kurisetaru

kurisetaru

Anti Gegar Budaya Sekolah di Belanda

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Waktu baca: 4 menit

Kalau mau melihat profil pengunjung blog gue secara umum, rata-rata pembaca blog ini berasal dari Indonesia atau orang Indonesia yang tinggal di luar negeri dan banyak dari kalian yang mengirimkan e-mail dan bertanya tentang hal-hal teknis menetap di Belanda baik untuk sekolah atau bekerja.

Tapi tujuan gue membuat tulisan ini bukan untuk menjelaskan teknis tertulis tentang mengajukan visa pelajar atau visa kerja (kalau itu cari di Google saja sudah banyak ya!), melainkan mau menulis tentang the elephant in the room: gegar budaya.

Tanpa dipungkiri lagi, kita datang dari Indonesia dengan budaya yang sangat berbeda dengan budaya Belanda. Selama beberapa bulan pertama, gue berusaha keras untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaan Belanda di lingkungan akademia. Ini dia beberapa kebudayaan Belanda di kampus yang masih gue ingat samar-samar:

Tepat waktu

Di kelas, ada kompensasi waktu sekitar 15 menit. Pelajar boleh masuk kelas sampai 15 menit setelah jam kelas dimulai. Setelah 15 menit, mending tahu diri aja deh, nggak usah masuk sekalian. Selain itu, di kampus gue, setiap kelas dibagi menjadi dua blok. Satu blok sekitar 40 menit, istirahat 10 menit, lalu lanjut blok kedua yang lamanya juga 40 menit. Berbeda dengan sistem kelas jaman S1 yang dua blok langsung dihabiskan.

Ketepatan waktu juga berlaku ketika kita janjian dengan dosen untuk bimbingan. Disini waktu adalah uang, jadi nggak ada tuh telat datang bimbingan sampai diatas 15 menit.

Bar = Tempat Nongkrong

Gue melihat cukup banyak mahasiswa Indonesia yang agak tersendat pergaulannya dengan mahasiswa internasional karena hal ini. Mungkin di benak mereka, bar adalah tempat yang hanya menyediakan minuman beralkohol dan cuma untuk tempat mabuk-mabukkan.

Oke, bar memang menyediakan minuman beralkohol, tapi bar juga merupakan pusatnya orang bergaul. Ada orang yang melepas stres dengan cara memesan minuman beralkohol tapi ada juga yang cukup nongkrong bersama teman untuk ngobrol santai. Di Belanda, kafe yang menjual makanan penutup, cemilan, atau minuman non-alkohol hanya buka sampai jam 5 atau 6 sore. Kalau masih mau nongkrong dan ngobrol cantik, ya pergilah ke bar.

Image result for kroeg
Kroeg, bar untuk ngobrol santai. Nggak ada musik keras atau lantai dansa disini.

Bar disini juga berbeda-beda tipenya. Ada bar yang bisa untuk pesta, lengkap dengan musik dan lantai dansa, ada juga bar-bar kecil (brown bar) yang sering disebut kroeg untuk ngobrol-ngobrol yang lebih santai. Jadi jangan malu-maluin lagi ya, kalau diajak nongkrong di bar terus mikirnya bar = berakhir pulang dengan mabuk. Buang jauh-jauh pemikiran itu.

Orang Belanda Ngomongnya Blak-Blakan

Tidak seperti anggapan bar = tempat mabuk, yang satu ini adalah salah satu gegar budaya yang sering dikeluhkan para pelajar/imigran secara umum ketika mereka pindah kesini. Dutch Directness ini menjadi topik yang sulit diatasi karena banyak dari kita menganggap orang Belanda terlalu ‘kasar’ dengan sikap terang-terangan ini.

Misalnya kalau kamu bimbingan dengan dosen di kampus, jika dia tidak suka cara menulis kamu, maka dia akan terang-terangan bilang tulisan kamu jeleknya dimana. Nggak ada ‘Sandwich method‘ dimana dia akan memuji sebelum mengkritik tulisan kamu. Nggak ada juga omongan manis di depan, tapi hasil kerja kamu diomongin di belakang. Langsung hajar, bleh!

Dutch Directness
Jangan baper dengan orang Belanda yang blak-blakan!

Satu yang perlu diingat: Para dosen hanya mengkritik cara kerjamu. Jadi, bukan berarti kamu adalah orang yang buruk secara umum, hanya kerjaan kamu saja yang dinilai kurang maksimal.

Berani Bilang “Tidak”

Ini juga jadi salah satu gegar budaya mahasiswa Indonesia yang sering gue jumpai ketika masa perkuliahan. Mungkin karena kita punya kebiasan “nggak enakan”, jadi kalau ada teman yang ajak ngumpul, kita langsung bilang “bisa”, yang berakhir pada absennya kita karena ternyata di hari tersebut ada acara tertentu atau lagi malas keluar rumah aja.

Orang sini hidup berdampingan dengan agenda mereka. Kalau kita ajak nongkrong, mereka akan bilang, “Aku cek agendaku dulu ya!”. Kalau hari itu kosong maka dia akan menyanggupi ajakan kita, kalau berhalangan dia bisa memberi hari lain atau nggak ngasih jawaban dulu (ujung-ujungnya PASTI akan ngasih jawaban, tapi nggak langsung). Kalau mereka menolak ajakan nongkrong, jangan dibawa perasaan. Ajak saja nanti di lain waktu.

Level Pertemanan

Selamat! Kamu berhasil mendapatkan teman baru orang Belanda. Tapi kok kamu nggak pernah diundang ke rumahnya, atau jarang diajak nongkrong? Berbagai perasaan negatif dan syak wasangka mulai berputar di kepalamu.

Jangan baper dulu. Di Belanda, bahkan pertemanan ada levelnya. Jika kamu baru berkenalan dengan orang tersebut, status kamu masih “kenalan” atau acquaintance. Jadi wajar saja kalau dia jarang ngajak kamu nongkrong atau melakukan kegiatan bersama. Di Belanda, wajar saja bahwa tidak semua orang bisa dijadikan teman. Kamu bisa memperkenalkan seseorang sebagai “teman serumah”, “teman sekelas”, atau “kenalan” saja. Butuh waktu lama untuk menaikkan level pertemanan menjadi “teman baik” atau bahkan “sahabat”.

Friendship pyramid
Nggak seperti di Indonesia yang baru ketemu sekali udah langsung jadi “teman”.

Bagaimana cara menaikkan level pertemanan kamu dan si orang Belanda dari yang hanya kenalan jadi teman main? Sering-sering ajak dia nongkrong dan melakukan aktivitas yang kalian suka, seperti ke museum, pergi ke pesta, atau nonton bioskop. Kamu juga bisa ajak dia nongkrong santai di rumah. Kalian bisa mengenal satu sama lain, kamu bisa menilai dia cocok jadi teman atau nggak, demikian pula dia bisa menilai kamu.

Itu adalah beberapa tips untuk mencegah gegar budaya selama berkuliah di Belanda. Kalau kamu masih ngerasa nggak nyaman karena gegar budaya, di tiap-tiap kampus biasanya ada kantor khusus mahasiswa internasional tempat kamu bisa curhat keluh kesah kamu dalam beradaptasi dengan budaya belajar di Belanda. Nantikan tulisan berikutnya, dimana gue akan menjelaskan tips anti gegar budaya dalam dunia kerja di Belanda!

Other posts

quote

Sekilas Mengenai Ijin Tinggal di Belanda

Selain ijin tinggal untuk pelajar, ijin tinggal untuk cari kerja, ijin tinggal sebagai pekerja dengan skill tinggi, ada jenis ijin tinggal apalagi sih?

Jangan Pernah Percaya CS di Telepon!

Ponsel rusak dan berbagai drama yang menyusul setelahnya. Baca disini untuk mengetahui seberapa menyebalkan CS di Belanda -_-

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.