Copenhagen on a Budget

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Sebenarnya gue pernah membuat utas di Twitter gue dengan judul yang sama, tapi biar lebih mudah didokumentasikan (dasar bekas anak Sejarah, apa-apa ingetnya dokumentasi), jadinya gue tulis di blog juga deh tentang yang satu ini.

Sebelum pergi ke Denmark, sebenernya gue udah harap-harap cemas dengan harganya. Kabarnya, negara-negara Scandinavia jauh lebih mahal daripada belahan Eropa lainnya. Tapi karena emang udah kadung beli tiket, mau nggak mau harus dijalani, toh?

Selama tiga hari dua malam di Copenhagen, gue dengan ini bisa menyatakan bahwa: COPENHAGEN ITU TIDAK SEMAHAL YANG KAMU KIRA! Makanya gue mau nulis tentang ini untuk mengupas tuntas pengeluaran selama gue di Copenhagen. Tapi sebelum itu, disklaimer dulu ya…

  1. Gue berangkat dari Amsterdam, Belanda, yang adalah sama-sama di Eropa. Jadi jangan dibandingkan dengan harga dan kurs kalau berangkat dari Indonesia.
  2. Gaya jalan gue: Suka cari makan di restoran, suka jajan yang unik, anak kota banget, perginya kebanyakan ke museum atau lihat-lihat pasar. Kadang kalau niat, jajan dikit terus nongkrong di taman. Jadi kalau gaya jalan kamu termasuk belanja-belanji produk Scandinavia, udah bukan “on a budget” lagi dong ya.
  3. Mata uang Denmark namanya Krona (DKK). Saat ini, 1 DKK = 0,34 EUR.

Untuk mempermudah navigasi artikel, gue akan membagi artikel ini jadi empat bagian: Akomodasi, Transportasi, Makanan, dan Museum.

Akomodasi

Sebelum memutuskan mau menginap dimana, gue terbagi dua antara nyewa kamar di AirBnB atau beli ranjang di hostel. Sebagai perbandingan, gue ini sukanya nginep di kamar khusus cewek kalau nginep di hostel, dan budget gue sekitar 20 euro per malam. Akhirnya gue memutuskan untuk memilih beli ranjang di hostel daripada airBnB karena gue jalan sendirian dan kayaknya airBnB terlalu mahal deh untuk solo traveler. Hostel yang gue pilih bernama Steel House Hostel.

Steel House Hostel ini ternyata letaknya deket banget dari stasiun Copenhagen Central Station, hanya jalan kaki 10 menit udah sampe. Selain itu, Steel House Hostel lebih dekat lagi ke stasiun S-Tog Vesterport. Gue beli satu ranjang di kamar tidur khusus cewek dengan en-suite bathroom, totalnya kira-kira 60 euro untuk tiga hari dua malam. Hostel ini beneran bagus dan modern sekali, mau check-in aja ada komputer sendiri-sendiri. Selain interiornya yang bikin gue ngiler karena serba industrial, Steel House Hostel punya fasilitas ciamik ibarat hotel, seperti kolam renang, gym, dapur, ruang nonton, dan binatu. Kamar gue juga cukup bersih, kamar mandinya dilengkapi floor heater, ada AC, bunk bed-nya juga nyaman.

Untuk lebih jelasnya bisa main di Booking.com atau cek ke laman web resmi mereka disini.

Transportasi

Mulai dari bahas tiket pesawat dulu ya. Gue beli tiket pesawat ke Copenhagen sekitar bulan Juli 2018 untuk penerbangan bulan Oktober. Awalnya galau, bisa dapat harga lebih murah nggak ya? Ternyata setelah ngobrol sama teman gue, dia kalau ke Amsterdam juga biasa harga segitu. Akhirnya gue beli deh tiket Amsterdam-Copenhagen pulang pergi naik maskapai SAS seharga 100 euro, yang katanya adalah harga normal.

Begitu di Copenhagen, awalnya gue agak bingung dengan sistem transportasi mereka. Bayangkan, kota itu punya banyak sekali moda transportasi: metro, S-Tog, kereta, dan bus. S-Tog adalah kereta lebih kecil dari kereta api yang berhenti di hampir semua stasiun ukuran menengah, sementara metro jaringannya lebih sempit lagi. Jadi urutannya: kereta, S-Tog, metro, dan bus.

copenhagen-zone-map
Peta zona transportasi Copenhagen, diambil dari Scandinavia Standard

Setelah rajin-rajin baca Google, gue baru tahu ternyata gue bisa beli tiket per 24 jam, 48 jam atau 72 jam. Tiket ini juga dibagi per zona. FYI, zona pusat kota Copenhagen hanya terbatas dari zona 1-4, sementara itu kalau mau jalan ke daerah Copenhagen yang lebih jauh, harus beli tiket yang zonanya lebih luas. Karena gue hanya jalan-jalan di akhir minggu, dan kayaknya juga keluar masuk museum doang, gue memutuskan untuk beli tiket 24 jam untuk zona 1-4 seharga kurang lebih 10 euro. Tiket ini berlaku untuk seluruh moda transportasi di Copenhagen. Sebagai perbandingan, tiket sekali jalan dari stasiun A ke B harganya kurang lebih 3-4 euro, makanya beli tiket 24 jam sangat menghemat biaya hidup.

Ulasan lebih lengkap tentang transportasi di Copenhagen bisa dibaca disini.

Makanan

Nah, ini dia nih bagian favorit gue! Salah satu tujuan gue ke Copenhagen adalah karena gue denger gosip keberagaman makanan disana. Makanya sejak sebelum berangkat, gue sudah riset mau makan apa dan harganya berapa.

Selama di Copenhagen, gue membatasi budget makan, nggak boleh seporsi yang lebih dari 100 DKK alias 13 euro. Ini karena banyak banget makanan mengenyangkan di pasar ataupun makanan jalanan. Aturan ini nggak termasuk makanan yang gue pengenin sejak sebelum berangkat, atau total bill yang nggak termasuk minum.

Dengan ini gue sahkan bahwa makan di Copenhagen bisa banget kok di bawah 100 DKK. Caranya, cari makanan di pasar-pasar, banyak sekali yang enak seperti nasi bulgogi Kimchi di depan Torvehallerne KBH yang harganya 89 DKK alias 11 euro sekian.

Gue juga makan ramen spicy miso di restoran mie bernama Ramen To Biiru, harganya 15 euro. Memang lebih mahal daripada budget, tapi ini ramen udah gue rencanakan sejak sebelum ke Copenhagen.

Sempat juga sarapan tiga jenis makanan di tempat sarapan ngetren daerah Vesterbro bernama Mad & Kaffe, harganya sekitar 89 DKK untuk tiga makanan. Salmon dan cinnamon roll-nya enak banget.

Gue juga minum bubble tea di Copenhagen! Ini dari Mad Hatter, gue nyobain blueberry milk tea pakai tapioca balls, cukup enak. Harganya 5 euro sekian.

Saran lain, kalau mau tahu tempat makan enak, coba deh unduh aplikasi Yelp. Gue pake aplikasi ini selama di Copenhagen dan sangat membantu karena review mereka dari orang lokal semua.

Gue juga ke bar namanya BRUS, karena bar ini isinya craft beer jadi gue bayar lebih mahal. Bir paling mahal sekitar 8 euro. Entah kalo bir supermarket harganya berapa ya, jadi gue nggak bisa bikin kisaran harga ngebir di Copenhagen.

Kalau mau cemal cemil, di Copenhagen tersedia 7/11 yang buka 24 jam dengan berbagai roti, kopi, dan teh. Gue beli coklat panas kecil, harganya sekitar 3,6 euro. Lebih mahal sedikit daripada di Belanda tapi ya udah lah namanya juga negara Skandinavia!

Museum

Yang ini opsional nih. Di disklaimer udah gue tulis kan bahwa gue seneng ke museum. Jadi gue punya budget sendiri untuk tiket museum apalagi kalau nggak ada harga untuk kartu pelajar.

Di hari pertama, gue datang ke Designmuseum Danmark gratis berkat ikutan Kulturnatten. Di hari kedua dan ketiga, gue pergi ke Nationalmuseet dan Arbejdermuseet.

Nationalmuseet ini isinya hal-hal standar di museum nasional, seperti penemuan arkeologis Denmark mulai dari jaman batu, jaman Viking, sampe ke jaman kekristenan. Nggak ada harga pelajar untuk museum ini jadi gue bayar sekitar 10 euro untuk masuk. Lebih murah daripada Rijksmuseum yang 17 euro. Ada juga pameran kehidupan masyarakat Denmark sejak 1600 sampai 2000. Menarik sekali isinya, pemandangan dari museum juga bagus.

Museum kedua, adalah Arbejdermuseet. gue bayar sekitar 7 euro untuk masuk museum ini dengan kartu pelajar. Untuk informasi kalian, 90% orang Denmark jadi anggota organisasi pekerja, sesuai dengan bidang karir masing-masing. Gunanya organisasi pekerja ini adalah untuk mendukung pekerja kalau-kalau ada masalah dengan perusahaannya, bisa juga dipake untuk cek kontrak kalau mulai kerja, konsultasi karir, dll. Jadi kalau si pekerja diapa-apain perusahaan, posisi mereka lebih kuat karena gabung di organisasi pekerja daripada yang nggak gabung. Btw, organisasi pekerja ini terinspirasi dari sosialisme, jadi di museum ini isinya merah semua. Selain itu kita juga bisa lihat kehidupan kelas pekerja Denmark di tahun 1950an. Menarik banget kalo yang suka sejarah sosial!

Ilustrasi kafe tahun 1950an, kafe ini dibuka untuk umum lho, bisa nyobain kopi merek jaman dulu.

Balai Arbejdermuseet, bendera ini adalah kumpulan bendera Serikat pekerja di Denmark. Merah lah, namanya juga sosialisme.

Ada patung Lenin, hadiah dari Serikat pekerja di Uni Soviet tahun 1990-an. Sempat jadi kontroversi katanya.

Nah segitu aja deh, gimana gue bisa menghemat selama di Copenhagen. Yang jelas gue hemat tapi happy karena gue nggak perlu merelakan nggak melakukan apa yang gue suka. Ditotal-total, selama di Copenhagen gue habis uang sekitar 200 euro untuk weekend (standar Belanda mahal, standar Copenhagen mungkin murah kali ya). Semoga tulisan ini bisa bikin kalian mengira-ngira berapa budget yang harus dikeluarkan selama di Copenhagen. Yuk berangkat!

More to explore

Nguping dan Nyinyir di Pemilu

Tiga observasi kelakuan orang Indonesia yang ditemukan saat Pemilu serentak 2019 di Den Haag. Yuk nyinyir bareng!

6 thoughts on “Copenhagen on a Budget

  1. Ah sama. Kalau jalan-jalan kemanapun incaran pertama pasti tempat bersejarah ( paling selalu tersedia museum). Kuliner Asia itu memang ada dimana-mana ya..Benar bisa on a budget kalau direncanain…

  2. post ini bikin mikir aku suka tipe jalan2 spt apa. mungkin yang bikin aku malas travelling adalah krn aku belum tau sukanya yang spt apa.. hhhm, aku tipe yang lebih suka melihat pemandangan, stay di suatu tempat agak lama, menikmati makanan. kurang suka belanja2 malah karena bikin ribet bawa tentengan.. makanannya menggiurkan sllurp..

  3. Copenhagen secara umum sih emang lebih mahal daripada negara2 Eropa Barat/Selatan/Timur tentunya, tapi bisa kok kalau mau on a budget mah, yang penting niatnya. Di Jakarta pun kalau mau hidup mevvah dan mahal juga bisa 😛

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Join the Club!

Hit that “Subscribe” button to receive weekly posts straight to your inbox!