twitter gue heboh berita tentang seorang social media influencer yang permintaannya tinggal di hotel dengan imbalan publikasi gratis ditolak oleh hotel tersebut. Kemudian si hotel mengunggah email permintaan si influencer (dengan nama dan kanal YouTube yang sudah disensor) dan secara viral menolak permintaan dia. Udah jelas nama dan kanalnya disensor, eh ini influencer malah bikin video yang mengekspos dirinya sendiri ke internet, dengan kata-kata yang luar biasa memojokkan dirinya sendiri.

(Gimana sih tong. Udah bagus si hotel sensor nama lu, lah ini lu sendiri yang ngaku di internet. Rada kurang pinter juga nih influencer.)

Berkat tautan si hotel di Facebooknya, hotel tersebut menerima banyak kecaman dari orang-orang yang mendukung si influencer. Buat si hotel ya bagus dong, there’s no such thing as bad publicity. Akhirnya si pemilik hotel membuat tulisan publik yang menyatakan bahwa mereka nggak mau bekerja dengan blogger atau vlogger manapun.

Nah lho!

Gue kemudian menyempatkan diri ngobrol tentang ini sama kolega gue yang jauh lebih berpengetahuan tentang influencer daripada gue. Hasil diskusi kami: gue dan dia sama-sama mikir si influencer-nya kurang pinter.

Pekerjaan jaman sekarang yang cukup ngetren adalah influencer itu tadi. Mulai dari yang aktif di YouTube, Instagram, atau blog, karir social media influencer sepertinya jadi ladang emas bagi para milenial dengan akses internet berkelimpahan dan kreativitas segudang. Kapan lagi dibayar mahal untuk review produk atau dapat jalan-jalan gratis dengan syarat cukup menulis review jalan-jalan mereka?

Kata kunci paragraf diatas adalah: para influencer ini DIBAYAR. Mereka udah punya track record sendiri tentang konten mereka, konten mereka udah tergolong punya niche sendiri, dan mereka udah membangun reputasi mereka dari awal bahkan sejak kerjaan macam ini belum ngetren. Influencer yang sukses adalah influencer yang dicari-cari brand, bukan sebaliknya. Michelle Phan, contohnya. Lilly Singh, contoh kedua. Mereka adalah influencer yang isi videonya selalu konsisten, sudah pasti banyak brand mau kerjasama dengan mereka. Kerjaan mereka sebagai influencer sudah diakui orang lain, bukan cuma mereka doang ngaku-ngaku influencer.

Ngomongin statistik? Percuma, jaman sekarang lu bisa beli follower buat menunjukkan banyaknya orang yang berlangganan ke kanal YouTube atau mengikuti Instagram lu. Menurut gue yang paling penting adalah menentukan jenis konten yang akan dibuat dan itu susah banget. Dalam kasus si YouTuber ga tau malu ini contohnya, udah pasti si hotel gak mau kerjasama. Lha isi YouTube nya nggak ada sama sekali berbau jalan-jalan atau review hotel, yang ada adalah kumpulan vlog hidup pribadinya, hasil belanja, dan tips gaya hidup. Kalau si YouTuber itu emang fokus bikin video tentang review hostel, hotel atau restoran, mungkin si hotel juga tertarik untuk kerjasama. Buat apa ngasih penginapan gratis kalau konten videonya nggak nyambung sama bisnis si partner?

Kalo kalian nonton videonya si YouTuber, buset rasanya tuh orang kayak minta dikasihani banget. Dia gak nyangka bakal ditolak sama hotel yang rencananya bakal dikasih review dan eksposur berupa vlog dan Instagram Story. Yang gue lihat dari statistik si hotel sih, mereka udah cukup terkenal dan sudah punya fanbase tersendiri… jadi keputusan mereka menolak tawaran si cewek ini cukup masuk akal. Selain itu, bisa jadi target konsumen hotel ini beda dengan statistik follower si cewek. Yang gue lihat sih hotel ini cukup kelas tinggi dan terkenal juga. Udah pasti nggak perlu publikasi gratis, kalaupun mau promosi, pasti mereka punya tim sendiri. Buat apa si hotel buang waktu dan uang, ngasih penginapan gratis dengan iming-iming eksposur ke penggemar si influencer kalau ternyata target konsumennya nggak sama?

Buat dedek dedek pembaca blog gue yang pengen jadi influencer, mungkin tulisan ini bisa jadi referensi tentang gaya hidup influencer ya. Seorang influencer tuh gak langsung tenar kayak Awkarin. Perlu banyak usaha buat bikin portofolio agar menarik dilihat brand untuk diajak kerjasama. Dan pasti kalian mau duit juga kan? Jadi jangan banting harga diri dengan nawarin eksposur sebuah brand cuma biar bisa tinggal gratis atau makan gratis disana. There’s no such thing as free lunch, ok!

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

19 thoughts on “Jadi Influencer Bukan Berarti Semuanya Gratis.

        1. Dia mengklaim dirinya sebagai beauty socmed influencer karena di video2nya suka ada beberapa video tentang perawatan wajah atau make-up routine. Jadi klaim itu bukan berdasarkan dia cakep atau nggak.

  1. Call me old-fashioned, tapi gue engga bisa ambil serius pekerjaan “social influencer”. Menurutku ya cuma famous for being famous seperti keluarga Kardashian itu lah… jadi ngga heran gue kalau banyak “artis-artis” youtube dan instagram yang kelakuannya kurang cerdas.

    Belum lama ini juga ada kejadiannya si Logan Paul yang bener-bener disrespectful terhadap budaya Jepang.
    Mending blogger atau vlogger yang kontennya berbobot, ngasi info mengenai budaya dsb. bukan sekedar sharing perilaku konyol atau ngejual drama.

    1. Sebagai yang kerja di marketing aku kurang lebih tau lah gimana enaknya kalo kita mau minta endorse tapi gak punya budget (dalam hal ini, brand yang ngajuin proposal ke influencer). Biasanya kita ga bakal minta mereka review terus ga dibayar, pasti ada kompensasi berupa produk gratis atau berupa uang (bisa juga digabung). Hari gini mana ada yang gratis? Kalau alasan dia buat eksposur sih, ababil2 instagram yang bukan influencer juga bisa.

  2. I’m also old-fashioned in that sense. Mau nginep di hotel? Ya bayar dong. Pake duit hasil keringat. Kalaupun ada imbalan advertising ya hotelnya berhak melihat dan memilih dong, situ brand namenya ada apa enggak.

    Jaman dulu waktu Yelp masih aktif di Denmark/ Copenhagen, aku lumayan deket sama community managernya, dan tugas dia ya seperti itu sesungguhnya, jadi cari venue buat acara2 elite events (yang gratis buat para elite yelper), dia mungkin juga ada budget dari Yelp US tapi mungkin ga banyak, pinter2nya dia nego dan cari cara. Disini bedanya Yelp itu brand name reviewer yang udah kokoh di US (mungkin barulah di Eropa), jadi bukan sekadar sorangan pasang Youtube video, toh kalau ditolak pun cari lagi, ga usah nangis menye2 pake mata merah di Youtube.

    Ah, maaf, kadang brainwave nggak nyambung sama brainwave orang2 “muda” masa kini.

  3. Menarik postingannya,
    ada kecacatan logika dalam pola pikir si mbak mbak influencer tersebut,
    tapi kadang ada beberapa influencer yang menyukai kontroversi, dan malah menggunakan itu buat naikin namanya.
    Hmm, saya sendiri beneran baru tahu mbak influencer itu setelah berita ini,
    sebelum itu, ngga pernah denger, ya karena emang pasarnya dia itu aslinya untuk beauty dan kosmetik gitu sih ya.
    Habis baca berita itu, dia jadi melebarkan pasarnya dia kan ya, wkwkwk.
    Tapi entah lah ya…

    1. Bukan kecacatan menurut saya sih tapi lebih ke pemikiran kalo jadi influencer semuanya bisa gratis cuma dengan iming2 dikasih eksposur aja. Padahal kan ga selamanya gitu. Ada brand2 yang masih baru dan mereka terima kerjasama kayak gitu, tapi untuk brand yang udah terkenal pasti mereka juga mau kerjasama dalam bentuk uang. Saya ngga tau cara kerjanya selebgram di Indonesia kayak gimana, mungkin selain promosiin barang atau jasa di instagram mereka pasti juga maunya dibayar.

  4. Di Dublin hotel dan cafe ini udah terkenal banget kontroversial, terlepas dari kontroversi yang mereka ciptakan, aku pro si Hotel. Minta-minta gratisan, apalagi si Youtuber ini gak ngetop2 amat. Sekarang sih dia ngetop ya, apalagi abis dapat bill 4,3 juta Euro. LOL

    1. Kontroversinya yang lain macam apa mbak? Aku juga ga suka ama cara si hotel ini menanggapi isu ini. Kenapa gak email si YT nya pribadi aja sih daripada nunjukkin emailnya di media sosial. Biarpun namanya disensor kan tetep aja namanya bullying orang.

      1. Guyonannya memang khas dan dark. Udah ada yang anti vegan, anti kids. Jadi dia nyuruh2 orang tua untuk ngatur anaknya yang berisik, kalau gak dikasih Valium.

        Ada konsumen ribet minta kirim surat ditolak hotel, karena gak ada staf, surat permohonan maafnya dipajang ke publik, karena semua staff di bawa ke Disney.

        Aku malah pengen ke sana gara-gara ini. Ini strategy marketing dan PR yang anti mainstream.

  5. Wah ini aku ngikutin nih dan sampe terbengong-bengong, this influencer girl is a baby! Gw juga kalo jadi manager hotel ga akan luluh walopun gw kasih jempol buat keberanian dia ngirim e-mail. Hotel bintang lima itu kan target marketnya yang berduit dan sadar bahwa jasa berkualitas itu ga gratis. CMIIW yaa.. Gw setuju banget Tal, influencer gapapa, tapi ya tolonglah bangun strategi komunikasi dan kekuatan brand, ga mentang2 youtube gratisan lalu asal-asal aja review sana sini 😉

Leave a Reply to nyonyasepatu Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.