Hal Baik Apa Yang Kamu Lakukan Pada 1 Oktober?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

(Dengan baca tulisan ini, jangan anggap gue pamer atau riya, ya. Gue ingin mengutarakan maksud gue bahwa kadang menyisihkan sebagian uang kita untuk donasi bisa bikin hati lebih tenang).

Jika ada kelemahan gue yang sangat ingin gue hilangkan, hal itu adalah: kurang empati. Mungkin ini bawaan orok kali ya. Sejak kecil, seinget gue, gue nggak begitu diajarkan untuk berempati sama orang lain. Ini berakibat cukup buruk untuk menjaga pertemanan sih. Kalau ada orang lain selain sahabat gue yang curhat sama gue, gue lebih mementingkan bagaimana cara menyelesaikan masalah orang tersebut, bukan bagaimana perasaan dia sehingga dia curhat. Gue juga bukan tipe orang yang gampang cerita tentang masalah gue ke orang lain, walaupun dari depan orang bisa anggap gue mudah bergaul. Ya intinya, gue itu nggak bisa tanggap banget sama hal-hal berbau kemanusiaan dan perasaan orang lain.

Demikian juga dengan bencana alam. Sejak dulu kalau ada bencana alam gue mikirnya “Ya itu bukan bencana, melainkan siklus bumi. Semua ada masanya, baik maupun buruk. Bencana alam di sisi lain bisa jadi sebuah siklus natural yang sebenarnya patut terjadi.” Masuk akal, kan? Pemikiran seperti ini yang bikin gue kurang peka dengan korban bencana. Gue selalu berpikir bahwa akan ada orang lain selain gue yang lebih cepat tanggap dan punya kemampuan interpersonal yang lebih besar.

Tapi lama-kelamaan gue berpikir, gimana kalau hal ini bukan gue doang yang mikir? Kalau ada 100 orang lain yang berpikir sama kayak gue, bisa jadi korban bencana alam ini gak dapat pertolongan cepet karena 100 orang tersebut mikir “ah ada orang lain yang lebih ini itu kok”.

Begitu dengar tsunami dan gempa di Sulawesi Tengah, gue sedih banget. Bukan karena bencana alamnya (lihat pendapat gue tentang bencana alam diatas), tapi karena banyak sekali orang yang memanfaatkan hal beginian untuk menjarah toko. Ya ampun, gue tahu semua orang lagi kalang kabut cari pertolongan, ini mah namanya every man for himself tapi gak mikir beban moral. Hal inilah yang mengetuk pintu hati gue untuk mendonasikan sedikit dari apa yang gue punya untuk korban bencana alam.

Ternyata Rode Kruis (Palang Merah di Belanda) buka rekening untuk donasi ke Palu dan Donggala. Di laman web mereka, dijelaskan alokasi total donasi. Rupanya Rode Kruis memfokuskan diri untuk mengadakan air bersih, MCK, serta membeli perlengkapan mandi dan pembalut untuk korban bencana alam. Akhirnya tanpa pikir panjang gue langsung kirim uang untuk donasi korban gempa dan tsunami. Gue kepikiran cewek-cewek disana yang kesulitan lagi datang bulan, pasti cari pembalut susah sekali ya. Demikian juga dengan persediaan air bersih. Gak kebayang gak mandi berhari-hari sejak bencana alam tersebut.

Buat yang nanya, kenapa gue pilih Rode Kruis? Kenapa gak pilih yang lain? Gue emang udah punya prinsip, kalau mau beramal, lebih baik pilih organisasi yang gak pake nama bernafaskan agama/kepercayaan tertentu. Gue percayanya sih amal dan itikad baik itu hal yang manusiawi dan bukan agamawi, makanya gue lebih memilih organisasi yang namanya netral. Gue juga gak mau merasa berafiliasi dengan agama tertentu, walaupun gue yakin kok, semua bantuan itu akhirnya akan diterima oleh korban bencana alam.

Ini adalah pertama kalinya gue mendonasikan sebagian rejeki gue untuk keperluan bencana alam. Semuanya karena kelakuan orang-orang biadab yang gak tega menjarah toko-toko.

Buat yang di Indonesia dan pengen berdonasi, bisa dilakukan lewat PMI. Semoga saudara-saudara kita di Poso dan Donggala bisa terbantu dengan bantuan kita, ya. Semoga para relawan juga diberikan kesehatan dan kekuatan ekstra untuk membantu korban.

More to explore

Nguping dan Nyinyir di Pemilu

Tiga observasi kelakuan orang Indonesia yang ditemukan saat Pemilu serentak 2019 di Den Haag. Yuk nyinyir bareng!

9 thoughts on “Hal Baik Apa Yang Kamu Lakukan Pada 1 Oktober?

  1. Thanks for sharing. Mau menambahkan sedikit, mereka nggak bisa dibilang menjarah, ya. Karena pemerintah sendiri mengijinkan ambil bahan makanan di mini market tersebut (akan dibayar oleh pemerintah), karena kesulitan dalam distribusi bahan makanan. Yang kulihat ada beberapa orang yang cara buka pintunya tidak memecahkan kaca, hanya melepaskan gagang pintu. Namanya darurat ya. Cuma harusnya bisa lebih di koordinasi…supaya nggak kelihatan kacau..

      1. Nah itu dia. Mendagrinya sih minta itu dicatat dan diinventaris. Tapi karena kurangnya koordinasi di lapangan, pernyataan “ambil dulu, pemerintah yang bayar “secara praktek jadi seperti itu. Jadi polemik.

  2. Selain netral, Palang Merah juga terdepan dalam tanggap bencana dan bisa dipastikan hasil donasi akan berwujud bantuan yang memang benar-benar dibutuhkan oleh korban bencana *a proud red cross almamater*

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Join the Club!

Hit that “Subscribe” button to receive weekly posts straight to your inbox!