kurisetaru

kurisetaru

Haruskah Kita Belajar Bahasa Mereka?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn


Suatu hari, kantor gue menerima telepon dari orang balai kota. Mereka menanyakan nama gue, tapi dengan embel-embel “Saya nyari yang bisa bahasa Belanda, ya”. Akhirnya gue nekad menjawab telepon tersebut karena memang ditujukan untuk gue.

Begitu gue menjawab telepon, suara di seberang berkata, “Kamu bisa bahasa Belanda nggak?” Gue jawab, “Saya bisa ngerti kamu kalau kamu ngomong, tapi bahasa Belanda saya kurang lancar.”

Kemudian dia ngedumel beberapa detik, “Tapi kan tadi saya nyari yang bisa ngomong bahasa Belanda.” Akhirnya si pegawai balai kota ngomong sama gue pake bahasa Inggris, tapi bahasa Inggrisnya lancar banget. Kemudian gue mikir, “Lha kalau bahasa Inggrisnya lancar, kenapa tadi harus ngotot nyari yang bisa bahasa Belanda?”

Sepenggal fragmen di atas mengingatkan gue dengan wacana di Belanda yang seakan nggak habis-habisnya dibahas: integrasi. Menurut gue, ada dua paham di negara ini.

Yang pertama adalah paham Belanda sebagai negara internasional yang hampir seluruh manusianya bisa berbahasa Inggris, sehingga kemampuan bahasa Belanda nggak diperlukan banget. Belanda termasuk negara dengan persentase kemampuan bahasa Inggris yang cukup tinggi melebihi negara tetangganya seperti Jerman dan Belgia. Contohnya, film-film disini nggak semua di sulih suara, nggak seperti judul-judul dan dialog film yang harus diubah ke bahasa lokal seperti di Prancis atau Italia. Hanya film kartun yang di sulih suara ke bahasa Belanda, itu juga nggak mendominasi jadwal tayang di bioskop.

Sisi kedua adalah mereka yang berpikir bahwa udah tinggal di Belanda, bekerja/bersekolah di Belanda, sudah seharusnya bisa berbahasa Belanda. Sisi ini biasanya diyakini orang-orang generasi tua. Mereka percaya bahwa pendatang yang tujuannya hidup di Belanda harus bisa menyatu dengan masyarakat mayoritas, maka itu belajar bahasa dan budaya Belanda adalah kewajiban, bukan pilihan. Contoh dari sisi kedua ini adalah para imigran yang diharuskan belajar bahasa Belanda sampai level tertentu sebelum dapat ijin tinggal dan dapat pinjaman untuk sekolah atau modal kerja.

Awalnya gue juga mikir begini, “Ah, cuma numpang sekolah doang di Belanda, nanti juga lulus terus pulang ke Indonesia. Buat apaan sih buang duit dengan belajar bahasanya?”. Tapi lama-lama gue malah dapat kerja dan punya kehidupan baru disini. R dan keluarganya sih nggak ngotot gue harus belajar bahasa Belanda, tapi dia terus-terusan bilang, “Kamu kan cari uang disini, masa iya sih nggak belajar bahasanya? Orang sini malas lho kalau bergaul sama yang bisa bahasa Inggris doang…” Gue juga lihat di kalangan teman-teman lama R, mereka datang dari negara-negara berbeda, tapi mereka berkomunikasi dengan R pakai bahasa Belanda.

Dengan segala rencana baru yang gue buat, gue merasa melanjutkan belajar bahasa Belanda itu semakin perlu. Nggak ada salahnya juga belajar bahasa asing selain bahasa Inggris karena bisa jadi nilai tambah di CV gue. Di kantor, para kolega yang lagi belajar bahasa Belanda anehnya nanya kosakata ke gue dan bukan ke kolega lain yang orang asli Belanda. (Aneh yang harus disyukuri, sebagai orang yang cuma lulus level A2, gue sering ditanya-tanyain kolega, hahaha) Akhirnya gue memutuskan untuk kembali belajar bahasa Belanda. Uang yang tadinya gue alokasikan untuk membeli tiket liburan ke Indonesia, gue pakai untuk simpanan membayar kursus bahasa Belanda.

Di satu sisi, gue ngerti sih, betapa groginya nunjukkin bahwa kita lagi belajar bahasa mereka. Apalagi di kota besar, kalau mereka tahu dari aksen bahwa kita bukan orang sini, mereka langsung mengubah bahasa jadi bahasa Inggris. Yang kayak gini jadi bikin makin males kan belajar bahasanya. Tapi lama-lama gue mikir, akan makin banyak yang nanya “Kenapa lo nggak belajar bahasa gue?” daripada yang ganti bahasa jadi bahasa Inggris begitu tahu gue bukan orang sini. Apalagi kalau nanti gue tinggal lama di Belanda dan kemampuan bahasa Belanda masih gitu-gitu aja, waaah malu banget pasti jadinya.

Jadi, untuk menjawab pertanyaan di atas, YA, belajar bahasa mereka itu penting! Bayangkan jika kita yang jadi orang mayoritas dan ada orang dari negara lain yang mau bersusah-payah belajar bahasa kita. Pasti merasa semakin dihargai kan!

Bagaimana menurut kamu? Apa berintegrasi dengan penduduk lokal itu penting, atau kamu lebih memilih untuk bergaul dengan sesama migran dari negara lain? Yuk bagikan pengalaman dan komentar di bawah tulisan ini!

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

47 thoughts on “Haruskah Kita Belajar Bahasa Mereka?

  1. Of course! It’s also a part of respect that we learn the language when we live here. Kamu dan mahasiswa2 lainnya masih di excuse krn berpikir cm numpang lewat, yg aku ga habis pikir orang2 yng menetap di suatu negara udah bbrp tahun tp ngomong masih kagok, ngerti aja kaga – gimana lu bisa jadi warga yang aktif kalau gitu? Nonton berita aja blm tentu ngerti, baca koran, ikut aktif dalam komunitas? Boro2…

    Banyak tuh yg gitu disini dan di negara2 Skandinavia lainnya, orang Indonesia juga. Jeleknya nanti dicap oh orang Indonesia (disini) kebanyakan malas ya integrasi (plus sugesti kalau IQ nya juga cetek krn ga bisa take part in social / political discussion – krn doyannya arisan doang —> but let’s keep this for another discussion)

    Good for you that you’ve decided to seriously learn it. Disana belajar bahasa ga gratis ya?

    1. Gak gratis. Malah banyak yang murah kalau level rendah, macam level A0 ke A1 gitu. Aku kan dari level A2 mau ke B1, cari yang cocok susah banget. Untung nemu di kota yang sama, metodenya juga terkenal. Walaupun harus bayar rada mahal, 400 euro an untuk satu level. Tapi ya sudah lah daripada uangnya buat hal yang ngga perlu?

      1. Yup, ini perlu banget – kalau harus bayar, bayarlah, buat benefit lifetime kan?

        Disini tiga tahun pertama gratis (biasanya orang2 butuh tiga tahun itu sih), jadi kalau periode gratisnya ga kepake ya harus bayar.

        1. Enak banget. Di dekat rumahku ada sekolah tinggi VMBO (semacam level paling rendah lah) yang nawarin kursus bahasa Belanda. Pas aku cek disana, harganya murah banget cuma 30 euro satu level, tapi cuma buat yang dasarrrrr banget. Kalau udah mau ke level B1 biasanya mulai dianggap serius karena disini Statsexamen NT2 minimal harus level B1 (kalau nggak salah)

          1. Iya disini tiga tahun itu udah Prøve i Dansk 3, yang u/ dapet citizenship. Kalau mau kuliah harus ambil Studieprøve, tambah satu modul lagi, tapi masih cukuplah jatah 3 tahun itu, jadi dari awal sampe akhir (mau setinggi apapun kursusnya) bisa gratis disini sih.

          2. Level A2 sudah bisa kok kalau untuk tujuan pindah Paspor. Eh ini maksudnya ganti paspor kan? Kalo iya, A2 sudah bisa, ada di websitenya IND info ttg ini. Asal syarat lainnya terpenuhi. Tapi untuk syarat bahasa, level A2 sudah memenuhi.

          3. Wah, ‘sensei’ IND berbicara :)) Iya, sebenernya A2 tuh udah mencakup semuanya yang standar ya. Aku bingung nanti B1 belajar apaan dong?

          4. Bwuahaha karena ada kenalan yg mau pindah paspor. Trus dia protes katanya kok di blog ku yg aku nulis ttg ujian NT2-I, aku nyinggung ttg pindah paspor minimal level B1. Aku dapat info itu dari dosenku di sekolah. Tapi aku ga ricek di website IND. lalu dia kasih linknya. Trus aku baru baca itu. Tapi banyak info di website IND ttg pindah paspor ini, ada beberapa versi mau pindah dengan cara yg bagaimana. Musti ditelaah lagi kalau memang niatnya pindah paspor. Syaratnya juga beda2, dan syarat bahasa juga mengikuti.
            Beda lah Crys pastinya A2 sama B1. Di grammatica sudah pasti beda jauh tingkat kesulitannya. Dari B1 ke B2 yg ga terlalu mencolok perbedaannya.

          5. Aku ngga kepikiran mau pindah paspor dulu lah. Sepertinya rencana berikutnya adalah dapat Permanent Residency dulu. Lihat nanti, harus ganti paspor apa enggak 🙂 tapi langkah pertama belajar bahasa dulu aja ah.

  2. Kalo aku yg ditanya gini ya jawabnya harus karena awalnya berhubungan dengan ujian kan. Tapi lama2 motivasi belajar bahasa Belanda berbeda2 sesuai kebutuhan. Awalnya harus belajar karena ujian, trus supaya bisa komunikasi sama mertua, lalu supaya bisa nawar kalo ke pasar, ngobrol sama tetangga, interview kerjaan, dikerjaan yg diurusi Oma Opa, dst. Jadi awalnya belajar bahasa karena keharusan, lama2 memang jadi kebutuhan. Cuma untuk hal-hal yg berhubungan dengan medis, kecuali dokter gigi (aku komunikasinya ttp berbahasa Belanda sama dokter gigi), aku memang masih lebih nyaman pakai bahasa Inggris (dan di sistem mereka sudah ada catatannya kalo aku lebih memilih komunikasi dgn bhs Inggris). Alasannya untuk menghindari kesalahpahaman karena istilah atau penjelasan yg aku ga paham, apalagi kalau konsultasinya pas sendirian. Pakai bahasa Inggris aja beberapa kali tetep ga mudeng meskipun dijelaskan panjang lebar.
    Trikku pas awal2 di sini ngomong bahasa Belanda trus lawan bicara membelokkan ke bahasa Inggris : aku bilang kalo aku cuma bisa bahasa negaraku dan sedang belajar bahasa Belanda, ga bisa bahasa Inggris. Nanti lawan bicara akan balik lagi pake bahasa Belanda, jadi ga berbahasa Inggris lagi.
    Semangat Crys kursusnya!

    1. Terima kasih, mbak! Ah seandainya aku tahu metode itu pas pertama tinggal disini, pasti nggak dimanjain lagi. Berasa telat banget nih mau belajar lagi, takut banyak lupa. Untung sekarang R banyak ngomong bahasa Belanda jadi aku keikutan jawab.

  3. Untungnya tinggal di negara yang berbahasa Inggris, tapi tentunya banyak slang yang harus dipelajari.. Kemarin itu malah ada yang bilang, kamu gak mau belajar bahasa Maori? Waduhhh.. Hehehe.. Tapi yah belajar bahasa itu memang penting si, jadi nilai tambahan yah kalau menurut aku apalagi tinggal di negara tersebut.

    Tapi pengen nambahin aja, di Hongkong, generasi tua nya juga merasa kalau semua orang yang ngomong sama mereka kudu bisa bahasa Kanton.. ( semua orang tuh gak hanya orang Hongkong, tapi include turis juga ) Untungnya generasi muda nya sudah pada bisa bahasa inggris.

    1. Kalau disini generasi tua nya emang pada bisa bahasa Inggris sih. Aku pernah kerja promosi di Den Haag, terus ada bapak bapak samperin aku, dia nanya pake bahasa Belanda terus aku jawab aku cuma bisa jawab pake bahasa Inggris. Eh dia ngomel, “Lo kerja disini harus bisa bahasa Belanda dong!” Yeeee dikira lancar bahasa Belanda kayak situ bisa satu-dua minggu doang. Yang kayak gini yang kadang borderline rasis, aku nggak suka.

      1. Yaela ngeselin bener itu mah bapak2nya.. Yakali dia kalau disuruh belajar bahasa lain selain inggris dan belanda, belum tentu lsg cas cis cus..

        Ex boss aku, malah kalau di rumah ngomong pake bahasa Belanda sama maminya.. hehe

        1. Iya ngeselin. Kelakuan bapak bapak kayak gitu aku temuin di kota internasional kayak Den Haag lho.

          Oh ya? Aku dulu kenal sama cowok lulusan Belanda, kerja jadi dosen arsitektur, Duh udah ganteng, ngomong Belandanya juga lancar… sayangnya jauh lebih tua dari aku, hahaha. Kalo seumuran udah tak gebet!

  4. Jadi inget bos gue yg di Bali orang Perancis, dan beberapa temen ekspat gue berusaha belajar bahasa Indonesia walopun belum lancar. Tentu saja gue menghargai mereka dengan menyahut menggunakan bahasa Indonesia, bahkan yang gak baku seperti “enggak,” “makanya,” dll 😂

  5. Penting banget! Gw merasa kalau ga bisa bahasa setempat gak cuma kita ga bisa bergaul sama orang2 lokal tapi di kitanya juga stress ga sih? Gw sih merasa begitu, pas di Romania dan Swiss (karena cm 6 bulan jd gw ga belajar terlalu dalam bahasa2 itu) gw merasa risih dengan diri sendiri yg ga paham orang2 di sktr gw ngmg apa. Gw jadi kayak stress hahahah karena merasa gak terinclude gitu. Makannya gw sll memastikan utk tahu kalimat2 penting walau cuma singgah sebentar 🙂

    1. Iya jadi nggak ngerti sama berita sekitar kan Gy… Ya oloh gue 2 minggu di Rumania aja udah stres apalagi lu yang 6 bulan ya waktu itu. Bahasanya beda jauh pula sama bahasa2 lain.

  6. Harus! Untuk hidup dan bersosialisasi dengan masyarakat lokal. Contohnya belanja, ke dokter, urus dokumen di balaikota, kalau ada montir dateng ke rumah, small talk sama tetangga/kolega.

    1. Orang balaikota aku perhatiin males banget ngomong bahasa Inggris. Nggak tahu kenapa. Mungkin apa karena pembicaraan mereka direkam di telepon? Hmmm… (Pengalaman ngurus acara dan ngurus perizinan ke balai kota, tiap kali mereka telepon selalu maunya berbahasa Belanda terus)

      1. Karena walau mereka bisa bahasa Inggris, mereka instansi pemerintah. Bahasa resminya ya bahasa Belanda. Kamu tinggal di Randstad Crys, hampir semua orang bisa bahasa Inggris tapi di daerah seperti di tempatku ada kok yang bahasa Inggrisnya minim bahkan sama sekali ngga bisa. Yang bahasa Inggrisnya minim ngga pede. Aku dulu kan pernah kerja di afdeling inburgering. Nanti kalau kita ketemu, aku ceritain deh.

  7. Aku belajar bahasa jerman sampai jungkir balik gak ahli2 casciscus 😭😭 #malahcurhat awalnya belajar karena aku mau sekolah. Dan sekolah disini meskipun master masih jarang banget yg bhs inggris. Ngerasa akhirnya penting harus bisa bahasa Jerman ketika pak suami mulai internship gak bisa selalu ngawal klo ada urusan2. Lalu hamil dan akhirnya sekarang anakku masuk playgroup.
    Menurutku dengan semakin aku berusaha bicara dgn bhs Jerman meskipun kesusahan, berusaha integrasi dgn budaya dan peraturannya malah bikin orang jerman tua, muda ataupun sepantaran jadi lebih terbuka. Ternyata mereka tidak sekaku dan dingin yg kita pikirkan 😊😊

    1. Nah paragraf terakhir tuh yang ngena banget. Kolegaku disini, entah kenapa kalo ngomongin tabiat orang Belanda tuh yang keluar dari mulutnya jeleeeeekkkk… melulu. Contohnya: orang Belanda perhitungan, orang Belanda ini itu dll. Aku sih mikirnya, dia mungkin nggak tahu bahasa dan budaya sini jadi yang nggak sesuai sama dia pasti diomongin yang jelek.

  8. Emang Crys niat (dan mood) untuk belajar bahasa lokal pas “cuma” belajar di satu negara dan beneran tinggal beda, karna kebutuhan dan lingkungannya juga beda menurut aku.

    Dulu pas aku kuliah di sini meski satu semester ambil kursus dutch for asian student begitu selesai tetep aja blas ga bisa (pertanyaan simpel macem “ben jij marco?” aja aku jawabnya “nee, ik ben marco” wkwkwkwk).

    Begitu pindah ke sini buat ikut suami, mau ga mau aku harus bisa bahasa belanda karna selain emang wajib inburgering, lingkungan aku mengharuskan aku untuk ngomong belanda. Mulai dari ngomong sama anak-anak, mertua, belanja, bikin sim, sampe lahiran, semua make bahasa belanda cin.

    Semangat belajarnya ya, nanti ceritain NT2 examennya kaya gimana 😊

  9. Iya tal menurutku penting banget tuh.. Awal2 nggak bisa bahasa jerman, aku selalu ngerasa risih dan agak2 frustasi. Kok orang2 disekelilingku ngoceh akunya gak ngerti apa2 ya… Semua jd lebih nyaman n mudah kalo kita bisa bahasa lokal dimana kita tinggal. Apalagi kalo kita niat tinggal untuk waktu lama 🙂 Semangat ya belajar bahasa belandanya 😄😄

    1. Makasih Shin! Kalo disini sih kantorku semua berbahasa Inggris. Tapi aku mikirnya untuk nanti, kalau aku mau cari pekerjaan lain, udah sebaiknya aku bisa bahasa Belanda untuk dapat kans lebih besar…

  10. Aku support kamu untuk lanjut belajar bahasa Belandanya Tal. Itu sudah keharusan kalau memang berencana hidup lama disana, kalau sebatas jadi mahasiswa mungkin masih pengecualian ya. Kamu butuh belajar itu untuk social life kamu dan sebenarnya ga ada salahnya kamu belajar untuk nambah kemampuan kamu juga.
    Ini sama halnya dengan teman-temanku yang migrasi ke Pontianak dan kesulitan untuk memahami pembicaraan masyarakat disana. Disana ada bahasa Melayu, bahasa Tiociu, bahasa Khek, dll yang jauh lebih sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari (termasuk sekolah dan pemerintahan) daripada bahasa Indonesia. Aku ambil contoh Pontianak karena itu kampung halamanku dan aku alami sendiri. Semangat Tal!

    1. Wah gitu ya. Jadi inget, nci-nci langganan aku potong rambut di Jakarta sejak kecil, kampungnya di Pontianak. Kalo dia udah ngomong bahasa Khek aku udah gak paham. Bahkan katanya dia ga bisa bahasa Mandarin, bisanya bahasa Khek aja, sama bahasa Indonesia.

      1. Yap, jadi gapapa kamu belajar bahasa Belandanya lebih dalam lagi, pasti akan berguna. Aku jadi ingat cerita temanku tempo hari waktu dia dinas ke Thailand. Temanku ini bisa ngomong Tiociu dan di Thailand itu dia ketemu 1 orang pemilik rumah makan yang bisa ngomong Tiociu juga. Gara-gara persamaan bahasa itu, temanku jadi dapat diskon makanan terus selama berada disana 😀

  11. Memang harus mbak, soalnya kita kan ada di tanah orang lain. Walaupun kita cuma imigran, tapi nggak ada salahnya belajar bahasa mereka supaya bisa bergaul dengan mereka. Kalau kita butuh apa2, kan mereka bisa bantu nolongin kita juga.

  12. Aku setuju sama Crystal. Kalau “cuma” numpang sekolah saja, mungkin engga perlu-perlu amat belajar bahasanya sampai fasih. Tapi kalau sudah mulai mencari nafkah, apalagi tinggal di negeri orang, harusnya juga bisa bahasanya dong. At least untuk percakapan sehari-hari lancar, lah. Untuk tingkat bahasa dan kosa kata yang lebih business-oriented atau akademis sih aku masih ngerti kalau engga semua orang bisa.

    Cuma, aku pengennya sih ya, kita itu lebih fair. Kalau kita merantau ke negara orang, kita diwajibkan belajar ini-itu, integrasi, dsb. Lah, giliran perantau kerja di Indonesia? Engga ada tuh kewajiban Bahasa Indonesia tingkat A1 gitu ha ha ha. *sedih

    1. Wahahaha, kalo soal kebalikan gini aku nggak tahu kenapa nggak ada kewajiban belajar bahasa. Tapi aku punya beberapa temen peneliti sejarah Indonesia dan mereka seneng belajar bahasa Indonesia bahkan bisa ngobrol bareng lho! Mantan aku juga dulu bahasa Indonesianya cukup lancar, level A2-B1 lah kalo dikira kira

  13. Saya malah kebalikan mbak, dari awal udah niat pengen belajar bahasa Belanda. Kirain dengan tinggal disini bakalan cepet lancar.. eh ternyata enggak. Karena kuliah bahasa Inggris, orang2 otomatis switch bahasa Inggris begitu denger sy ngomong. Apalagi, di kota2 pelajar gitu. Meskipun udah ngambil les di kampus, listening + speaking tetep tergagap2. Trus karena kuliah sibuk, akhirnya harus nentuin prioritas, belajar bahasa jadi terbengkalai 🙁 Sedih juga sih kalo mengingat udah 2 taun tp belum fasih2. Kayak berasa menyia2kan kesempatan. Mungkin kalo tinggal kayak di Jepang gitu udah bisa sampe level advanced (karena terpaksa, orang sana gabisa ngomong Inggris). Meskipun ga lancar, belajar bahasa lokal tetep berguna sih buat sy. Karena skrg sy bisa nyari info sesuatu di internet pake bahasa Belanda. Kalo ada website yg gaada terjemahannya masih bisa ngerti walaupun ga sempurna. Haha.

    Tapi sama juga sih, sy bukan tipe conversationalist yg bisa belajar langsung ngomong 🙁 harus tau vocab2 dan grammarnya di luar kepala baru efektif listening + speaking.

Leave a Reply to Cuni Candrika Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.