kurisetaru

kurisetaru

A Tiring Holiday

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi juga melelahkan secara mental terutama untuk gue.

Sebenarnya kami sudah menantikan liburan ini sejak lama. Bayangkan saja, kami sudah beli tiket 6 bulan sebelum tanggal keberangkatan dan R sudah mempersiapkan semuanya mulai dari memperpanjang paspornya sampai melakukan imunisasi pra-liburan. Kami bepergian ke Indonesia selama 3 minggu dengan perjalanan sebagai berikut: 8 hari di Bali, 4 hari di Jogja, dan sisanya di Jakarta, dengan 3 hari weekend di Bandung.

Penerbangan kami ke Bali sangat melelahkan karena kami nggak tidur sama sekali di pesawat. Akhirnya, hal ini membuat kami sangat sensitif dan penuh rasa cemas saat tiba di bandara. Setelah check-in di hotel, kami keluar hotel dan pergi ke toserba untuk membeli bir. Seketika kami merasa lebih baik setelah minum bir.

Delapan hari di Bali sungguh menyenangkan. Empat hari pertama, kami berlibur bersama sahabat-sahabat gue sejak kuliah. Nonton tari kecak, berpetualang ke Nusa Penida, menikmati keindahan Ubud, dan berakhir pada ngobrol-ngobrol di bar tepi pantai di hari terakhir mereka. Empat hari terakhir, kami habiskan dengan waktu berkualitas berdua. Pergi ke kebun binatang, leyeh-leyeh di pantai, party di Seminyak, dll.

Selama kami di Jogja, semuanya juga menyenangkan. Empat hari terasa begitu singkat karena kami tidak sempat menjelajahi daerah Keraton yang ironisnya adalah daerah tempat tinggal kami. Walaupun begitu, kami sukses pergi ke Merapi, ke museum Ullen Sentalu, dan gue berhasil menunjukkan Candi Borobudur ke R. Di Jogja, kami berhasil makan makanan kaki lima tanpa sakit perut dan membuat banyak sekali memori menyenangkan.

Begitu kami tiba di Jakarta, everything felt like a personal hell hole to me.

Sebenarnya ada yang belum gue tulis di paragraf di atas. Setibanya gue di Singapura untuk transit ke Bali, gue menyalakan ponsel dan menerima SMS dari opa gue. Di SMS itu, dia dengan sangat kasar menuduh gue yang macam-macam dan dengan eksplisit bilang bahwa “kalau kamu pergi sama teman kumpul kebo kamu lebih baik nggak usah datang ke rumah. Malu sama orang gereja.” Dan menutup SMSnya dengan kata-kata, “Camkan SMS ini.”

Gue sudah sangat lelah dari terbang 12 jam lebih tanpa tidur dan ketika gue menerima SMS dengan nada seperti itu di Singapura, berjuta pertanyaan langsung muncul di kepala gue. Dari mana opa gue tahu bahwa gue tinggal sama R? Di media sosial pun, gue sama sekali nggak pernah nunjukin apa-apa tentang hal ini. Another thing, what’s up with the hostility? We haven’t even met them and he already threatened us with such words.

Lalu gue cukup membalasnya dengan singkat, intinya kalau dia tidak mau ketemu ya tidak apa-apa, masih banyak anggota keluarga lain yang mau berkenalan dengan R dan mau menerima kami. Gue nggak mengiyakan maupun menolak gagasan darinya bahwa kami tinggal bersama. Gue rasa hal itu tidak usah gue konfirmasi karena kami sudah dewasa dan tahu mana yang benar dan salah.

Fast forward di Bali, gue membuka ponsel gue dan LAGI-LAGI opa gue mengirimkan pesan dengan sentimen yang sama, kali ini di Facebook Messenger. Bedanya, dia menambahkan bahwa oma gue juga nggak mau ketemu karena “mereka jijik dengan orang kumpul kebo”. Gue cukup membalasnya dengan, “Kalau nggak mau ketemu nggak masalah. Semoga opa dan oma selalu sehat.”

Gue berusaha keras melupakan ujaran antipati dari oma dan opa gue selama liburan, tapi rasanya perasaan itu hanya gue simpan di epidermis otak saja karena perasaan campur aduk itu selalu muncul hampir setiap saat. Gue tak berhenti membicarakan tentang itu ibarat gue sangat obsesif dengan pertanyaan “Kenapa sih mereka langsung asumsi begitu saja tanpa mau konfirmasi?”.

Begitu di Jakarta, drama internal di keluarga gue tentang kedatangan gue dan pacar perlahan mulai menyibakkan kebenaran. Saat di Jakarta, gue baru tahu bahwa oma dan opa bertindak seperti itu dari asumsi belaka. Bokap cerita ke oma dan opa bahwa gue mau ke Jakarta sama pacar, lalu oma dan opa berasumsi gue tinggal bareng dan pengen tidur bersama pas bertamu ke rumah mereka, dan langsung menutup pintu rapat-rapat untuk bertemu gue. Gue merasa kecewa sekali karena gue menilai mereka adalah orang yang pantas untuk dihormati, bukan hanya karena umur mereka yang sudah tua, tapi juga karena kemampuan mereka bersifat obyektif. Ternyata penilaian gue salah dan bahkan saat gue menulis ini, rasa respek gue ke mereka sudah turun drastis.

Semakin lama gue di Jakarta, gue semakin merasa tidak nyaman tinggal di rumah anggota keluarga gue karena gue tahu mereka menyembunyikan sesuatu tapi mereka enggan menceritakannya kepada gue. Hal ini membuat gue marah, sedih, dan kecewa. Gue dan R datang ke Indonesia untuk bersenang-senang dan gue ingin mengenalkan R ke keluarga gue, tapi kok ini perilaku yang kami dapatkan? Bermula dari komunikasi yang salah, oma opa yang nggak mau bertemu hanya karena asumsi yang mereka nggak mau konfirmasi, dan berujung pada gue dan R ibarat dimainkan seperti pion-pion catur dalam drama keluarga. Sampai detik ini, gue nggak tahu jelas apa yang menyebabkan opa gue bertindak sangat keras terhadap kedatangan gue dan R. Berdasarkan pembicaraan gue dan tante gue, kemungkinan besar ada orang yang bikin oma dan opa berasumsi yang aneh-aneh hingga akhirnya memulai drama ini. Bahkan sampai liburan kemarin selesai, gue nggak bertemu opa gue karena dia nggak mau.

Kenapa gue tulis diatas bahwa gue merasa bahwa gue dan R tak ubahnya seperti pion catur? Selain karena gue merasa bahwa kami nggak tahu apa-apa dan malah ‘dimainin’, gue juga ngerasa bahwa ada pihak-pihak dalam keluarga yang memainkan kami untuk kepuasan pribadi. Bokap dan nyokap tiri gue, contohnya. Sejak awal gue dan R tiba di Jakarta, bokap gue udah sangat memohon gue untuk pergi ke rumah oma dan opa untuk bertamu sebentar, yang jelas-jelas gue bilang bahwa gue nggak mau ketemu kalau sejak awal mereka nggak mau ketemu. Kalau gue pura-pura goblok pergi kesana, sama aja gue nggak menghormati keputusan mereka, dong? Bokap berdalih dengan alasan, “Sebenernya mereka itu kangen sama kamu, tapi kan kamu tahu sendiri gengsi mereka tinggi.” Gue jawab, “Bullshit, kalau mereka kangen, mereka harusnya bilang. Nggak guilt tripping kami seperti ini. Aku kan nggak bisa baca pikiran mereka, jadi buat apa aku datang kalau dari awal mereka nggak mau aku dan R datang?” Dan kemudian bokap menjawab dengan kata-kata yang sangat gue nggak suka, “Tapi kan mereka orang tua”. Duh, kalau gue sudah punya anak, gue nggak mau guilt tripping anak seperti ini. Dan gue mau mengajarkan anak gue bahwa respek itu diperjuangkan, bukan hanya didapatkan karena seseorang lebih tua daripada kita.

Yang aneh, bokap dan nyokap seakan berusaha keras untuk mempertemukan gue dan oma opa (sebuah ide yang sangat tidak gue setujui), tapi anehnya mereka kayak gak melakukan apa-apa. Mereka cuma nyuruh-nyuruh gue begini dan begitu. Lha, gue sudah kirim SMS ajak ketemuan, udah kirim bunga, kue, tapi nggak diwaro juga, jadi tandanya mereka beneran nggak mau ketemu, kan? Gue jadi berpikir bahwa mereka bermain seperti ini biar pada akhirnya bokap gue berhasil jadi “pahlawan” jika dia berhasil mengirimkan gue pergi kesana. Bahkan malah nyokap gue yang nyuruh tante gue (tempat kami menginap di perhentian terakhir sebelum balik ke Belanda) untuk bawa gue ke rumah oma opa gue secara diam-diam, sesuatu yang diakui oleh tante gue karena dia nggak setuju dengan cara itu. Kenapa sih ada aja orang-orang yang maksa banget harus meluruskan semua hal tapi nggak ngerti bahwa justru kalau hal itu dibiarkan begitu saja, semuanya malah bisa jadi lebih baik untuk seluruh pihak?

Begitulah isi liburan gue yang sangat melelahkan di Indonesia. Mungkin gue sangat pahit, tapi kok sepertinya di liburan ini malah lebih banyak perasaan beratnya daripada senangnya, ya? Perasaan berat yang datang dari keluarga sendiri, yang sebenarnya bisa diselesaikan kalau mereka mau berkomunikasi lebih baik dan mau bikin audiens dengan gue dan R, bukannya malah bergunjing diam-diam dan bikin gue dan R ibarat pion di permainan mereka. Heran gue, padahal masalah ini bisa diatasi jika saja oma dan opa sejak awal nggak berasumsi yang macam-macam dan malah bikin orang lain masuk dalam drama yang mereka buat! Belum lagi pihak-pihak keluarga yang pengen sok jadi pahlawan tapi malah mengorbankan perasaan gue dan R. Lain kali kalau kami main ke Indonesia lagi, sepertinya nggak usah bilang-bilang kali ya, biar nggak ada drama-drama nggak jelas.

Other posts

Tentang Body Positivity dan Body Shaming

Sebenernya gue sudah lama banget kepingin menulis tentang tema yang satu ini, tapi selalu mandek karena awalnya gue merasa ini mungkin perasaan

A Tiring Holiday

Yang namanya liburan memang selalu melelahkan. Tapi liburan teranyar gue ke Indonesia kemarin merupakan liburan yang bukan hanya melelahkan secara fisik, tapi

Main ke Museon Den Haag

Berkunjung ke Museon di Den Haag dan berkenalan dengan masyarakat Romawi kuno di Den Haag.

10 thoughts on “A Tiring Holiday

  1. Yaampun. I feel you. Aku jelas bakal ngamuk klo dapet sms kek gitu. Kamu masi chill ya. Aku skrg klo pulkam emang sengaja “sembunyi” dari kerabat lainnya. Sengaja wanti wanti mama papa untuk ngga bilang2 karna males pertanyaan macem2. Untungnya sampe saat ini ga pernah kejadian yg bikin bete sih. Palingan mrk ingin tau doang.

    1. Wah mbak, aku aslinya udah ngamuk sengamuk2nya, apalagi pas balik Jakarta terus bokap minta2 aku kunjungi oma opa. Lha mereka ga mau kenapa bokap minta2 terus? Sampe aku balik, nggak ketahuan lho ini sebenernya siapa yang kasih bocor atau siapa yang kasih negative thinking ke oma opa. Sepulangnya ke NL aku langsung unfriend orang2 di FB yang aku kira bisa jadi potensi orang yang ember atau yang bikin oma opa mikir yang macem2. Abis ini kalau pulkam bakal cuma sekali2 aja ngabarinnya, karena mereka pasti bakal ngasih drama (udah 3x pulang, 3x dikasih drama juga, ini aja yang paling parah dan gak masuk akal)

        1. Iya. Mau kenalin R juga pada drama dulu sebelum akhirnya oma mau kenalan. Udah gak napsu duluan. Semuanya gara2 komunikasi yang penuh asumsi dan gak mau konfirmasi jadi pada bergumul sendiri. Ga jelas

  2. Huaaaaaa aku bisa ngerasin tuh tal… Kalo aku juga pasti udah ngomel2 panjang deh… Di family indo (keluargaku juga gitu soalnya) emang kebanyakan dramanya ya dan mereka juga banyak ga menghargai pendapat atau keputusan kita. Sabar ya bu… Aku juga makin hari makin banyak selisih pendapatnya. Banyak banget pandanganku yang udah ga sama dengan family di indo.

    1. Duh semakin aku merasa perasaanku valid karena banyak juga yang merasa kayak gini. Seakan2 kalo kita pulang kampung tuh mereka menyambut kita dengan bilang, “Selamat datang! Ini lho drama yang kamu tinggalkan selama ga pulang kampung… dan sekarang kamu ada di dalam drama ini! Seru kan? Selamat menikmati!”

      Capek banget sumpeh. Ngomel2 aku udah puas, ngomel2 sama bokap, sama pacar, sama tante… enak aja aku diperlakukan seperti itu.

      Pandanganku pun sebenernya dari dulu ga sama, tapi sekarang makin nunjukkin bahwa emang pandangan kami ngga sama. Tapi sayangnya ada anggota keluarga yang ga suka konflik dan malah sok2 mau menghilangkan konflik. Padahal kadang2 suatu konflik harus didiemin aja karena emang baiknya seperti itu.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.