kurisetaru

kurisetaru

Diskriminasi Dunia Barat dalam Film Indonesia

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Beberapa jam lalu, gue nonton film Hollywood berjudul “Home Again” yang dibintangi Reese Witherspoon. Ini tipikal film drama cewek yang nggak usah banyak mikir sih. Ceritanya seputar kehidupan ibu tunggal dengan dua anak yang terpaksa menyewakan rumahnya ke tiga anak muda yang lagi mencari peruntungan di dunia film.

Separuh jalan di alur film, gue disuguhkan adegan Reese Witherspoon selaku tokoh utama lagi pergi kencan dengan seorang cowok yang artsy. Saking artsy-nya, gue bilang malah tuh cowok nyebelin. Kemudian cowok itu bilang, “Gue baru menghabiskan beberapa bulan tinggal di Bali, tapi gue harus pulang karena sakit malaria…”

Gue langsung berpikir, “Enak aja lu. Lu kira Bali (yang bagian dari Indonesia) isinya masih hutan dan pantai sepi yang masih banyak nyamuk malaria, gitu? Kasus malaria di Indonesia masih ada di daerah-daerah terpencil, bule kayak lu boro-boro pergi ke daerah terpencil di Bali. Ini penulis skenarionya siapa, sih? Kalo mau nulis tentang penyakit tropis tuh yang kekinian dikit kek, masa iya masih bawa-bawa malaria?

Kemudian nafsu gue nonton film ini sampai habis jadi hilang begitu saja.

Di jaman dulu, film-film Hollywood memang masih mengetengahkan tema “eksotis” dan “terpencil” untuk ngomongin setting negara-negara Asia Tenggara. Gue sih nggak up to date banget ya soal film mana yang settingnya di Asia Tenggara, tapi gue inget di film “Jumanji” ada dialog dimana Kirsten Dunst menjelaskan “om”-nya (Robin Williams) baru pulang dari dinas Peace Corps di Indonesia, atau film “Anaconda” yang mengisahkan ekspedisi ke Borneo dalam usaha pencarian bunga yang diyakini bisa memberi umur panjang.

Mungkin ada banyak kritik mengenai penggambaran Asia Tenggara yang cenderung diskriminatif di dunia film Barat, tapi karena gue bukan orang bule, gue mau kritik ini aja deh… Pernah nggak sih berpikir bahwa film Asia Tenggara (film Indonesia pada khususnya) juga diskriminatif terhadap penggambaran negara-negara Barat seperti Eropa dan Amerika? Kebanyakan film Indonesia yang mengambil gambar di negara-negara Eropa menggambarkan isi negara Eropa selalu glamor, orang-orangnya tajir-tajir, dan hidupnya selalu berkecukupan.

Disklaimer: gue bukan lulusan sekolah Film dan gue bukan penonton film level dewa. Di beberapa film Indonesia dengan setting Eropa, gue ngeliat kalo stigma ‘mewah’ itu sering banget digambarkan. Contohnya ada beberapa, seperti:

  • Film ‘Negeri van Oranje’, dimana tokoh-tokohnya digambarkan sebagai mahasiswa Indonesia di Belanda yang serba berkecukupan. Gila aja lu, masa iya mahasiswa tapi punya mobil sport dan punya apartemen berlatarbelakang pantai Scheveningen?Β Masa iya mahasiswa tapi bisa ngopi berjam-jam di kafe? Masa iya mahasiswa di Leiden tapi kamarnya segede alaihim kayak rumah-rumah di Pondok Indah?
  • Film ‘LDR’, syuting di Italia, yang tokoh-tokohnya lagi-lagi digambarkan tinggal di apartemen studio (FYI, apartemen studio disini nggak murah lho) dan digambarkan pake baju-baju mewah ala-ala desainer.
  • Film ‘Ayat Ayat Cinta 2’ (yang ini gue nggak nonton, cuma lihat review aja). Banyak yang bilang film ini kayak di parallel universe, masa iya syuting di luar negeri (Skotlandia), tetangganya dari berbagai negara, tapi ngomongnya tetep bahasa Indonesia? Kejanggalan kayak gini ditemui hampir di seluruh film Indonesia yang syuting di luar negeri.

Dan masih banyak lagi film lainnya. Intinya, film-film dengan setting Eropa selalu menggambarkan Eropa sebagai benua orang tajir yang gampang punya mobil, punya rumah, atau pakai bahasa Indonesia di seluruh film xD Beberapa contoh lain adalah ‘Winter in Tokyo‘, ‘Where is my Romeo‘, dan lain-lain.

Menurut gue sih, harus ada film Asia Tenggara (Indonesia, pada umumnya) yang bener-bener riset gimana tinggalnya, danΒ break the stigmaΒ bahwa tinggal di Eropa itu serba enak dan serba gampang. Mungkin film tentang mahasiswa Indonesia yang harus berhemat dengan cara masak seminggu dan nggak jajan di kampus, atau susahnya cari kerja di Eropa?

Ada yang bisa kasih contoh lain film Indonesia atau Asia Tenggara yang ambil gambarnya di Eropa dan terlalu melebih-lebihkan tinggal di Eropa seperti film-film di atas?

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

25 thoughts on “Diskriminasi Dunia Barat dalam Film Indonesia

  1. Banyak sih, harus dilihat PH dan sutradaranya. Biasanya mereka menghasilkan dan menjual film seperti apa. Maksudnya yang laku dijual gitu bukan utk menang festival Palm d’Or dkk. Dalam sebuah produksi film serealistis apapun scripwriter akan terbentur keinginan break even dari produser. Memang miris sih tapi tipe2 menjual mimpi yang laku dijual utk mayoritas penonton kita. Walaupun tidak realistis. Semoga ke depan para penonton kita makin pintar…

    1. Penonton makin pintar harus dimulai dari film2 yang berkualitas dong, bukan cuma yang artsy yang bisa masuk festival film luar negeri tapi juga yang komersil. Ini bukan ngomongin film2 yang masuk festival film tapi lebih ngomongin ke tendensi film Indonesia yang mengagungkan cara tinggal di Barat, semuanya dikasih liat apa2 tajir, gampang, dll. Ngasih pengertian yang salah ke orang Indonesia yang nonton.

    1. Aku langsung Google lho malaria masih ada apa nggak. Emang masih ada tapi di tempat2 yang terpencil kan. Boro boro di Bali ada malaria, langsung heboh sedunia kalo gitu πŸ˜‚

  2. AADC2 menurut lo merusak citra, gak, Tal? Seinget gue disana Rangga digambarkan sbg mahasiswa miskin sampe perlu part-time di kafe orang. Tapi cuma sebentar sih krn selebihnya kan dia balik Indo, dan unitnya juga apt studio πŸ˜†

    1. AADC bias nih gw karena Rangga XD tapi kalo gambarannya kayak gitu sih masuk akal… apartemen studionya mungkin sekarang dia udah tajir (punya kafe sendiri kan?) sampe bisa nyewa apartemen studio. Atau di Amerika emang studio lebih murah, bisa jadi.

  3. Benerrrr banget!!! Lihat film2 Indonesia yang di Paris, dkk trus pada apartemennya gede gilak, set dah mahasiswa macam apa merekaaaaa! Gak realistis banget!

  4. semua orang Indonesia yg ada di film-film Indonesia dengan setting luar negeri itu super tajir semua kayanya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Tapi gue penasaran parah sama Ayat-Ayat Cinta 2. Fahri punya banyak minimarket di Skotlandia, bisa jadi dosen Filologi dengan gelar kehormatan. Yg ditunjukkin yg bagus2 doang, kenapa ga ditunjukkin dia lagi urus visa dan cari kerja coba

  5. Terus yang di Indonesia pada baper karena ada filem Hollywood yang nyebut kata “indonesia” atau “jakarta” atau “bali” padahal ga diliat konteksnya…

  6. Kayaknya kalau di Indonesia riset film gak penting deh, yang penting jual muka ganteng dan cantik, serta luar negeri. Kudu yang indah-indah, kalau gak indah gak ada yang mau nonton.

    Btw itu film penulisnya ada di twitter gak? Kalau ada kita komplen rame-rame yuk!

    1. Aku baru cek, ternyata penulis skenarionya anak Nancy Myers, sutradara chick flick lumayan terkenal. Bapaknya juga orang film. Aku cek Twitternya udah gak aktif sejak 2012 (masih ada akunnya tapi gak pernah ngetwit).

  7. Daerah dengan risiko malaria masih ada di Indonesia Crys; ada petanya di GGD untuk orang yang mau ke Indonesia. Setahuku: Sumatra, Lombok, Kalimantan, Maluku dan Papua. Masih ada temen-temen Belandaku yang ke situ dan mereka bawa/menelan tablet anti malaria. Di Bali yang ada itu rabies, ada peringatannya juga di GGD.

    1. Aku juga baca sekilas, ternyata persentasenya masih ada. Temen Belandaku juga bilang ada daftar vaksinasi kalo mau ke negara tertentu. Mungkin di Bali banyak rabies karena banyak anjing kampung berkeliaran (?). Yang aku tahu di Bali memang udah bebas malaria karena udah jadi daerah maju di Indonesia kan, kayaknya si penulis skenario aja yang kurang riset πŸ™

  8. Jangankan film berlatarbelakang luar negeri, sinetron aja pasti ada aja tokoh utama baik antagonis atau love interest, yang tajir mampus rumah segede gaban hahaha.. sangat engga mewakilkan mayoritas penduduk Indo. Kayaknya penjualan wish fulfilment itu lebih laris daripada realita.

    Kalau film barat…. jangan tanya lagi. Yang baru-baru ini bikin aku greget adalah film Mortal Instruments, yang diangkat dari buku. Salah satu tokohnya adalah blasteran Indonesia-Belanda zaman penjajahan Belanda dulu, eh yang dipilih main si Godfrey Gao orang Taiwan-Canada. Kayak engga ada aktor Asia Tenggara tulen aja di US.

Leave a Reply to Tjetje [binibule.com] Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.