Bullet Journal, Menggabungkan Produktivitas dan Kreativitas

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Sejak dulu, salah satu tabiat gue yang sulit hilang adalah bikin rencana. Rasanya kalau punya agenda lalu menuliskan apa yang mau dilakukan di hari itu atau di kemudian hari tuh lega banget, kayak separuh beban terlepas ke bentuk tulisan. Gue memang terbiasa menulis banyak hal agar nggak lupa. Kalau cuma disimpan di otak, biasanya susah banget mau diingat kembali.

Di akhir tahun lalu, seperti orang-orang perencana pada umumnya, gue mencari agenda 2018 yang cocok untuk keperluan gue. Panggil gue ribet, tapi gue nggak mau punya agenda yang bentuknya nggak sesuai dengan kebutuhan gue. Agenda sempurna menurut gue harus ada monthly planner yang berbentuk kotak, enak buat ditulis (punggung bukunya nggak nutup-nutup kalau gue lagi nulis, ngerti gak?), dan spasinya harus besar karena tulisan gue cukup bulet-bulet. Sayangnya, banyak agenda yang nggak memenuhi kriteria agenda sempurna versi gue. Makanya, kalo nggak ada, kenapa nggak buat sendiri aja?

Sejak pertengahan tahun lalu, gue sudah terpana dengan fenomena Bullet Journal (selanjutnya disebut BuJo). BuJo ini yang buat namanya Ryder Carroll. Dia membuat konsep BuJo karena ingin membuat agendanya sesederhana mungkin. Selain itu, karena kita sendiri yang buat layout agendanya, jadi kita bisa menentukan mau layout monthly, weekly, daily yang seperti apa. Kita juga bisa memasukkan hal-hal personal seperti daftar buku yang harus dibaca atau habit tracker. Jadinya agenda itu bener-bener 100% milik kita. Ini contoh video BuJo original ala Ryder Carroll.

Awalnya, gue kenal BuJo dari berbagai akun Instagram BuJo yang gue ikuti. Pengen mencoba, tapi kok kayaknya pada punya bakat seniman semua, karena banyak banget pemakai BuJo yang menghias agenda mereka dengan gambar dan lukisan sendiri. Akhirnya setelah ubek-ubek YouTube, gue menemukan akun YouTube “AmandaRachLee”, penggiat BuJo yang menggabungkan BuJo sederhana ala Ryder Carroll dan karya seni sederhana. Ini contoh videonya dan sampai sekarang BuJo gue mengikuti BuJo ala dia karena lebih fungsional dan ada sedikit warna-warni, jadi nggak terlalu membosankan.

Akhirnya di bulan Maret 2018, gue memutuskan untuk memakai BuJo untuk membuat hidup gue lebih teratur. Bukan cuma asal beli buku tulis dan peralatan BuJo, ya. Ternyata para penggiat BuJo ini juga cukup ‘rewel’ soal tipe notebook, jenis kertas, bahkan warna kertas! Ada pengguna BuJo yang suka kertas tipis, ada juga yang memilih warna kertas yang 100% putih daripada yang berwarna agak krem. Selain itu para penggiat BuJo juga rewel soal jenis pulpen yang dipakai, harus water-based. Tapi dari kerewelan ini, gue belajar banyak hal… seperti pentingnya tahu jenis kertas yang dipakai dan kalau pulpen water-based biasanya nggak ‘nyeplak’ di balik kertas. Berikut adalah merek-merek notebook yang sering dipakai pengguna BuJo karena jenis kertasnya yang terbukti anti ‘nyeplak’: Leuchtturm 1917, Rhodia, Scribbles That Matter, Dingbats*, dan Lemome. Ada beberapa pengguna BuJo yang pakai Moleskine, tapi sepertinya merek ini nggak terlalu populer. Gue sendiri memakai Rhodiarama Goalbook, tapi sebentar lagi akan ganti ke Lemome karena gue ingin membuat BuJo yang 100% personal (yang ini masih terbagi antara personal dan kerja).

Soal ‘nyeplak’, ada dua jenis ‘nyeplak’ yang jadi salah satu glossary penggiat BuJo, yaitu ghosting dan bleeding. Ghosting adalah kalau pulpen kita nyeplaknya nggak begitu kelihatan di balik kertas, sementara itu bleeding adalah situasi kalau tinta pulpen kita bener-bener nyeplak banget di balik kertas. Biasanya, pulpen/spidol yang bleeding adalah yang terbuat dari alkohol seperti keluaran Sharpie, makanya komunitas BuJo paling anti dengan alat tulis dan gambar merek itu.

Selain menonton banyak video YouTube tentang BuJo untuk inspirasi bikin spread, gue juga jadi bagian di beberapa grup Facebook. Ada dua grup BuJo Facebook yang sangat gue ikuti: Bullet Journal Beginners dan Minimalist Bullet Journals. Walaupun ada banyak sekali grup BuJo yang terdaftar di Facebook, gue hanya mengikuti dua grup itu karena gue ingin BuJo gue terlihat sederhana. Seperti agama, BuJo banyak sekali cabangnya. Ada yang minimalis ala Ryder Carroll, campuran minimalis-artsy seperti AmandaRachLee, ada juga yang 100% nyeni kayak Boho Berry. Nah, dua grup Facebook di atas temanya lebih minimalis, jadi gue juga bisa nyari contoh spread yang sesuai dengan keinginan gue.

Setelah tiga bulan menggeluti hobi baru ini, sepertinya gue bisa memberi satu kata mutiara yang sangat berguna jika kalian mau mencoba BuJo: do not compare yourself to the Internet. Begitu mulai hobi BuJo, pasti rasanya pengen banget beli segambreng washi tape, satu set brush pen merek Tombow yang harganya cukup mahal, atau hal-hal lain yang sebenernya nggak perlu. Nggak perlu juga sok-sok bikin BuJo artsy jika kamu nggak bisa gambar. Ada banyak juga pengguna BuJo yang bikin daftar-daftar yang (menurut gue) lebay, seperti divorce spreads atau planning liburan yang bener-bener sampe ke jam-jamnya (bukannya liburan harus santai dan ga usah diburu-buru rencana, ya?). Tapi biarlah. Intinya BuJo kan customisation dan simplicity. Mungkin itu berguna untuk mereka, mungkin nggak untuk kamu. Kalau dikira nggak berguna, ya nggak usah diikutin.

Tertarik untuk ganti agenda jadi BuJo? Atau sudah jadi penggiat BuJo? Baca ini juga untuk artikel lain mengenai BuJo dan kenapa hobi ini wajib dicoba.

More to explore

Nguping dan Nyinyir di Pemilu

Tiga observasi kelakuan orang Indonesia yang ditemukan saat Pemilu serentak 2019 di Den Haag. Yuk nyinyir bareng!

20 thoughts on “Bullet Journal, Menggabungkan Produktivitas dan Kreativitas

    1. Wahahaha, aku gak gitu suka Moleskine karena jarak spasinya kecil banget. Rhodia sejauh ini oke. BTW di TK Maxx ada agenda2 lucu2 yang harganya cuma 5 euro-an lho.

        1. Tempo hari aku baru beli weekly planner meja buat di kantor, sama buku tulis dotted buat di kantor juga karena mau bikin BuJo berbeda antara kantor (lebih maunya ke notes dan reminder) dan personal… Tapi kalo buat BuJo personal aku ubek2 Amazon.

          1. mending pake yang udah ada garis atau dot nya, atau polos aja yah. gue uda sampe taraf, butuh banget time management nih. seems fun to start a bujo.

          2. Biasanya yang pakai BuJo pake kertas yang ada dot-nya biar enak bikin tabel atau bikin layout. Ada juga yang suka kertas kotak2 kayak kertas gambar anak teknik. BuJo emang menyenangkan… aku bisa lho satu-dua jam anteng banget bikin spread bulanan

          3. Yes! Tapi sayangnya aku ga gitu suka kertas HEMA karena terlalu tipis dan jarak spasinya kecil kecil. Flying Tiger aku belom liat jualan agenda2 kayak gini.

          4. Memang lagi ngetop banget mbak… Kalau weekend aku main ke Bruna pasti banyak anak2 kemarin sore yang beli diary BuJo xD

  1. aku sempet nyobain Bujo taun kmaren. Hanya bertahan sebulan sajaaah… Sisanya bolong-bolong lalu kecewa pada diri sendiri.
    Menyerah deh.
    Tapi cita-cita bikin gratitude journal masih di hati 🙂

  2. Udah bujo selama setahun setengah. Gw suka sekali. Awal2 rajin banget bikin tracker dll tapi sekarang lebih sederhana dan disesuaikan dengan kebutuhan gw aja. Aku cuma masuk grup bujo 1 aja di FB, dari situ sering kagum sama orang2 yang niat banget. Kadang mereka juga curhat bahwa kebiasaan bujo mereka membantu banget bagi mereka yang mengalami stress, anxiety dll makannya tracker/spreads banyak banget macemnya :’) AmandaRachLee ini juga salah satu favoritku, layoutnya dia simpel dan kalau gak ada ide selalu nengok akun dia untuk inspirasi.

    1. Baru-baru ini aku baru leave beberapa grup BuJo di Facebook nih karena banyak nemu postingan caper dan yang sepele… Akhirnya mau cari inspirasi dari Youtube atau Pinterest aja karena cukup banyak inspirasi dari situ yang ga perlu baca postingan orang2 yang ga penting. Nah aku bulan lalu juga pake tracker tapi menurutku ga penting jadi ga aku lanjutin deh di bulan Juni. Layout dia simpel banget dan jatuhnya lebih ke produktivitas daripada yang terlalu artsy atau warna warni. Kalau mau artsy mending bikin art journal aja, ya gak?

    1. Dulu gue juga gitu, Lynn. Tapi disini monthly plannernya gak bagus dan spasinya kecil-kecil. Bikin sendiri deh jadinya. Lumayan, BuJo bikin gw latihan menulis tiap hari dan gw bisa gambar2 di BuJo gw tanpa harus takut keabisan kertas.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Join the Club!

Hit that “Subscribe” button to receive weekly posts straight to your inbox!