Life, Actually

Life in the Netherlands, because it goes on!
person washing hand
Living in the Netherlands

Aku dan Coronavirus (COVID-19)

Apa sih hal yang paling sering diomongin di seluruh dunia akhir-akhir ini kalau bukan Coronavirus (selanjutnya akan disebut COVID-19)? Berdasarkan percakapan basa-basi di kantor sampai hasil nguping pembicaraan orang di tempat umum, sepertinya lo harus tau banget soal perkembangan COVID-19 terbaru kalau mau dianggap dalam sebuah percakapan.

Gimana respon masyarakat Belanda terhadap COVID-19?

Respons orang-orang di Belanda terhadap virus ini cuma satu: PANIK. Lucunya, mereka setengah panik, setengah cuek. Maksud gue, panik sih iya, tapi kalau batuk, masih nggak nutup dengan siku atau masih pegang-pegang fasilitas umum sembarangan. Panik tapi santai. Aneh, kan? Padahal per tulisan ini ditulis, jumlah angka positif COVID-19 di Belanda sudah hampir mencapai 1000 kasus.

Kesantaian masyarakat Belanda ini juga tercermin dari kesantaian pemerintahnya. Hari Kamis lalu, pemerintah mengeluarkan peraturan baru, setelah berminggu-minggu radio silence dan cuma menyarankan warga untuk sering cuci tangan. Peraturan baru ini mewajibkan warga untuk membatalkan seluruh acara dengan jumlah peserta diatas 100 orang, menutup kantor dan layanan pemerintah serta sekolah tinggi (universitas), dan menganjurkan warga untuk sebisa mungkin menghindari bepergian dengan transportasi umum dan untuk bekerja di rumah. Statement baru pemerintah ini direspon lagi-lagi dengan komplain dari warga, ada yang lega, ada juga yang merasa masih kurang dan merasa pemerintah masih terlalu pelit dan lelet.

Gue salah satunya yang berpikir seperti ini. Gue merasa bahwa sebenernya pemerintah Belanda bisa melakukan hal lebih, kok. Hanya saja mereka terlalu hati-hati dan terkesan ingin membuat senang semua pihak di parlemen. Padahal sudah banyak orang dari berbagai kalangan yang cemas dengan sikap pemerintah Belanda ini. Bahkan berbagai ahli dan dokter-dokter di Italia sudah memberi peringatan, jika Belanda masih selelet ini, bukan tidak mungkin Belanda bisa jadi episentrum COVID-19 kedua di Eropa selain Italia.

Nah, sejak pemerintah mengeluarkan peraturan yang lebih ketat hari Kamis kemarin, di hari Jumat orang-orang sudah heboh hamsteren alias menimbun barang. Akun Twitter khusus kota gue mengeluarkan liveblog yang berisi retweet penduduknya yang ngetwit soal foto-foto rak makanan yang kosong. Barang yang dicari adalah tisu toilet (entah kenapa pada heboh menimbun tisu toilet), roti, dan makanan beku. Hari Jumat kemarin, gue sampai cemas nggak bisa beli makanan untuk tiga hari kedepan, tapi ternyata supermarket di pusat kota lumayan rapi dan barang-barangnya well-stocked. Di toko Asia, banyak orang membeli mie instan, tapi rak mie instan dan karbohidrat kering lainnya nggak sampai kosong juga.

Hubungan gue dengan COVID-19

Apakah gue panik dan takut? Jelas dua perasaan itu ada, tapi karena gue melihat masih banyak orang yang lebih panik dari gue bahkan sampe gak bisa mikir pake akal sehat, gue jadi berusaha menyetir diri sendiri untuk nggak terlalu panik. Bukannya gue percaya sama pemerintah, tapi sekarang lebih baik gue mau menjaga kesehatan dan higienitas diri sendiri dan satu rumah dulu, deh. Percuma, terlalu mengandalkan pemerintah, kalau mereka selelet ini dalam menangani wabah COVID-19.

Sejujurnya, keadaan mental gue juga cukup lelah. Gue capek buka feed Twitter yang selalu penuh dengan berita dan cuitan orang tentang COVID-19. Terlebih lagi, gue capek datang ke kantor dan harus mendengar teori-teori ngasal dari beberapa kolega tentang COVID-19 dan penyebarannya.

Ada satu kolega gue yang sangat paranoid; saking takutnya, dia sampe percaya berbagai teori tentang kenapa pemerintah sangat lelet menangani COVID-19 dan berbagai “riset baru” tentang sifat kuman ini terhadap lingkungan sekitarnya. Dia sampai percaya teori yang dikemukakan kakaknya, seorang akuntan, yang berkata bahwa pemerintah sengaja membiarkan orang-orang terjangkit COVID-19 dan meninggal, supaya perusahaan-perusahaan besar di negara ini bisa dapat untung besar. Gue sampe capek pasang tampang “Gue nggak peduli” setiap kali dia ajak ngobrol gue tentang COVID-19 karena pasti ngobrolnya seputar teori konspirasi atau ketakutan dia. Nggak jelas juntrungannya, bos. Mending gue kerja, deh.

This too shall pass

Gue percaya bahwa takut itu wajar, tapi nggak seharusnya kita bereaksi dengan rasa takut tersebut. Emang bener sih kata FDR di pidato inaugurasinya: “the only fear we have to fear is the fear itself”. Rasa takut tuh, kalau dibiarkan, bisa mengonsumsi keseluruhan diri kita. Apalagi rasa takut yang tidak beralasan cuma karena kita takut anggota keluarga kita bisa terjangkit COVID-19, atau takut gak kebagian tisu toilet dan makanan pokok.

Pandemi COVID-19 adalah sesuatu yang nggak bisa kita ubah. Pelan tapi pasti, COVID-19 merambah ke seluruh dunia. Siapapun kamu, apapun pekerjaanmu, punya kans untuk terjangkit COVID-19 dari orang lain. Hal tersebut tentu ga bisa kita ubah. Yang bisa kita ubah dan kita kendalikan adalah gimana cara kita mengatasi hal tersebut untuk diri kita dan orang-orang terdekat kita. Sering-sering cuci tangan, batasi kontak fisik, nggak usah keluar rumah jika nggak harus-harus amat, dan jaga badan kita dengan cara minum vitamin penambah imunitas tubuh dan makan makanan bergizi. This too shall pass. Semakin banyak orang yang mengerti pentingnya tinggal di rumah, semakin banyak waktu yang bisa kita ciptakan untuk pengendalian COVID-19 oleh para tenaga medis. #FlattenTheCurve!

Untuk menutup tulisan ini, mari kita cuci tangan dengan lagu anti-patriarki tahun ini: The Man-nya Taylor Swift. Pssssttt… kamu bisa bikin poster cara mencuci tangan yang benar dengan lagu favorit kamu dengan klik ke website ini lho. Let’s make washing hands (with soap) great again!

washing hand poster with the man lyrics

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.