Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
Tips and Tricks Collection Up Close and Personal Posts

Membuat Batasan Dengan Anggota Keluarga Toxic

Disklaimer: Tolong jangan jadikan gue sebagai contoh agung seseorang yang berhasil membuat batasan dengan anggota keluarga toxic. Gue juga masih berusaha sampai sekarang. It’s all about the baby steps!

Tulisan ini bukan dibuat untuk mengajak kalian jadi orang durhaka. Baca aja lebih lanjut biar tahu kenapa.


Beberapa waktu lalu di Twitter (baca: bertahun-tahun lalu, kalau dihitung pakai hitungan pra-Corona), ramai sekali cuitan dan drama tentang anggota keluarga toxic. Ada yang mendukung, ada juga yang berprinsip bahwa ketika seseorang sudah dewasa, hidupnya harus ditanggung dirinya sendiri dan sudah bisa menentukan sikap.

Gue dulu sempat menjadi bagian dari debat kusir ini. Tentu saja gue jadi pendukung tim nomor dua. Tapi lama-lama gue mikir bahwa debat ini nggak akan selesai selama si anak nggak melakukan sesuatu. Soal keluarga toxic, itu nggak bisa diubah. Selamanya, ibu kamu akan tetap jadi narsistik, oma/opa kamu akan tetap membatu. Semakin tua seseorang, semakin sulit juga kelakuannya diubah. It’s like teaching a new trick to an old dog.

Tipikal keluarga Asia (bukan hanya Indonesia) yang menerapkan sistem respek berdasarkan umur juga menjadi faktor dalam dinamika ini. Makanya nggak jarang kita melihat ada anggota keluarga kita yang merasa penting banget dan harus dihormati yang lain karena dia lebih kaya, lebih tua, atau (merasa) lebih bijak daripada yang lainnya.

Daripada kita sibuk berusaha mengubah sesuatu yang kemungkinan besar nggak bisa kita ubah, gimana kalau kita mengubah pola pikir tentang dinamika keluarga kita sendiri? Setelah liat-liat di Google dan Instagram, gue menemukan sebuah metode yang mungkin bisa dipraktikkan untuk orang-orang seumuran gue atau orang dewasa lainnya yang masih merasa terkungkung dengan anggota keluarga toxic. Metode itu dinamakan setting boundaries atau membuat batasan dengan seseorang.

Apa maksud dari setting boundaries?

Sesuai pengertiannya, metode ini mengajarkan kita untuk membuat batasan-batasan dengan level tertentu untuk orang-orang yang kita anggap toxic dan berperan besar dalam memberikan negative vibes dalam hidup kita sehari-hari.

Tujuan dari membuat batasan ini lebih untuk membuat hidup kamu lebih tenang. Dengan membuat batasan kepada anggota keluarga toxic, kamu jadi bisa lebih menghargai dirimu sendiri dan lebih bisa menjaga outcome dari dinamika komunikasimu dengan orang tersebut.

Bagaimana mengenal tanda-tanda anggota keluarga toxic?

Menurut pengalaman gue pribadi, hanya kalian yang bisa menentukan sendiri bagaimana anggota keluarga itu toxic sama kalian. Satu orang berbeda dengan pengalaman orang lain.

Gue rasa, di blog ini gue sudah memberikan beberapa snippet tentang dinamika keluarga gue. Intinya, gue mengalami banyak campur tangan dari banyak orang tentang pendidikan gue sejak kecil hingga dewasa, yang berakibat pada gue mengalami kebingungan identitas saat gue dewasa. Hal ini berhasil membuat gue mapping tokoh-tokoh dalam anggota keluarga gue yang gue rasa toxic.

Contohnya, gue nggak suka kalau oma gue menelepon. Awalnya gue nggak ngerti kenapa gue nggak suka, bukankah gue harusnya senang? Setelah menganalisa perasaan gue lebih lanjut, ternyata gue nggak suka karena gue merasa attacked. Setiap kali mereka mengontak gue, pertanyaan yang ditanyakan selalu bersifat pribadi. Berbeda dengan tante gue yang kalau mengontak gue pasti nanya hal-hal bersifat santai seperti bertukar resep masakan atau bercerita tentang kejadian di kehidupan sehari-hari.

Intinya ya begitu. Hanya kamu sendiri yang tahu anggota keluarga itu toxic atau tidak. Setelah itu, kamu bisa membuat rencana, level batasan apa yang ingin kamu terapkan terhadap orang tersebut.

Merasa Bersalah

Setelah kamu mulai bisa menganalisa dan mengenali tanda anggota keluargamu yang toxic, saatnya kamu harus pelan-pelan membangun batasan untuk mereka. Salah satu perasaan umum yang sering membayangi orang-orang yang memulai boundaries adalah merasa bersalah.

Perasaan bersalah ini sesuatu yang wajar karena kamu membuat keputusan untuk dirimu sendiri tanpa memikirkan orang lain. Pressure keluarga Indonesia banget kan ini, setiap kita mau membuat keputusan besar, pasti orang lain akan mencoba untuk talk us down atau malah kita sendiri yang berusaha melakukan itu.

Walaupun perasaan bersalah adalah hal yang wajar dirasakan, tapi kita harus pelan-pelan bisa mengubah perasaan tersebut jadi perasaan “saatnya kita menyayangi diri sendiri”. Kamu punya anggota keluarga yang risih banget mengomentari semua ambisimu dan kegiatanmu? Saatnya kamu mulai mendengar suara hati, melakukan apa yang benar untuk dirimu sendiri, dan mulai membuat batasan untuk si keluarga yang risih itu.

Bagaimana cara memulai batasan dengan anggota keluarga?

Mungkin untuk gue yang hidupnya jauh dari keluarga, membuat batasan dengan keluarga toxic cukup mudah. Meminimalisasi komunikasi adalah salah satu caranya. Tapi gimana dengan orang-orang yang masih tinggal bersama anggota keluarga toxic tersebut?

Menjadi orang yang asertif adalah langkah utama memulai batasan. Kita harus menggali diri sendiri dan harus tahu dulu, gimana sih cara kita ingin diperlakukan orang lain. Ketika kita sudah tahu lebih tentang diri kita, barulah kita bisa mengkomunikasikan hal tersebut dengan orang lain yang kita anggap toxic.

Dulu gue males banget berkomunikasi dengan bokap gue via Whatsapp. Setiap kali dia Whatsapp, isinya kalo nggak nyuruh ini itu, pasti maksa ini itu. Begitu gue baca pesan dia, otak gue menerjemahkan pesan-pesan tersebut dengan suara bokap gue sambil marah-marah. Suatu kali, karena gue sudah kesel banget dan sudah tahu boundaries, gue kirim pesan super panjang ke bokap gue. Gue bilang, kalau dia mau gue sering-sering nanyain kabar dia, tolong jangan kirim pesen ke gue yang isinya nyuruh-nyuruh dan ngomel-ngomel doang. Gue juga bilang bahwa gue nggak suka dia terlalu banyak pakai tanda tanya dan tanda seru karena gue merasa dia seperti marah-marah di Whatsapp. Butuh waktu beberapa bulan sampe akhirnya bokap mengerti keinginan gue. Sekarang, setiap kali dia telepon dan kirim pesan, nyuruh-nyuruh dan marah-marahnya sudah mulai berkurang, dan komunikasi kami jadi lebih lancar.

Ini dia beberapa kalimat yang menandakan kita ingin membatasi hubungan kita dengan anggota keluarga:

  • “Maaf, aku nggak bisa datang ke acara keluarga.” (Kalau mereka paksa tanya kenapa, jangan dijawab kalau kamu tidak mau.)
  • “Ma, Pa, kalau lagi acara keluarga, jangan ceritain kejadian aku jatoh dari tangga pas masih kecil dong. Nggak lucu.”
  • “Maaf Tante/Oom, tapi aku nggak bisa kasih pinjaman uang.” (Lagi-lagi, kalau ditanya alasannya, kamu punya hak untuk nggak menjelaskan alasanmu.)
  • “Kak, kalau mau datang ke kosan, tolong telepon dulu ya.” (Waktumu berharga dan kamu punya hak akan waktumu)

Di bawah ini ada dua sumber psikolog berlisensi yang punya akun Instagram dengan fokus boundaries dan bagaimana mencintai diri sendiri dengan membuat batasan:

Bagaimana kalau anggota keluarga gue udah toxic banget, mereka nggak ngerti gue ingin menjaga jarak?

Lagi-lagi, setting boundaries adalah pengalaman pribadi setiap orang. Belum tentu yang gue lakukan bisa berhasil untuk kalian. Tapi apa salahnya gue untuk share hal yang gue lakukan untuk orang-orang model ini.

Mungkin kalian sudah berusaha membuat dialog dan menjelaskan batasan-batasan kalian kepada mereka. Tapi orang ini sepertinya batu banget, nggak ngerti, dan tetep selalu marah-marah sambil mengungkit posisi mereka dalam keluarga. Apa yang harus dilakukan?

Untuk orang-orang seperti ini, gue memberlakukan boundaries yang lebih ketat. Gue tahu, tidak ada gunanya memberi batasan ‘sehat’ dengan mereka, maka gue membatasi hubungan dengan cara melindungi diri sendiri. Gue tidak berteman dengan mereka di media sosial apapun dan sebisa mungkin gue menghindari kontak dengan mereka, contohnya hanya mengucapkan selamat ulangtahun atau selamat perayaan hari-hari besar. Jika mereka berusaha menghubungi gue, maka gue akan menyetir pembicaraan menjadi tentang mereka dan bukan tentang gue. Gue pun berusaha ngomong dengan nada se-monoton mungkin dan nggak bereaksi berlebihan terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka. Metode ini namanya metode Grey Rock dan cocok diimplementasikan untuk anggota keluarga toxic yang tukang cari drama dan narsistik. Namanya Grey Rock karena metode ini mengajak kita untuk jadi orang se-membosankan mungkin, sehingga sulit untuk orang toxic untuk mengenal kita lebih dalam.

Gue ingin membuat batasan dengan keluarga, tapi gue takut dicap “anak durhaka”. Gimana dong?

Nah, ini dia pertanyaan satu juta dolar. Banyak dari kita yang mengeluh tentang anggota keluarga toxic dan ingin sekali membuat batasan, tapi takut dicap “anak durhaka”, baik itu cap dari anggota keluarga yang lain atau oleh diri sendiri. Kalau kayak gini, gue nggak bisa berkata apa-apa karena konsep “anak durhaka” adalah konsep subyektif dan semua orang bisa punya definisi berbeda tentang kedurhakaan seseorang. Jadi gue kasih sudut pandang dari sisi gue aja ya.

Menurut gue, nggak ada salahnya memperjuangkan diri sendiri untuk diperlakukan lebih baik oleh orang lain, termasuk oleh anggota keluarga sendiri. Ada pemeo yang bilang “blood is thicker than water“, tapi lagi-lagi, kita tidak bisa memilih mau punya keluarga seperti apa. Gimana kalau kita lahir di keluarga dengan dinamika interaksi yang sangat tidak sehat yang mengancam kesehatan mental kita sendiri? Apakah kita masih harus diam saja dan hidup dengan keluarga toxic, dengan bayang-bayang akan jadi anak durhaka kalau kita bersikap lebih asertif?


This is a hard pill to swallow, tapi nggak semua anggota keluarga berniat benar-benar baik. Ada yang terlalu mengontrol, ada yang pengen duitnya aja, ada yang manipulatif, dan lain sebagainya. Ini semua dinamika banyak keluarga di dunia dan kita memang tidak bisa mengubah dinamika tersebut. Tapi kita bisa mengubah cara pikir kita, lebih menyayangi diri sendiri, dan bersikap lebih asertif terhadap orang-orang yang toxic dalam hidup kita dengan cara membuat batasan untuk mereka.

Yang sedang berusaha ingin membuat batasan dengan anggota keluarga toxic, semoga artikel ini bisa membantu memberanikan dirimu. Kalau ingin cerita-cerita, boleh kirim komentar dan gue akan follow-up via email. Selamat berjuang!

13 Comment

  1. Ngakak juga waktu baca postingan buat ngajarin durhaka ๐Ÿ˜€
    Tapi setuju banget tentang keluarga yang toxic. Menurutku, mungkin karena beda generasi juga, jadi beda pola pikir.
    Belum lagi kalau udah merantau pasti ada hal-hal yang ngebuat cara mikir kita berubah dan jadi jauh berbeda sama orang-orang rumah.

    1. Beda generasi dan adanya pemahaman bahwa yang tua harus dihormati. Hormat itu harus, tapi kalo mereka bikin kesalahan dan ga respek orang lain kan perlu ditegur juga.

      Iya, aku ngerasa banget loh, kalo pulkam, mereka tu sulit menerima bahwa aku sudah berubah. Di otak mereka ya ada aku yang 5 tahun lalu dan masih gitu2 aja (baca: masih harus nurut disuruh ini itu dan โ€œkeluarga diatas segalanyaโ€). Padahal sekarang aku udah bisa bilang nggak dan bisa bikin batasan2 sendiri. Jadinya ya gitu lah, kalo pulkam ya jadi dilema.

  2. Crystal, thank you yah sudah nulis ini, yang menurutku salah satu topik yang sulit. Relevan banget sih untuk banyak orang, terutama yang sudah “dicerdaskan” tssaaaah!

    Kebanyakan keluargaku sih sepertinya masih begitu ya. Papa mamaku untungnya dulu selalu paham bahwa cara pikirku sejak dini sudah berbeda dengan kebanyakan orang, terutama soal keluarga besar yang toxic. Sekarang setelah papa mamaku nggak ada, aku lebih sering komunikasi ke Amang Tuaku di Bali (konsep orang Batak bahwa saudara laki-laki ayah adalah bapak kita juga berperan di sini) dan beruntungnya aku beliau sadar bahwa pemikiranku nggak sama lagi kaya kebanyakan orang di Indonesia. Dan beliau bahkan bilang itu secara langsung ke aku ๐Ÿ™‚

    Untuk menambahkan poin-poin yang sudah kamu paparkan, boleh kutambahkan satu poin lagi ya ketakutan orang-orang untuk menghindari keluarga toxic dari pengalamanku?

    Pada dasarnya orang-orang Indonesia kan hidup dalam masyarakat komunal. Hormat pada orang yang lebih tua merupakan salah satu norma yang hidup di masyarakat, yang kalau misalnya kita nggak turuti (dalam arti luas) kita bisa-bisa dianggap nggak belong to that community, atau malah diasingkan. Buat banyak orang, perasaan seperti ini sangat amat tidak diinginkan. Nah, kalau misalnya sudah begitu, bisa jadi nanti keluarga malah nggak ada yang bantuin kita dalam masa susah karena kita nggak “hormat” sama mereka. Ini bikin banyak orang takut juga untuk durhaka.

    Itu kenapa sebenernya aku sangat suka dengan konsep menjadi orang yang mandiri jadi bisa ngelakuin segala sesuatunya sendiri tanpa harus dinyinyirin oleh atau mengharap bantuan dari keluarga. Selain itu, sebenernya kadang kita harus ingat bahwa sudah selayaknya dan sepantasnya yang namanya keluarga itu menerima anggota keluarga lainnya meskipun cara pandangnya beda dan juga menghormati boundaries yang sudah ditetapkan anggota keluarga tersebut. Well, kalau keluarga kita nggak bisa menerima itu, apa masih pantas disebut keluarga?

    1. Hai Hanna, makasih banget udah menambahkan dan sharing ceritamu. Ini memang topik yang cukup berat sih, makanya aku lama banget memutuskan untuk nulis, dan aku memutuskan untuk nulis setelah memberlakukan boundaries terhadap beberapa anggota keluargaku yang toxic. Lebih baik aku coba dulu daripada terlanjur nulis di blog tapi gak berhasil.

      Betul, dinamika keluarga toxic itu menurutku selain karena pemahaman filial piety di dalam keluarga yang orientasi pada uang, juga karena masyarakat eksternal yang komunal. Buat banyak orang yang terbiasa hidup bermasyarakat, dikucilkan adalah momok besar untuk mereka, makanya mereka memaksa diri untuk mengikuti apa kata keluarga (dan masyarakat).

      Dan poin kamu yang terakhir sih bener banget. Sebaiknya keluarga punya pemahaman “agree to disagree”, dalam hal ini untuk menerima anggota keluarga lain yang pemahamannya beda. Tapi sepertinya rada susah ya, karena sistem keluarga di Indonesia tuh komunal banget, banyak juga anggota keluarga yang lebih takut diomongin orang daripada membela anggota keluarga sendiri kalau ada yang “berbeda”. Pertanyaan terakhir juga cukup menohok, karena ngga semua orang bisa menerima bahwa yang namanya keluarga juga bisa kita pilih sendiri, bukan hanya berdasarkan hubungan darah doang.

      1. Sebenarnya aku kepingin sekali menulis hal-hal seperti ini di blogku. Diskusi kita ini mungkin jadi titik penting bagiku supaya memberanikan diri lebih lagi. Terima kasih, Crystal ๐Ÿ™‚

        Poin kamu di paragraf terakhir sangat menarik buatku. Masalahnya di Indonesia Raya, salah tidak salah (yang seringkali subjektif), apapun yang kita lakukan, bukankah selalu menjadi bahan omongan keluarga dan masyarakat kita?

        Aku sih lebih pilih tetapin boundaries meski diomongin, daripada udah nurut terus tapi tetep diomongin juga hahaha

        1. Semoga kamu makin berani Han, aku juga seneng loh baca tulisan2 dari orang lain yang modelnya kayak gini. Aku tahu tulisan ini agak sulit ditulis tapi wajib coba pelan-pelan biar lebih terstruktur dan kesannya gak kayak curhat massal.

          Iya, lebih baik tetapkan boundaries ya, toh kita bakal selalu akan dilihat salah oleh beberapa orang. Jadi mau kita pakai batasan kek, nurut terus kata orangtua kek, pasti mereka akan menilai kita selalu salah. Untungnya aku sudah mengaminkan dan menjalani pemeo “You can’t please everyone”. Kalo aku melakukan sesuatu dan orang lain senang, ya bagus. Tapi kalo mereka ga suka, ya itu urusan mereka, bukan urusanku xD

  3. Aku lagi diposisi jenuh, dari kecil sampe sekarang umur 24 tahun menghadapi ibu yang toxicnya menurut aku udah melampaui batas.
    Membuat batasan secara sehat ibu justru marah
    Akhirnya memberanikan diri untuk izin merantau, tapi selalu gak di perbolehkan tanpa alasan. “percuma pergi jauh merantau, ngasih duit ke orang tua mah segitu gitu aja”
    Sudah 2x izin merantau tetap gak di bolehin.

    Aku selalu takut dengan label “anak durhaka” akhirnya memilih bertahan dirumah
    Sampai sampai aku merasa mengalami gejala tekanan batin (badan gemetar, was was, insom, ketakutan, badan lemes, gak nafsu makan, dipaksa makanpun badan menolak, jantung berdetak kencang, terasa berat didada seperti ada yang ingin meledak)

    Aku mencoba cara lain yaitu dengan manikah
    Calonku sudah datang ke rumah tapi respon ibuku malah membicarakan kita ke orang lain
    Dan ibuku malah merencanakan nikah juga sama pacarnya. Aku menyimpulkan ibuku gak mau kasih saingan dengan aku.

    Aku kuliah lulusan konseling tapi entah kenapa semenjak tinggal lagi bersama ibu mental aku down parah dan aku gak bisa mengatasinya
    Banyak kejadian yang buat aku sakit hati atas perkataan dan perbuatannya
    Jujur aku gak bisa berkembang, semuanya di batasi bahkan akupun gak boleh main ke sodara atau keteman.

    Aku harus bagaimana
    Tiap hari makin mencekikku secara perhalan

    1. Hai Ayu, sebelumnya, makasih banget udah mau cerita… aku baca cerita kamu speechless, ternyata teoriku benar bahwa ga semua ibu ingin yang terbaik untuk anaknya. Kalau dari yang kamu cerita sih mungkin ibu kamu ada tendensi narsistik karena dia ngga mau kalah (ini harus pake diagnosa resmi ya). Dan kalau sampe kamu mengalami gejala fisik sih itu udah parah banget. Satu2nya cara mungkin untuk cari pertolongan dalam bentuk ke psikolog atau terapis untuk menangani trauma macam ini. Ngga perlu bilang ibu kamu kalau ibu kamu seperti itu. Semoga sukses ya Ayu.

      1. Aku kena kekerasan fisik juga
        Karna masalah sepele digede gedein sama ibu
        Waktu itu masalahnya aku mau minta make up buat wisuda aku
        Banyak kejadian dimana salah sedikit kena marah
        Sampe bahkan ibuku pernah bilang “kalo aku dirumah kamu yang jadi pembantunya”
        Ditutut gaji besar
        Uang honor 1.500 harus dikasih semua
        Katanya harus balas jasa
        Itu asalan aku pergi

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.