Indonesia Negeriku, Orangnya Lucu-lucu.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Gue udah bertahan di Indonesia (tepatnya di Jakarta) selama seminggu, dan tiap hari, ada aja kelakuan orang di sekitar gue yang bikin pengen ngomel atau pengen gue sentil omongannya. Kunjungan gue ke Indonesia ini sih sebenarnya dalam rangka makan-makan dan bertemu keluarga dan sahabat dekat, makanya gue bela-belain deh… kalau nggak ingat mereka pasti gue malas pulang.

Biar gampang, gue bagi cerita-cerita tentang orang Indonesia yang lucu-lucu di beberapa bagian di tulisan ini ya.

Oh ya, jangan asal bilang gue “menggeneralisasi” dengan membaca tulisan ini. Asal tau aja, gue nggak ke Sabang sampai Merauke.

SPG Maksa Bagian I

Di hari kedua gue di Jakarta, gue memutuskan pergi ke pusat perbelanjaan yang dekat dengan rumah gue. Pengen belanja sekaligus lihat apa saja yang berubah dari daerah tersebut. Ternyata makin macet karena banyak sekali pembangunan MRT disekitarnya.

Asik belanja, uang gue habis. Wah, harus ambil uang nih, pikir gue. Kemudian gue jadi dilematis karena kartu Belanda rata-rata berafiliasi dengan Maestro, sementara di Indonesia lebih banyak ditemukan logo MasterCard, Cirrus, dan VISA. Gue kemudian berjalan ke salah satu bank swasta terbesar di Indonesia untuk mengambil uang di ATM-nya.

Begitu gue masuk bank, seorang wanita berpakaian seragam bank tersebut mencegat gue. “Kak, kakak sudah bekerja?”

“Udah,” jawab gue cuek.

Si mbak itu nanya lagi, “Kakak sudah diatas umur 21 tahun?”

Dalam hati gue mikir, mau nawarin apalagi si mbak ini. Kemudian gue berhenti dan menjawab dia, “Udah. Mbak, saya mau tanya. Kartu saya Maestro, saya bisa ambil uang disini nggak ya?”

Kemudian si mbak itu menjawab, “Wah nggak tahu kak, tapi kakak coba aja.”

TETOT!!! Jawaban yang salah, pemirsa! Pengen deh gue jawabin, “Enak aja lu nyuruh gue asal coba, kalo kartu gue kenapa-napa, lu mau tanggung jawab?” Menurut gue jawabannya nggak profesional dan gak bisa dipertanggungjawabkan banget. Kalau dia nggak tahu, ya jawab aja ”kurang tahu”, jangan ngasih solusi yang bukan sesuai SOP, atau mungkin kalau dia mau nyelametin mukanya, suruh aja gue nanya ke teller bank. Enak aja asal suruh nyoba.

Yang akhirnya gue jawab, “Mbak, saya nggak kerja di Indonesia. Kartu bank saya nggak ada logonya disini. Makanya saya tanya sama mbak mungkin mbak tahu.” Lalu gue nyelonong meninggalkan dia dan berjalan ke arah ATM. Gue masih bisa mendengar si mbak berkomentar dengan nada yang ngeledek “Oh mbaknya nggak kerja di Indonesia ya… berarti bukan nasabah bank ini ya…”

Mungkin dia ngira gue TKI.

SPG Maksa Bagian II

Masih di pusat perbelanjaan yang sama, sebelum pulang gue ingin beli cairan pembersih make-up. Langsung gue berjalan menuju toko yang menjual obat-obatan dan kosmetik.

Karena gue ingin bergegas pulang, maka gue langsung bertanya ke salah satu SPG-nya, “Mbak, cairan pembersih make-up dimana ya?”

Si mbak tersebut langsung mengarahkan gue ke barisan pembersih make-up. Pas gue lihat harganya, gue tercekat… TIGA RATUS RIBU BUAT BERSIHIN DANDANAN DOANG.

Kemudian gue bilang deh, “Mbak, saya jarang dandan. Saya mau yang murah-murah aja, kayak Garnier.”

Si mbak mukanya langsung mesem, lalu mengarahkan gue ke row sebelahnya. Kemudian dia bilang, “Walaupun jarang dandan, tetep lho kak… Merek yang tadi bagus, bisa melembabkan kulit, blablablabla”.

Udah empet banget gue. Orang udah tau mau beli merek apa kenapa masih disaranin beli yang lain sih! Gue akhirnya jawab dengan nada ketus, “Saya mau beli yang murah.” Lalu mengambil satu botol dan berjalan ke kasir.

Heran gue. Lu pikir duit gue segudang? Nggak pake nanya budget dulu lah, cari yang kayak apa lah, langsung ditodong merek yang mahalnya naujubilah? Udah gitu giliran gue mau beli yang lebih murah, dia langsung judes. Apaan sih?

Tukang Bubur Songong

Hari Kamis lalu, gue main ke almamater bersama seorang teman kuliah dulu. Tadinya gue pengen makan di kantin bekas fakultas gue, tapi ternyata lagi renovasi dan kami nggak tahu pindah kemana si kantin… akhirnya kami memutuskan untuk makan di kantin fakultas sebelah.

Tadinya gue mau makan bakso, tapi semuanya pakai mie ayam. Gue udah bosen juga makan mie terus. Ada yang jual bubur ayam, akhirnya gue samperin deh ibu yang jual.

“Bu, saya mau pesen bubur ayam satu.”

“Oke neng.”

“Bubur ayamnya pakai apa aja ya?”

Si ibu penjual melihat gue dengan tatapan aneh, kemudian dia membalas gue, “Mbak… nggak pernah makan bubur ayam ya?”

Wah, langsung gue naik pitam. Gue nanya dia pake apa aja karena gue mau tau ada gak bahan di bubur ayam dia yang nggak gue suka, seperti kacang. Kalau dia nyebutin bahannya dan ada kacang kan gue bisa bilang “jangan pake kacang”. Sementara itu, banyak juga varian bubur ayam yang kuahnya kuning, pakai ati ampela, dan lain-lain. Intinya, gue bertanya itu biar sama-sama efektif; dia nggak buang-buang bahan makanannya untuk gue yang akhirnya gak bakal makan bahan makanan itu.

Gue udah kesel, ditambah daerah kampus gue yang panasnya kayak neraka, akhirnya gue galakin. Gue bilang, “Bu, saya nggak pernah makan bubur ayam ibu, makanya saya mau tahu ibu pakai apa aja di bubur ayamnya! Saya nggak mau pake kacang!”

Mungkin hal seperti ini sepele, tapi kok gue ngerasa ibu penjual bubur ayam itu gak sopan banget ya nanya gue pernah makan bubur ayam atau nggak? Baru sekali ini ada penjual makanan yang songong kayak gitu ke pelanggan.

“Kamu Gemukan Ya/Makmur Ya/Sehat Ya”

Yang bikin menyebalkan, komentar seperti ini datang dari oma gue. Belum apa-apa dia langsung bilang, “Kok kamu gemuk?? Hati-hati lho, kamu punya gen gemuk.”

ASKASHKLHGASHLADSHBLDHEAFIHASBHASFH

Satu hari, dua hari, gue diemin aja. Yang bikin sebel, oma gue terus-terusan ngomong itu di depan gue. Suatu hari kami menemani opa kontrol di rumah sakit lalu berpapasan dengan orang gemuk. Oma gue menunjuk ke arah dia lalu bilang, “Ya ampun, dia gemuk banget. Ah, ibunya aja ternyata gemuk, kok”. Setiap hari gue denger oma gue nyindir-nyindir orang gemuk, GUE gemuk, akhirnya beberapa hari ini gue nggak pede pakai baju-baju yang gue bawa dari Belanda yang rata-rata off-shoulder, you-can-see, baju-baju musim panas lah ya. Alhasil gue sudah dua hari pakai celana jeans yang bikin kaki gue kayak megap-megap, kalau kaki gue bisa nafas.

Hari ini, gue udah muak denger kata “Kamu gemukan ya” dari oma dan dari orang-orang yang gue temui di acara Paskah di gereja. Akhirnya gue jawab (karena sudah nggak tahan dan gue perlu mengedukasi orang-orang ini), “Tahu nggak sih kalau ngomongin fisik orang kalau lama nggak ketemu itu nggak sopan? Me being fat is true, I realize it, but it is very rude when other people point it out, do you know?

(Oma gue hanya bisa terdiam mendengar gue ngomong begitu.)

Ya iya lah, gue udah nggak biasa dikomentari soal fisik. Basa-basi macam gini adalah basa-basi ala orang Indonesia yang paling gue nggak suka.

Yang pertama, there is no such thing as ‘fat gene’ as what my grandma said. Lo gemuk ya gemuk aja. Masalahnya ada di metabolisme, cepet atau lambat metabolisme lo. Gak usah deh salah-salahin keturunan soal berat badan orang. Yang kedua, udah tau cuaca musim dingin pasti bikin orang ingin berhibernasi dan makan berlebihan. Gue salah satu diantaranya, bahkan gue menyadari kok di musim dingin kemarin gue sering makan malam dua kali. Of course I know I gain weight, but it will be better in warmer months. Yang ketiga, selama gue makan sehat, jarang makan junkfood, what’s wrong with putting a few pounds?

“Wah, Nggak Cinta Indonesia Lagi, Dong?”

Hari Rabu, gue menemani Oma bekerja di Bandung. Setiap dua minggu sekali, dia ditugaskan mengecek proyek kantor di daerah Dago. Disana, gue bertemu manager proyek, insinyur proyek, dan orang-orang lain dengan jabatan berbeda-beda. Salah satunya sudah bekerja cukup lama dengan oma gue, lalu dia bertanya santai saat makan siang, “Crystal, lebih suka di Indonesia atau di Belanda?

Menurut ngana? Dengan singkat langsung gue jawab, “Di Belanda, oom.”

Si oom terkekeh-kekeh lalu berkomentar, “Wah, nggak cinta Indonesia lagi, dong?”

Ya ampun gue rasanya kesel banget deh, denger selentingan seperti itu. Andai saja dia tahu bahwa cintanya orang Indonesia yang merantau tuh beda dibandingkan orang Indonesia yang tetap tinggal di Indonesia. Rasanya pengen gue omelin, tapi gue jawab dengan tegas, “Oom, bukan soal cinta atau nggak cinta dengan Indonesia. Tapi saya lebih nyaman tinggal di Belanda. Semuanya lebih enak daripada disini.” Gue tambah-tambahin aja tuh, biar dia keki. Mumpung gue lagi baik, ya gue jelaskan lah, bukan soal cinta atau nggak, tapi nggak usah munafik deh, negara maju tuh lebih nyaman ditinggali karena berbagai faktor.

Yes, gue bisa lihat dari air mukanya, dia keki dengar penjelasan gue.

Tapi…

Nggak semua orang-orang yang gue temui menyebalkan. Ada juga orang-orang baik dan nggak berubah. Teman-teman lama gue, rasanya kelakuan kita nggak berubah kalau ketemu. Mereka nggak berkomentar tentang fisik gue atau cara pandang gue yang mungkin udah nggak sesuai standar cara pandang orang yang tinggal di Indonesia. Beberapa anggota keluarga gue juga nggak berkomentar tentang fisik gue, rambut gue, pipi gue… mereka menerima kedatangan gue dengan senang hati dan berusaha bikin gue senyaman mungkin selama berlibur disini.

I really thank them for accepting who I am and not questioning or criticising the steps I take.

More to explore

Nguping dan Nyinyir di Pemilu

Tiga observasi kelakuan orang Indonesia yang ditemukan saat Pemilu serentak 2019 di Den Haag. Yuk nyinyir bareng!

20 thoughts on “Indonesia Negeriku, Orangnya Lucu-lucu.

  1. Harus banyak banyak sabar ketemu orang indonesia kak. Emang ga se “wah” di belanda. Dan belum siap untuk menerima kebaikan ala barat. Tapi kayaknya kalau kita sabar, mengelola emosi, dan berdamai dengan keadaan, sepertinya kedewasaan kita makin naik. CMIIW.

    1. Sejak kejadian sama SPG itu, aku selalu berusaha untuk menurunkan ekspektasi kalau ngobrol sama orang asing. Tapi tetep aja ya, orang kita kayaknya kalau basa basi sama orang yang sudah lama gak tinggal di Indonesia pasti antara ngomongin berat badan, nggak pulang2, dan hal2 lain yang sifatnya pribadi dan agak malu kalau didengar di muka umum.

      1. Iya sih, indonesia perlu belajar banyak soal budaya ga maksa barang dagangan, antri, buang sampah pada tempatnya, pakai angkutan umum, kedisiplinan, dan taat lalu lintas.

        1. Justru aku seneng naik mobil di Indonesia apalagi di jalan tol, kalau udah masuk jalur paling kiri. Rasanya paling badass aja gitu, hehehe! Di Belanda mah mana bisaaaa

      1. Dua – duanya lah jelasss. Kalo aku sebel banget mau liat – liat barang diikutin. Ga nyaman. Kalo aku butuh kan aku pasti cari ya.

  2. Soal SPG, apalagi di drug store kayak Guardian atau Watson emang nyebelin dan annoying. Mungkin dia emang ngelakuin apa yg udah jadi kerjaan dia cuma attitudenya itu lho yg mesti di training.
    Dulu pernah nyari pembersih make up juga, udah disebutin aku mau merk Garnier eh dia bawa tuh ketempat yg produknya mahal. Dia bilang mending yg ini aja Garnier kan produknya minyakan :(. Pas bilang, engga mba saya biasa pake garnier, eh dia langsung melengos sambil bilang tuh Garnier di lorong sebelah. Dih. Enaknya kalo dia begitu ternyata orang Garnier-nya yg lagi jd mystery buyer.

    1. Terus kalo mereka ga ada kerjaan, cuma cekikik2an gitu. Dan tau gak, di Watson aku 2x hampir kecele beli barang yang di raknya harganya murah, pas di scan bisa 2-3 kali lipat.

  3. SPG menyebalkan itu engga bisa dihindari kalau di Indonesia! 😂😂 Apa lagi pedagang-pedagang kayak si Ibu Bubur Ayam itu… mereka niat nyari pelanggan engga sih??! Belanja di Indonesia itu kadang bikin gue bingung.. yang butuh duit tu gue atau mereka??

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Join the Club!

Hit that “Subscribe” button to receive weekly posts straight to your inbox!